<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425</id><updated>2011-11-24T13:09:08.867+07:00</updated><category term='daging babi'/><title type='text'>Cahaya Islam</title><subtitle type='html'>Aneka artikel penyejuk hati menuju cahaya Tuhan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>45</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-6422641911012028564</id><published>2009-03-30T10:06:00.002+07:00</published><updated>2009-03-31T06:15:14.625+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='daging babi'/><title type='text'>Mengapa Daging Babi Haram untuk Dikonsumsi?</title><content type='html'>FAKTA-FAKTA MENGAPA BABI HARAM&lt;br /&gt;Islam telah melarang segala macam darah, analisis kimia dari darah menunjukkan adanya kandungan yang tinggi dari uric acid (asam urat ), suatu senyawa kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia, bersifat racun. Dg kata lain uric acid sampah dalam darah yang terbentuk akibat metabolisme tubuh yang tidak sempurna yang diakibatkan oleh kandungan purine dalam makanan.Dalam tubuh manusia, senyawa ini dikeluarkan sebagai kotoran, dan 98% dari uric acid dalam tubuh, dikeluarkan dari dalam darah oleh ginjal,dan dibuang keluar tubuh melalui air seni. Dalam Islam dikenal prosedur khusus dalam penyembelihan hewan, yaitu menyebut nama Allah Yang MahaKuasa dan membuat irisan memotong urat nadi leher hewan, sembari membiarkan urat-urat danorgan organ lainnya utuh. Dengan cara ini menyebabkan kematian hewan karena kehabisan darah dari tubuh, bukannya karena cedera pada organ vitalnya, sebab jika organ-organ misalnya jantung, hati, atau otak dirusak, hewan tersebut dapat meninggal seketika dan darahnya akan menggumpal dalam urat-uratnya dan akhirnya mencemari daging, mengakibatkan daging hewan akan tercemar oleh uric acid, sehingga menjadikannya beracun, dan pada masa-masa kini lah para ahli makanan baru menyadari akan hal ini, subhanallah.&lt;br /&gt;Apakah kita tahu kalau babi tidak dapat disembelih di leher ? karena mereka tidak memiliki leher, sesuai dengan anatomi alamiahnya? Bagi orang muslim beranggapan kalau babi memang harus disembelih dan layak bagi konsumsi manusia, tentu Sang Pencipta akan merancang hewan ini dengan memiliki leher.&lt;br /&gt;Ilmu kedokteran mengetahui bahwa babi sebagai inang dari banyak macam parasit dan penyakit berbahaya, sistem biochemistry babi mengeluarkan hanya 2% dari seluruh kandungan uric acidnya, sedangkan 98% sisanya tersimpan dalam tubuhnya.&lt;br /&gt;Allah SWT jelas telah MENGHARAMKANNYA BABI&lt;br /&gt;a. QS. Al Baqoroh (2) : 173&lt;br /&gt;b. QS. Al Maa'idah (5) : 3&lt;br /&gt;c. QS. Al An `Aam (6) : 145&lt;br /&gt;d. QS. An Nahl (16) : 115&lt;br /&gt;Rasulullah SAW juga telah menegaskan babi lebih banyak mudhorotnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KENYATAAN DILAPANGAN TENTANG BABI :&lt;br /&gt;Babi adalah binatang yang paling jorok dan kotor, Suka memakan bangkai dan kotorannya sendiri &amp;amp; kotoran manusia pun dimakannya. Sangat suka berada pada tempat yang kotor, tidak suka berada di tempat yang bersih dan kering. Babi hewan pemalas dan tidak suka bekerja (mencari pakan), tidak tahan terhadap sinar matahari, tidak gesit, tapi makannya rakus (lebih suka makan dan tidur), bahkan paling rakus di antara hewan jinak lainnya. Jika tambah umur, jadi makin malas &amp;amp; lemah (tidak berhasrat menerkam dan membela diri). Suka dengan sejenis dan tidak pencemburu. A.V. Nalbandov dan N.V. Nalbandov (Buku : Adaptive physiology on mammals and birds). Konsumen daging babi sering mengeluhkan bau pesing pada daging babi (menurut penelitian ilmiah, hal tsb. disebabkan karena praeputium babi sering bocor, sehingga urine babi merembes ke daging). Lemak punggung babi tebal, babi memiliki back fat (lemak punggung) yang lumayan tebal. Konsumen babi sering memilih daging babi yg lemak punggungnya tipis, karena semakin tipis lemak punggungnya, dianggap semakin baik kualitasnya. Sifat lemak punggung babi adalah mudah mengalami oxidative rancidity, sehingga secara struktur kimia sudah tidak layak dikonsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babi adalah hewan yang kerakusannya dalam makan tidak tertandingi hewan lain. Ia makan semua makanan yang ada di depannya. Jika perutnya telah penuh atau makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya lagi, untuk memuaskan kerakusannya. Ia tidak akan berhenti makan, bahkan memakan muntahannya. Ia memakan semua yang bisa dimakan di hadapannya. Memakan kotoran apa pun di depannya, entah kotoran manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan memakan kotorannya sendiri, hingga tidak ada lagi yang bisa dimakan di hadapannya. Kadang ia mengencingi kotorannya dan memakannya jika berada di hadapannya, kemudian memakannya kembali. Ia memakan sampah busuk dan kotoran hewan. Babi adalah hewan mamalia satu-satunya yang memakan tanah, memakannya dalam jumlah besar dan dalam waktu lama jika dibiarkan. Kulit orang yang memakan babi akan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Penelitian ilmiah modern di dua negara Timur &amp;amp; Barat, yaitu Cina dan Swedia,  menyatakan:&lt;br /&gt;"Daging babi merupakan merupakan penyebab utama kanker anus &amp;amp; kolon". Persentase penderita penyakit ini di negara negara yang penduduknya memakan babi, meningkat secara drastis, terutama di negara-negara Eropa, dan Amerika, serta di negara-negara Asia (seperti Cina dan India). Sementara di negara-negara Islam, persentasenya amat rendah, sekitar 1/1000. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada 1986, dalam Konferensi Tahunan Sedunia tentang Penyakit Alat Pencernaan, yang diadakan di Sao Paulo. Babi banyak mengandung parasit, bakteri, bahkan virus yang berbahaya, sehingga dikatakan sebagai Reservoir Penyakit. Gara-gara babi, virus Avian Influenza jadi ganas. Virus normal AI (Strain H1N1 dan H2N1) tidak akan menular secara langsung ke manusia. Virus AI mati dengan pemanasan 60 ºC lebih-lebih bila dimasak hingga mendidih.Bila ada babi, maka dalam tubuh babi, Virus AI dapat melakukan mutasi &amp;amp; tingkat virulensinya bisa naik hingga menjadi H5N1. Virus AI Strain H5N1 dapat menular ke manusia. Virus H5N1 ini pada Tahun 1968 menyerang Hongkong dan membunuh 700.000 orang (diberi nama Flu Hongkong).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daging babi adalah daging yang sangat sulit dicerna karena banyak mengandung lemak. Meskipun empuk dan terlihat begitu enak dan lezat, namun daging babi sulit dicerna. Ibaratnya racun, seperti halnya kholesterol! Selain itu, daging babi menyebabkan banyak penyakit : pengerasan pada urat nadi, naiknya tekanan darah, nyeri dada yang mencekam (angina pectoris) , dan radang pada sendi-sendi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar th 2001 pernah terjadi para dokter Amerika berhasil mengeluarkan cacing yang berkembang di otak seorang perempuan, setelah beberapa waktu mengalami gangguan kesehatan yang ia rasakan setelah mengkonsumsi makanan khas meksiko yang terkenal berupa daging babi, hamburger (ham = babi, sebab aslinya, hamburger adalah dari daging babi). Sang perempuan menegaskan bahwa dirinya merasa capek-capek (letih) selama 3 pekan setelah makan daging babi. Telur cacing tsb menempel di dinding usus pada tubuh sang perempuan tersebut, kemudian bergerak bersamaan dengan peredaran darah sampai ke ujungnya, yaitu otak. Dan ketika cacing itu sampai di otak, maka ia menyebabkan sakit yang ringan pada awalnya, hingga akhirnya mati dan tidak bisa keluar darinya. Hal ini menyebabkan dis-fungsi yang sangat keras pada susunan organ di daerah yang mengelilingi cacing itu di otak. Penyakit-penyakit "cacing pita" merupakan penyakit yang sangat berbahaya yang terjadi melalui konsumsi daging babi. Ia berkembang di bagian usus 12 jari di tubuh manusia, dan beberapa bulan cacing itu akan menjadi dewasa. Jumlah cacing pita bisa mencapai sekitar ”1000 ekor dengan panjang antara 4 - 10 meter”, dan terus hidup di tubuh manusia dan mengeluarkan telurnya melalui BAB (buang air besar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan : ”Bahwa seseorang itu berkelakuan sesuai dengan apa yang dimakannya.” Melihat tayangan di salah satu TV swasta kemarin sore, seorang profesor dari IPB (lupa namanya) telah meneliti struktur DNA babi. Sesuatu yang mengejutkan ternyata, struktur gen babi itu mirip dengan struktur gen manusia. Jadi dapat dikatakan gen babi = gen manusia, jadi sama dengan kita memakan daging manusia (=kanibal), subhanallah. Jadi ada betulnya artikel tadi mengatakan kalau kita memakan babi bukan tidak mungkin karakter babi menempel pada kita, tidak pada kita, bisa jadi pada keturunan kita ! wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keharaman Babi&lt;br /&gt;Pemanfaatan babi hukumnya haram, baik atas daging, lemak, maupun bagian-bagian lainnya. Firman Allah SWT dalam QS.5:3 mengharamkan konsumsi bangkai, darah, dan daging babi. Demikian juga dengan firman-Nya dalam QS.6:145 dan QS.16.115, mengharamkan konsumsi bangkai, darah, dan daging babi. Dalil-dalil pada beberapa ayat ini merupakan nash yang jelas, yang menegaskan tentang keharaman, antara lain mengkonsumsi babi. Al-Qur’an menggunakan kata lakhma (daging) karena sebagian besar pengambilan manfaat dari babi adalah daging. Selain itu, dalam daging babi selalu terdapat lemak. Kendati Al-Qur’an menggunakan kata lakhma, pengharaman babi bukan hanya dagingnya. Tetapi seluruh tubuh hewan babi. Pandangan ini sesuai dengan kaidah ushul fiqh: min dzikri’l-juz I wa iradati’l kulli. Artinya yang disebutkan sebagian dan dikehendaki seluruhnya.Bahwa daging babi mengandung cacing pita (taenia solium), hampir semua orang sudah mengenalnya. Ternyata tidak hanya itu bahaya yang mengancam pemakan babi. Lemak babi mengandung kolesterol paling tinggi dibandingkan dengan lemak hewan lainnya. Darahnya mengandung asam urat paling tinggi. Asam urat merupakan bahan yan jika terdapat dalam darah dapat menimbulkan berbagai penyakit pada manusia. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sedikitnya 70 jenis penyakit yang lazim diidap hewan babi dan beberapa diantaranya dapat ditularkan manusia yang memakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah diharamkannya daging babi, terutama keberadaan cacing pita, seringkali disanggah oleh para ahli kesehatan modern. Mereka mengatakan bahwa cacing tersebut mudah dihilangkan bahkan dengan teknik pemasakan yang paling sederhana. Pandangan ini sungguh menyesatkan karena babi itu sendiri menjijikkan bagi orang yang bersih jiwanya. Allah SWT mengharamkan sejak masa silam untuk waktu yang lama agar manusia mengetahui. Manusia kini baru mengenal sedikit bahayanya, yakni cacing pita, namun demikian jauh sebelum itu Allah SWT telah mengharamkannya. Mungkin sekarang orang menganggap bahwa peralatan masak modern telah mengalami kemajuan, sehingga ada asumsi kalau daging babi tidak lagi membahayakan dan bukan merupakan sumber ancaman bagi manusia. Dengan teknologi pengolahan makanan dan teknik pemanasan yang canggih, bahaya itu sudah bisa dihilangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka lupa bahwa untuk mengatasi bahaya cacing pita saja telah memakan waktu berabad-abad. Itu hanya untuk mengungkap satu penyakit saja. Siapa yang dapat menjamin bahwa di luar penyakit itu sudah tidak ada lagi bahaya yang terkandung dalam daging babi. Apakah tidak selayaknya syari’at yang jauh lebih mendahului kemajuan pengetahuan manusia puluhan abad yang lalu kita percayai sepenuhnya? Semua keputusan diserahkan pada syari’at. Kita menghalalkan apa yang dibolehkan dan menghindari apa yang dilarang. Syariat ini adalah dari Allah Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui bentuk dan karakteristik segala makhluk-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini dengan munculnya kasus Japaneese Enchephalitis (JE) di Malaysia, nyaris semua mata kembali terbuka. Satu lagi bencana mengancam manusia timbul dan bersumber dari babi. Rupanya Allah masih sayang pada manusia, sehingga sekali lagi manusia diingatkan agar menjauhi hewan haram itu. Sudah banyak sekali bukti-bukti yang menunjukkan keburukan babi. Namun sejauh ini manusia tetap nekad memakannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah Babi Diharamkan Dalam Islam&lt;br /&gt;Hikmah Pengharaman Babi oleh Syeikh Fauzi Muhammad Abu Zaid Hal ini penting untuk diketahui, terutama oleh pemuda-pemuda kita yang sering pergi ke negara-negara Eropa dan Amerika, yang menjadikan daging babi sebagai makanan pokok dalam hidangan mereka.&lt;br /&gt;Dalam kesempatan ini, saya sitir kembali kejadian yang berlangsung ketika Imam Muhammad Abduh mengunjungi Perancis. Mereka bertanya kepadanya mengenai rahasia diharamkannya babi dalam Islam. Mereka bertanya kepada Imam, “Kalian (umat Islam) mengatakan bahwa babi haram, karena ia memakan sampah yang mengandung cacing pita, mikroba-mikroba dan bakteri-bakteri lainnya. Hal itu sekarang ini sudah tidak ada. Karena babi diternak dalam peternakan modern, dengan kebersihan terjamin, dan proses sterilisasi yang mencukupi. Bagaimana mungkin babi-babi itu terjangkit cacing pita atau bakteri dan mikroba lainnya.?”&lt;br /&gt;Imam Muhammad Abduh tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dan dengan kecerdikannya beliau meminta mereka untuk menghadirkan dua ekor ayam jantan beserta satu ayam betina, dan dua ekor babi jantan beserta satu babi betina.&lt;br /&gt;Mengetahui hal itu, mereka bertanya, “Untuk apa semua ini?” Beliau menjawab, “Penuhi apa yang saya pinta, maka akan saya perlihatkan suatu rahasia.”Mereka memenuhi apa yang beliau pinta. Kemudian beliau memerintahkan agar melepas dua ekor ayam jantan bersama satu ekor ayam betina dalam satu kandang. Kedua ayam jantan itu berkelahi dan saling membunuh, untuk mendapatkan ayam betina bagi dirinya sendiri, hingga salah satu dari keduanya hampir tewas. Beliau lalu memerintahkan agar mengurung kedua ayam tersebut.&lt;br /&gt;Kemudian beliau memerintahkan mereka untuk melepas dua ekor babi jantan bersama dengan satu babi betina. Kali ini mereka menyaksikan keanehan. Babi jantan yang satu membantu temannya sesama jantan untuk melaksanakan hajat seksualnya, tanpa rasa cemburu, tanpa harga diri atau keinginan untuk menjaga babi betina dari temannya.&lt;br /&gt;Selanjutnya beliau berkata, “Saudara-saudara, daging babi membunuh ‘ghirah’ orang yang memakannya. Itulah yang terjadi pada kalian. Seorang lelaki dari kalian melihat isterinya bersama lelaki lain, dan membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan seorang bapak di antara kalian melihat anak perempuannya bersama lelaki asing, dan kalian membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan was-was, karena daging babi itu menularkan sifat-sifatnya pada orang yang memakannya.”&lt;br /&gt;Kemudian beliau memberikan contoh yang baik sekali dalam syariat Islam. Yaitu Islam mengharamkan beberapa jenis ternak dan unggas yang berkeliaran di sekitar kita, yang memakan kotorannya sendiri. Syariah memerintahkan bagi orang yang ingin menyembelih ayam, bebek atau angsa yang memakan kotorannya sendiri agar mengurungnya selama tiga hari, memberinya makan dan memperhatikan apa yang dikonsumsi oleh hewan itu. Hingga perutnya bersih dari kotoran-kotoran yang mengandung bakteri dan mikroba. Karena penyakit ini akan berpindah kepada manusia, tanpa diketahui dan dirasakan oleh orang yang memakannya. Itulah hukum Allah, seperti itulah hikmah Allah.Ilmu pengetahuan modern telah mengungkapkan banyak penyakit yang disebabkan mengkonsumsi daging babi.&lt;br /&gt;Sebagian darinya disebutkan oleh Dr.Murad Hoffman, seorang Muslim Jerman, dalam bukunya “Pergolakan Pemikiran: Catatan Harian Muslim Jerman”, halaman 130-131: “Memakan daging babi yang terjangkiti cacing babi tidak hanya berbahaya, tetapi juga dapat menyebabkan meningkatnya kandungan kolestrol dan memperlambat proses penguraian protein dalam tubuh, yang mengakibatkan kemungkinan terserang kanker usus, iritasi kulit, eksim, dan rematik. Bukankah sudah kita ketahui, virus-virus influenza yang berbahaya hidup dan berkembang pada musim panas karena medium babi?”&lt;br /&gt;Dr. Muhammad Abdul Khair, dalam bukunya Ijtihâdât fi at Tafsîr al penderita penyakit ini di negara-negara yang penduduknya memakan babi, meningkat secara drastis. Terutama di negara-negara Eropa, dan Amerika, serta di negara-negara Asia (seperti Cina dan India). Sementara di negara-negara Islam, persentasenya amat rendah, sekitar 1/1000. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada 1986, dalam Konferensi Tahunan Sedunia tentang Penyakit Alat Pencernaan, yang diadakan di Sao Paulo. Kini kita tahu betapa besar hikmah Allah mengharamkan daging dan lemak babi. Untuk diketahui bersama, pengharaman tersebut tidak hanya daging babi saja, namun juga semua makanan yang diproses dengan lemak babi, seperti beberapa jenis permen dan coklat, juga beberapa jenis roti yang bagian atasnya disiram dengan lemak babi. Kesimpulannya, semua hal yang menggunakan lemak hewan hendaknya diperhatikan sebelum disantap. Kita tidak memakannya kecuali setelah yakin bahwa makanan itu tidak mengandung lemak atau minyak babi, sehingga kita tidak terjatuh ke dalam kemaksiatan terhadap Allah SWT, dan tidak terkena bahaya-bahaya yang melatarbelakangi Allah SWT mengharamkan daging dan lemak babi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan Pengharaman Babi&lt;br /&gt;1. Babi dilarang dalam Alquran&lt;br /&gt;Alquran melarang konsumsi babi tidak kurang dari 4 tempat yang berbeda-beda. Ia adalah dilarang dalam surat 2:173, 5:3, 6:145 dan 16:115.&lt;br /&gt;"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, " [Al-Qur'an 5:3] ayat-ayat Al Qur'an Di atas cukup untuk memenuhi baagi Muslim mengapa babi diharamkan.&lt;br /&gt;2. Konsumsi daging babi menyebabkan beberapa penyakit non-Muslim Lainnya dan atheists akan setuju hanya akan percaya melalui alasan, logika dan ilmu pengetahuan. Memakan babi dapat menyebabkan tidak kurang dari tujuh puluh berbagai jenis penyakit. Seseorang dapat memiliki berbagai helminthes(cacingan) seperti cacing gelang, cacing keremi, cacing tambang, dll Salah satu yang paling berbahaya adalah Taenia Solium, yang dalam terminologi manusia disebut cacing pita. Ia hidup di usus dan sangat panjang. berkembang melalui telur, masuk ke aliran darah dan dapat mencapai hampir semua organ tubuh. Jika ia memasuki otak dapat menyebabkan hilangnya memori. Jika memasuki jantung dapat menyebabkan serangan jantung, jika memasuki mata dapat menyebabkan kebutaan, jika memasuki hati itu dapat menyebabkan kerusakan hati. Hal ini dapat merusak hampir semua organ tubuh.&lt;br /&gt;Helminthes berbahaya lain adalah Trichura Tichurasis. Umum kesalahpahaman tentang babi adalah bahwa jika dimasak dengan baik, telur nya akan mati. Dalam sebuah riset penelitian yang dilakukan di Amerika, telah ditemukan bahwa dari dua puluh empat orang menderita Trichura Tichurasis, dua puluh dua telah memasak babi dengan sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa telur cacing dalam daging babi tidak mati dimasak dengan suhu normal.&lt;br /&gt;3. Lemak babi mengandung bahan untuk bangunan. Daging Babi mempunyai sedikit otot (lemak) yang mengandung bahan untuk bangunan dan kelebihan lemak. Lemak ini mengendap di tubuh dan dapat menyebabkan hipertensi dan serangan jantung. Tidak mengherankan bahwa lebih dari 50% dari Amerika menderita hipertensi.&lt;br /&gt;4. Babi merupakan salah satu binatang terjorok di bumi. Babi yang merupakan salah satu binatang terjorok di bumi. Ia hidup dan berkembang di kotoran binatang, kotoran manusia dan kotoran lainnya. Ini adalah jalan terbaik yang saya tahu bahwa Allah menciptakannya. Di masyarakat desa tidak memiliki toilet modern dan mereka membuang kotoran di udara terbuka. Sangat sering kotoran mereka akan habis dimakan oleh babi.&lt;br /&gt;Beberapa orang berpendapat bahwa di negara-negara maju seperti Australia, babi dipelihara sangat bersih dan higienis. Bahkan dalam kondisi higienis ini babi-babi dalam kandang yang sama. Betapa pun keras Anda mencoba untuk menjaga mereka bersih, mereka jorok secara alami. Mereka memakan dan menikmati kotoran kawannya sendiri&lt;br /&gt;5. Babi adalah binatang yang paling tak tahu malu. Babi adalah yang paling tak tahu malu binatang di muka bumi. Ini adalah satu-satunya binatang yang mengundang teman-teman yang melakukan hubungan seks dengan pasangannya. Di Amerika, kebanyakan orang mengkonsumsi babi. Sering kali setelah pesta dansa, mereka saling bertukar isteri; yaitu banyak yang berkata "Anda tidur dengan istri saya dan saya akan tidur dengan istri anda." Jika Anda makan babi maka anda berkelakuan seperti babi. Menurut sebuah artikel di majalah lokal di India, praktek bertukar istri telah menjadi hal yang lumrah di kehidupan Bombay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babi Sebagai Makanan&lt;br /&gt;Dalam al-Quran, sebagai hewan, babi hukumnya najis jika disentuh dan haram untuk dimakan oleh umat Islam. Babi juga diharamkan untuk dikonsumsi dalam agama Yahudi dan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di kalangan Kristen.&lt;br /&gt;Namun babi banyak dikonsumsi orang Eropa dan orang Tionghoa. Beberapa suku bangsa di Indonesia selain suku Tionghoa-Indonesia yang umumnya juga suka mengkonsumsi babi yaitu suku Bali, Batak dan Manado. Dan dalam bahasa Jawa, babi berarti 'celeng.&lt;br /&gt;Beberapa contoh makanan yang mengandung babi:&lt;br /&gt;    Babi panggang merah (manis) khas Tionghoa&lt;br /&gt;    Babi panggang putih (asin) khas Tionghoa&lt;br /&gt;    Sekba (berisi jeroan babi dengan kuah) khas Tionghoa (Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang)&lt;br /&gt;Kitoba (irisan bagian kepala babi yang diolah dengan cara dikukus. Untuk menikmatinya harus dicelupkan ke dalam cuka aren yang disediakan khas Tionghoa Bogor&lt;br /&gt;    Sate babi khas Tionghoa: sama seperti daging sate pada umumnya namun tusukannya lebih besar dan rasanya manis.&lt;br /&gt;    Ngo hiang / Go Hiong: Daging babi cincang yang dibungkus dengan kulit kembang tahu tipis. (Jakarta, Bogor, Bandung).&lt;br /&gt;    Babi cin: Hidangan daging babi + minyak dengan kuah yang rasanya manis karena kecap manis.&lt;br /&gt;Bakut: Hidangan khas Tionghoa yang merupakan paduan dari sayur asin dan kaldu iga babi.(Dapat dijumpai di seluruh Indonesia).&lt;br /&gt;    Saksang: Olahan daging babi khas daerah Tapanuli&lt;br /&gt;    Babi rica-rica: Daging babi olahan khas Manado yang rasanya sangat pedas.&lt;br /&gt;    Babi guling: Olahan daging babi khas Bali&lt;br /&gt;    Babi putar: Olahan daging babi khas Manado yang umumnya disajikan pada saat perayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahaya Daging Babi&lt;br /&gt;Babi adalah hewan yang sangat kotor karena biasanya memakan segala sesuatu yang diberikan kepadanya dari mulai bangkai, kotorannya sendiri sampai kotoran manusia. Secara psikis babi memiliki tabiat yang malas, tidak menyukai matahari, sangat suka makan dan tidur, memiliki sifat tamak, dan tidak memiliki kehendak dan daya juang, bahkan untuk membela diri sekalipun.&lt;br /&gt;Secara fisik babi banyak menyimpan bibit penyakit. Babi dianggap hewan yang sama sekali tidak layak untuk dikonsumsi. Di antara parasit-parasit itu adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cacing Taenia Sollum&lt;br /&gt;Parasit ini berupa larva yang berbentuk gelembung pada daging babi atau berbentuk butiran-butiran telur pada usus babi. Jika seseorang memakan daging babi tanpa dimasak dengan baik, maka dinding-dinding gelembung ini akan dicerna oleh perut manusia. Peristiwa ini akan menghalangi perkembangan tubuh dan akan membentuk cacing pita yang panjangnya bisa mencapai lebih dari 3 meter. Cacing ini akan melekat pada dinding usus dengan cara menempelkan kepalanya lalu menyerap unsur-unsur makanan yang ada di lambung. Hal itu bisa menyebabkan seseorang kekurangan darah dan gangguan pencernaan, karena cacing ini bisa mengeluarkan racun. Apabila pada diri seseorang, khususnya anak-anak, telah diketahui terdapat cacing ini di lambungnya maka dia akan mengalami hysteria atau perasaan cemas. Terkadang larva yang ada dalam usus manusia ini akan memasuki saluran peredaran darah dan terus menyebar ke seluruh tubuh, termasuk otak, hati, saraf tulang belakang, dan paru-paru. Dalam kondisi ini dapat menyebabkan penyakit yang mematikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cacing Trichinia Spiralis&lt;br /&gt;Cacing ini ada pada babi dalam bentuk gelembung-gelembung lembut. Jika seseorang mengkonsumsi daging babi tanpa dimasak dengan baik, maka gelembung-gelembung -yang mengandung larva cacing ini- dapat tinggal di otot dan daging manusia, sekat antara paru-paru dan jantung, dan di daerah-daerah lain di tubuh. Penyerangan cacing ini pada otot dapat menyebabkan rasa sakit yang luar biasa dan menyebabkan gerakan lambat, ditambah lagi sulit melakukan aktivitas. Sedang keberadaannya di sekat tersebut akan mempersempit pernafasan, yang bisa berakhir dengan kematian.Bisa jadi, cacing jenis ini tidak akan membuat seseorang meninggal dalam waktu singkat. Namun patut diketahui bahwa cacing-cacing kecil yang berkembang di otot-otot tubuh seseorang setelah dia mengkonsumsi daging babi bisa dipastikan akan menetap di sana hingga orang itu meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cacing Schistosoma Japonicus&lt;br /&gt;Ini adalah cacing yang lebih berbahaya daripada cacing schistosoma yang dilkenal di Mesir. Dan babi adalah satu-satunya binatang yang mengandung cacing ini. Cacing ini dapat menyerang manusia apabila mereka menyentuh atau mencuci tangan dengan air yang mengandung larva cacing yang berasal dari kotoran babi. Cacing ini dapat menyelinap ke dalam darah, paru-paru, dan hati. Cacing ini berkembang dengan sangat cepat, dalam sehari bisa mencapai lebih dari 20.000 telur, serta dapat membakar kulit, lambung dan hati. Terkadang juga menyerang bagian otak dan saraf tulang belakang yang berakibat pada kelumpuhan dan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasciolepsis Buski&lt;br /&gt;Parasit ini hidup di usus halus babi dalam waktu yang lama. Ketika terjadi percampuran antara usus dan tinja, parasit ini akan berada dalam bentuk tertentu yang bersifat cair yang bisa memindahkan penyakit pada manusia. Kebanyakan jenis parasit ini terdapat di daerah China dan Asia Timur. Parasit ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan, diare, dan pembengkakan di sekujur tubuh, serta bisa menyebabkan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cacing Ascaris&lt;br /&gt;Panjang cacing ini adalah sekitar 25 cm. Cacing ini bisa menyebabkan radang paru-paru, radang tenggorokan dan penyumbatan lambung. Cacing ini tidak bisa dibasmi di dalam tubuh, kecuali dengan cara operasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cacing Anklestoma&lt;br /&gt;Larva cacing ini masuk ke dalam tubuh dengan cara membakar kulit ketika seseorang berjalan, mandi, atau minum air yang tercemar. Cacing ini bisa menyebabkan diare dan pendarahan di tinja, yang bisa menyebabkan terjadinya kekurangan darah, kekurangan protein dalam tubuh, pembengkakan tubuh, dan menyebabkan seorang anak mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan fisik dan mental, lemah jantung dan akhirnya bisa menyebabkan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calornorchis Sinensis&lt;br /&gt;Ini jenis cacing yang menyelinap dan tinggal di dalam air empedu hati babi, yang merupakan sumber utama penularan penyakit pada manusia. Cacing ini terdapat di China dan Asia Timur, karena orang-orang di sana biasa memelihara dan mengkonsumsi babi. Virus ini bisa menyebabkan pembengkakan hati manusia dan penyakit kuning yang disertai dengan diare yang parah, tubuh menjadi kurus dan berakhir dengan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cacing Paragonimus&lt;br /&gt;Cacing ini hidup di paru-paru babi. Cacing ini tersebar luas di China dan Asia Tenggara tempat di mana babi banyak dipelihara dan dikonsumsi. Cacing ini bisa menyebabkan radang paru-paru. Sampai sekarang belum ditemukan cara membunuh cacing di dalam paru-paru. Tapi yang jelas cacing ini tidak terdapat, kecuali di tempat babi hidup. Parasit ini bisa menyebabkan pendarahan paru-paru kronis, di mana penderita akan merasa sakit, ludah berwarna cokelat seperti karat, karena terjadi pendarahan pada kedua paru-paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swine Erysipelas&lt;br /&gt;Parasit ini terdapat pada kulit babi. Parasit ini selalu siap untuk pembakaran pada kulit manusia yang mencoba mendekati atau berinteraksi dengannya. Parasit ini bisa menyebabkan radang kulit manusia yang memperlihatkan warna merah dan suhu tubuh tinggi.Sedang kuman-kuman yang ada pada babi dapat menyebabkan berbagai penyakit, diantaranya adalah TBC, Cacar (Small pox), gatal-gatal (scabies), dan Kuman Rusiformas N.Dalam berbagai argumentasi, sebagian orang berpendapat jika peralatan modern sudah jauh lebih maju dan bisa menanggulangi cacing-cacing ini sehingga tidak berbahaya lagi, karena panas tinggi yang dihasilkan oleh alat tersebut. Namun pengetahuan ini masih memerlukan kajian yang lebih mendalam. Sampai sekarang belum ada seorang ahli pun yang bisa memastikan dengan benar berapa derajat panas yang digunakan sebagai ukuran baku untuk membunuh cacing-cacing ini. Padahal menurut teori, memasak daging yang benar adalah tidak terlalu cepat namun juga tidak terlalu lama. Karena jika terlalu cepat dikhawatirkan parasit-parasit yang terdapat dalam daging tidak sempat mati sementara kalau terlalu lama semua kandungan gizi daging akan hilang dan hanya menyisakan toxic (racun). Kalau sudah demikian siapa yang berani menjamin kalau daging babi cukup aman untuk dikonsumsi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar dalam tubuh sapi juga ada cacing. Cacing tersebut diberi nama T. Saginata. Tapi babi sendiri kadang-kadang juga menjadi sarang cacing jenis ini. Namun demikian ada perbedaan yang mendasar antara cacing yang terdapat pada sapi dan cacing yang ada pada babi. Saginata yang ada pada babi melangsungkan proses hidupnya dalam tubuh manusia sedangkan saginata yang ada pada sapi hanya dapat hidup di dalam sapi dan tidak hidup di dalam tubuh manusia, sekalipun sudah terlanjur masuk dalam tubuh manusia. Adapun keberadaan saginata dalam tubuh manusia mungkin disebabkan oleh proses masak yang tidak baik di dalam tubuh babi.Disamping itu daging babi adalah daging yang paling sulit dicerna, karena kandungan zat lemaknya sangat tinggi. Tabel berikut akan menjelaskan kadar lemak yang terdapat dalam daging babi dan hewan lainnya:&lt;br /&gt;Babi gemuk 91%, Kambing gemuk 56%, Sapi gemuk 35%&lt;br /&gt;Babi sedang 60%, Kambing sedang 29%, Sapi sedang 20%&lt;br /&gt;Babi kurus 29%, Kambing kurus 14%, Sapi kurus 6%&lt;br /&gt;Selain itu jika dibiarkan berada di udara terbuka maka daging yang pertama kali busuk adalah daging babi, diikuti daging domba dan yang terakhir adalah daging sapi. Akan tetapi apabila daging-daging tersebut dimasak, maka yang paling lambat masaknya adalah daging babi.Dari hasil penelitian juga diperoleh kesimpulan bahwa daging kambing dan daging sapi berada dalam lambung selama 3 jam proses pencernaan sempurna, sementara daging babi bisa berada dalam lambung selama 5 jam hanya untuk memperoleh hasil pencernaan yang sempurna.Jika ada yang bertanya: buat apa babi diciptakan jika tidak untuk dimakan? Kita bisa jawab: di dalam tubuh babi ada hal yang bisa kita petik pelajarannya dan kemudian kita hindari sebagaimana naluri kita selalu berkata untuk sedapat mungkin menghindarkan diri dari pengaruh virus flu atau bibit penyakit lainnya. Namun jika dia masih juga bersikukuh tentang babi, maka paling tidak dia harus bisa membuktikan bahwa daging tersebut aman dari pengaruh parasit maupun kandungan lemaknya yang tinggi. Apa dia dapat melakukannya sementara para ahli saja tidak benar-benar berani menjaminnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsumen daging babi sering mengeluhkan bau pesing pada daging babi.&lt;br /&gt;Nah, ternyata menurut penelitian ilmiah, hal tsb. disebabkan karena praeputium babi sering bocor, sehingga urine babi tsb.merembes ke daging.&lt;br /&gt;Lemak punggung babi tebal.&lt;br /&gt;1. Babi memiliki back fat (lemak punggung) yang lumayan tebal.&lt;br /&gt;2. Konsumen babi sering memilih daging babi yg lemak punggungnya tipis,&lt;br /&gt;karena semakin tipis lemak punggungnya, dianggap semakin baik kualitasnya.&lt;br /&gt;3. Sifat lemak punggung babi adalah mudah mengalami oxidative rancidity, shg. secara struktur kimia sudah tidak layak dikonsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta-fakta yang membuat seseorang harus segera menjauhi babi&lt;br /&gt;1. Babi adalah hewan yang kerakusannya dalam makan tidak tertandingi hewan lain. Ia makan semua makanan di depannya.&lt;br /&gt;2. Jika perutnya telah penuh atau makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya lagi, untuk memuaskan kerakusannya. Ia tidak akan berhenti makan, bahkan memakan muntahannya.&lt;br /&gt;3. Ia memakan semua yang bisa dimakan di hadapannya. Memakan kotoran apa pun di depannya, entah kotoran manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan memakan kotorannya sendiri, hingga tidak ada lagi yang bisa dimakan di hadapannya.&lt;br /&gt;4. Kadang ia mengencingi kotoranya dan memakannya jika berada di hadapannya, kemudian memakannya kembali.&lt;br /&gt;5. Ia memakan sampah, busuk-busukan, &amp;amp; kotoran hewan.&lt;br /&gt;6. Babi adalah hewan mamalia satu-satunya yang memakan tanah, memakannya dalam jumlah besar &amp;amp; dalam waktu lama, jika dibiarkan.&lt;br /&gt;7. Kulit orang yang memakan babi akan mengeluarkan bau yang tidak sedap.&lt;br /&gt;8. Penelitian ilmiah modern di 2 negara Timur &amp;amp; Barat, yaitu Cina dan Swedia :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cina &amp;amp; Swedia menyatakan:&lt;br /&gt;“Daging babi merupakan merupakan penyebab utama kanker anus &amp;amp; kolon”.&lt;br /&gt;a. Persentase penderita penyakit ini di negara-negara yang penduduknya memakan babi, meningkat secara drastis.&lt;br /&gt;b. Terutama di negara-negara Eropa, dan Amerika, serta di negara-negara Asia seperti Cina dan India ).&lt;br /&gt;c. Sementara di negara-negara Islam, persentasenya amat rendah, sekitar 1/1000.&lt;br /&gt;d. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada 1986, dalam Konferensi Tahunan Sedunia tentang Penyakit Alat Pencernaan, yang diadakan di Sao Paulo . Babi banyak mengandung parasit, bakteri, bahkan virus yang berbahaya, sehingga dikatakan sebagai Reservoir Penyakit, seperti : Virus Encephalitis, Virus Ebola, Virus H5N1, cacing pita, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Virus Encephalitis menyerang otak kecil&lt;br /&gt;2. Di Malaysia, virus ini pernah menghebohkan karena membunuh 90 orang hanya dalam waktu 60 hari.&lt;br /&gt;3. Sekarang pemerintah Malaysia melokalisasi babi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daging babi adalah tempat persinggahan bagi beberapa jenis cacing yang berbahaya.&lt;br /&gt;1. Cacing pita (Taenia solium),&lt;br /&gt;2. Cacing spiral (Trichinella spinalis),&lt;br /&gt;3. Cacing tambang (Ancylostoma duodenale),&lt;br /&gt;4. Cacing paru-paru (Paragonimus),&lt;br /&gt;5. Fasciolepsis busci, Schistosoma japonicum,&lt;br /&gt;6. Chlonorchis sinensis,&lt;br /&gt;7. Erypsipelothrix sp., dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CACING PITA (Taenia solium)&lt;br /&gt;1. Larva &amp;amp; cyste cacing pita babi dapat bermigrasi ke tubuh manusia melalui usus &amp;amp; peredaran darah.&lt;br /&gt;2. Apabila manusia memakan daging babi yg tidak dimasak dgn baik, maka larva-larva cacing akan masuk, menempel pada dinding, dan berkembang biak di usus manusia.&lt;br /&gt;3. Cacing-cacing tsb. akan menyedot sari-sari makanan.&lt;br /&gt;4. Akibatnya : anemia (kurang darah), gangguan pencernaan, diare, histeria, mudah kaget, dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa macam bakteri yang ada pada daging babi :&lt;br /&gt;Gara-gara babi, virus Avian Influenza (AI)jadi ganas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBENARNYA.&lt;br /&gt;1. Virus normal AI (Strain H1N1 dan H2N1) tidak akan menular secara langsung ke manusia.&lt;br /&gt;2. Virus AI mati dengan pemanasan 60 oC lebih-lebih bila dimasak hingga mendidih.&lt;br /&gt;3. Bila ada babi, maka dalam tubuh babi, Virus AI dapat melakukan mutasi &amp;amp; tingkat virulensinya bisa naik hingga menjadi H5N1.&lt;br /&gt;4. Virus AI Strain H5N1 dapat menular ke manusia.&lt;br /&gt;5. Virus H5N1 ini pada Tahun 1968 menyerang Hongkong dan membunuh 700.000&lt;br /&gt;orang (diberi nama Flu Hongkong).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sekelumit fakta ilmiah mengapa daging babi diharamkam untuk dikonsumsi. Semoga umat Islam memahami hikmah larangan-larangan haram yang difirmankan oleh Allah SWT. Sesungguhnya kajian ilmiah yang terkandung dalam berbagai larangan haram yang tersebut dalam Al-Quran itu sungguh sangat beralasan bila dikaji secara ilmiah berdasarkan ilmu pengetahuan. Semoga tulisan ini bermanfaat!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-6422641911012028564?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/6422641911012028564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=6422641911012028564' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/6422641911012028564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/6422641911012028564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2009/03/mengapa-daging-babi-haram-untuk.html' title='Mengapa Daging Babi Haram untuk Dikonsumsi?'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-8709796189813112667</id><published>2008-06-03T14:29:00.000+07:00</published><updated>2008-06-03T14:31:16.354+07:00</updated><title type='text'>AQIDAH ISLAMIYAH</title><content type='html'>"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, Kitab-Kitab dan Nabi-Nabi." (QS. Al-Baqarah II: 177).&lt;br /&gt;Arti dan pengertian Aqidah.Kerangka agama Islam pada garis besarnya terdiri dari tiga unsur pokok, yaitu:1. Aqidah2. Syariah, yang terbagi pula kepada ibadah dan muamalah (antar hubungan)3. Akhlak.Yang menjadi pembahasan kita sekarang ialah soal Aqidah.Perkataan Aqidah yang berasal dari kata kerja aqada, artinya menurut ilmu bahasa ialah ikatan, simpulan.Adapun pengertiannya menurut istilah Syariah seperti dirumuskan oleh Prof. Farid Wajdi ialah  "tali yang mempertautkan  hati dengan Allah SWT." (Dairatun Ma'arif Qurnil 'Isyrin, jilid IV, hal 518).Prof. Mahmud Syaltut, bekas rektor Al-Azhar University beberapa puluh tahun yang lalu merumuskan definisi Aqidah itu sebagai suatu sikap yang perama kali dituntut untuk dipercayai dengan keimanan yang bulat, yang tidak boleh dicampuri oleh syak-wasangka dan tidak dipengaruhi oleh keragu-raguan." (Al-Islam, Aqidah wa Syari'ah, hal 12).Jika kerangka agama Islam diibaratkan seumpama satu bangunan, maka Aqidah itu adalah laksana fondasi yang menjadi landasan dan tumpuan bangunan tersebut.Apabila fondasi bangunan itu dibuat dari beton, maka ia akan berdiri tegak sepanjang zaman dan pada adatnya tidak akan runtuh walaupun digoncang oleh gempa.Hubungan antara ketiga unsur pokok kerangka Islam itu (Aqidah, Syariah dan Akhlak) boleh dikatakan saling berkaitan dan bertautan antara satu dengan yang lain. Apalagi dengan Syariah, yang merupakan sarana pelaksanaan dari pokok-pokok yang digerakkan oleh Aqidah itu.Mengenai hubungan tersebut, dilukiskan lebih jauh oleh Prof. Mahmud Syaltut sebagai berikut:"Posisi Aqidah menurut Islam adalah sebagai pokok yang di atasnya dibina peraturan-peraturan keagamaan (Syariah). Syariah itu adalah hasil yang dilahirkan oleh Aqidah. Dengan demikian, tidaklah ada Syariah dalam Islam tanpa Aqidah, sebagaimana Syariah itu sendiri tidak akan berkembang kecuali di bawah naungan Aqidah.Oleh sebab itu, Syariah tanpa Aqidah adalah laksana bangunan yang bertingkat tanpa fondasi.Aqidah itu tidaklah berlandaskan kepada kekuatan yang abstrak dan tidak bergantung kepada kekuatan yang datang dari luar badannya.Dalam Al-Quran, hal-hal yang bersangkut paut dengan Aqidah itu disebut dengan Iman, sementara yang bersangkut paut dengan Syariah itu disebut amal-sholeh.&lt;br /&gt;Aqidah dan hati nurani.Pada hakekatnya, Aqidah itu bersumber dalam hati nurani. Apa yang dipercayai itu harus dikukuhkan kebenarannya (tasdiq) oleh hati nurani, tidak boleh ragu-ragu. Harus bulat dan mantap.Aqidah Islamiyah mengandung 6 pengakuan dan pengenalan, yaitu:1. Mengenal (ma'rifat) kepada Allah SWT.Mengenal asma-asma Allah (nama-nama Allah) yang mulia dan sifat-sifatNya yang terhormat. Juga mengetahui dalil-dalil tentang Wujud-Nya dan kenyataan-kenyataan sifat-sifat keAgunganNya dalam alam semesta ini.2. Mengenal hal-hal di balik alam semesta ini.Yaitu, alam yang tidak dapat dilihat dengan panca indra. Demikian pula mengenai kekuatan-kekuatan kebaikan yang terkandung di dalamnya yang berbentuk malaikat. Juga kekuatan-kekuatan yang jahat yang berbentuk iblis dan pasukannya dari golongan syaitan. Juga mengenal hal-hal lainnya yang ada di alam ini seperti jin dan ruh.3. Mengenal Kitab-Kitab Suci.Ma'rifat dengan Kitab-Kitab Allah yang diturunkanNya kepada para Rasul, untuk dijadikan pegangan membedakan antara yang haq dan yang batil, antara yang baik dengan yang buruk, antara halal dengan yang haram, antara yang bagus dengan yang keji.4. Mengenal para Nabi dan Rasul.Ma'rifat dengan Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul yang dipilih oleh Allah SWT untuk menjadi pembimbing tentang petunjuk dan pemimpin semua makhluk menuju kebenaran (haq).5. Mengenal hari akhirat.Ma'rifat dengan hari kemudian dengan segala peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pad saat itu, seperti bangkit dari kubur dan mendapat pembalasan, menerima pahala atau siksa, sorga atau neraka.6. Mengenal qadha atau qadar.Ma'rifat kepada takdir, yang di atas landasannya berjalan peraturan segala yang ada di alam semesta ini, baik yang menyangkut dengan penciptaannya maupun pengaturannya.Pengenalan (ma'rifat) terhadap keenam hal itu, yang lebih umum dikenal dengan rukun Iman, adalah merupakan tonggak utama dari Aqidah Islamiyah.&lt;br /&gt;Pemahaman terhadap isi Aqidah itu berlaku untuk sepanjang masa, sejak dari dahulu sampai ke akhir zaman, tidak berubah-ubah, walaupun berganti zaman dan situasinya.Peranan Aqidah itu amat menentukan sekali dalam membentuk corak hidup manusia, apakah bahagia atau celaka dan sebagainya. Dalam hubungan ini, Sayid Sabiq menyimpulkan:"Aqidah itu merupakan ruh (semangat, jiwa) bagi setiap orang. Dengan berpegang teguh kepada Aqidah itu ia akan menghayati kehidupan yang baik (hayatan thaiyibah). Tanpa Aqidah, mati pulalah semangat dan ruh manusia. Aqidah itu laksana cahaya, apabila tidak memancar, maka manusia akan tersesat dalam liku-liku kehidupan ini dan kemudian akan terjerumus ke dalam lembah kesesatan yang dalam. Selain dari itu, Aqidah tersebut menjadi sumber dari sifat-sifat yang lembut dan kasih sayang, tempat menyemaikan perasaan-perasaan yang halus dan indah, juga menjadi tempat tumbuh budipekerti (akhlak) yang mulia dan utama." (Al-'Aqaidul Islamiyah, hal 11).&lt;br /&gt;Kalimat Syahadat, urat nadi Aqidah.Dua unsur yang merupakan urat nadi Aqidah itu menjadi anak kunci membuka pintu gerbang Islam, untuk diakui menjadi seorang muslim. Dua unsur tersebut ialah ucapan Syahadat, yang artinya:"Saya bersaksi (mengaku) bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah."Pengakuan yang demikian, yang lebih dikenal dengan sebutan Kalimat Syahadat, haruslah diucapkan oleh seorang pemeluk Islam atau orang yang hendak menganut agama Islam. Keislaman seseorang belum syah tanpa  mengucapkan kalimat syahadat itu.Kalimat syahadat itu harus diucapkan secara formil dengan lidah (ucapan). Tentu saja pengakuan yang diucapkan itu semestinya sesuai dengan suara dan pengakuan hati nurani sendiri. Tetapi, untuk mengetahui apakah sesuai ucapan dengan getaran hati nurani itu, hal tersebut adalah masuk dalam kompetensi Allah SWT, karena hanya Allah-lah yang tahu setiap isi hati makhluk ciptaanNya.Oleh sebab itu, syarat yang ditetapkan pada tingkat pertama untuk menjadi seorang muslim hanyalah mengucapkan kalimat syahadat itu saja, sedang hakekat yang sebenarnya dalam hati adalah urusan orang yang bersangkutan dengan Allah SWT.Sesudah mengucapkan kalimat syahadat itu, barulah terpikul di atas pundak orang yang bersangkutan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim.Ucapan bahwa tidak ada tuhan selain Allah, mengandung dua aspek pengakuan. Pertama, pengakuan bahwa hanyalah Allah SWT sajalah yang menciptakan makhluk dan mengasuh serta mengatur alam semesta, yang dalam ilmu Aqaid dinamakan Tauhid Rububiyah. Kedua, bahwa hanya Allah SWT sajalah yang harus disembah dan tempat berbakti, yang disebutkan dengan istilah Tauhid Ululiyah.Adapun ucapan bahwa "Muhammad adalah Utusan Allah" mengandung pengakuan akan mengikuti jejak Nabi Muhammad s.a.w. dengan mematuhi segala peraturan-peraturan yang disampaikannya, yang semuanya bersumber dan datang dari Allah Pencipta alam semesta ini. Inilah pengertian konsekuensi kalimat syahadat itu.Dipandang dari sudut perkembangan kejiwaan, maka ucapan kalimat syahadat itu menciptakan perubahan yang radikal dalam alam kehidupan manusia yang bersangkutan. Kalimat syahadat tersebut tak ubahnya sebagai transformator yang memindahkan sesuatu hal dari satu keadaan yang lama kepada keadaan yang baru. Diantaranya, dari seorang yang kafir menjadi seorang muslim; dari seorang yang kotor menjadi seorang yang bersih lagi suci; dari seorang yang tidak percaya menjadi seorang yang beriman; dari seorang calon penghuni neraka yang kekal menjadi seorang calon penghuni surga, dan seterusnya.Dalam pada itu, sebagai konsekuensi ucapan kalimat syahadat itu, dapat pula membawa perubahan yang radikal dalam bidang hukum (yurisprudensi). Umpamanya, apabila meninggal dunia seseorang yang sudah masuk Islam dengan mengucapkan kalimat syahadat itu, sedang anaknya masih memeluk agama lain, maka menurut hukum Islam, anak tersebut tidak berhak menerima harta warisan yang ditinggalkan ayahnya itu. Malah perbedaan aqidah bisa memutuskan hubungan perkawinan antara suami istri. Umpamanya si istri memeluk agama Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, sedang si suami tetap pada agamanya yang lama, maka menurut hukum Islam, mereka tidak boleh lagi hidup sebagai suami istri. Sebab seorang wanita muslimah tidak diperkenankan mempunyai suami non Islam.Dilihat dari sudut jaminan tentang hak-hak asasi manusia, maka orang yang mengucapkan kalimat syahadat itu tidak boleh diperangi, tidak boleh dibunuh, dan harus dilindungi hak diri serta harta bendanya, dan setiap umat Islam harus saling melindungi satu sama lain, walau berbeda suku, ras maupun jenis dan warna kulitnya. Apapun ras, warna kulit, suku bangsanya, bilamana ia beragama Islam, maka ia adalah saudara, dan harus senantiasa saling bantu membantu satu sama lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-8709796189813112667?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/8709796189813112667/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=8709796189813112667' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/8709796189813112667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/8709796189813112667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/06/aqidah-islamiyah.html' title='AQIDAH ISLAMIYAH'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-2114192702928869807</id><published>2008-06-03T14:28:00.000+07:00</published><updated>2008-06-03T14:29:02.181+07:00</updated><title type='text'>SUJUD SYUKUR</title><content type='html'>Dari Abu Bakrah: "Apabila Rasulullah menemukan sesuatu yang menggembirakannya atau disampaikan kepadanya sesuatu berita sukacita, maka beliau melakukan sujud sebagai tanda bersyukur kepada Allah SWT." (Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmizi).&lt;br /&gt;Sujud syukur - satu upacara tasyakkur.Menurut ketentuan syariah sujud syukur itu adalah satu diantara tatacara mewujudkan rasa syukur kepada Allah sWT.Pada hadist yang dicantumkan di atas dijelaskan, bahwa Rasulullah melakukan sujud syukur itu apabila beliau menemukan sesuatu hal yang menggembirakan hatinya atau mendapat berita sukacita.Memang, dalam situasi yang demikian, sering-sering Rasulullah melakukan sujud syukur itu.Dalam satu hadist yang diriwayatkan dari Sa'ad bin Abi Waqqas, diterangkan, bahwa pada suatu hari Rasulullah melakukan perjalanan dari Mekkah ke Madinah bersama-sama Sa'ad bin Abi Waqqash. Tatkala sampai di suatu tempatyang bernama 'Azwara', mereka berhenti untuk istirahat. Pada kesempatan itu, Rasulullah menadahkan tangan memohonkan doa kemudian beliau sujud, yang berlangsung dalam waktu yang agak lama. Setelah beliau bangkit dari sujud itu, ditadahkannya lagi tangannya ke atas bermohon kepada Allah. Tiga kali beliau melakukan hal itu berturut-turut.Setelah selesai, Rasulullah menceritakan kepada Sa'ad bin Abi Waqqah bahwa dalam sujud dan berdoa itu beliau memohonkan agar ummatnya diberikan syafa'at (pertolongan) oleh Allah SWT di hari akhirat kelak. Tuhan memberikan petunjuk kepada Beliau pada waktu itu, bahwa permohonan beliau itu akan dikabulkan Allah sepertiganya.Karena beliau amat girang sekali atas permohonan yang dikabulkan Allah itu, maka beliau mengerjakan sujud syukur sekali lagi. Dalam sujud syukur kedua itu, ditunjukkan pula kepada beliau bahwa sepertiga syafa'at yang masih ketinggalan, dikabulkan Allah juga.Akhirnya beliau melakukan sujud syukur yang ketiga sehingga ditunjukkan bahwa permohonan beliau diterima secara keseluruhan. (Nailul Authar, oleh As-Syaukani, jilid III, hal 121).Dalam riwayat yang lain diterangkan pula, bahwa pada suatu ketika Rasulullah bepergian bersama seorang sahabat yang bernama Abdur Rahman bin 'Auf. Mereka sampai ke suatu kebun korma dan beristirahat di tempat tersebut. Jarak duduk antara Rasulullah dengan Abdur Rahman agak berjauhan sedikit.Abdur Rahman melihat bahwa Rasulullah sedang melakukan sujud. Karena beliau bersujud lama sekali, maka timbullah kekhawatiran Abdur Rahman kalau-kalau Rasulullah dalam keadaan "bahaya", mungkin wafat dipanggil Tuhan secara mendadak. Dengan buru-buru Abdur Rahman datang mendekati Rasulullah untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Sejenak kemudian, Rasulullah mengangkat kepalanya, bangkit dari sujud dan bertanya kepada Abdur Rahman bin 'Auf: "Ada apakah gerangan, wahai sahabatku, maka Anda kelihatan seperti orang cemas?"Abdur Rahman menerangkan kekhawatirannya itu ,seperti diceritakan di atas. Akhirnya pada saat itu Rasulullah menjelaskan:"Bahwasanya Jibril datang kepadaku dan berkata: Sukakah engkau saya gembirakan? Sesungguhnya Allah berkata kepada engkau: Barang siapa yang mengucapkan salawat atas engkau, maka Allah SWT akan memberikan salawat kepadanya. Barangsiapa yang memberikan salam kepada engkau, maka Allah akan memberikan salam pula kepadanya. Mendengar hal itu, maka Rasulullah terus melakukan sujud kepada Allah sebagai tanda rasa syukur." (Riwayat Ahmad).Dari kedua perbuatan Rasulullah itu jelaslah bahwa sujud syukur itu Sunnah Nabi.&lt;br /&gt;Para sahabat melakukan sujud syukur.Berdasarkan atas sunnah Nabi itu, tidak heran apabila para sahabat sering-sering melakukan sujud syukur itu tatkala mereka mendapat nikmat atau memperoleh berita yang menggembirakan.Khalifah Abu Bakar As Siddik melakukan sujud syukur ketika beliau mendengar bahwa Musallaimatul Kazzab sudah mati terbunuh dalam satu peperangan. Seperti diketahui, Mussallaimatul Kazzab itu adalah seorang yang mengaku dirinya menjadi Nabi dan menjadi musuh  utama kaum muslimin di waktu itu.Ali bin Abi Thalib pernah melakukan sujud syukur itu waktu ditemukan jenazah seorang laki-laki kaum Khazraj yang dipandang berjasa dalam perang Nahrawan.  Demikian pula, Ka'ab bin Malik, melaksanakan sujud syukur itu tatkala disampaikan kepadanya suatu berita yang amat menggembirakannya, yang menyatakan bahwa taubatnya diterima Allah SWT. (Fighus Sunnah, oleh Sayid Sabiq, jilid II, hal 90).&lt;br /&gt;Tatacara sujud syukur.Sujud syukur itu sebaiknya dilakukan secara spontanitas (seketika) tatkala mendapat nikmat atau menerima berita yang menggembirakan. Umpamanya, ketika mendapatkan keuntungan yang sah dan halal dalam perdagangan, tatkala memperoleh kenaikan pangkat/jabatan dalam pekerjaan, ketika mendapat karunia kelahiran anak, waktu mendengar berita bahwa anak yang dibiayai dengan berhemat dan menabung sudah lulus menjadi sarjana, tatkala terhindar dari bencana dan lain-lain yang harus selalu disyukuri sebagai suatu nikmat yang dikaruniakan oleh Allah. Lebih-lebih lagi kalau berita yang menggembirakan itu mengenai kemenangan dalam mencapai cita-cita yang bersangkutpaut dengan kepentingan umum, yang diperjuangkan dengan pengorbanan yang besar dan berat.Adapun cara mengerjakan sujud syukur itu tidak berbeda seperti mengerjakan sujud tatkala shalat. Hanya syarat-syarat yang diwajibkan dalam mengerjakan shalat, seperti harus mempunyai wudlu (air sembahyang), menghadap kiblat, pakaian yang bersih dari najis, dsb, tidak diisyaratkan dalam melaksanakan sujud syukur itu.Menurut As-Syaukani, juga tidak disyaratkan sujud syukur itu harus dilaksanakan di tempat tertentu, seperti masjid, tapi boleh dilaksanakan pada setiap tempat asal tidak di tempat yang najis atau kotor. Boleh dilakukan di pinggir jalan, di pasar (cari tempat yang lapang dan bersih), di kebun, di pabrik, di tepi pantai, di atas mobil, dan seterusnya.Dalam pada itu, tidak ada bacaan yang khusus pada waktu melakukan sujud syukur itu. Menurut penjelasan Jumhur Ulama (Ulama yang terbanyak), cara melakukan sujud syukur itu ialah dengan mengucapkan takbir lebih dahulu, kemudian sujud, sesudah itu bangkit dari sujud dan terus memberi salam ke kanan dan ke kiri. Ada juga ulama yang berpendapat, tidak perlu dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam, tapi cukup dengan bersujud saja, kemudian bangkit dan duduk kembali.&lt;br /&gt;Mensyukuri nikmat.Manusia haruslah mensyukuri nikmat yang dikaruniakan Allah SWT. Nikmat itu banyak macam ragamnya. DikaruniakanNya kepada manusia, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, mulut untuk makan dan berbicara, lidah untuk merasa, hidung untuk membau, tangan untuk bekerja dan berusaha, kaki untuk melangkah, dsb.Tidak cukup dengan alat-alat fisik itu saja, tapi dikaruniakanNya pula akal untuk membedakan antara yang baik dengan yang buruk, rezeki dengan kehidupan, rumah untuk tempat tinggal, istri untuk teman hidup, anak yang menjadi cahaya mata, kesehatan badan dan 1001 macam nikmat yang tidak bisa dihitung jumlahnya.Manusia diwajibkan mensyukuri nikmat Allah SWT itu, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran:"syukurilah nikmat Allah jika kamu sungguh-sungguh menyembah kepadaNya." (QS. An-Nahl XVI: 114).Bersyukur itu adalah semacam manifestasi untuk menyatakan terima kasih kepada Allah SWT. Hal itu harus dilakukan sejalan atas tiga cara atau sikap, yaitu dengan lisan, hati dan anggota badan.Dalam hubungan ini, Profesor Afif Fattah Tabbarah menyimpulkan:"Seseorang yang bersyukur hendaknya lidahnya senantiasa memuja dan memuji Allah karena menyadari betul-betul betapa banyaknya nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya. Hatinya haruslah terpaut mencintai Allah SWT, menghayati kebahagiaan dan kebaikan yang dinikmatinya itu. Anggota badannya haruslah senantiasa sibuk dan taat kepada Allah, melaksanakan perintah-perintahNya." (Ruhud Dienul Islami, hal 170).Pelaksanaan bersyukur itu ialah dengan meningkatkan ketaatan, melaksanakan perintah-perintah Allah, terutama mengerjakan kewajiban-kewajiban pokok (fardhu 'ain), melakukan amal-amal kebaikan dan menjauhi kejahatan-kejahatan serta larangan-larangan Tuhan.&lt;br /&gt;Tabiat manusia yang selalu lalai melakukan syukur.Dalam sejarah manusia, rupanya sudah menjadi tabiat manusia selalu lalai menyatakan syukur kepada Tuhan. Manusia baru akan menyadari nilai nikmat yang dikaruniakan Allah SWT apabila nikmat tersebut pada suatu ketika dicabut Allah darinya.Apabila manusia umpamanya mendapat kecelakaan yang menyebabkan matanya rusak, tidak dapat melihat lagi, atau kakinya atau tangannya patah sehingga lumpuh, barulah saat itu dia menyadari bagaimana nikmatnya mempunyai dua buah mata yang bisa melihat, betapa bahagianya mempunyai kaki dan tangan yang tidak cacat.Seseorang yang berpangkat, atau seorang yang mempunyai kekuasaan, apabila sudah dipecat atau  hilang jabatan dan kekuasaannya itu barulah pada saat itu ia menyadari betul-betul betapa nikmatnya kalau menduduki jabatan dan memegang kekuasaan. Tepat sekali peringatan dalam Al-Quran yang artinya:"Sesungguhnya Allah memberikan karunia yang cukup kepada manusia, tapi kebanyakan manusia (mayoritas) tidak tahu bersyukur." (QS. Al-Mukminin XL: 61).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-2114192702928869807?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/2114192702928869807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=2114192702928869807' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/2114192702928869807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/2114192702928869807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/06/sujud-syukur.html' title='SUJUD SYUKUR'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-6550719761311566776</id><published>2008-06-03T14:27:00.000+07:00</published><updated>2008-06-03T14:28:23.427+07:00</updated><title type='text'>MEMOHON BANTUAN DARI TUHAN</title><content type='html'>"Tiada sesuatu juapun yang menjadi urusan engkau tentang mereka! Apakah Tuhan akan memberi ampunan (taubat) atas mereka, ataukah Tuhan akan menghukum (menyiksa) mereka! Memang sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang zalim." (QS. Ali Imran III: 129).&lt;br /&gt;Kembali kepada Tuhan.Setiap kali kaum muslimin menghadapi musibah, tiada lain tempat mereka berhubungan kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Segala tenaga dan kekuatan, segala usaha dan siasat akan mereka jalankan untuk menolak datangnya bencana dan bahaya, sambil menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Dengan segala kesabaran dan keteguhan hati, mereka tetap mengharap dan menunggu datangnya keadilan Tuhan, untuk menetapkan barang yang haq (kebenaran) diatas bumi ini, dan membasmi segala kebatilan.Tetapi, manakala segala ikhtiar sudah dilakukan dan seluruh kekuatan sudah ditumpahkan di atas segala medan, maka dengan menengadahkan tangan dengan menyusun jari yang sepuluh, kaum muslimin akan menghadap Tuhannya memohon dengan sepenuh hati supaya turunlah bantuan Tuhan dari segala pintu yang tiada terduga oleh manusia, untuk menghindarkan bencana atau musibah yang akan menimpa itu.Memohon kepada Tuhan itu di dalam tingkatnya yang biasa, dilakukan dengan membaca doa kepadaNya, baik sesudah sembahyang maupun pada setiap saat yang diperlukan mereka. Sebagai sabda Nabi bahwa: "Doa adalah otaknya ibadat", dan sebagai diajarkan Tuhan (Allah):"Mendoalah kepadaKu, pasti Aku memperkenankannya," maka kaum muslimin yakin seyakin-yakinnya bahwa Tuhan mendengar doa mereka, dan balasan Tuhan pasti akan turun atas setiap orang yang berlaku zalim kepada mereka.Jika tingkat bencana atau musibah yang dihadapi adalah besar, melebihi dari kekuatan manusia, maka doa itu ditingkatkan menjadi "QUNUT NAZILAH" yang dilakukan bukan sesudah sembahyang, tetapi di dalam waktu sembahyang, pada rakaat yang terakhir, setelah kembali dari rukuk dan berdiri tegak sesudah membaca "Rabbana lakal hamdu..."&lt;br /&gt;Tidak sembarang musibah Nabi melakukan Qunut Nazilah.Alangkah banyaknya musibah yang menimpa diri Nabi dan ummatnya didalam menjalankan agama Islam yang suci ini. Apalagi selama di Mekkah yang berjalan 13 tahun lamanya, kejahatan kaum Quraisy sudah melampaui batas-batas kemanusiaan. Tetapi tidak pernah satu kali juga Nabi melakukan atau mengajarkan Qunut Nazilah untuk menghadapi musibah itu.Bahkan sampai kepada saat yang paling berbahaya, Nabi lebih suka memerintahkan "hijrah" kepada ummatnya, daripada memohon bantuan Tuhan melalui Qunut itu. Sampai dua kali hijrah mereka lakukan hingga ke Ethiopia, dan beliau sendiri melakukan pula hijrah ke Thaif sebagai  seorang pemimpin yang tangguh, yang tidak cepat memohonkan bantuan luar biasa dari Tuhan bila tidak terlalu kepepet (walaupun keadaan beliau saat itu sudah sangat kepepet).Adapun permohonan yang beliau lakukan kepada Tuhan, hanyalah dengan melalui doa, sebagai yang biasa kita lakukan sekarang. Sampaipun kepada musibah yang paling berat, yaitu bersekutunya musuh-musuh Islam untuk membunuh Nabi Muhammad, masih usaha atau siasat manusiawi yang beliau lakukan, yaitu melakukan hijrah umum ke Madinah. Beliau terlepas dari marabahaya, dan ummat Islam dapat berkumpul serta menyusun diri menjadi ummat yang satu setelah berada di Madinah itu.&lt;br /&gt;Qunut Nazilah mulanya terhadap oknum-oknum.Barulah sesudah berada di Madinah, Nabi melakukan Qunut Nazilah, pada waktu tangan dan upaya beliau sebagai manusia tiada dapat menjangkau atau menyingkirkannya. Masih dalam menghadapi perang Badar yang terkenal itu, begitu juga perang perang Uhud, Nabi mulai melakukan Qunut itu. Baik terhadap orang-orang Quraisy yang diharap iman-Islamnya tetapi masih lemah menghadapi tekanan keluarganya, ataupun terhadap penjahat-penjahat Quraisy yang tetap durjana dan merajalela berbuat kezaliman, Nabi memohon bantuan Tuhan untuk melakukan tindakan, menyelamatkan orang yang baik dan menghancurkan orang yang jahat, terhadap mereka yang tidak terjangkau oleh kekuatan beliau.Nabi melakukan Qunut Nazilah, dengan memohonkan doa supaya terhadap oknum-oknum yang jauh itu Tuhan menunjukkan kekuasaanNya. Nabi menyebutkan dalam doa qunutnya (yang artinya):"Oh Tuhan! Selamatkanlah Walid, 'Iyasy bin Abi Rabi'ah, Salamah bin Hisyam dan segala Muslimin yang lemah fisik atau jiwanya yang tidak kuat melakukan siasat dan mencari jalan daripada kejahatan tangannya kaum yang kafir!" "Oh Tuhan! Kutukilah (hancurkanlah) Harits bin Hisyam, Suhail bin 'Amrin, Shafwan bin Umayah, dan kutukilah si Fulan dan si Fulan....!"&lt;br /&gt;Terhadap qunut yang langsung mengenai oknum-oknum atau pribadi-pribadi ini, Tuhan memberi tegoran kepada Nabi Muhammad dengan ayat yang disebutkan di atas. Tuhan mengatakan, bahwa bukanlah urusan kamu, hai Muhammad, tentang pribadi-pribadi itu, baik menyelamatkan orang-orang yang lemah, ataukah mengutuk dan menghukum orang-orang yang jahat. Apakah akan memberi taubat-ampunan, ataukah akan menurunkan hukuman siksaan, adalah menjadi urusan Tuhan semata, meskipun sudah diketahui bahwa penjahat-penjahat Quraisy yang kamu sebutkan itu adalah orang-orang yang zalim semuanya.&lt;br /&gt;Qunut Nazilah bukan terhadap pribadi, tetapi soal umum.Semenjak waktu itu, sudah ada garis yang tegas yang menjadi pegangan Nabi dan segenap kaum muslimin. Qunut Nazilah bukanlah ditujukan kepada oknum-oknum atau pribadi-pribadi tertentu, tetapi adalah soal umum yang menimpa kaum muslimin.Riwayat menceritakan bahwa sesudah perang Uhud, bertubi-tubi terjadi musibah yang menimpa kaum muslimin. Bahkan dalam perang Uhud itu, Nabi pribadi menghadapi musibah yang sangat dahsyat. Mulanya terperosok ke dalam lubang, sehingga orang menyangka bahwa beliau sudah meninggal, Ibnu Qamiah menembak (memanah) beliau, sehingga ketopong besi yang menutup muka beliau berlumuran darah karena pecahan itu. Datang lagi 'Atabah bin Abi Waqqash yang memanahnya sehingga pipi beliau bagian kiri dan kanan, serta bibir beliau luka lecet mengeluarkan darah. Dan akhirnya beliau terjerembab masuk lubang sebagaimana diceritakan di atas.Barulah datang para sahabat mengangkat beliau. Ali bin Abi Thalib menarik tangan beliau dan Thalhal bin Ubaidillah mengangkatnya, sehingga keluar dari lubang itu. Begitu beliau dapat diselamatkan, silih berganti musuh menyerang beliau, sehingga tidak kurang dari 70 tusukan pedang yang melukai badan beliau. Dalam saat yang kritis itu, para sahabat membentengi Nabi bagaikan dinding tembok yang tidak dapat ditembus, termasuk diantaranya seorang wanita yang gagah berani. Sesudah musuh pergi dan Nabi tersadar kembali di hadapan Salim maula Abi Huzaifah, Nabi berkata:"Bagaimana akan selamat kaum Quraisy yang berbuat seperti ini terhadap Nabi mereka, yang tugasnya hanyalah memanggil mereka kepada Tuhan mereka!"Pada waktu itu, ayat Tuhan yang kita sebutkan di atas turun lagi menghibur hati Nabi, bahwa menjadi urusan Allah tentang soal mereka, apakah akan diberi taubat ataukah akan disiksa/Sampai sebegitu jauh, Nabi tidaklah mempergunakan Qunut Nazilah. Tetapi setelah terjadi musibah yag mengenai segenap kaum muslimin, barulah Nabi melakukan Qunut itu.Sejarah menyebutkan ada 3 musibah yang berturut-turut menimpa kaum muslimin:1. Korban syuhada dalam perang Uhud pada pertengahan Syawal 3 Hijriyah, berjumlah 71 orang.2. Korban utusan ke "Raji" yang berjumlah 10 orang di bawah pimpinan 'Ashim bin Tsabit Anshari, yang terbunuh sebanyak 7 orang di tangan 100 pemanah musuh, sedang 3 orang lagi mereka tangkap dan ditawan. Terjadi pada akhir tahun 3 Hijriyah.3. Korban utusan juru dakwah di telaga Ma'unah sebanyak 70 orang di bawah pimpinan Munzir 'Amrin Anshari yang dikirim Nabi pada bulan Shafar 4 Hijriyah. Mereka dipanah habis oleh para ahli panah yang dipimpin oleh 'Amir bin Thufail, kecuali hanya satu orang yang masih megap-megap hidupnya yaitu Ka'ab bin Zaid.Terhadap segala musibah yang berturut-turut menimpa terjadinya ini, maka Nabi telah membacakan doa Qunut Nazilah selama 1 bulan lamanya. Menurut hadist Bukhari dari Anas bin Malik, bahwa Nabi telah membaca Qunut Nazilah pada setiap waktu sembahyang selama satu bulan berturut-turut.&lt;br /&gt;Musibah yang menimpa umat.Sebagaimana dikatakan pada permulaan tulisan ini, bahwa kaum muslimin dalam setiap kali menghadapi musibah, baik besar ataupun kecil, maka tidak ada tempat kembali kecuali kepada Tuhan. Segala usaha dan siasat harus dijalankan untuk menolak musibah itu, sambil bermohon diri kepada Tuhan. Dalam musibah yang biasa maka permohonan dilakukan dengan membaca doa di dalam sembarang waktu yang diperlukan.Manakala musibah sudah meningkat begitu pesatnya dan kesialan begitu mendera, dan menimpa banyak orang, maka permohonan dapat dilakukan dengan Qunut yang dinamakan Qunut Nazilah. Banyak macamnya musibah besar yang menimpa kaum muslimin, yang kadang kala secara manusiawi tidak kuat dalam menghadapi cobaan atau musibah dan tak kuasa untuk berusaha menghindar. Apalagi kalau musibah itu mengenai "AQIDAH" yang menjadi keyakinan kaum muslimin.Mengikuti sunnah Nabi yang berlaku, di dalam menghadapi setiap musibah besar yang tidak cukup tenaga dan daya manusiawi untuk menghindarinya, maka marilah kita berserah diri kepada Tuhan, membacakan Qunut Nazilah, dengan memohon semoga kita terhindarkan dari musibah besar itu dan diselamatkan langsung oleh Tuhan. Semoga kita semua mendapat pencerahan dan tidak mudah putus asa! Amin..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-6550719761311566776?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/6550719761311566776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=6550719761311566776' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/6550719761311566776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/6550719761311566776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/06/memohon-bantuan-dari-tuhan.html' title='MEMOHON BANTUAN DARI TUHAN'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-4709940975769671915</id><published>2008-06-03T14:26:00.000+07:00</published><updated>2008-06-03T14:27:32.068+07:00</updated><title type='text'>NABI MUHAMMAD - SANG PEMIMPIN TELADAN</title><content type='html'>"Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu adalah menjadi suri tauladan yang baik bagi kamu, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan (rahmat) Ilahi dan (kedatangan) hari kiamat dan orang-orang yang senantiasa ingat kepada Allah." (QS. Al-Ahzab XXXIII: 21).&lt;br /&gt;Sejak dari abad ke abad telah lahir pemimpin-pemimpin di tengah-tengah berbagai-bagai kaum dan bangsa, baik yang khusus diutus Tuhan sebagai Rasul atau Nabi maupun yang dilahirkan dengan bakat kepemimpinan.Hampir semua Rasul/Nabi atau pemimpin-pemimpin itu titik berat tugas yang dilaksanakannya hanya terbatas pada satu atau dua-tiga bidang kepentingan kehidupan, umpamanya di bidang agama, atau politik saja, atau ekonomi saja, atau kebudayaan saja dan lain-lain.Tidak ada yang meliputi semua bidang yang sifatnya menyeluruh, all round. Berbeda halnya dengan kepemimpinan Nabi Muhammad s.a.w.Mengenai kepemimpinan Rasulullah itu, dilukiskan oleh Abul A'la Maududi, sebagai berikut:"Adapun pada diri Nabi Muhammad saw terhimpun dan terpusat semua sifat-sifat kepemimpinan yang diperlukan, Beliau adalah seorang Ahli Hikmat, tapi beliau juga seorang pelaksana dari ajaran-ajaran yang dikembangkannya, seorang negarawan yang ulung, seorang prajurit yang luar biasa (jenius). Beliau adalah seorang pengatur dan pencipta undang-undang (legislator), seorang pembina moral dan akhlak. Dia adalah seorang pembina kerohanian ummat, disamping menjadi pemimpin agama. Pandangan beliau jauh menembus ufuk cakrawala kehidupan.Perintah-perintahnya meliputi semua bidang kehidupan, sejak dari masalah-masalah kecil yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari sampai kepada soal-soal yang bersifat internasional.Akhirnya Maududi menyimpulkan:"Nabi Muhammad adalah satu-satunya contoh kepemimpinan yang lengkap, dimana semua keunggulan/keistimewaan terkumpul dalam diri seorang pribadi." (He is the only example where all excellences have been blanded into one personality). (The Prophet of Islam, hal 25).Baiklah dikemukakan di sini secara singkat tentang kepemimpinan Rasulullah dalam beberapa bidang supaya bisa menjadi tauladan bagi kita semua.1. Nabi Muhammad sebagai pemimpin agama.Beliau mengembangkan agama yang menjadi landasan dalam kehidupan ummat manusia, tak ubahnya laksana fondasi dari satu bangunan. Landasan itu ialah TAUHID, yaitu kepercayaan yang bulat dan mutlak terhadap ke-Esaan Allah SWT dan hanya kepada Allah SWT sajalah manusia wajib berbakti dan menyembah. Sebagian besar ummat manusia pada waktu itu tidak murni lagi kepercayaannya. Sebab di samping percaya kepada Allah, mereka percaya pula kepada tuhan-tuhan yang lain, malah ada yang menyembah patung-patung dan berhala-berhala. Ada pula yang percaya kepada pengaruh udara, matahari, bulan, bintang dan lain-lain yang mereka anggap menentukan keadaan dan nasib mereka. Apabila ditimpa kesusahan, mereka minta tolong kepada patung-patung, kalau mendapat nikmat, mereka memuja-muji berhala-berhala."Kekacauan" dalam bidang kepercayaan ini membawa pengaruh yang "kacau" pula dalam membentuk pandangan dan sikap yang buruk terhadap bidang-bidang kehidupan lainnya.Dengan ajaran Tauhid ini yang beliau ajarkan dan mantapkan kepada ummatnya dalam masa lebih kurang 13 tahun, akhirnya merupakan sumber yang memancarkan kemurnian, kekuatan yang mampu mengubah sikap hidup dan cara pikir ummat manusia pada waktu itu sesuai dengan pokok-pokok misi yang dijalankan oleh Rasulullah (Muhammad).Sebagai pemimpin agama, maka titik awal dan titik berat ajaran yang dikembangkan oleh beliau ialah menanamkan Tauhid, yang dalam Al-Quran disebutkan dengan predikat "Syaratun-thaiyibah" ; yaitu pohon yang baik, yang memenuhi syarat-syarat untuk hidup dan memberikan kehidupan.Apabila pohon Tauhid itu sudah tegak, kecuali dia kelihatan indah, daunnya yang rindang dapat dijadikan tempat berteduh di panas yang terik, buahnya bisa dinikmati kelezatannya, pun mahapenting ia berdiri tegak dan mantap (istiqamah), tidak bergoncang ditiup angin taufan sekalipun, sebab akarnya telah tertancap jauh ke dalam bumi (iman yang kuat dan kokoh).&lt;br /&gt;Nabi Muhammad sebagai negarawan.Setelah Rasulullah hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tenaga inti yang sudah terlatih dan terseleksi, yaitu kaum Muhajirin, dibantu oleh kaum Anshar, maka dalam masa kurang lebih 10 tahun, satu masa yang relatif pendek, Rasulullah telah berhasil membangun satu pemerintahan Islam, DAULAH ISLAMIYAH, yang lengkap memenuhi unsur-unsur yang diperlukan dalam membangun dan mengembangkannya.Dalam segala bidang kehidupan, Rasulullah melaksanakan essensi dari pokok-pokok kehidupan suatu negara dan ummat, yang dalam kehidupan demokrasi beberapa abad kemudian terkenal dengan istilah: kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan (liberte, egalite, fraternite).Ajaran Islam memberikan hak-hak kemerdekaan kepada pemeluknya yang menjadi warganegara DAULAH ISLAMIYAH yang baru dibangun pada masa itu. Kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan melahirkan pendapat dalam pemerintahan senantiasa dikembangkan oleh negarawan yang bernama Muhammad. Di samping itu, baik melalui ketentuan-ketentuan dalam pemerintahan maupun dalam sikap dan pergaulan sehari-hari, beliau mengembangkan ruh dan semangat persamaan serta persaudaraan. Beliau menghapuskan perbedaan-perbedaan karena keturunan, kekayaan, kebangsaan, perbedaan warna, dan kulit serta lain-lain sebagainya, sehingga orang-orang asing seperti Salman Al Farisi yang berkebangsaan Persia, diberikan kedudukan dan memegang peranan yang penting dalam pemerintahan Islam. Dalam pergaulan dan urusan-urusan keagamaan, seorang yang berkulit hitam dan tadinya pernah menjadi budak seperti Bilal bin Rabah, mendapat kedudukan sesuai dengan kemampuannya dan loyalitasnya.Walaupun kepemimpinan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai utusan Allah (Rasulullah) senantiasa mendapat bimbingan dan petunjuk Ilahi, tapi mengenai pelaksanaan sesuatu hal yang tidak ditetapkan oleh wahyu, beliau selalu bermusyawarah dengan para pembantunya serta para sahabat pada umumnya, sesuai dengan garis-garis yang ditetapkan oleh wahyu Ilahi, yang memerintahkan:"Bermusyawarahlah dengan mereka dalam beberapa urusan." (QS. Ali Imran III: 159)."Urusan-urusan mereka haruslah (diputuskan) dengan musyawarah diantara mereka sendiri." (QS. As-Syura XLII: 38).&lt;br /&gt;Nabi Muhammad sebagai pembangun moral.Salah satu faset lainnya kepemimpinan Rasulullah ialah tentang misi beliau sebagai pembangun moral, akhlak dan budi pekerti. Malah justru membangun moral itu merupakan tugas beliau yang utama, seperti dinyatakan oleh Rasulullah sendiri:"Saya diutus (titik beratnya) ialah untuk menyempurnakan (membangun) akhlak yang mulia." (Riwayat Imam Malik).Akhlak itu menjadi mustika (intan-permata) yang memantulkan cahaya yang berkilau-kilau dalam kehidupan manusia. Tak ubahnya laksana kembang bunga di dalam suatu taman yang menambah keindahan taman tersebut bila dipandang mata.Segala sifat-sifat dan watak yang baik, terpuji, mulia dan yang seumpamanya adalah termasuk dalam rangkaian akhlak itu. Misalnya saja sifat-sifat: rendah hati (tawadhu'), penyantun, ramah tamah, pemaaf, penyabar, sopan santun, ulet, sederhana, jujur, amanah, cerdas (fathanah) dan berpuluh-puluh sifat lainnya.Imam Gazali menyatakan bahwa tidak kurang dari 36 akhlak yang menghiasi kehidupan Rasulullah. (Ihya' Ulumuddin, jilid IV, hal. 353 s.d. 363).Budipekerti yang mulia itu lebih dahulu diterapkan dan ditunjukkan oleh Rasulullah sendiri dalam pergaulan sehari-hari, sehingga tidak heran apabila akhlak beliau itu laksana magnet yang mampu menarik jarum yang berserakan di sekitarnya. Ucapan-ucapan beliau sesuai dengan sifat dan tingkah lakunya, sesuai kata dengan perbuatan.Akhlak Rasulullah itu telah berhasil melembutkan hati manusia yang kesat, menundukkan sikap yang kasar, menimbulkan respek dan simpati orang banyak, menambah kecintaan orang-orang yang miskin, meyakinkan kaum wanita atas perlindungan yang diberikannya dan lain-lain sebagainya.Dalam hubungan dengan pengaruh akhlak dan sifat kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, disimpulkan oleh Abdur Rahman 'Azzam, bekas sekjen Liga Arab beberapa puluh tahun yang lalu, sebagai berikut:"One of the most important aspects of this revolution was the moral and spiritual transformation which Muhammad examplified in his deeds and personality and in the principles he advocated in accordance with the letter and spirit of his message."Maksudnya:"salah satu aspek yang paling penting dari perubahan (revolusi) itu ialah penjelmaan akhlak dan jiwa yang diterapkan oleh Muhammad dalam perbuatan dan kehidupan pribadinya dan dalam prinsip-prinsip yang dipertahankannya sesuai dengan kata-kata dan semangat ajaran yang menjadi poko tugasnya." (The Eternal Message of Muhammad, hal 77).Keluhuran akhlak Rasulullah itu telah mendapat pujian dan bimbingan khusus dari Allah, seperti dinyatakan dalam Al-Quran (yang artinya):"Dan sesunguuhnya engkau (Muhammad) benar-benar mempunyai budipekerti yang agung." (QS. Al-Qalam LXVIII: 4).Demikianlah 3 faset diantara sekian banyak sifat-sifat kepemimpinan Rasulullah.Subhanallah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-4709940975769671915?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/4709940975769671915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=4709940975769671915' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/4709940975769671915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/4709940975769671915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/06/nabi-muhammad-sang-pemimpin-teladan.html' title='NABI MUHAMMAD - SANG PEMIMPIN TELADAN'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-1477791456435006456</id><published>2008-06-03T14:25:00.001+07:00</published><updated>2008-06-03T14:25:55.860+07:00</updated><title type='text'>NABI MUHAMMAD S.A.W. MEWARISKAN UMMAT YANG MEMBANGUN</title><content type='html'>"Kamu adalah sebaik-baik ummat yang ditampilkan ke tengah-tengah ummat manusia, dengan tugas untuk melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar yang didasari iman kepada Allah. Dan andainya beriman orang-orang Ahli Kitab, sesungguhnya adalah teramat baik sekali untuk mereka. Tapi sayang, sebagian mereka beriman dan kebanyakan mereka bersikap fasik." (QS. Ali Imran III: 110).&lt;br /&gt;Pendahuluan.Merajalelanya kerawanan dan kericuhan dalam kehidupan di permukaan bumi ini, adalah karena banyaknya bertebaran kemunkaran di mana-mana. Kemudian kekurangan tumbuh dan tegaknya apa yang dimaksud Islam dengan istilah al ma'ruf di setiap sektor kehidupan, itulah pula yang menyebabkan dunia senantiasa dalam keributan, bencana dan huru-hara.Merajalelanya kemungkaran dan kekosongan alma'ruf dalam kehidupan manusia, adalah karena habisnya gairah terhadap alma'ruf, dan almungkar. Dan ini adalah akibat satu-satunya dari kekosongan jiwa dan batin manusia dari cahaya iman kepada satu zat Yang Maha Esa dan Maha Kuasa, seperti ditegaskan dalam Al-Quran:"Maka di kala mereka telah lupa akan peringatan yang telah disampaikan kepada mereka, segera kami bukakan pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (QS. Al-An'am VI: 44).Sebelum vonis Allah tiba - maka itulah hikmah rahasianya pelaksaan tugas amar ma'ruf dan nahi munkar itu harus dilandasi dengan iman kepada Allah.&lt;br /&gt;Ummat baru, jiwa dan tugasnya.Selama masa 23 tahun saja, Nabi Muhammad s.a.w. selesailah membangun satu ummat, ummat baru yang belum pernah lahir ummat serupa itu sebelumnya. Yaitu satu ummat yang berjiwa terang cemerlang oleh sinaran iman, suci dan tangguh kepercayaan dan keyakinannya dan bersih dari keragu-raguan dan kekhurafatan, yang sering menyimpang dan menyelewengkan otak dan pikiran manusia.Kemudian barulah Nabi Muhammad mengisi jiwa ummat itu dengan tugas-tugas hidupnya di dunia ini, setelah menempa jiwanya buat apa ia maka dihadirkan Allah ke alam kehidupan ini dan sesudah itu apa tujuan terakhir baginya hidup di dunia yang luas terbentang ini.Sebab itu pada saat tugas membangun ummat itu berakhir dan dikala sejenak lagi Muhammad harus pergi menghadap Ilahi, Allah SWT menurunkan wahyu (yang artinya):"Pada hari ini Aku lenyapkanlah bagi kamu apa yang akan menjadi agamamu. Di samping itu Aku sempurnakanlah nikmatKu untuk kamu sebagai tanda kasih sayangKu kepadamu. Kemudian Kurestuilah Islam itu menjadi agama kamu." (QS. Al-Maidah V: 3).Walaupun di waktu Muhammad pergi itu baru sedikit sekali ummat baru itu dan hanya didapati pada beberapa penjuru bumi saja, namun sepeninggalnya jumlah tersebut senantiasa bertambah, demikian pula tempat-tempat dan negeri-negeri yang dijelajahinya semakin luas. Bahkan sampai ke abad ini, statistiknya selalu menunjukkan pertambahan dan perluasan, meskipun banyak usaha-usaha yang giat untuk menghambat dan mengucilkan Islam. Dan di kurun terakhir dewasa ini ummat Islam itu sudah demikian besarnya, walau belum mencapai ummat terbanyak satu-satunya di seluruh dunia atau belum meningkat menjadi mayoritas dari penduduk bumi. Dan bukanlah hanya imajinasi dan fantasi, apabila di sini dikatakan, dengan memperhatikan situasi dan kondisi dunia dewasa ini pun dengan memperhatikan kepribadian ummat hasil didikan Muhammad itu sendiri, berkat ajarannya, besar sekali kemungkinan, ummat Islam akan mencapai jumlah mayoritas penduduk planet ini. Maka kendatipun jumlah itu tetap seperti yang sekarang tampak, Muhammad telah mewariskannya pada dunia. Muhammad telah mengembangkannya kepada bumi ini untuk dipakai dan dipergunakan dunia bagi kepentingan dan kemaslahatan ummat manusia. Sebagai ummat Islam, maka wajiblah kita untuk mengemban tanggung jawab dakwah yang diwariskan beliau kepada kita para ummatnya, agar senantiasa rajin menyebarkan dakwah Islam dengan kasih sayang, persahabatan, dan cinta kepada seluruh ummat manusia di dunia. Hanya dengan cinta dan persahabatan, maka Islam akan dengan mudah menyebar dan merasuk ke setiap sanubari ummat manusia. Walau lambat namun pasti, perjuangan untuk menyebarkan agama Islam ke segenap pelosok wilayah dunia pastilah akan memperoleh hasil dan pertambahan, sehingga suatu saat nanti Islam akan menjadi agama mayoritas.&lt;br /&gt;Ummat Islam terpilih mengayom tugas.Ummat Islam sebagai ummat terpilih dan ummat yang mendapat tauladan dari Muhammad, telah tersebar di segenap penjuru dunia, walau telah hampir 15 abad telah ditinggal wafat oleh Sang Rasul (Muhammad), namun landasan jiwanya tidak tergoncangkan dan titik tolak serta titik tujuan tetap tidak berubah, yaitu menyebarkan dan mengabarkan kebenaran ke seluruh penjuru dunia untuk menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan semesta alam.Landasan jiwanya masihlah tentang Tauhid, sedang titik terakhir tugasnya masih dijuruskan kepada terciptanya keimanan dan peribadatan kepada Allah."Dan sesungguhnya inilah ummat kamu, yakni ummat yang satu, dan Aku - Allah - adalah Tuhan kamu semua, maka mengabdi, beribadahlah kamu kepadaKu!" (QS. Al-Anbiya XXI: 92).Dengan suatu interpretasi, bahwa penduduk dunia hendak diusahakan menjadi satu ummat, kendatipun bangsa dan sukunya berbagai macam, yaitu menjadi ummat Islam, di mana oleh ummat yang telah menjadi satu itu, Allah-lah yang berkedudukan sebagai Tuhan keseluruhannya. Sedang tugas keseluruhan yang satu-satunya hanyalah beribadah, mengabdi kepada Allah saja.Dapatlah dari cita-cita ini disambut dan diterima oleh dunia bagi kebaikan dan kemaslahatan dunia itu sendiri, demi untuk menyelesaikan kemelut dari problema dunia yang maha musykil. Sebab rasanya tidak ada alternatif lain untuk mendamaikan, mengamankan dan menentramkan kekacauan dan huru-hara dunia ini, setelah melalui jalan lewat persatuan, perjanjian dan sekian macam banyak perjanjian (verdrag) dan charter dari segi politis, ekonomis, militer, sosial, dan kebudayaan, selain dari ide dan cita-cita yang sejak semula telah ditugaskan Muhammad kepada ummat Islam. Yaitu dengan melalui persatuan diri dalam satu ummat yang menuhankan Allah dengan kewajiban beribadah, mengabdi kepadaNya saja.Akhirnya, dalam hal ini ummat Islam haruslah lebih menghayati tugas penting yang mulia itu dengan segala ketegasan dan kebijaksanaan, agar mereka lebih mengetahui kedudukan mereka, sebagai khairu ummah, ummat pilihan, yang sengaja ditampilkan ke tengah-tengah manusia di dunia. Tugas mereka ialah berjihad secara damai diatas landasan iman kepada Allah bagi melaksanakan adda'wah ilal khair, mengajak dan menarik kepada kebaikan, dengan menjalankan amar ma'ruf dan nahi munkar, secara giat dan tekun. Juga berjihad secara damai dan cinta kasih dengan sungguh-sungguh dan kontinyu sebagai ummatan wasathan, ummat yang senantiasa mengusahakan keseimbangan dalam segala bidang kehidupan demi kemaslahatan bersama.Selama masih berdiri dalam pasukan ummat Islam, itulah tugas yang harus diayom dan memang Allah cuma menjatuhkan pilihan kepada ummat Islam untuk melaksanakan jihad penyebaran agama ini secara damai dan cinta kasih kepada semua umat manusia yang belum memeluk  agama Islam, meluruskan jiwa-jiwa yang sesat agar mendapat petunjuk dan cahaya Islam, cahaya Allah yang terang, demi kebahagiaan dunia maupun akhirat."Wahai orang-orang beriman, rukuklah, sujudlah dan beribadahlah kepada Tuhan kamu serta lakukanlah kebaikan, agar kamu beroleh kemenangan. Untuk itu berjihadlah kamu pada Allah secara sebenar-benarnya jihad. Ialah Allah itu yang memilih kamu untuk melaksanakannya." (QS. Al-Haj XXII: 77-78).&lt;br /&gt;Dunia pantas berterima kasih pada ummat Islam.Menimbang demikian indah ide dan cita-cita ummat Islam yang diwariskan oleh Muhammad - Rasul terakhir di muka bumi ini, yang selalu mengarah kepada alkhair yang menjalankan amar ma'ruf dan nahi munkar, maka pada hakekatnya, orang di luar Islam (ghairu Islam), atau dunia seluruhnya seyogyanyalah berterimakasih kepada ummat Islam karena telah berusaha mengarahkan mereka ke jalan yang benar, menuju cahaya Tuhan yang terang, dan menghindarkan mereka dari siksa api neraka di akhirat kelak.Tapi, meskipun orang di luar Islam (non-Islam) atau dunia umumnya tak juga berterima kasih, namun ummat Islam akan terus melaksanakan adda'wah ilal khair, akan terus dan tetap menjalankan amar ma'ruf dan nahi munkar, karena ia adalah tugas berupa ibadah pengabdian kepada Allah semata, menjelang hidayah dan taufik Allah tiba kepada mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-1477791456435006456?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/1477791456435006456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=1477791456435006456' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/1477791456435006456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/1477791456435006456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/06/nabi-muhammad-saw-mewariskan-ummat-yang.html' title='NABI MUHAMMAD S.A.W. MEWARISKAN UMMAT YANG MEMBANGUN'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-3558154606204188578</id><published>2008-06-03T14:24:00.002+07:00</published><updated>2008-06-03T14:25:19.918+07:00</updated><title type='text'>SEORANG MUKMIN DENGAN ILMU DAN HARTANYA</title><content type='html'>"Bahwasanya Nabi Muhammad saw pernah berkata: Seorang hamba yang dikaruniai Allah harta dan ilmu, maka dia berusaha dengan karunia itu memperkuat taqwa kepada Tuhannya, menghubungkan silaturrahminya dengan yang lain, dan berbuat amal yang benar (haq) karena Allah SWT, maka hal ini adalah kedudukan yang amat mulia." (Riwayat Tirmizi dari Abi Kabsyah Al Anshari).&lt;br /&gt;Rezeki yang melimpah ruah.Sungguh banyak sekali nikmat dan rezeki yang telah dilimpahkan Allah kepada hambaNya. Sedemikian banyaknya sampai kita tak mampu menghitungnya (bahkan sampai ada yang kufur nikmat, tidak menyadari apa yang telah ia nikmati selama ini adalah semata-mata berasal dari Allah). Maha benar Allah yang menyatakan dalam firmanNya (yang artinya):"Dan Allah telah memberi kamu setiap apa yang kamu perlukan (minta). Dan andai kamu hitung akan nikmat Allah kepada kamu, pastilah kamu tak mampu menjumlahkannya. Sesungguhnya manusia itu jualah yang zalim dan ingkar." (QS. Ibrahim XIV: 34).Diantara rezeki dan nikmat itu yang amat menonjol sekali diinginkan manusia adalah harta dalam segala bentuknya. Sebab dalam realitasnya, hartalah yang demikian cepat dan secara spontan dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia. Tidak heran apabila manusia begitu giat dan gigih mencari dan mengusahakan harta. Hampir seluruh kebutuhan hidup ini baru dapat ditanggulangi dengan harta. Menurut pandangan dan pertimbangan apa pun juga, mencari harta adalah halal dan sebagai suatu keharusan hidup, selama usaha itu tetap di atas landasan kewajaran dan kepatutan, senantiasa dalam batas-batas kebolehan menurut hukum moral dan akhlak, hukum peri kemanusiaan yang fithri, istimewa menurut hukum Allah Rabbul Alamin.Rezeki dan nikmat yang kedua, yang juga amat dibutuhkan oleh manusia dalam hidupnya adalah ilmu, terutama bagi orang yang memahami nilainya. Sebab cukup logis, ilmu dapat digunakan untuk memudahkan dan melapangkan jalan untuk mencapai harta. Kenyataan hidup menunjukkan betapa sulit dan rumitnya orang beroleh harta bagi kebutuhannya, bila orang itu tidak dikaruniai rezeki berupa ilmu dan hikmah.Islam melalui Al-Quran dalam hal ini mensinyalir di akhir ayat 11 surat Mujadalah:"Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang mukmin dan orang-orang yang diberi ilmu naik beberapa tingkat."Bahkan Allah SWT menegaskan:"Allah memberikan hikmah (ilmu) kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang dilimpahi hikmah, berarti sesungguhnya ia telah diberi kebaikan yang amat banyak." (QS. Al-Baqarah II: 269).selain dari itu ada lagi nikmat yang amat diperlukan oleh manusia dalam hidupnya, bahkan nilai-nilainya lebih tinggi dan lebih berpengaruh, yaitu kesehatan. Demikian tinggi dan pentingnya, sampai ialah yang akan menentukan harga nikmat harta dan ilmu. Tidak akan ada artinya harta dan ilmu di tangan orang yang tidak sehat, yang sering sakit-sakitan dan dirongrong oleh penyakit. Bahkan bisa jadi akibat sering sakit, maka ludeslah semua harta benda yang dimilikinya untuk biaya berobat. Apabila orang dihadapkan untuk memilih antara harta, ilmu dan kesehatan, maka sudah barang tentu pilihan pasti jatuh kepada kesehatan. Biarlah tidak punya harta dan ilmu, tapi badannya sehat segar bugar. Dan orang yang akan dihadapkan kepada keraguan untuk memilih antara harta dan ilmu, maka sebaiknya ia memilih ilmu, karena apa artinya harta, kalau hanya menjadi bulan-bulanan orang yang berilmu. Orang bodoh yang berharta banyak akan dengan mudah kehilangan hartanya bila ia mudah percaya dan diperdaya oleh orang yang berilmu. Tapi ada juga yang memilih harta, dengan alasan apalah artinya ilmu di tangan seorang yang miskin, sengsara dan kelaparan. Di samping harta, ilmu dan kesehatan, maka banyak juga yang memandang bahwa kecantikan atau kerupawanan adalah satu rezeki dan nikmat yang dibutuhkan pula. Satu sajapun diantara empat itu dapat dimiliki seseorang dalam hidupnya, sudah dapat mengantarkannya ke arah kehidupan yang menggembirakan, bila ia pandai bersyukur dan pandai-pandai mengelola dan memanfaatkan segala nikmat yang ia miliki. Apalagi bila seseorang bisa memiliki semuanya, maka lengkaplah kebahagiaannya karena itu adalah puncak kenikmatan atas karunia yang diberikan oleh Tuhan.&lt;br /&gt;Mempergunakan rezeki.Setiap makhluk yang telah diciptakan oleh Sang Khaliq (Allah) untuk hidup sementara di dunia ini, semuanya memperoleh rezeki yang 4 macam itu seperti yang telah diterangkan di atas, tak ada yang tidak kebagian. Bedanya cuma tentang banyak dan sedikitnya, lengkap kurangnya, itu saja. Itu adalah keadilan dan kerahiman Allah saja, sebab tidak hanya berkuasa mencipta dan menjadikan saja, tapi Ia (Allah) juga bertanggungjawab kepada makhluk yang dijadikanNya di bidang rezeki.Cuma rezeki itu tidak datang begitu saja. Ia harus diusahakan dan dicari. Tugas mengusahakan dan mencari rezeki itu sudah dilaksanakan seluruh manusia, terkadang tanpa disuruh sekalipun. Pembawaan dan sifat tabiat manusia dengan sendirinya telah mendorong masing-masing. Hasil dari usaha dan pencaharian itu erat hubungannya dengan kesungguhan dan ketekunan seseorang, dalam hal ini Allah menegaskan (yang artinya):"Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (QS. An-Najm LIII: 39).Kemudian Allah mempersilahkan:"Ia telah menjadikan bumi itu mudah bagi kamu. Maka berjalanlah di semua pelosoknya dan makanlah sebagian dari rezekiNya. Tapi ingat, kepadaNya kamu akan kembali." (QS. Al-Mulk LXVII: 15).Sesudah berusaha dan mencari, sekian banyak diantara manusia cuma beroleh sederhana, hanya sedikit, malah banyak pula yang terus menerus dalam kekurangan. Tapi ada pula diantaranya yang beroleh banyak dan malah berlebihan sampai melimpah-limpah. Kepada golongan yang belakangan inilah tulisan ini kita hidangkan, agar rezeki itu menjadi rezeki yang baik, suci, diberkahi dan diridhai Allah SWT, banyak manfaatnya dalam kehidupan dunia dan akhirnya menjadi sebab kebahagiaan kelak di akhirat.Dalam hal ini, selain agar yang beruntung beroleh rezeki yang banyak itu jangan menjadi pengumpul harta, lalu menghitungnya saja, kemudian menyimpan dan menguncinya dalam lemari besinya dan tiada melimpah lagi keluar. Kemudian kiranya mereka jangan sampai tergolong ke barisan "Al-hakumut-taka-tsur", orang-orang yang cuma terperdaya oleh keinginan dan ketamakan ingin berharta yang tiada habisnya,  yang tetap berfilsafat, bahwa mana bisa bertambah banyak, apabila yang sudah terkumpul itu sering-sering dikurangi, karena yang dikeluarkan itu bukan untuk bisnis, hanya untuk sosial dan amal saleh belaka. Maka celakalah mereka yang dalam hitungnya suka menghitung-hitung untung ruginya dalam berbuat kebaikan, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang terperdaya oleh fatamorgana keindahan duniawi.Dari hadist di atas dapatlah disimpulkan tiga perkara, sebagai berikut:1. Supaya harta dan ilmu itu dipakai dan digunakan untuk dan memperkuat taqwa kepada Allah, Tuhannya. Semakin menyadarkannya, bahwa harta dan ilmu itu tidak lain dari kurnia yang difasilitaskan Allah kepadanya, dengan suatu maksud yang tertentu dariNya. Sebab itu harta tersebut haruslah dipakai, dipergunakan dan dibelanjakannya dengan cara dan kepada jalan yang diridhai oleh Pemberinya, yaitu Allah SWT, dan bukan hanya ditumpuk dan dihitung-hitung demi kepuasan nafsunya belaka.2. Supaya harta dan ilmu dipakai dan dipergunakan untuk menghubungkan silaturahmi dengan sesama manusia, lebih erat dan kuat, bukan menyebabkan menjadi renggang, retak dan putus silaturahmi. Menyebabkan ia semakin kasih dan sayang kepada sesama manusia, hingga iapun dengan sendirinya akan dikasihi dan disayangi oleh semua orang, dan bukan sebaliknya, harta dan ilmu itu membuat orang marah dan benci kepadanya.3. Supaya harta dan ilmu itu dipakai dan dipergunakannya untuk menegakkan amal-amal yang haq (hak), amal-amal yang bermanfaat bagi kebaikan dan kepentingan masyarakat dan pergaulan hidup bersama, dengan nawaitu (niat) karena Allah, sebagai jasa baiknya dalam hidup, dimana imbalannya kelak akan diterimanya di sisi Allah SWT.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-3558154606204188578?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/3558154606204188578/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=3558154606204188578' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/3558154606204188578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/3558154606204188578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/06/seorang-mukmin-dengan-ilmu-dan-hartanya.html' title='SEORANG MUKMIN DENGAN ILMU DAN HARTANYA'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-649913836793369938</id><published>2008-06-03T14:24:00.001+07:00</published><updated>2008-06-03T14:24:44.492+07:00</updated><title type='text'>HAJI DAN QURBAN</title><content type='html'>"Sesungguhnya rumah beribadah yang mula-mula dibangun untuk manusia ialah Baitullah yang (terletak) di Bakkah (Mekkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (diantaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu), menjadi amanlah dia. Mengerjakan Haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup melakukan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban berhaji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (QS. Ali Imran III: 96-97).&lt;br /&gt;Rumah suci pertama.Semenjak dari zaman purbakala, Allah SWT sudah memerintahkan untuk membangun rumah suci tempat manusia melakukan ibadah di Bakkah (kota Mekkah sekarang). Bukan terhitung dari zaman Nabi Ibrahim a.s. saja, namun sejak dari zaman nabi Adam, sudah ada rumah suci yang dinamakan Baitullah itu. Malah menurut keterangan Ali bin Abi Thalib, sebelum zaman Nabi Adam, Allah sWT telah memerintahkan kepada malaikat membangun rumah suci tersebut di muka bumi ini, yang kemudian dipergunakan oleh para Nabi melakukan thawaf (mengelilinginya, sebagai upacara ibadah). Lalu Nabi Ibrahim a.s. datang menyempurnakan bangunan Baitullah itu. (Tafsir Qurtubi, jilid IV, hal 138).Jelaslah bahwa Baitullah atau Ka'bah itu adalah rumah suci tempat beribadah yang mula-mula dibangun di permukaan bumi ini, dimana sampai sekarang ini tiap-tiap tahun para jama'ah Haji melakukan thawaf mengelilinginya, sebagai salah satu rukun ibadah Haji.Berdasarkan ayat yang dikutip di atas, Baitullah itu mempunyai tiga keistimewaan, yaitu: 1. Mengandung barokah.2. Menjadi petunjuk (hidayah).3. Memberikan keamanan.Ketiga unsur itu, yaitu barokah, hidayah dan aman adalah hal-hal yang amat diperlukan dalam kehidupan ini.Atas motivasi itulah, maka akal yang sehat dapat memahamkan apabila pada ayat tersebut dikaitkan dengan perintah Ilahi supaya manusia (Muslim) melaksanakan ibadah haji ke Baitullah itu, agar dikaruniakan Allah SWT tiga unsur yang menjadi hajat hidup itu.Setiap orang yang sudah melaksanakan ibadah haji, pasti akan menghayati sendiri ketiga nilai-nilai hidup itu. Ia merasakan mendapat barokah, bukan saja barokah ibadah berupa pahala yang berlipat ganda di akhirat kelak, tapi terutama barokah yang berbentuk karunia Ilahi yang menumbuhkan kenikmatan dalam jiwa dan kehidupannya. Ia merasakan mendapat hidayah, bimbingan dan petunjuk dalam mengarungi lautan kehidupan yang penuh badai dan gelombang ini. Dan sebagai puncak (yang ketiga), ia merasa aman, tenang dan tenteram, baik fisik maupun jiwa dan hati nurani. Malah keamanan dan ketentraman jiwa itu, yang dalam istilah Al-Quran disebut muthmainnah (tenang-mantap) adalah merupakan perisai yang paling ampuh dalam menangkis tantangan demi tantangan, yang pasti ditemukan dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;Manfaat Ibadah Haji.Ibadah haji itu mendatangkan berbagai manfaat, baik untuk kehidupan di dunia maupun untuk kehidupan di akhirat kelak. Allah SWT menyatakan dalam Al-Quran:"Dan serulah kepada manusia untuk mengerjakan Haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai onta, yag datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka melihat sendiri berbagai manfaat, dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang ditentukan atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa binatang ternak. (Al-Haj XXII: 27-28).Adapun manfaat ibadah Haji itu untuk kehidupan di dunia antara lain ialah: perlawatan semakin luas, pemandangan bertambah luas, hubungan dan relasi makin banyak, mendapat kesempatan untuk membuka dasar-dasar perundingan membicarakan masalah-masalah politik, ekonomi, sosial, dengan berbagai negara di dunia ini. Ibadah haji boleh dikatakan berfungsi sebagai "Konverensi Internasional" untuk merapatkan hubungan dan silaturahmi antar bangsa-bangsa.Dilihat dari sudut kepentingan kehidupan di akhirat kelak, maka ibadah Haji merupakan satu sarana untuk mendapatkan maghfirah (ampunan) Ilahi ataas dosa-dosa yang telah dilakukan oleh seorang hamba. Apabila Tuhan memberikan ampunan, maka keadaannya akan kembali seperti bayi yang sama sekali tidak berdosa, seperti dinyatakan oleh Rasulullah:"Barang siapa yang mengerjakan (ibadah) Haji, kemudian tidak berbicara kotor dan tidak berbuat kejahatan, maka keadaannya kembali laksana pada waktu dilahirkan ibunya." (Riwayat Bukhari dan Muslim).Pada hadist yang lain disebutkan:"Orang yang melakukan Haji dan Umroh adalah utusan Allah yang (datang) menziarahiNya. Jika mereka meminta, akan diberikan oleh Tuhan; kalau mereka memohonkan ampunan, maka akan diampuni olehNya; jika mereka berdoa akan diperkenankanNya; kalau mereka memohonkan syafa'ah, maka akan dipenuhi oleh Tuhan."&lt;br /&gt;Kesatuan akidah dan tujuan hidup.Ibadah haji adalah merupakan lambang dan pemaduan jiwa dan semangat tauhid, yang menggalang kesatuan akidah dan tujuan hidup kaum muslimin.Dalam bahasa yang satu dan sama, ratusan ribu jamaah haji waktu wukuf di Arafah memakai pakaian yang sama, seragam putih, mengumandangkan ucapan yang sama yang keluar dari lubuk hati yang suci (yang artinya):"Aku sambut panggilanMu, Ya Allah. Aku sambut perintahMu. Aku sambut panggilanMu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan seluruh kekuasaan adalah milikMu sendiri. Tiada sekutu bagiMu."&lt;br /&gt;Perilaku dan ucapan itu melambangkan dan meningkatkan semangat Tauhid, mempertebal keyakinan kepada Allah Yang Maha Esa, yang tunggal dalam iradat dan qudratNya.Perjuangan dan pengorbanan dalam melaksanakan ibadah haji itu, bergumul dengan kesulitan demi kesulitan, kekurangan demi kekurangan, semua itu semakin memantapkan jiwa manusia untuk mewujudkan kesatuan tujuan hidup, yaitu berbakti kepada Yang Maha Esa dan berjuang untuk mencapai mardhatillah, ridha Ilahi.&lt;br /&gt;Qurban.Dalam rangkaian ibadah haji tersedia pula sarana amaliah yang bukan saja mengandung nilai-nilai ubudiyah, tapi juga mempunyai aspek-aspek sosiologis, kemasyarakatan (ijtima'iyah), yaitu menyembelih hewan, dimana daging-dagingnya itu disediakan untuk menyantuni dan menggembirakan orang-orang fakir dan miskin, umumnya kaum yang tidak berpunya. Para jama'ah yang sedang melakukan ibadah haji melaksanakan penyembelihan hewan itu di kota Mina pada tanggal 10 Zulhijjah. Berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus ribu hewan (kambing) yang disembelih pada hari itu. Daging-dagingnya diserahkan kepada kaum fakir-miskin yang datang mengambilnya, malah dalam prakteknya, persediaan daging melimpah-limpah, sedang yang membutuhkan (konsumen) sedikit, sehingga daging-daging yang tersisa banyak yang menjadi busuk (dahulu), tapi untunglah sekarang, pemerintah Arab Saudi sudah melakukan usaha pengawetan daging-daging itu, yaitu dengan mengalengkannya menjadi daging kalengan (seperti misalnya kornet, dan sebagainya), yang dikoordinir dan diproduksi dengan bantuan beberapa negara tetangga terdekat, agar penyembelihan hewan qurban tidak menjadi mubazzir atau sia-sia. Dan bahkan konon kabarnya daging-daging itu juga dikirim ke berbagai negara miskin yang penduduknya sangat membutuhkan bahan makanan. Subhanallah!Penyembelihan hewan oleh para jamaah haji di Mina itu dinamakan had-yu.Adapun penyembelihan hewan bagi orang-orang yang tidak melaksanakan ibadah haji dinamakan Qurban, yang dianjurkan untuk dilakukan sesudah shalat Idul Adha sampai akhir hari tasyrik, tiga hari kemudian.Ada dua macam nilai-nilai atau keuntungan yang dapat dicapai oleh orang-orang yang melakukan (penyembelihan) qurban itu. Pertama, dengan jalan menyembelih qurban itu ia mendekatkan diri (berbakti) kepada Allah SWT dan dalam kehidupan di akhirat kelak akan menerima pahala yang berlipat ganda. Begitu besar pahalanya, sampai-sampai dalam satu hadist dilukiskan, bahwa darah hewan yang disembelih itu, tanduknya dan bulunya semuanya merupakan amal kebajikan yang akan ditimbang pada hari kiamat. Ada juga yang mengatakan bahwa di akhirat kelak, seorang yang rajin melakukan qurban, akan dipertemukan kembali dengan hewan-hewan (kambing) yang dikurbankan (hewan-hewan itu akan dibangkitkan kembali dan dihidupkan kembali oleh Allah secara utuh), sehingga hewan-hewan itu akan menjadi hewan peliharaannya (yang disayanginya) di akhirat kelak. Bahkan seseorang yang mengurbankan unta, sapi, dan sebagainya akan dipertemukan kembali dengan hewan-hewan tersebut, sehingga ia akan mempunyai hewan tunggangan (unta, sapi, dsb) di akhirat kelak.Kedua, dengan menyembelih hewan qurban itu, maka dapatlah dipupuk dan dikembangkan pembinaan masyarakat yang berjiwa keadilan sosial, karena kaum fakir miskin dengan menerima daging-daging qurban itu merasa mendapat santunan dan perhatian.Seorang muslim yang berqurban berarti telah membuat sebuah investasi untuk kehidupan di akhirat, selain ia juga membuktikan keberadaannya sebagai manusia yang berjiwa sosial di mata masyarakat dan juga memperoleh kemuliaan di sisi Tuhan.Selain dari itu, dengan tindakan amaliahnya itu, ia mengembangkan pula nilai-nilai rohaniah dalam kehidupan pribadinya, yaitu meningkatkan semangat berkorban, memberikan sesuatu dari karunia Ilahi yang diterimanya, kepada orang lain yang membutuhkannya, suatu hal yang merupakan sikap jiwa dan mental yang diperlukan dalam kehidupan ini, terutama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Hendaknya kesempatan berqurban ini tidak saja dilakukan pada saat hari raya Idul Adha, namun juga disemangati dalam kehidupan sehari-hari dan juga hendaknya tidak diabaikan oleh kaum muslim, sebagai ungkapan rasa syukur atas kelapangan rezeki yang telah diberikah Allah SWT.Dalam berqurban sebaiknya tidak ditunda-tunda, karena siapa yang tahu apakah tahun depan kita masih diberikan umur panjang oleh Allah. Maka berqurbanlah hari ini demi kehidupanmu di akhirat kelak!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-649913836793369938?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/649913836793369938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=649913836793369938' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/649913836793369938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/649913836793369938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/06/haji-dan-qurban.html' title='HAJI DAN QURBAN'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-3078674364114892507</id><published>2008-06-03T14:20:00.000+07:00</published><updated>2008-06-03T14:21:31.107+07:00</updated><title type='text'>MENGHORMATI PEKUBURAN - JANGAN GEGABAH MEMBONGKAR DAN MEMINDAHKANNYA</title><content type='html'>Dengan semakin maraknya penanaman modal asing di negeri ini, pembangunan perumahan mewah, pusat-pusat perkantoran dan pusat perbelanjaan terkadang tidak hanya berdampak penggusuran kepada perumahan penduduk (terutama perkampungan penduduk ekonomi lemah), namun lebih keji lagi sering dijumpai penggusuran terhadap kompleks pemakaman atau pekuburan yang sudah berpuluh-puluh tahun berada di suatu lokasi.&lt;br /&gt;Dari Buraydah, mengatakan, bahwa Rasulullah selalu mengajarkan kepada para pengikutnya setiap keluar dari tempat pekuburan umum (maqabir, maqbarah) supaya mengucapkan: "Salam atasmu, wahai ahli pekuburan yang mukmin dan muslim! Insya Allah kami akan menyusul kamu ke tempat ini. Kami memohon kepada Tuhan akan ke'afiatan untuk kami dan kamu." (Riwayat Muslim).Dari Jabir pernah dia berkata: "Berkubur bersama ayahku almarhum seorang pria. Sesudah berlalu 6 bulan, maka timbul suatu keperluan (hajah) yang mendesak bagiku terhadap kuburan itu, dan aku tidak memperoleh suatu hal yang berubah dari tubuhnya, kecuali beberapa lembar janggutnya yang telah rontok jatuh ke tanah." (Riwayat Abu Daud dan Bukhari).&lt;br /&gt;Menghormati orang yang meninggal sama sebagai menghormati orang yang hidup.Berpegang kepada firman Tuhan dalam surat Al-Isra' ayat 70 yang berbunyi:"Dan sesungguhnya Kami menghormati-memuliakan manusia keturunan Adam.....".Perintah penghormatan itu berlaku kepada manusia yang sudah meninggal, sebagai halnya kepada manusia yang masih hidup. Kita hormati dia sewaktu hidup, maka setelah manusia itu meninggal, penghormatan itu harus diteruskan. Jenazahnya dipelihara dengan baik, diletakkan dengan tenteram di pekarangan rumah, atau di lokasi pekuburan sehingga dapat dilihat dan diziarahi oleh para sahabat dan sanak saudara.Saat orang baru saja meninggal, seharusnya ia dimandikan sampai bersih, lalu disembahyangkan, dibungkus rapi dengan kain kafan dan diletakkan menghadap ke kiblat, dengan dibacakan doa semoga arwahnya diterima Tuhan dengan baik. Selesai segala upacara kehormatan, lalu dibawa ke pekuburan dan dimasukkan dengan khitmat ke liang lahat yang sudah digali untuknya. kalau semuanya sudah selesai, maka masing-masing meninggalkan kuburan itu dengan membacakan doa semoga dia dibebaskan dari azab kubur yang akan menyiksa dirinya.Demikian tata tertib penghormatan yang harus diberikan kepada seorang yang baru saja meninggal, yang tiada kurang daripada penghormatan yang diberikan kepadanya sewaktu dia masih hidup. Sebagai halnya orang yang hidup harus dihormati hak rumah tempat tinggalnya, maka terhadap manusia yang sudah meninggal, Tuhan menyuruh pula supaya tempat peristirahatan terakhir itu dihormati pula dan tidak diganggu, serta tiada alasan apapun yang dapat disyahkan oleh agama untuk memindahkan jenazah atau kerangka orang yang sudah meninggal itu ke tempat lain. Lebih-lebih bila kemudian digusur, tulang-tulangnya dibuang sembarangan dan tidak dipindahkan ke tempat yang lebih baik, namun justru di atas komplek pekuburan itu dibangun jalan raya, atau mungkin perumahan mewah, pusat perbelanjaan /plasa dan sebagainya, sungguh yang demikian itu perbuatan yang sangat keji (dan sudah banyak terjadi di negeri ini). Perbuatan yang demikian itu, sama saja halnya dengan mengusir seseorang yang hidup dipaksa pindah dari rumah yang sudah menjadi tempat tinggal yang syah baginya. Perbuatan yang demikian itu sangatlah zalim, dengan mengusir seseorang dari rumahnya, bahkan lebih zalim lagi karena sikap itu dilakukan kepada jenazah yang sudah tidak dapat berbuat apa-apa untuk mempertahankan haknya lagi.&lt;br /&gt;Kuburan harus dihormati.Hampir semua buku-buku hadist memuat ajaran Nabi bahwa setiap kuburan harus dihormati, dipandang sebagai tempat yang harus dipelihara (kebersihan dan kesuciannya) dengan khidmat. Kitab "Aunul ma'bud, syarah Sunan Abi Daud" menyebutkan tidak kurang 39 buah hadist yang mengatur soal penghormatan. Tidak kurang dari 24 macam banyaknya persoalan penghormatan itu, mulai dari memasukkan jenazah ke dalam kubur sampai kepada soal ziarah yang dilakukan.Diantaranya ada 7 macam larangan yang ditegaskan sehubungan dengan kesucian dan ketertiban lokasi pekuburan:1. Dilarang mendirikan bangunan di atas tanah pekuburan.2. Dilarang duduk di atas pekuburan.3. Dilarang melakukan penyembelihan hewan di atas tanah pekuburan.4. Dilarang duduk-duduk dan berbincang-bincang soal duniawi di lokasi pekuburan.5. Dilarang berjalan melangkahi makam/nisan di pekuburan, terlebih bila menginjak atau melintasi makam dengan alas kaki (sekarang sudah banyak dilanggar karena ketidaktahuan).6. Dilarang memecahkan tulang-belulang sewaktu penggalian liang lahat di lokasi pekuburan.7. Dilarang memindahkan jenazah dari suatu kuburan tanpa kebutuhan yang mendesak.Demikian 7 macam larangan yang dicegah melakukannya, demi untuk memelihara kehormatan kuburan.&lt;br /&gt;Kebutuhan yang mendesak dan keadaan darurat.Sebagaimana telah disebutkan di atas, termasuk dalam larangan ialah memindahkan kuburan, kecuali ada hal yang memaksa untuk pemindahan itu. Di dalam hal ini terdapat dua kategori.a. Terhadap kuburan pribadi, maka disyaratkan harus diperoleh "kebutuhan yang mendesak" yang menyebabkan pembongkaran dilakukan. Di dalam hadist Jabir yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan juga oleh Imam Bukhari di atas, disebutkan perkataan "hajah", yang maksudnya adalah hajat, kebutuhan yang mendesak yang menyebabkan pembongkaran itu dilakukan. Baik kebutuhan itu datangnya dari pihak keluarga jenazah yang bersangkutan, ataukah dari penguasa atau badan hukum yang memerlukannya, seperti untuk pemeriksaan mayat atau jenazah dalam soal visum untuk penelitian laboratorium kriminal, dan sebagainya.Misalnya, pernah terjadi di zaman Nabi, bahwa seorang sahabat yang menggali dan menimbuni kuburan telah kehilangan gigi palsunya yang menyebabkan dia susah makan atau lainnya, maka diizinkan baginya menggali kembali sampai giginya itu diperoleh lagi.Begitu juga jenazah Sayidina Ali bin Thalib yang meninggal dunia dan dikubur di Kaufah, dipindah oleh putranya, Sayidina Hasan atas nama pemerintah ke kota Madinah.Keterangan Imam Malik dalam bukunya "AL Muwattha", kuburan Sa'ad bin Abi Waqqash dan Sa'ied bin Zaid yang pada mulanya di Al 'Aqieq telah digali dan dibongkar lalu dipindahkan ke kota Madinah.Terhadap pembongkaran kuburan umum yang dinamakan dalam bahasa Arab "maqbarah" (tanah tempat kuburan umum) diperlukan syarat yang lebih berat, yaitu "keadaan darurat" (keadaan yang sangat memaksa). Hanyalah dalam keadaan yang sangat memaksa, dengan arti bahwa kalau tidak dilakukan pembongkaran dan pemindahan akan terjadi suatu hal yang berbahaya atau bencana bagi masyarakat sekitar, barulah dapat dilakukan pemindahan.&lt;br /&gt;Keadaan darurat apakah yang demikan memaksanya?Apakah sesuatu keadaan darurat yang kita hadapi sekarang sehingga kita harus menempuh jalan yang demikian? Bahaya apakah yang akan timbul, kalau kehormatan kepada jenazah yang terkubur dan tanah-tanah kuburan yang telah menjadi tanah pekuburan umum itu harus dibongkar paksa atau dirusak kehormatannya?Menurut pandangan kami, memelihara tanah pekuburan yang sudah ada dan menghiasinya dengan secara baik dan terawat rapi, tidak akan mengurangi keindahan kota, dan tidak pula mengurangi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan suatu kota yang modern sekalipun.Suatu ibukota negara misalnya seperti kota Damaskus yang menjadi ibukota Syiria, tidak merasa perlu membongkar pekuburan umum yang di dalamnya terdapat makam Bilal bin Robah yang menjadi muadzin di zaman Nabi, yang sekarang suah menjadi "maqbarah" tempat pekuburan umum. Dari uraian-uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa menurut hukum Islam, pembongkaran dan pemindahan kompleks pemakaman (makam, maqbarah, TPU), hanyalah diperkenankan dalam keadaan darurat, terpaksa bila mengancam keselamatan masyarakat umum atau penduduk sekitar. Artinya, kalau tidak demikian memaksa untuk memindahkan pemakaman, sebaiknya jangan dilakukan karena haram hukumnya, dan bagi yang melanggar akan berdosa besar! Jangan karena iming-iming tender besar dari investor asing, maka penguasa suatu daerah dengan entengnya mengiyakan untuk menyetujui pembongkaran atau relokasi makam hanya untuk mendirikan plasa atau pusat perbelanjaan dan perumahan mewah di atasnya. Sungguh yang demikian itu perbuatan keji dan munkar!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-3078674364114892507?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/3078674364114892507/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=3078674364114892507' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/3078674364114892507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/3078674364114892507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/06/menghormati-pekuburan-jangan-gegabah.html' title='MENGHORMATI PEKUBURAN - JANGAN GEGABAH MEMBONGKAR DAN MEMINDAHKANNYA'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-3170020302513545867</id><published>2008-06-03T14:19:00.001+07:00</published><updated>2008-06-03T14:19:46.740+07:00</updated><title type='text'>BERLINDUNG KEPADA ALLAH SWT</title><content type='html'>"Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." (QS. Al-Falaq : 1-5).&lt;br /&gt;Allah SWT mengawali surat Al-Falaq ini dengan kalimat: QUL = katakanlah = ucapkanlah kembali.Memerintah mengucapkan kembali adalah untuk menimbulkan rasa tentram, bahwa apa yang dia ucapkan dan apa yang dia lakukan adalah benar. Ibarat seorang ibu menyuruh anaknya berbelanja ke warung untuk membeli beberapa macam barang, setelah disebut oleh ibunya, maka disuruh anaknya mengulang barang apa yang hendak dibelinya.Seorang komandan yang memerintah bawahannya, selalu bawahannya itu mengulang kembali apa yang diperintahkan itu agar tepat dijalankan.Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk selalu mengucapkan kembali kalimat: "AUDZU" = aku berlindung. Tidak ada yang kaya atau miskin, tidak ada yang kuat atau lemah, semuanya memerlukan perlindungan.Seorang suami memerlukan perlindungan istrinya, dan demikian pula sebaliknya. Seorang anak memerlukan perlindungan ayahnya, dan demikian pula sebaliknya.Lindung melindungi sesama insan adalah hal yang umum dan biasa. Tetapi kepada siapa kita dapat berlindung secara mutlak?Yang mutlak tidak boleh kepada manusia atau benda-benda yang lain, karena kalau perlindungan yang mutlak kepada manusia, akan disalahgunakan!Karena itu yang mutlak harus kepada RABBIL FALAQ, kepada Tuhan yang Menguasai subuh, kepada Allah pemilik cakrawala ini. Mengapa? Karena kita memerlukan Allah, sedang Allah tidak memerlukan kita. Karena lindungan Allah itu pasti obyektif, pasti benar dan adil kepada hambaNya.Menitipkan sesuatu kepada yang tidak berkepentingan pasti aman. Tetapi menitipkan sesuatu kepada yang berkepentingan belum tentu akan aman. Dari apa kita berlindung kepada Allah? Kita berlindung dari empat bahaya:1. Minsyarri maa khalaq (dari kejahatan makhlukNya).Semua makhluk Allah tidak ada yang sempurna. Semuanya mempunyai unsur kekurangan. Karena sadar bahwa semua itu ada unsur kekurangannya, maka percaya kepada seseorang tidak boleh lebih dari 99.9%. Lebih dari itu akan disalahgunakan.Kata seorang politikus: min syarri maa khalaqa itulah sumber demokrasi. Karena memang sifat manusia itu semuanya mempunyai kekurangan, maka yang kurang-kurang ini bermusyawarah untuk menemukan sesuatu yang lebih baik.2. Minsyarri gaasiqin idza waqaba. (dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita).Malam adalah baik untuk istirahat. Tetapi malam juga mengandung bahaya. Melamun, niat jahat, juga dilakukan pada malam hari. Karena itu apabila berjalan di waktu malam, jangan sendirian, karena akan ditemani syaitan. Dua orang muda-mudi yang berjalan-jalan di waktu malam, akan ditemani oleh syaitan. Apabila syaitan bersama pemuda akan menggempur pemudi, dan sebaliknya apabila syaitan bersama pemudi (gadis) akan menggempur pemuda. Keduanya pada akhirnya akan sama-sama hancur bila menuruti godaan syaitan. Gelapnya malam bisa diganti dengan lampu, pelita, tetapi gelapnya hati sukar sekali ditemukan obatnya. Karena itu Rasulullah mengajarkan doa (yang artinya):"Ya Allah! Berikanlah cahaya di hati kami dengan hidayatMu seperti engkau berikan cahaya matahari untuk duniaMu selama-lamanya."Orang yang berani mengucapkan doa ini pasti hatinya terbuka untuk mendengarkan nasihat orang lain. Tetapi kalau tidak pernah membaca doa ini hatinya akan gelap, nasihat orang akan terpental kembali dan tidak pernah masuk ke dalam hati dan pikirannya. Karena itu baca doa ini berulang-ulang.3. Min syarrin naffaatsati fil 'uqadi (dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul).Naffaatsat, di zaman intelektual manusia masih rendah, banyak dijumpai tukang-tukang sihir wanita. Pekerjaan mereka adalah mempertemukan wanita dan pria yang benci, atau memecah-belah suami istri yang baik-baik, memecah perkongsian dua orang yang bersahabat, memecah belah persatuan bangsa, dll melalui ilmu-ilmu sihir.Sekarang di zaman intelektual manusia sudah lebih tinggi, bukan lagi tukang tenung/tukang sihir, tetapi yang dimaksud naffaatsat ialah orang yang menebarkan perpecahan rumah tangga, perkongsian memecahbelah persatuan bangsa, dan sebagainya. Karena itu kita harus berlindung kepada Allah dari perbuatan naffaatsat.4. Min syarri hasidin idza hasada (dari kejahatan orang yang dengki apabila ia telah dengki).Tidak ada pekerjaan yang buruk kecuali pekerjaan tukang dengki. Melihat orang lulus ujian, ia dengki, melihat orang kaya, ia dengki, melihat orang memiliki tampang rupawan (ganteng atau cantik), ia pun menyimpan rasa dengki. Rasa dengki akan mengikis iman, dan juga meracuni hati dan pikiran. Telah banyak terjadi bahwa rasa dengki itu akan terakumulasi menjadi stres hati dan pikiran, maka tidak heran di kota-kota besar semakin banyak saja orang yang mengidap penyakit jantung, maupun stroke. Semuanya terjadi karena miskin rasa syukur dan membangun kedengkian dan kebencian dalam hati dan pikirannya sendiri. Padahal itu adalah racun yang akan merugikan diri sendiri. Orang tidak akan pernah menemukan kebahagiaan dalam hati dan pikirannya, apabila hati dan pikiran itu telah dipenuhi oleh rasa dengki, iri dan tamak.Padahal agama Islam menganjurkan apabila melihat orang lain maju atau beroleh kebahagiaan, kita harus turut merasa senang dan bersyukur dan mengucap Alhamdulillah, sekarang ia memperoleh keberuntungan dan kebahagiaan, semoga besok Allah melimpahkan hal yang sama kepada saya.Hakikat kalimat yang tidak dengki dan mirip dengan doa yang penting dibaca saat berziarah ke kubur:"Selamat sejahtera wahai ahli kubur. Saudara telah berangkat lebih dahulu, kami suatu saat akan menyusul kemudian."Itulah yang patut kita baca saat ziarah kubur. Kita doakan mereka yang berada di dalam kubur, dan bukannya sebaliknya seperti yang banyak terjadi di masyarakat kita, yaitu banyak masyarakat yang justru meminta kebaikan dari orang yang telah berada di dalam kubur (mati). Minta-minta kebaikan atau doa dari orang yang telah mati (berada di alam kubur), adalah perbuatan yang sesat. Demikian pula dapat digolongkan perbuatan sesat adalah pergi ke kuburan dengan membawa kemenyan, bunga tujuh rupa dan membaca japa mantra adalah perbuatan syirik dan sesat, dan malah akan menyusahkan arwah orang yang berada di alam kubur itu sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-3170020302513545867?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/3170020302513545867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=3170020302513545867' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/3170020302513545867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/3170020302513545867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/06/berlindung-kepada-allah-swt.html' title='BERLINDUNG KEPADA ALLAH SWT'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-7906544820396921306</id><published>2008-06-03T14:18:00.001+07:00</published><updated>2008-06-03T14:18:54.144+07:00</updated><title type='text'>BERANI KARENA TAKUT</title><content type='html'>"Sesungguhnya Allah mencela sikap yang lemah, tetapi hendaklah engkau bersikap kais (tangkas, bijaksana). Maka bila engkau menghadapi persoalan berat (yang dihadapi dengan kesungguhan), maka ucapkanlah: hasbunallah wani'mal wakil, cukuplah Allah bagiku dan sebaik-baik pelindungku." (Riwayat Abu Daud).Mungkin akan banyak orang yang terkejut membaca judul tulisan ini, karena yang diketahui selama ini ialah: "Berani karena berar, takut karena salah." Timbul pertanyaan: Apakah pepatah:  berani karena benar dan takut karena salah itu tidak berlaku lagi?MASALAHNYA nenek moyang kita sudah berhasil melahirkan pepatah yang demikian tinggi falsafahnya itu dan ia akan hidup dan berkesan sepanjang zaman, apalagi bila orang menyadari bahwa hakikat dari satu pepatah ialah merenungkan berbagai segi kehidupan ini dari bermacam-macam aspeknya lalu memutuskan dalam kata yang singkat dan padat.Dengan demikian akan terlihat bahwa seorang yang berada di pihak yang benar akan berani dalam kata dan tindakannya, dan orang yang bersalah akan timbul takut dalam jiwanya. Demikianlah kita melihat Nabi Muhammad SAW dengan para sahabat beliau karena berada di pihak yang hak dan benar, selalu berani menghadapi resiko dalam bentuk apapun adanya. Begitu pula pahlawan-pahlawan bangsa dan rakyat Indonesia tegak berjuang mempertahankan tanah air dengan keberanian yang luar biasa menantang dan mengusir imperialis yang menjajah mereka. Banyak lagi peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah yang menggambarkan bagaimana orang yang berada di pihak yang hak dan benar selalu berani menghadapi tantangan demi tantangan.Orang kafir Quraisy di zaman Nabi Muhammad SAW cukup berani menantang dakwah Rasul, apakah karena mereka itu berada di atas prinsip yang hak dan benar?Komplotan munafik di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay cukup berani bermuhadanah berminyak air, dua muka) di Madinah, apakah karena mereka dalam yang hak dan benar?Apakah Jenghis Khan dengan pasukannya itu meruntuhkan Islam, merampas dan membunuhi kaum muslimin di Asia Tengah dan dilanjutkan oleh Holako Khan di Bagdad dahulu itu demikian beraninya, karena mereka benar? Tidak!Demikian juga Salibiyah dari Barat dengan segala kekuatan dan kezalimannya itu datang ke Timur, apakah itu karena benar dan hak?Hitler dalam perang dunia ke II menggerakkan perang dan membunuhi jutaan Yahudi dan ummat manusia dengan kejamnya, apakah itu karena dia berada di atas yang benar dan hak? Tidak! Demikian pula Lenin Stalin di Rusia yang membunuhi dengan kejam sekian puluh juta umat Islam, apakah itu karena benar? (Dulu populasi umat Islam di Rusia sangat besar!) Sama sekali tidak! Juga pembunuhan dan pemusnahan ras muslim Bosnia oleh Kroasia, juga pemusnahan kaum muslim di Afganistan dan Irak oleh Amerika, tindakan terkutuk mereka sama sekali tidak benar! Kekejian politik genosida (pemusnahan kaum muslim) oleh bangsa-bangsa kafir adalah perbuatan keji yang tercatat dalam sejarah namun berusaha ditutup-tutupi dan diputarbalikkan.Mereka bukan berani karena benar, tetapi mereka berani karena takut.Karena takut pengaruhnya akan hilang, maka golongan Quraisy dan munafik di zaman Nabi Muhammad SAW berani berbuat dan bertindak zalim dan hina, seperti pula beraninya Jenghis Khan-Holako Khan dengan pasukannya itu hanya karena mereka takut akan kemajuan dan kekuatan Islam.Demikian juga ketakutan Salibiyah (kaum Nasrani) akan kekuatan Islam dan kemajuannya membuat mereka berani menggerakkan perang berabad-abad lamanya, generasi demi generasi. Begitu juga keberanian Hitler dan organisasinya yang mengobarkan perang anti Yahudi di seluruh Eropa, semuanya hanyalah karena rasa ketakutan berlebihan atas nasib Jerman yang ekonominya didominasi oleh etnis Yahudi pada saat itu. Mungkin sama seperti rakyat pribumi Indonesia yang saat ini ekonominya semakin tersisih dan terjerumus dalam kemiskinan akibat dominasi ekonomi di segala bidang oleh etnis Cina. Rasa ketakutan yang berlebihan itu bisa-bisa nyaris menimbulkan bencana kemanusiaan seperti yang terjadi di Jerman saat Hitler berkuasa. Tidak percaya? Ingatkah Anda akan tragedi kemanusiaan pada kerusuhan Mei tahun 1998 saat etnis Cina di Indonesia menjadi sasaran kebencian rasialisme. Semuanya karena rasa ketakutan akan dominasi ekonomi etnis cina yang banyak menguasai dan mengendalikan perekonomian negeri ini di segala bidang, bahkan hingga saat sekarang di jaman reformasi, dimana rakyat pribumilah yang justru semakin kelimpungan dan kesulitan dalam menghadapi kehidupan yang semakin sulit dan bencana kemiskinan yang makin merajalela, sementara etnis Cina yang minoritas justru banyak yang bergelimang kemewahan (bersembunyi di balik punggung penguasa) dengan cara mengeksploitasi segala sumber daya alam Indonesia, akibat sistem perekonomian negeri ini yang mulai beralih ke sistem kapitalisme. Eksploitasi terhadap manusia-manusia pribumi Indonesia terjadi di segala bidang dan didukung oleh perundang-undangan yang justru merugikan para pewaris asli bangsa ini. Bukannya rasis, namun itulah kenyataan yang terjadi. Kaum pribumi yang umumnya muslimin semakin tersisih oleh segelintir minoritas pengendali ekonomi negeri ini (yang umumnya beragama non Islam) namun justru menjadi pengendali ekonomi di belakang layar, serta menjegal dan menghambat perkembangan dan dakwah Islam (melalui propaganda terselubung lewat acara-acara televisi yang sama sekali tidak Islami dan cenderung dekaden demi mengikis sedikit demi sedikit pengaruh Islam di Indonesia, dan juga adanya usaha untuk melakukan pemurtadan masal lewat budaya-budaya dekaden yang ditayangkan lewat televisi-televisi Indonesia yang mayoritas pemilik sahamnya adalah para pengusaha non-muslim). Bila kesenjangan sosial dan ekonomi semakin tinggi, bukan tidak mungkin tragedi kemanusiaan seperti jaman Hitler bisa terjadi untuk kesekian kalinya di Indonesia. Sejarah telah mencatat beberapa kali kerusuhan ras anti Cina yang terjadi di Indonesia, bahkan sejak jaman penjajahan Belanda. Kerusuhan Mei hanyalah kejadian yang kesekian kalinya akibat titik kulminasi ketidakpuasan dan ketakutan rakyat Indonesia akan nasib bangsanya sendiri yang semakin tersisih oleh bangsa pendatang. Apalagi dengan maraknya isyu terorisme, kaum muslimin Indonesia semakin tersisih karena isyu terorisme sepertinya dijadikan alat untuk menyerang hak-hak rakyat dan juga untuk menyerang atau bahkan memfitnah para ulama dalam menyebarkan ajaran kebenaran dan dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam. Pemurtadan masal semakin banyak terjadi akibat para misionaris semakin bergerak leluasa, sementara dakwah Islam dan penyebaran Islam di Indonesia semakin tersendat dan terlindas oleh arus globalisasi. Ketakutan yang sampai pada klimaks yang tinggi dapat mendorong untuk bertindak maju menggerakkan segala daya kemampuan tanpa menghitung resiko jauh ke depan, yang sepintas lalu melahirkan keberanian menghadapi apapun juga.Keberanian yang salah untuk melakukan kekejian dapat dilandasi oleh rasa takut yang berlebihan (paranoid), dan biasanya keberanian itu disertai pula dengan kenekatan di luar batas-batas kemanusiaan dan akal sehat. Hal ini sudah berulang kali terjadi di negeri ini.Maka bertobatlah, dan bertindaklah yang berani bila Anda yakin bahwa Anda berada di pihak yang benar, dan keberanian itu hendaknya dimotivasi oleh rasa takut kepada Allah, rasa takut bila Islam akan semakin lama semakin digilas oleh kepentingan asing, atau kepentingan para kapitalis. Takutlah bila suatu saat Islam akan dihina dan menjadi bulan-bulanan, sehingga dengan motivasi ketakutan itu akan timbul keberanian Anda untuk membela Islam, menegakkan Islam lewat jalan perdamaian, cinta kasih, diplomasi, dan bukannya lewat jalan kekerasan yang justru hanya akan merugikan Islam sendiri. Satu-satunya jalan untuk menyebarluaskan Islam secara cepat dan efisien adalah lewat jalan cinta dan kasih sayang. Bergerak dan menyebarlah ke seluruh penjuru dunia, tebarkan cinta dan kasih sayang, menikahlah dengan wanita-wanita Eropa, Australia, dan Amerika, jadikanlah mereka muslim, sehingga dari mereka akan lahirlah generasi-generasi masa depan yang muslim dan beriman kepada Allah. Bila Anda semua memakai cara ini, maka tidak mustahil dalam kurun waktu kurang dari 100 tahun, maka negeri-negeri Eropa, Rusia, Cina, Jepang, Korea, Amerika, dan Australia yang saat ini mayoritas penduduknya non muslim dan cenderung memusuhi Islam, para generasinya akan segera berganti dengan generasi baru di masa datang yang berubah menjadi generasi Islam yang cinta damai, anti rasial, dan anti kekerasan. Alangkah indahnya bila mayoritas penduduk dunia itu memeluk agama Islam. Coba Anda bayangkan!Cara-cara kekerasan seperti yang dilakukan oleh para teroris, bukanlah cara yang baik untuk menyebarkan Islam, namun justru menimbulkan antipati dan kebencian yang berlebihan terhadap Islam. Maka sebarkanlah Islam dengan cinta kasih, ilmu pengetahuan dan perdamaian, terutama sekali sebarkanlah Islam lewat jalan pernikahan, sehingga akan lahir generasi-generasi baru yang berakhlak Islam dan akan membangun peradaban dunia ke arah yang lebih baik.RAHASIA ILAHI.Adalah sangat menarik perhatian benar-benar bahwa dalam Al-Quran tidak diketemukan sepatah katapun yang menyebut keberanian. Kata keberanian yang dalam bahasa Arabnya disebut syaja'ah dan jara'ah, tidak sepatahpun disebutkan Allah dalam Al-Quran.Jika dikehendakiNya menunjukkan keberanian, maka dipergunakan bentuk kata yang lain seperti tersebut dalam Al-Quran:"Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula bersedih hati, sebenarnya kamu orang yang paling tinggi (kedudukannya) jika kamu orang yang beriman." (QS. Ali Imran III: 139).Dalam ayat ini tersirat dorongan berani untuk bangkit dan bergerak.Adapun perkataan takut sangat banyak disebutkan dalam Al-Quran, baik dengan kata-kata chauf, khassyyah dan jubn diartikan takut walau ada pula perbedaannya. Ketiga kata-kata ini dipakai berupa takut tetapi yang dua di muka ditujukan terhadap Allah dan terhadap manusia ataupun hewan, sedang jubn, takut terhadap manusia. Raghib Ashfahani memperingatkan bahwa takut (khauf) terhadap Allah tidaklah dimaksudkan seperti yang timbul dalam hati bagaikan takut terhadap singa, tetapi takut terhadap Allah yang dimaksudkan ialah menahan diri dari maksiat dan mengutamakan ketaatannya kepada Allah.Allah juga memperingatkan bahwa khasyyah itu juga takut, tetapi takut yang disertai ta'zim (penghormatan tertinggi) seperti disebutkan dalam Surat At-Taubah ayat 19 mengenai orang yang berwatak memakmurkan masjid, juga mempunyai kepribadian:"Tidak ada yang ditakutinya melainkan Allah."Ensiklopedia Arab (Al-Mausua' Arabiyah) membukakan pengertian tentang khauf ini berupa perasaan yang tidak menyenangkan terhadap adanya bahaya yang hakiki pada keselamatan seseorang (umum), menimbulkan gangguan syaraf dan adanya perubahan dalam kerja psikologis yang menuju ke arah penambahan kemampuan insan atau hewan untuk menghadapi fakta yang ada, maka dibantunya untuk berperang (maju) atau lari.Selanjutnya diuraikan bagaimana macam ragamnya perasaan takut dalam jiwa. Tetapi yang pokok dipahamkan bahwa rasa takut itu dapat membuat orang menjadi maju (berani) atau mundur ke belakang. (Al Maus atul Arabiyah, hal 768).Dr. Ahmad Mahmud Ar-Rafi' telah membicarakan dengan panjang lebar tentang berani dan keberanian berupa orang yang sanggup menghadapi berbagai bahaya dan mengatasi rasa takut, itulah keberanian dan orang yang berani. Malah dalam sektor hidup ini perlu keberanian, sehingga banyak ragamnya seperti keberanian jihad (mempertahankan diri bila diserang atau bila harga diri Islam diinjak-injak; dan bukannya menyerang/agresif), keberanian bertahan dalam akidah, keberanian menyatakan pendapat, keberaniah dalam dakwah, menepati janji, dalam bidang ilmu pengetahuan ilmiah dan sebagainya. Dilihat pula bagaimana akidah dalam jiwa itu dapat melahirkan keberanian, tetapi diperingatkan pula bahwa tidak semua keberanian itu adalah kepahlawanan. Sebab keberanian pencuri, perampok, pemerkosa, atau bahkan teroris (penafsir yang salah tentang maksud artian jihad) bukanlah keberanian yang harus dipuji, malah harus dikutuk dan dihentikan, sebab motivasinya bukan sifat yang baik yang umumnya dilandasi oleh nafsu atau pun kebencian). (Buthulah wal Abthal, hal 10-11).KALAU TAKUT.Dengan mengingat pengungkapan Al Mausua'tul Arabiyah di atas, maka rasa takut itu menimbulkan tambahan tenaga pendorong untuk maju atau mundur. Tidak heran kalau ada saatnya: berani karena takut, seperti ada pula saatnya: berani karena benar.Kalau orang takut azab Allah di dunia dan neraka di akhirat maka dia harus berani mengalahkan getaran nafsu amarah dan kebencian (seperti yang dikobarkan oleh teroris yang salah dalam menafsirkan Islam) yang justru akan menyeretnya berbuat dosa. Sebaliknya ia harus berani menegakkan ketaatan kepada Allah dalam bentuk apapun terutama sekali agar menegakkan perdamaian dan kasih sayang antar umat manusia demi kemanusiaan, walau berbeda keyakinan, berbeda bangsa atau ras sekalipun.Demikian pulalah kalau orang takut yang hak dan kalimah Ilahi akan digeser dan digusur orang maka dia harus berani membawa yang hak itu ke tengah dan mempertahankan dengan sepenuh jiwa raganya (ingat: MEMPERTAHANKAN HARGA DIRI ISLAM DAN AKIDAH ISLAM DAN BUKANNYA MENYERANG PENGANUT AGAMA LAIN!). Kata-kata yang berhuruf besar di atas hendaknya diresapi dan dipahami dalam-dalam, sebab sedikit salah penafsiran mengenai aspek keberanian ini terbukti telah mengobarkan api permusuhan dan kebencian yang akan menjadi penyulut peperangan dan tragedi kehancuran peradaban dan kemanusiaan!Juga kalau orang takut masyarakat dan negara tercinta ini (Indonesia) akan jatuh harga dirinya di mata dunia dan di mata rakyat, maka pihak penguasa dan pihak berwajib harus timbul keberanian menegakkan hukum, memberantas korupsi, mengutamakan keadilan dan kesejahteraan rakyat, menghapus kezaliman, meminimalisir kemiskinan, mencegah kebodohan dan pembodohan, dan banyak lagi masalah-masalah yang menjadi kanker dalam penegakan keadilan dan pembangunan di negeri ini.Demikian pula, karena takutnya kepada Allah yang menjiwai seluruh hayatnya maka Rasulullah SAW dan para sahabat dahulu berani berjuang dengan gagah dan gigihnya untuk mendapatkan keridhaanNya dan kejayaan di dunia ini, yang dilanjutkan generasi Islam sepanjang zaman dan sepanjang abad.Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha, dua ahli tafsir yang terkenal membahas dengan mendalam sekali ayat:"Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu (Allah), jika kamu benar-benar beriman." (QS. Ali Imran III: 175).Firman Allah: In kuntum mu'minin (jika kamu benar-benar beriman), kata Muhammad Abduh - melahirkan faedah harus adanya kekokohan iman kepada Allah sebelum segala sesuatu dihadapkan karena getaran-getaran batin yang menimbulkan rasa takut itu berasal dari pembantu-pembantu syaitan yang tidak akan lenyap dari luhul qalbi (hati) melainkan oleh iman yang benar.Dari keseluruhan masalah ini, maka tidak adanya kata-kata berani dan keberanian dalam Al-Quran, lalu mendorong dengan isyarat semata-mata, mungkin disinilah ditemukan hakikat: "al kaisu" dalam hadist Nabi SAW di atas, ketangkasan yang harus dipunyai, dimana harus berani karena benar dan dimana takut karena salah serta suatu saat takut (pada Allah) yang akan melahirkan berani (untuk menegakkan Islam) demi kemanusiaan dan kemaslahatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-7906544820396921306?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/7906544820396921306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=7906544820396921306' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/7906544820396921306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/7906544820396921306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/06/berani-karena-takut.html' title='BERANI KARENA TAKUT'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-4388211506320580159</id><published>2008-06-03T14:16:00.000+07:00</published><updated>2008-06-03T14:17:50.940+07:00</updated><title type='text'>MENEGAKKAN YANG HAQ DAN MELENYAPKAN YANG BATIL</title><content type='html'>"Ya Allah! Tunjukkanlah kepada Kami Al-Haq (kebenaran) itu jelas nampak sebagai Kebenaran, dan karuniakanlah kepada Kami (kemampuan) mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada Kami yang batil itu jelas kelihatan sebagai satu kebatilan, dan karuniakanlah pula kepada kami (kekuatan moral) menjauhinya. Janganlah jadikan hati kami bimbang-bimbang dikuasainya, supaya kami jangan tersesat. Jadikanlah Kami menjadi Pemimpin orang-orang yang taqwa."  (Al-Hadist).&lt;br /&gt;Pengertian Al-haq dan batil.Menurut ilmu bahasa, perkataan al-haq itu mempunyai bermacam-macam arti. Diantaranya berarti: kebenaran, kewajiban, kebaikan, kepastian, kepunyaan, kewenangan, penyelidikan, dsb.Adapun pengertiannya menurut istilah tergantung dari sudut dan ilmu apa perkataan itu dilihat. Umpamanya jika dilihat dari sudut ilmu Tauhid, maka yang dimaksudkan dengan Al-haq itu ialah Allah sebagai pemilik Kebenaran, yang menghidupkan dan mematikan, yang menguasai segala sesuatu.Dalam Al-Quran disebutkan:"(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS. Al-Hajj XXII: 62).Jika dipandang dari sudut ilmu lainnya, maka pengertiannya lain pula, meskipun pada pokoknya tidak banyak perbedaannya.Dilihat dari sudut ilmu filsafat, yang dimaksud dengan Al-Haq itu ialah kebenaran yang hakiki, kebaikan dan keindahan. Ahli-ahli ilmu akhlak mengartikan Al-Haq itu dengan dharma, kewajiban. Adapun ahli-ahli hukum mengartikan Haq itu dengan makna milik, kepunyaan.Meskipun bermacam-macam pengertian Al-Haq itu, tapi apabila disimpulkan secara menyeluruh, maka pengertian yang umum tentang Al-Haq itu ialah kebenaran dan nilai-nilai lainnya yang terpuji dan diridhai pada sisi Ilahi.Abdul Aziz Al Khauli menyimpulkan, bahwa meng-Esakan Tuhan, membaca Al-Quran, beramal, mematuhi Rasul, amar makruf nahi munkar, adil terhadap musuh, jujur dalam pergaulan, amanah (jujur), memelihara rahasia dan nilai-nilai lainnya yang terpuji dalam masyarakat, semuanya itu adalah termasuk dalam ruang lingkup pengertian Al-Haq itu. (Islahul Wa'zud Dini, hal 199).Adapun yang dimaksud dengan batil itu ialah kebalikan (lawan) dari Al-Haq. Setiap perbuatan yang dilarang oleh syariah, seperti riba, zina, minuman keras, judi, marah, mencuri, khianat, sumpah palsu, curang, makan harta orang lain &amp;amp; anak yatim, yang dinilai buruk semuanya itu masuk dalam kategori batil. (Al-Bayanul fasil bainal haqqi wal bathii, oleh Fikri, hal 104).PERUMPAMAAN DALAM AL-QURAN.Dalam Al-Quran dijumpai 255 kali kata-kata yang berasal dari pokok kata Al-haqqa itu, sedang kata-kata batil sebanyak 33 kali tersebut dalam Al-Quran. Banyaknya dipergunakan kata-kata al-haq itu dalam Kitab Suci menunjukkan tentang pentingnya nilai-nilai yang terkandung dalam kata-kata tersebut.Dengan menggunakan kata yang bersifat metaphora, Allah SWT melukiskan tentang soal al-haq dan batil itu, sebagai berikut:"Dia (Allah) yang menurunkan air hujan dari langit (awan), kemudian air itu mengalir ke lembah-lembah menurut kodratnya dan terjadilah banjir yang mengandung buih mengambang. Dan dari (benda) yang dibakar dalam api untuk dijadikan perhiasan dan barang-barang keperluan lainnya terdapat pula buih yang serupa. Demikianlah Tuhan membuat perumpamaan tentang Kebenaran (A-Haq) dan kepalsuan (al-bathil). Adapun buih itu akan hilang lenyap sebagai barang yang tak berharga, dan apa yang bermanfaat untuk umat manusia, tinggal tetap di muka bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan." (QS. Ar-Rad XIII: 17).Pada ayat tersebut, sekaligus dicontohkan Tuhan tentang kebenaran dan kebathilan itu.Adapun Kebenaran itu diumpamakan oleh Allah SWT laksana hujan yang turun dari langit kemudian mengalir ke lembah-lembah menjadi sungai-sungai. Setiap sungai mengandung zat air yang memberikan manfaat kepada umat manusia, umpamanya untuk mengairi (irigasi), sawah-sawah, membersihkan kotoran, menjadi air minum, membangkitkan tenaga listrik untuk kepentingan pembangunan, memberikan kehidupan pada ikan dan binatang-binatang air lainnya, dan banyak lagi.Di permukaan air sungai itu terdapat juga buih yang mengambang, yang tidak memberikan manfaat sedikit pun, bahkan akan sirna dan hilang lenyap laksana gelembung-gelembung air sabun. Buih ini diibaratkan laksana kebatilan.Selain dari itu, dilukiskan pula perumpamaan lainnya laksana besi atau bahan logam lainnya yang dibakar dalam api, kemudian dibentuk (diketok) menjadi perhiasan atau alat-alat lainnya (pisau, cangkul, dll) yang bermanfaat. Seperti juga air yang mengandung buih, maka besi atau logam yang dipanaskan itu juga mengandung partikel-partikel gosong hasil percikan yang sama sekali tidak bermanfaat. Jadi, yang benar itu sama dengan air dan logam murni, sementara yang batil itu disamakan (diumpamakan) bagai buih dan partikel gosong (tahi logam).PERTENTANGAN ANTARA AL-HAQ DAN BATIL.Semenjak dunia berkembang, selalu terjadi pertentangan, perjuangan dan konfrontasi antara yang haq dan yang batil. Silih berganti antara keduanya timbul tenggelam, tergantung kepada kondisi, situasi dan kekuatan-kekuatan pada setiap masa. Tetapi sudah menjadi Sunnatullah, bahwa garis akhir (finish) dari perjuangan kedua nilai-nilai itu, kemenangan senantiasa di pihak yang benar (al-haq). Mungkin saja pada suatu ketika atau pada suatu masa (periode) yang tertentu, al-haq itu kalah atau jatuh tersungkur, sedang batil meloncat dan berdiri tegak (seperti pada masa sekarang, dimana negara-negara kafir mendominasi dunia dan menindas kaum muslimin). Tapi biasanya hal itu hanya sementara waktu saja alias temporer.Ada orang yang mengibaratkan kebenaran itu laksana sumbat botol yang dibuat dari kayu gabus. Meskipun kayu gabus itu ditekan dan dibenamkan sekuat-kuatnya ke dalam air, namun sumbat itu hanya akan menghilang sebentar, namun kemudian timbul kembali di permukaan air, sebab secara alamiah, sumbat gabus itu secara kodrati akan selalu mengambang (dan menyebarkan kebenaran). Dalam Al-Quran banyak sekali dijumpai ayat-ayat yang memastikan bahwa kebenaran itu akan tegak berdiri dan kebatilan itu akan roboh lenyap. Allah SWT berfirman:"Dan katakanlah: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap." (QS. Al-Isra' XVII: 81).PERINTAH MENEGAKKAN KEBENARAN DAN MELENYAPKAN KEBATILAN.Para Nabi telah diutus Allah SWT untuk menyampaikan dan menegakkan kebenaran itu kepada umat manusia dari zaman ke zaman, dan juga untuk melenyapkan kebatilan. Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir menerima tugas tersebut, mewariskan tugas itu pula kepada ummatnya.Banyak ayat-ayat dan Hadist yang memerintahkan yang demikian.Dalam pada itu, antara kebenaran dan kebatilan itu tidak boleh disamar-samarkan dan dicampuradukkan, dan dilarang pula untuk menyembunyikan kebenaran. Dengan tegas Allah SWT menyatakan dalam Al-Quran:"Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dan yang batil, dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu sendiri mengetahuinya." (QS. Al-Baqarah II: 42).Dalam mengomentari ayat ini, maka dapatlah ditafsirkan bahwa walaupun perintah ini pada mulanya ditujukan kepada Bani Israil (orang Israel yang terbukti kafir), namun isinya dapat diserukan pula kepada kaum Muslimin yang atang dari segala lapisan, terutama para pemimpin dan orang-orang yang memegang kekuasaan, sehingga ayat ini seakan-akan mengatakan: Hai orang-orang yang memegang kekuasaan, janganlah kamu campuradukkan antara keadilan dan kezaliman. Hai para hakim, janganlah kamu campuradukkan antara hukum dan suap, hai para pejabat janganlah kamu campuradukkan antara ilmu dan harta, dan seterusnya. Masing-masing bisa menafsirkan sendiri arti ayat ini bagi diri masing-masing agar selalu menjadi pedoman tetap lurus di jalan yang benar yaitu jalan Allah.KEKUATAN MORAL (MORAL FORCE).Batas-batas dan garis-garis antara al-haq dengan batil itu sebetulnya sudah cukup jelas. Banyak orang-orang yang melihat di bawah pelupuk matanya sendiri kebenaran yang diinjak-injak atau diperkosa, kebatilan yang dipupuk dan dibela. Tetapi ia bisu dalam tujuh macam bahasa, tidak mampu dan tidak  berani menegur atau mengemukakannya (mungkin takut akan dibungkam oleh kematian seperti yang menimpa aktivis HAK ASASI MANUSIA: MUNIR yang merupakan korban konspirasi politik keji). Sebab-sebabnya ialah karena tidak mempunyai kekuatan moral (moral force), takut menghadapi resiko.Itulah sebabnya, maka Rasulullah menyuruh supaya kita selalu berdoa seperti disebutkan dalam hadist di atas agar kita bukan saja diperlihatkan yang hak sebagai satu kebenaran yang nyata, tapi supaya juga dikaruniakan keberanian dan kemampuan untuk mengikuti dan menegakkan kebenaran. Begitu juga tidak hanya semata-mata minta diperlihatkan kebatilan itu sebagai satu kepalsuan dan kesesatan, tapi supaya digerakkan olehNya agar kita menjauhi kebatilan itu.Selanjutnya kita dianjurkan berdoa agar jangan ragu-ragu atau pun bimbang dalam menegakkan yang hak dan melenyapkan yang batil sesuai dengan firman Allah:"Kebenaran itu dari Tuhanmu. Sebab itu janganlah kamu ragu-ragu." (QS. Ali Imran III: 60).Mengenai hal ini, A. Yusuf Ali memberikan ulasan dalam Tafsir "The Holy Quran": "Kebenaran itu bukanlah satu paksaan yang datang dari pemuka-pemuka agama, bukan pula semacam ketakhayulan dari rakyat banyak. Ia datang dari Tuhan, dan itu wahyu yang langsung datang dari Ilahi, maka tidak boleh dihadapi dengan ragu-ragu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-4388211506320580159?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/4388211506320580159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=4388211506320580159' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/4388211506320580159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/4388211506320580159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/06/menegakkan-yang-haq-dan-melenyapkan.html' title='MENEGAKKAN YANG HAQ DAN MELENYAPKAN YANG BATIL'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-6378892742076236517</id><published>2008-06-03T14:10:00.000+07:00</published><updated>2008-06-03T14:12:35.947+07:00</updated><title type='text'>KEBANGKITAN ISLAM LEWAT ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI</title><content type='html'>Hijrah adalah peristiwa penting dan bersejarah bagi seluruh umat Islam. Ia bukan saja bermakna bermulanya perkiraan takwim bulan hijrah, malah merujuk kepada peristiwa penghijrahan Rasulullah Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah yang mengandung rahasia, keistimewaan dan konsepnya tersendiri.&lt;br /&gt;Sejarah peristiwa Nabi Muhammad SAW diperintahkan oleh Allah berhijrah dari Makkah ke Madinah ketika ruang perjuangan Rasulullah terlalu sempit dan terhimpit. Baginda Nabi tidak memilih untuk berdoa meminta kelapangan yang sudah tentu Allah akan kabulkan. Sebaliknya, terpaksa menempuh jalan yang berat, berbahaya dan beresiko tinggi karena diburu musuh untuk mencapai suatu keadaan yang lebih baik. Melalui perintah hijrah, Rasulullah SAW berusaha merancang dan bertindak. Penghijrahan seumpama Rasulullah dan sahabat tidak berlaku lagi kepada umat Islam setelah Rasulullah. Namun, konsep penghijrahan tetap berlanjut di kalangan umat Islam.&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda, "Tiada lagi hijrah sesudah pembukaan kota Makkah, tetapi hijrah yang tetap ada adalah jihad dan niat untuk berhijrah (apabila keadaan memaksa) dan apabila dipanggil untuk berjihad (atau sebagainya) hendaklah kamu bersiap sedia."&lt;br /&gt;Merujuk kepada bahasa Arab, perkataan hijrah bermaksud bergerak meninggalkan satu tempat untuk ke tempat lain dalam usaha mencari pembaharuan yang mengarah kepada yang lebih baik. Dalam konteks yang lebih luas, hijrah boleh dipahami sebagai perpindahan dari suatu keadaan kurang baik kepada keadaan lebih baik, daripada keadaan negatif kepada yang lebih positif. Ia juga berarti meninggalkan kepercayaan dan amalan serta peraturan dan cara hidup yang bertentangan dengan ajaran Islam sebagai agama yang diridhai oleh Allah.&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Daud daripada Abdullah bin Hubsyi, Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang berhijrah ialah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah." Sehubungan dengan itu, persoalan yang sering terlintas di pikiran adalah apa, di mana dan kemana arah tujuan kita, khususnya umat Islam di negar ini dalam menghayati konsep hijrah pada era globalisasi?&lt;br /&gt;Khalifah Umar bin Khattab pernah mengungkapkan pendapatnya mengenai hijrah itu (yang artinya):&lt;br /&gt;"Hijrah itu memisahkan antara yang haq dengan yang batil. Oleh sebab itu (abadikanlah dengan menjadikannya titik tolak penanggalan." &lt;br /&gt;Itulah sebabnya penanggalan Islam dinamakan tahun hijriyah, yang berasal dari kata hijrah.&lt;br /&gt;Jika diteliti dan dihayati, konsep hijrah pada era globalisasi mengajak umat Islam untuk memanfaatkan berbagai aspek kemajuan masa kini untuk mencapai kejayaan hidup di dunia dan akhirat. Tetapi, tanpa sifat sanggup berhijrah, mustahil kejayaan akan tercapai dan kemajuan ummat tidak akan berhasil.&lt;br /&gt;Islam tidak menyuruh kita berdiam diri dan menunggu Allah memberi sesuatu kepada kita tanpa berusaha. Allah berfirman bermaksud: "Bagi setiap orang ada malaikat penjaganya dari hadapan dan belakangnya yang menjaganya dengan perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa  yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila dikehendaki oleh Allah, keburukan kepada sesuatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolak, dan tidak ada pelindung bagi mereka selain daripadaNya." (QS. Ar-Rad : 11).&lt;br /&gt;Justru umat Islam hari ini mestilah berusaha mempersiapkan diri untuk melakukan hijrah menuju kepada alaf baru. Dunia tidak akan menunggu suatu umat untuk sama-sama mencapai kemajuan dan kecemerlangan. Golongan mundur biasanya sengaja mewujudkan halangan untuk cemerlang dalam hidupnya.&lt;br /&gt;Bagi golongan maju, mereka senantiasa bersedia berhadapan dan berusaha untuk mengatasi segala hambatan dan rintangan seperti perasaan takut gagal untuk bersaing, sikap suka bertangguh, malas, banyak dalih dan banyak angan-angan. Oleh karena itu, beberapa aspek persiapan diri perlu dilakukan oleh umat Islam untuk mencapai kemajuan dan kejayaan.&lt;br /&gt;KEMANTAPAN INDIVIDU ISLAM YANG BERIMAN.&lt;br /&gt;Hijrah turut mengajak bagaimana memuhasabah dan menilai diri, hati dan jiwa serta usaha untuk memiliki sifat mahmudah (terpuji), seperti ikhlas, rela, sabar, amanah, dan berkepribadian mulia. Pada waktu yang sama juga menghindari sifat mazmumah (keji), seperti sombong, riyak, dengki, dan kikir untuk tidak diamalkan dalam kehidupan.&lt;br /&gt;Selain itu, usaha mewujudkan perpaduan dan persaudaraan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara perlu menjadi agenda, peranan dan tanggungjawab bersama untuk dilaksanakan dalam konteks kepentingan umat Islam sejagat.&lt;br /&gt;Kepentingan dan kelebihan ilmu pengetahuan amat penting bagi membantu kejayaan dalam bidang apapun. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk senantiasa menambah ilmu baik yang berhubungan dengan urusan dunia maupun kehidupan sesudah mati. Sesuai dengan Firman Allah yang artinya: "Apakah orang yang taat beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, yang dia akan takut pada azab hari akhirat serta mengharapkan rahmat Tuhannya akan sama dengan orang-orang musyrik?  Katakanlah: Adakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang dapat mengambil peringatan hanyalah orang yang berakal sempurna." (QS. Az-Zumar : 9).&lt;br /&gt;Ayat di atas jelas menerangkan kelebihan orang yang berpengetahuan berbanding dengan orang yang tidak berpengetahuan dalam memainkan peranan bagi mencapai kemajuan. Kemajuan teknologi  informasi dan kecanggihan komunikasi. Konsep hijrah menyarankan agar segala kemudahan yang ada dapat dimanfaatkan selain untuk mendewasakan dan meningkatkan aktualisasi diri juga untuk memberikan manfaat pengetahuan dan pendidikan bagi orang lain. Dengan demikian akan terjadi peningkatan kesejahteraan dalam kehidupan, di samping membantu usaha menyebarluaskan lagi syiar Islam di seluruh penjuru dunia, tanpa batasan waktu dan tempat. Semua ini akan membantuk mengembalikan kegemilangan, tamadun, dan martabat umat Islam di mata dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijrah sebagai strategi.&lt;br /&gt;Dalam setiap perjuangan selalu memakai strategi dan taktik. Strategi adalah merupakan induk, sedang taktik laksana anak. Setiap taktik yang dilakukan tidak boleh terlepas dari strategi.&lt;br /&gt;Sikap hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat, walau sepintas lalu kelihatan sebagai satu taktik, tapi pada hakekatnya adalah dalam rangka satu strategi yang menyeluruh.&lt;br /&gt;Ada kalanya dalam suatu perjuangan, tatkala timbul suatu kondisi yang amat sulit, harus menentukan pilihan sementara waktu mundur, tapi tidak melepaskan strategi. Dengan mundur sebagai taktik ialah karena memperhitungkan lawang yang pada saat itu mempunyai kekuatan yang dapat menguasai, sedang pihak sendiri yakin terhadap kebenaran yang dipertahankan melawan kepalsuan yang hendak ditegakkan lawan. Dengan sikap mundur (hijrah) berarti sementara menerima kenyataan tentang keunggulan lawan (negara-negara non Islam dan musuh-musuh Islam), tapi dengan sikap itu terjamin kelanjutan (konsistensi) perjuangan menegakkan peradaban Islam. Sikap yang pertama taktis, sedang yang kedua strategis. Apalagi berkenaan dengan sikap hijrah Rasulullah itu, sebagaimana diuraikan di atas sudah ada restu dari Sang Pemegang Kekuasaan Tunggal, yaitu Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta Sejarah.&lt;br /&gt;Fakta sejarah  kemudian memang menunjukkan bahwa hijrah itu tak ubahnya sebagai batu landasan/fondasi (mijlpaal) dalam sejarah kebangkitan Islam. Sebab setelah  terjadi hijrah tersebut, hanya dalam tempo yang relatif pendek kira-kira 10 tahun, dengan mengambil kota Madinah sebagai basis, maka terbentuklah satu Daulah Islamiyah, dimana dapat dijalankan dan dipraktekkan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan negara, dalam arti kata seluas-luasnya. Bukan semata-mata itu, tapi dari kota tempat hijrah itu, yang mendapat bantuan penuh dari kaum Anshar saat itu, berkembanglah agama Islam dan segala ajaran-ajarannya ke Timur dan Barat, sehingga akhirnya meliputi seluruh jagat rayat ini.&lt;br /&gt;Dalam hubungan ini, dapat disimpulkan bahwa hijrah Nabi Muhammad itu adalah permulaan kebangkitan Islam dan ufuk tempat memancarnya kemerdekaan umat. Apabila kita merayakan hari bersejarah itu (tahun baru Islam), maka sesungguhnya yang kita peringati dan rayakan ialah suatu hari yang menjadi garis pemisah antara yang haq dan yang batil. Suatu momentum sejarah di mana kaum muslimin memperoleh kebebasan menjalankan tugas-tugas mereka, mencapai kemerdekaan melaksanakan ibadah, menjelmakan kebahagiaan umat yang lepas sama sekali dari intrik-intrik musuh. Dan yang terpenting, kaum muslimin dapat menegakkan keyakinan keagamaan dengan hak-hak yang penuh." (Muhammad Rasulullah wa khatamun Nabiyin, hal 99).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijrah sebelum hijrah.&lt;br /&gt;Tidak perlu diuraikan satu demi satu tentang perjalanan hijrah itu dan perkembangannya kemudian, sebab hal itu adalah laksana matahari di waktu siang hari. Tapi yang perlu disimpulkan ialah nilai-nilai rohaniah yang terkandung di dalam peristiwa tersebut, seperti ruhul-jihad, daya-juang, keberanian, tahan menderita, teguh hati, sabar dan tawakkal, serta semangat syuhada yang terus menyala-nyala.&lt;br /&gt;Hal ini adalah berkat latihan yang dilakukan oleh para sahabat sebelum hijrah dari kota Mekkah. Pada hakekatnya mereka telah melakukan "hijrah" sebelum hijrah, bukan penyingkiran fisik, tapi semacam hijrah hati nurani, yang dinamakan oleh Profesor Mahmud Syaltut dengan istilah: hijratul qalbiyah. Yaitu, menyingkir dari tengah-tengah arus kemusyrikan yang melanda masyarakat dan ummat manusia pada waktu itu. Mereka dapat bertahan dan mempertahankan diri di tengah-tengah gelombang kemerosotan, tidak hanyut dan tidak tenggelam, tidak dapat dipengaruhi oleh jiwa manusia yang kesat dan kotor, yang dilakukan dengan bermacam-macam tekanan dan intimidasi.&lt;br /&gt;Dengan latihan-latihan itu, mental mereka semakin matang dan mempunyai bentuk yang lebih mantap, tak ubahnya laksana besi yang dibakar di dalam api kemudian dipukul, sehingga mematangkan untuk mencari bentuk yang sesuai buat dijadikan alat yang memberikan faedah, bahkan pada gilirannya dapat dipergunakan untuk memukul (memukul lawan yang hendak mengancam peradaban dan harga diri Islam).&lt;br /&gt;Suasana dan kondisi jiwa yang demikianlah yang menguntungkan dan merupakan faktor yang menentukan bagi kaum Muhajirin, sehingga tatkala mereka sudah dihadapkan kepada kenyataan melakukan hijrah fisik, hijratul badaniyah, maka jiwa mereka sudah mantap, tidak bimbang dan ragu-ragu dan tidak bergoncang sedikitpun juga dalam menghadapi kesulitan demi kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iktibar untuk kaum muslimin di abad jahiliyah modern yang penuh fitnah.&lt;br /&gt;Bagi kita kaum muslimin yang hidup di abad kemajuan ini, yang diberi julukan sebagian orang dengan "zaman jahiliyah modern yang penuh fitnah", adalah sikap hijrah hati nurani itu (hijratul qalbiyah) yang perlu dipupuk dan ditingkatkan. Artinya, di tengah-tengah kemerosotan nilai-nilai yang semakin meluas, hendaklah kaum muslimin jangan terbawa hanyut.&lt;br /&gt;Banyak contoh-contoh yang menunjukkan orang-orang yang dapat dipukau oleh harta, kemewahan, kedudukan, kursi yang empuk walau "berkepinding dan penuh duri" sehingga yang tadinya terkenal sebagai seorang pejuang, akhirnya berangsur-angsur hilang dari masyarakat, bahkan kadang-kadang menjadi benalu. Timbullah istilah-istilah yang terkenal dengan sebutan "erosi idealisme", yaitu penggundulan cita-cita. Dan bagi yang terus bertekad berjuang menegakkan Islam, waspadalah, saat ini begitu banyak jebakan, fitnah, dan undang-undang yang penuh fitnah yang berusaha untuk menjegal ataupun mengkambinghitamkan Anda sebagai "PELAKU TINDAK TERORISME". Walaupun yang hanya dilakukan seseorang itu sekedar menyebarkan dakwah ataupun mengungkapkan kebenaran, namun di dunia modern ini begitu banyak konspirasi yang tidak hanya didalangi oleh musuh-musuh Islam, namun juga didukung oleh para antek-antek pengkhianat yang justru adalah sebagian orang Islam sendiri yang sudah hilang rasa cintanya kepada Islam, hilang keimanannya maupun sudah hilang akal sehatnya, karena terbius oleh kursi jabatan, uang, dan iming-iming duniawi yang ditawarkan oleh para dajal-dajal musuh Islam (negara-negara asing yang membenci keberadaan orang-orang Islam, peradaban Islam, dan budaya serta hukum Islam). Maka kembangkanlah ilmu pengetahuan dan teknologi yang didasari oleh akhlak dan akar budaya Islam, sehingga akan bangkitlah kembali peradaban Islam yang modern yang sepenuhnya dipegang dan dikuasai oleh bangsa-bangsa Islam, kaum muslimin, dan bukannya dikuasai atau dimonopoli oleh kaum non muslim seperti yang sekarang terjadi. Maka benarlah suatu pendapat yang mengatakan, siapa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, maka dialah yang menguasai peradaban dunia. Maka bangkitlah Islam melalui ilmu pengetahuan, agar di masa depan, kitalah yang mengendalikan dunia, yang memiliki peradaban yang bercerminkan pada akar budaya dan ajaran Islam. Alangkah indahnya bila itu bisa terwujud, membangkitkan kembali peradaban Islam, dan upaya itu haruslah dirintis mulai dari sekarang, dengan banyak-banyak menuntut ilmu dan belajar! Jangan mau kalah dengan kaum kafir dan bangsa-bangsa yang dahulu pernah merampok ilmu dan peradaban Islam saat perang salib dahulu! Ilmu dan peradaban Islam dalam sejarah terbukti sudah diklaim menjadi hak cipta kaum kafir seperti yang sekarang terjadi. Padahal ilmu-ilmu pengetahuan modern yang ada sekarang adalah sebagian besar berasal dari pemikiran dan penemuan ilmuwan-ilmuwan Islam di masa lalu. Contohnya saja ilmu matematika Aljabar (Algebra) yang merupakan ilmu pengetahuan yang ditemukan oleh para ilmuwan Islam di jaman dahulu, demikian juga dengan ilmu falaq (astronomi) itu juga adalah ilmu hasil penemuan ilmuwan Islam yang sekarang justru dieksplorasi dan digunakan oleh bangsa-bangsa non-Islam dan diklaim sebagai hasil penemuan mereka. Maka bangkitlah Islam, dan rebutlah kembali apa yang dahulu menjadi milik kita!&lt;br /&gt;Maka bacalah (IQRA !) dan belajarlah! Tingkatkan daya intelektualisme Anda, jadikan diri Anda sendiri pintar, pandai dan jenius demi kemajuan peradaban Islam! Demi kemaslahatan umat manusia di bumi dengan berdasarkan atas syariat Islam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutiara terpendam dalam peristiwa hijrah.&lt;br /&gt;Sebagai penutup kita pinjam di sini kesimpulan tentang mutiara-mutiara terpendam dalam peristiwa hijrah itu, seperti yang disimpulkan oleh Dr. M. Abdur Rahman Baishar dalam kata pendahuluan buku "Adwaun alal Hijrati", sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Melukiskan kemantapan iman yang bersemi dalam jiwa Nabi Muhammad saw dan para sahabat, yang bersedia mengorbankan rumahtangga, harta benda, dan kehidupan keluarga dalam mempertahankan aqidah (kepercayaan dan keyakinan) terhadap ajaran Islam yang haq (yang benar). Perlu diperhatikan di sini, bahwa saat ini demikian banyak aliran Islam yang salah yang mengajarkan kesesatan, dan bahkan kemusyrikan. Itulah sebabnya berkacalah pada hati nurani dan mohon petunjuk kepada Allah agar kita selalu dituntun ke jalan yang benar yang mendapat cahaya dan petunjuk.&lt;br /&gt;2. Keberanian yang luar biasa menghadang penderitaan dalam satu perpindahan yang penuh kegelapan duniawi, yang belum jelas perspektif hari depannya. Mereka rela mengalami penderitaan sebagai akibat dari sikap menyingkir (hijrah) untuk menegakkan agama Allah.&lt;br /&gt;3. Sikap hijrah itu dilakukan dengan kesucian jiwa, kejernihan pikiran dan merupakan manifestasi hubungan yang dekat dan baik dengan Tuhan seru sekalian alam.&lt;br /&gt;4. Melaksanakan satu khittah atau strategi perjuangan yang mempunyai tujuan untuk mencapai kemenangan.&lt;br /&gt;5. Sikap hijrah itu menunjukkan perlawanan antara yang haq dengan yang batil, yang pada tingkat terakhir menghancurkan kebatilan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-6378892742076236517?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/6378892742076236517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=6378892742076236517' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/6378892742076236517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/6378892742076236517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/06/kebangkitan-islam-lewat-ilmu.html' title='KEBANGKITAN ISLAM LEWAT ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-3879196317013805371</id><published>2008-05-24T06:18:00.004+07:00</published><updated>2008-06-07T01:39:14.021+07:00</updated><title type='text'>KEMEWAHAN HIDUP</title><content type='html'>"Dan berkatalah para terkemuka dari kaumnya, yakni orang-orang kafir dan yang mendustakan kepastian akan menemui hari akhirat bersama orang-orang yang telah Kami mewahkan mereka daalm kehidupan dunia. Orang ini tak lain hanyalah manusia juga seperti kamu; ia makan seperti yang kamu makan dan ia minum seperti apa yang kamu minum." (QS. Al-Mu'minun XXIII:33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan sifat manusiawi, semua orang ingin kesenangan dan kemewahan dalam kehidupan. Ingin segala kelezatan, segala keindahan hidup lahiriah dan ingin segala cukup, segala ada dan serba lengkap. Sebab menurut pikirannya kehidupan yang demikianlah kebahagiaan yang dicari dan yang diusahakan dalam hidup ini.&lt;br /&gt;Anak manusia mendambakan, kiranya di dunia ini jangan ia susah dan payah, baik fisik atau jiwanya. Dan ini tidak tercapai, kalau bahan dan alat untuk itu tidak ada dan tidak siap sedia. Baru dambaan hati itu terjelma, manakala bahan dan alat sudah ada dan lengkap semua.&lt;br /&gt;Umumnya setiap pribadi insani dalam hidupnya memimpikan tercapainya tiga perkara: kekayaan, kehormatan, dan kesenangan. Hendaknya dapatlah ia memiliki harta benda yang banyak. Hendaknya jadilah ia seorang yang dihormati dan dimuliakan, dan hendaknya senanglah ia selalu dalam hidup. Maka filsafat hidupnya terumus menurut logika: Tujuan hidup ialah kesenangan, lalu kehormatan dan kemuliaan.&lt;br /&gt;Ada sebagian yang lebih mengutamakan kesenangan hidup, sampai membuat tekad yang populer, yaitu asal senang. Adapun kehormatan dan kemuliaan adalah urusan yang kedua, katanya. Perlu apa dihormati dan dimuliakan, bila tak ada kesenangan. Orang ini akan bersedia dihina dan diejek, asalkan ia senang. Tapi ada juga yang mengutamakan kehormatan dan kemuliaan daripada kesenangan, sebab baginya tidak ada arti kesenangan, kalau hidupnya sarat dengan hinaan dan ejekan orang banyak. Dan hanya para cerdik cendekiawan dan para ahli yang memahami agama saja yang sanggup membedakan, kemana pilihan harus dijatuhkan dari dua tujuan ini.&lt;br /&gt;Bagi penganut filsafat hidup yang demikian, ia menetapkan titik tolak untuk sampai ke tujuan kesenangan dan kehormatan itu hanya dengan alat kekayaan.&lt;br /&gt;Baginya asal kekayaan sudah di tangan, kesenangan dan kehormatan akan datang sendirinya. Patutlah rupanya kesibukan penganut filsafat ini terarah sepenuhnya kepada apa yang diistilahkan Allah dengan "pengumpulan harta kekayaan seraya menghitung menjumlahkannya" dalam lemari besinya. Dalam hal ini dipersilahkan kita memikirkan apa yang pernah dikatakan oleh Ibnul Muqaffa:&lt;br /&gt;"Apabila Anda dimuliakan orang karena harta dan kekuasaan, maka janganlah Anda sampai terpukau. Sebab akan berhentilah penghormatan orang itu, bila harta dan kekuasaan Anda itu tak ada lagi. Sebab itu tercenganglah kalau Anda orang hormati dan muliakan karena adab, ilmu dan agama Anda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenangan dan kemewahan hidup.&lt;br /&gt;Kesenangan hidup yang terjelma oleh lengkap cukupnya nikmat harta, biasanya akan menarik orang yang telah memperolehnya kepada kemewahan hidup. Kemewahan lantaran kelengkapan alat, lantaran segala ada dan segala tersedia, telah memanjakan seseorang untuk melalui kehidupannya penuh dengan kesenangan dan kelezatan dalam segala bidang, mulai sejak ia bangun tidur, sampai menjelang tidur nanti malamnya lagi. Dan segala sesuatu antara bangun dan tidur mulai sarapan dan makan, keluar rumah demi mencari kesenangan dan hiburan yang berbagai bentuk dan cara, kemudian acara sore dan malam, semua kehendaknya dilalui dengan mudah dan senang.&lt;br /&gt;Dan lebih aneh pula kemewahan dan kesenangan pemberian harta benda lahiriah itu, hendaknya harus lebih dari orang lain dan rekan-rekannya yang sama-sama kaya. Ia tidak boleh kalah dan di bawah dari yang lain dalam segala hal dan keadaan, bahkan istrinya, gundik mainannya harus yang paling cantik dan sebagainya. Perlombaan diantara orang-orang bergaya hidup mewah ini, sungguh hebat dan dahsyat mulai dari yang menggelikan hingga yang begitu mengerikannya. Bahkan kemewahan hidup bisa menggiring manusia-manusia kaya bertingkah polah lebih hina daripada hewan, sebab ananiyah (keakuan/egoisme/narcistisme) orang yang demikian begitu tebal dan menonjol sekali. Kesenangan bagi mereka adalah hal yang utama, walau tingkah polah mereka dari hari ke hari semakin dekaden dalam hal moral. Saat ini di kota-kota besar, seperti Jakarta misalnya, dipenuhi oleh gaya hidup hedonis dan dekaden seperti ini. Bahkan konon kabarnya terdapat klub-klub orang-orang kaya yang secara rutin menggelar pesta seks dengan saling bertukar istri dan berbuat mesum secara masal di suatu tempat yang eksklusif dan mewah yang diistilahkan dengan istilah "swinger party" atau sejenisnya. (astaggfirullah, sungguh bejat dan hina perilaku seperti ini...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat kemewahan hidup.&lt;br /&gt;Oleh karena kemewahan menyeret seorang hanyut tenggelam di laut kesenangan lahiriah yang melimpah ruah, maka sulit dan susah sekali seorang melepaskan diri daripadanya, kalau bukan dengan terpaksa. Sebab kesenangan hidup itu cocok sekali dengan hawa nafsu yang tak ada batas ujungnya itu. Siapa pula yang mau meninggalkan kesenangan yang sudah dimilikinya? Sungguhpun ada, tapi sedikit sekali jumlahnya. Diantaranya kita kenal dalam sejarah, seperti Umar bin Abdul Aziz, Ibrahim bin Adham, dan banyak lagi. Apalagi kalau orang itu tadinya belum pernah mengecap kesenangan hidup, maka apakah setelah dapat, akan ditinggalkannya pula?&lt;br /&gt;Sebab itu ia berusaha sekuat tenaga, lalu ia mendapat, maka apakah sesudah dapat lalu ditinggalkannya? Ataukah kesenangan itu diwarisi dari ayah ke anak, sudah turun-temurun, masa mau bertukar rupa dari keturunan yang lalu, dimana semua orang mengenalnya sebagai turunan orang kaya yang selalu bergelimang kemewahan dan kesenangan? Di samping itu, amat sakit sekali orang yang jatuh dari kesenangan yang mewah itu, apalagi jatuh direnggut dengan paksa. Akibatnya yang bersangkutan bisa senewen dan gila, bila ajaran agama dan ketuhanan tidak menyinari jiwanya. Allah bersabda:&lt;br /&gt;"Hingga kalau Kami sentakkan orang-orang yang bergelimang kemewahan itu dengan azab, tiba-tiba mereka akan memekik-mekik minta tolong." (Al-Mu'minun XXIII: 64).&lt;br /&gt;Satu tabiat yang buruk sekali dari orang-orang yang terbiasa hidup mewah ini karena ia bertitik tolak dari ananiyah (kesayaan/egoisme - self centered) yang cuma tahu kepentingan dirinya saja. Contohnya sudah banyak: para koruptor negeri ini yang justru membangga-banggakan kemewahan mereka di atas penderitaan dan kemiskinan rakyat. Biasanya sifat takabur, congkak, angkuh dan semena-mena tidak terpisahkan dari karakter orang-orang seperti ini. Orang yang sudah begini, susah sekali untuk dibina dan dikembalikan ke jalan hidup yang lurus dan benar sesuai syariat Islam. Justru biasanya mereka mencari-cari cara untuk mengkambinghitamkan ulama dengan tuduhan terorisme atau sejenisnya hanya untuk menghalang-halangi kebenaran cahaya Ilahi. Tanpa menyebut satu per satu, contohnya sudah banyak, bagaimana seorang ulama yang tidak berdosa menjadi bahan fitnah dan bahkan ada yang dibunuh secara keji di jaman orde lama, orde baru, hingga jaman reformasi seperti sekarang ini. Kalau di jaman orde lama, menjadi sasaran fitnah dan dikambinghitamkan menjadi penganut komunis (mana mungkin seorang kiai atau santri bisa menjadi komunis?), di jaman orde baru difitnah dengan tuduhan menentang pemerintah, menghina pejabat dan mengancam demokrasi, sementara di jaman reformasi sekarang, para ulama tidak juga lepas dari sasaran fitnah dengan tuduhan menyebar paham terorisme (walau sebagian besar tuduhan tersebut sama sekali tidak bisa dibuktikan atau justru tuduhan yang mengada-ada demi popularitas politik dan agenda politik kotor para petinggi). Kalau ulama dan para mubaligh saja sudah menjadi bulan-bulanan fitnah, bagaimana Allah tidak segan untuk menurunkan azab yang bertubi-tubi dan musibah yang tak berkesudahan pada negeri ini. Padahal kalau dipikir-pikir selama ini rakyat selalu saja menjadi korban dan obyek penderita, ditipu mentah-mentah, dipingpong ke sana ke mari dan juga dihimpit dengan kemiskinan, penderitaan, dan juga digusur sana digusur sini. Para cukong, mafia dan pemegang modal yang banyak berdiri di belakang para petinggi telah terbukti banyak menyengsarakan rakyat. Ini adalah suatu siklus sejarah yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu, mulai jaman Romawi, Mesir, hingga jaman republik seperti sekarang, yang namanya politik kotor dengan dilatarbelakangi bisnis dan penanaman modal tapi mendhalimi rakyat sepertinya bukan lagi hal yang asing.&lt;br /&gt;Sebab itulah sejarah para Nabi dan Rasul a.s. dalam pelaksanaan tugas risalahnya, mereka banyak sekali mendapat halangan dan tantangan dari kaum pemilik modal (orang-orang kaya) yang biasanya mencari tameng dan berdiri di bawah ketiak para petinggi negara, penguasa, raja, dan yang sejenisnya. Kelompok-kelompok ini lebih mirip sebagai sebuah konspirasi atau komplotan yang tidak ingin kesenangannya diusik, walau kesenangan itu diperoleh dari usaha memeras rakyat kecil dan mendhalimi hak-hak rakyat.&lt;br /&gt;Ini tak ubahnya seperti meniru kesombongan iblis yang menyanggah bila diajak masuk ke jama'ah khairiyah sebagai anggota, yang dengan sombongnya berkata lantang saat Allah memerintahkannya untuk bersujud kepada Adam:&lt;br /&gt;"Apakah aku akan sujud kepada orang yang hanya engkau ciptakan dari tanah?"&lt;br /&gt;Orang-orang kaya pemilik modal yang memanfaatkan undang-undang dan peraturan negara demi menindas rakyat kecil dan kaum miskin ini tak ubahnya seperti Fir'aun yang berkata dengan sombong sambil membentak:&lt;br /&gt;"Apakah bukan aku pemilik Mesir ini? Dimana aku tidak pantas menjadi pengikut Musa?"&lt;br /&gt;Kesombongan dan sifat Self Centered yang dimiliki para golongan kaya negeri ini seakan meniru kesombongan seorang sahibuljannatain yang berkata dengan angkuh:&lt;br /&gt;"Bukankah hartaku yang paling banyak dan kaum keluargaku yang paling bangsawan lagi mulia?"&lt;br /&gt;Serta meniru pula gaya Qarun yang kaya raya dan lupa daratan:&lt;br /&gt;"Tahukah kalian, semua ini kuperoleh dari perasan keringat dan kerja keras otakku!"&lt;br /&gt;Dan pada akhirnya tersembul juga ambisi dan angkara murka yang tercetus dalam omongannya:&lt;br /&gt;"Kalian semua harus menjadi budak sahayaku!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi kita di negeri ini saat ini memang tak ubahnya seperti budak sahaya! Mencari pekerjaan sulit, bila memperoleh pekerjaan tenaga dan pikiran akan diperas habis hanya untuk memperoleh bayaran dan gaji yang kecil, tanpa tunjangan, dan tanpa masa depan. Lebih-lebih dengan adanya undang-undang tenaga kerja yang menganut sistem outsourcing, yang mengubah rakyat bagaikan mesin uang bagi kaum kaya yang cenderung bertindak sebagai penindas dan bukannya memberikan kesejahteraan. Kalau sistem ekonomi negeri ini terus saja menggunakan sistem kapitalisme yang menindas rakyat, dan bukannya sistem ekonomi Islam yang manusiawi, entah bagaimana lagi nasib anak cucu kita beberapa puluh tahun ke depan. Mungkin akan mengalami nasib serupa dengan jaman perbudakan di era jahiliyah Romawi kuno. Naudzubillah min Dzalit!&lt;br /&gt;Semuanya akibat rasa tamak dan gaya hidup mewah para golongan kaya yang diperoleh dari hasil menindas rakyat tanpa memberikan imbalan yang pantas demi kehidupan dan demi kemanusiaan yang adil dan beradab!&lt;br /&gt;MasyaAllah, alangkah sulitnya melawan orang-orang dengan perangai tamak dan egois seperti mereka ini, apalagi kalau berbicara mengenai pembangunan kualitas diri dan pembangunan kesejahteraan bangsa demi kemanusiaan. Maka tepatlah Firman Allah :&lt;br /&gt;Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang menjadi misi kamu untuk menyampaikannya." (QS. As-Saba XXXIV: 34).&lt;br /&gt;Lebih berbahaya dan lebih parah lagi, bila tampuk kekuasaan dan kendali pemerintahan dipegang oleh kaum borjuis pemilik modal yang hanya mengutamakan kesenangan hidup itu. Allah bersabda yang artinya: "Dan apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami memerintahkan orang-orang yang hidup mewah di kampung itu (supaya mereka mentaati Allah), tetapi mereka berbuat fasik yang menyebabkan negeri itu mustahak mendapat vonis hukuman, maka tiada lama kemudian negeri itu akan Kami hancur lumatkan." (QS. Al-Isra' XVII : 16).&lt;br /&gt;Apakah negara kita sedang dalam proses tersebut karena mendapat laknat Allah? Wallahu Alam...&lt;br /&gt;Sebagai kesimpulan, dapatlah ditarik pengertian bahwa orang-orang yang mendapat kesenangan dan kemewahan hidup itu, jika tidak dilandasi ajaran agama dan tidak mendapat hidayah Ilahi, akan mengakibatkan kehancuran lahir dan batin. Dalam suatu syair Timur Tengah kuno dilukiskan:&lt;br /&gt;"Apabila Allah sudah hendak mematikan seekor semut, diberinya semut itu dua buah sayap, maka  hewan itu pun akan terbang merayap, menuju api yang akan membakar dirinya hingga maut merenggut nyawanya."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-3879196317013805371?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/3879196317013805371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=3879196317013805371' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/3879196317013805371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/3879196317013805371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/05/kemewahan-hidup.html' title='KEMEWAHAN HIDUP'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-4234272977448835849</id><published>2008-05-24T06:18:00.001+07:00</published><updated>2008-05-24T06:18:22.557+07:00</updated><title type='text'>ISTIDRAJ dan 5 TAHAP KEHIDUPAN</title><content type='html'>"Maka tatkala mereka melupakan (mengabaikan) peringatan (agama) yang disampaikan kepada mereka, Kami (Allah) bukakan segala pintu untuk mereka, sampai mereka gembira dengan apa yang diberi itu, baru Kami melakukan siksaan kepada mereka dengan sekonyong-konyong, maka saat itu mereka berputus asa (panik)." (QS. Al-An'am VI: 44).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Imam Ahmad (Hambali), dalam suatu hadist yang berasal dari Uqbah bin Amir, Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya:&lt;br /&gt;"Apabila engkau melihat seorang hamba diberi Allah apa yang diingininya dari dunia ini, pada saat ia selalu mendurhakaiNya, maka sesungguhnya yang demikian itu adalah istidraj."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Nabi Muhammad SAW membacakan ayat (Al-An'am 44) itu.&lt;br /&gt;Dalam hadist ini jelas sekali bahwa seorang hamba (manusia) yang dibukakan Allah pintu dunia padanya dalam berbagai bentuk dan keadaan, sedang dia selalu bersikap durhaka kepada Allah, berupa tidak mengindahkan syariat Allah, tidak mengerjakan perintah dan tidak menjauhi larangan, maka orang itu berada dalam istidraj dan dia akan menghadapi 5 fase dalam hidupnya menurut kandungan ayat 44 surat Al-An'am itu.&lt;br /&gt;Oleh karena dalam kehidupan modern ini banyak sekali hal itu terjadi maka baiklah kita gali dan selidiki masalah ini untuk menjadi pegangan hidup dan semoga kita terjauh dari bahayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah istidraj itu?&lt;br /&gt;Perkataan istidraj itu ditemukan dalam Al-Quran yaitu tepatnya dalam surat Al-A'raf ayat 182 yang artinya:&lt;br /&gt;"Mereka yang tidak membenarkan ayat-ayat Kami, nanti Kami lakukan istidraj terhadap mereka dari pihak yang mereka tidak mengetahui." (QS. Al-A'raf VII: 182).&lt;br /&gt;Perkataan istidraj itu menjadi pembahasan mendalam oleh para ulama tauhid, tafsir, tashauf dan sebagainya sehingga menimbulkan berbagai ta'rif dan definisi.&lt;br /&gt;Istidraj itu ialah seseorang yang diperkenankan Allah keperluannya dari waktu ke waktu sampai akhir hayatnya untuk nanti digali dengan bala dan azab di dunia. Seorang yang jauh dari rahmat Allah dan dekat dengan azab secara berangsur-angsur, atau sedikit demi sedikit.  Demikian yang dikemukakan Al-Jurjani dari berbagai pendapat.&lt;br /&gt;Raghib Ashfahani ahli bahasa Al-Quran dalam membahas kata dalam ayat itu mengemukakan beberapa pendapat orang pula, dalam bentuk: Kami (Allah) akan lipat mereka sebagai halnya melipat kitab. Pun Kami akan siksa mereka setingkat demi setingkat, demikian berupa merendahkan mereka dalam sesuatu sedikit demi sedikit, bagaikan tangga dalam naik dan turun.&lt;br /&gt;Ahli tafsir yang terkenal Ibnu Katsir lebih maju lagi dengan menggambarkan bentuk kehidupan orang yang istidraj itu akan berlaku padanya, yaitu Allah bukakan berbagai-bagai pintu rejeki dan berbagai sumber penghidupan (kedudukan, jabatan, kehormatan) sampai mereka terperdaya olehnya dan beranggapan bahwa diri mereka di atas segala-galanya." (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3 hal 258).&lt;br /&gt;Sampai di sini kiranya sudah cukuplah bila dipahami bahwa seorang yang membawakan hidupnya dalam kedurhakaan, terjauh dari taufik dan hidayah Allah, bergelimang dengan maksiat dan munkarat, berani membangkang terhadap syariat Allah, baik dengan ilmu dan sikap hidupnya mentorpedir peraturan-peraturan Allah, maka orang itu berada istidraj.&lt;br /&gt;Allah membiarkan saja dahulu dan membukakan pintu rejeki, kesenangan, kedudukan, kemewahan, dan keangkuhan, lalu mengira bahwa dunia ini berada di tangannya, dapat ia berbuat sesuka hatinya. Ketentuan azab datang dari Allah pada saat mereka sampai taraf gembira ria. Alangkah banyaknya sebagian dari kita yang telah bercermin dan melihat kehidupan insani dalam dunia modern ini yang dihinggapi istidraj, lalu mereka terperdaya benar-benar olehnya.  Sungguh mengerikan sekali, kita melihat kejatuhan mereka dari puncak kemegahan, kesenangan dan keangkuhan, dan jatuh dari sesuatu yang menyenangkan lebih pahit dari penderitaan biasa. Namun demikian, masih banyak manusia yang tidak sadar dan insaf, betapa ilustrasi hidup ini sudah demikian jelasnya. Yang menyedihkan pula ialah kalau dari pihak orang yang beriman yang taat ikut terpukau oleh kilauan gemerlap dunia yang dimiliki oleh orang yang terkena istidraj, karena tidak pandai melihat soal dengan bashirah yang tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima Fase.&lt;br /&gt;Dalam surat Al-An'am ayat 44 di atas yang disebutkan  Rasulullah, jelas ada 5 fase yang akan dihadapi orang yang tidak mengindahkan agama Islam ini sebagai janji Allah yang selalu akan berlaku dan tidak akan berubah-ubah sepanjang zaman.&lt;br /&gt;1. Falamma nasuu, tatkala mereka melupakan peringatan-peringatan agama. Dalam membahas kata nasuu, Raghib Asfahani memperingatkan bahwa melupakan itu timbul ada kalanya disebabkan oleh hati yang lemah, kelalaian dan disengaja (kesengajaan). Dengan ini maka melupakan itu bukan artinya tidak ingat atau tidak sadar, tetapi juga dalam bentuk kesengajaan, mungkin oleh karena dianggap ajaran Islam itu tidak modern, tidak akan membawa kemajuan, dan sebagainya. Dianggapnya memberatkan saja dan mempersempit, seperti berat mengeluarkan zakat, berpuasa, larangan terhadap judi, khamer (minuman keras), zalim, pergaulan bebas muda-mudi, dan sebagainya, dalam bentuk: tidak mengindahkan Islam.&lt;br /&gt;2. Fatahna alaihim abwaba kulli syai', Kami bukakan kepada mereka pintu segala sesuatu, entah pintu curang, khianat, zalim, sombong, ataukah pintu mabuk kemegahan, kecantikan, kekuasaan, dan sebagainya. Allah membukakan, malah membiarkan saja apa yang diperbuat oleh hambanya itu tanpa ada sesuatu teguran ghaib atau sejenisnya. Maka terperdayalah mereka dengan uluran waktu yang demikian dan mengira dunia ini berada di tangan mereka. Kalau sudah demikian, mata dan hati akan tertutup dari melihat Nur Ilahi, cahaya yang hak dan malah akan membencinya dengan sepenuh daya dan kemampuan. Kalau sudah demikian, apa lagi?&lt;br /&gt;3. Hatta idza farihuu bima utuu, sampai mereka gembira mendapatkan apa yang sesuai dengan nafsu dan keinginannya. Apa maunya mereka itu maka Allah akan mengulurkan segala sesuatunya sehingga mereka tambah terperdaya dan hanyut ke hilir, mendekati titik kehancuran dan keruntuhannya. Kegembiraan yang luar biasa itu adalah puncak yang telah dicapainya, tetapi dia merupakan pula pemberitahuan Ilahi akan adanya bahaya yang akan terjadi. Tidaklah gembira sekedar gembira, tetapi gembira yang sangat berbahaya sekali, bahaya yang akan merenggut segala sesuatunya. Apa yang akan terjadi sesudah itu?&lt;br /&gt;4. Akhadznahum baghtatan, Kami akan bertindak (memberi azab) dengan sekonyong-konyong, bukan di akhirat yang masih jauh, tetapi di dunia ini di tengah-tengah mata orang banyak, di atas hamparan kesenangan yang sekian lama memperdayakannya. Baghtatan, datangnya siksaan atau tindakan Allah itu sekonyong-konyong tanpa dapat diduga lebih dahulu. Dan memang orang yang telah mabuk dalam sesuatu tentu tidak akan mengkhayalkan di ruangan matanya akan ada akibat buruk, bencana besar dan bahaya yang dahsyat. Akhirnya, bagaimana?&lt;br /&gt;5. Fa idza hum mublisun, akhirnya mereka dengan direnggutkan dari segala yang ada itu menjadi mublisun, prihatin yang sangat, panik berantakan, melihat gelap masa depannya, putus asa, dan mungkin juga ada sedikit penyesalan. Tetapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, palu godam Ilahi sudah berlaku. Tinggallah mereka menjalani akhir proses istidraj yang licin jalannya itu.&lt;br /&gt;Bukan saja sakit dan perihnya akibat yang ditimpakan Allah, tetapi juga cemooh, sinis, dan ejekan orang banyak, karena dia jatuh di tengah manusia ramai dan disoroti oleh tatapan mata orang banyak. Melihat kepada orang banyak, hanay akan terlihat mereka memalingkan muka. Menengadahkan muka ke langit (pada Allah) dia baru menerima kutukan dan laknat, dengan suara halus, "RASAKAN!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah masa lalu.&lt;br /&gt;Seorang petani desa jaman dahulu ingin memiliki emas dengan melanggar prinsip syariat Islam, yaitu menjual susu sapi yang dicampur air. Usahanya itu berhasil tanpa mendapat teguran Ilahi sampai ia mengira bahwa kerjanya itu berjalan lancar dan menggembirakan. Maka dengan emas yang didapatnya itu dia menjadi gembira luar biasa, ia sudah sampai pada tahap: farihu bima utu. Dengan emas yang menjadi kegembiraannya itu maka ia pergi berlayar untuk keperluan pribadinya, menumpang kapal yang diatasnya itu banyak penumpang lainnya. Ia menumpang di atas dek kapal sedang didepannya itu ada seekor monyet yang diikat dengan rantai. Kalau orang lagi bangun maka si petani ini pura-pura tidur dan bila orang tidur, ia bangun dengan melihat emas yang didapatnya dari hasil menipu itu. Hal ini selalu diperhatikan monyet itu sehingga pada satu kali si monyet itu tanpa diduga-duga, leapas dari ikatannya dan segera mengambil emas orang itu selagi ia tidur. waktu monyet mengambil emas itu, maka si petani terbangun lalu mengejar si monyet, tetapi monyet itu mempermainkannya, apalagi dia pandai memanjat dan melompat. Orang itu bagaikan gila dibuatnya. Tak lama kemudian monyet itu melemparkan emas itu ke dalam laut, hingga petani itu bagaikan disambar petir, karena emas kesayangannya lenyap. Itulah saat berlaku akhaznahum baghtatan, Allah bertindak lagi, dengan terlepasnya monyet itu tanpa diduga-duga dan petani menjadi mublisun, panik berantakan. Demikianlah kisah ini diceritakan oleh ulama besar Ibnu Qayim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah demikian adanya maka bagi kita yang telah membiasakan hidup dalam ketaatan akan selalu berpegang teguh pada aturan Allah (dengan penuh tawakal), sesuai dengan janji Allah:&lt;br /&gt;"Dan bahwa jikalau mereka tetap istiqamah dalam hidupnya, niscaya Kami akan menuangi mereka air yang manis (rejeki yang lumayan). (QS. Jin LXXII: 16).&lt;br /&gt;Semoga kita dan keturunan kita dijauhkan Allah dari bahaya istidraj yang kelihatan manis dan menggiurkan pada mulanya, namun pahit pada akhirnya. Apalagi bagi pejuang yang hak, jangan silau mata oleh kemegahan orang lain yang sedang dipermainkan gelombang badai istidraj tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-4234272977448835849?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/4234272977448835849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=4234272977448835849' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/4234272977448835849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/4234272977448835849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/05/istidraj-dan-5-tahap-kehidupan.html' title='ISTIDRAJ dan 5 TAHAP KEHIDUPAN'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-6081455156703904494</id><published>2008-05-24T06:17:00.003+07:00</published><updated>2008-05-24T06:17:56.959+07:00</updated><title type='text'>JADILAH SEORANG YANG PEMURAH</title><content type='html'>"Orang-orang yang menginfakkan harta-harta mereka di waktu malam dan di waktu siang, dengan diam-diam dan dengan terang-terangan, maka bagi mereka tersedia ganjarannya di sisi Tuhan mereka dan tiada kecemasan atas mereka dan tiada mereka akan bersedih hati." (QS. Al-Baqarah II: 274).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah suatu idea dari satu sistem kehidupan, suatu way of life. Seorang muslim, tahu dan percaya serta yakin benar, sesungguhnya hanya dengan sistem kehidupan yang dirumuskan Islam itulah saja, kehidupan manusia ini baru bisa dipulihkan kepada fitrahnya, sesuai dengan rencana Allah semula sebagai Pencipta manusia, sehingga kehidupan tersebut selamat aman dan damai dalam naungan ampunan Ilahi.&lt;br /&gt;Kehidupan yang selamat aman dan damai, itulah yang dimaksud dengan "BALDATUN THAYYIBAH" yang harus dipayungi dan diteduhi oleh maghfirah Allah, Tuhan Semesta Alam. Allah memang Rabbun Ghafuur, Tuhan yang Pengampun. Tapi justru, Ia pasti tak akan rela menaungi sebuah kehidupan bagaimanapun thayyibahnya, manakala di segala penjurunya penuh bergelimang dosa dan maksiat yang menyebabkan maghfirahNya lari menjauh.&lt;br /&gt;Syekh Islam Ibnu Taimiyah pernah memfatwakan:&lt;br /&gt;"Allah akan menegakkan sebuah negara yang adil, kendati pun negara itu kafir. Dan Ia tak akan menegakkan negara yang zalim, kendatipun negara itu adil."&lt;br /&gt;Hal ini telah menguatkan penafsiran Rabbun Ghaffuur terhadap baldatun thayyibatun di atas.&lt;br /&gt;Menegakkan dan membangun satu baldatun thayyibatun atau daulatan adilatan di muka bumi, di samping tenaga moral dan spiritual yang konkrit, ia pun amat memerlukan tenaga benda (material) berupa uang dan harta.&lt;br /&gt;Pertama kemakmuran kehidupan itu tak akan menjelma dengan sendirinya, idea kemakmuran hidup yang thayyibah dan adil itu akan tinggal menjadi idea semata dalam hati seorang mukmin, tak akan menjadi kenyataan, meskipun iman itu senantiasa mendesak untuk melaksanakan alkhair, ihsan dan amal saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infaq dalam Islam.&lt;br /&gt;Ayat 274 surat Baqarah yang menjadi motto tulisan ini, sudah cukup membayangkan tugas infaq itu dan bagaimana seorang muslim yang berpunya harus melaksanakannya, dengan suka-rela dan ikhlas. Menurut keterangan ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan sehubungan dengan tindakan Abu Bakar Siddiq menginfakkan uangnya sebanyak 40.000 dirham. Karena keimanannya yang mendalam dan kesadaran hatinya akan kewajiban dan kepentingan berinfaq di masa pembangunan Islam pertama itu, ia telah menginfaqkan dengan empat cara: Sepuluh ribu di waktu malam, sepuluh ribu di waktu siang, sepuluh ribu di waktu sembunyi, tak ada orang yang tahu, dan sepuluh ribu lagi dengan terang-terangan, diketahui dan dipersaksikan orang lain. Atas tindakan Abu Bakar yang begitu pemurah, turunlah ayat 274 Surat Al-Baqarah tersebut, demi untuk menjadi teladan, bahwa demikian hendaknya seorang muslim yang berpunya harus berbuat.&lt;br /&gt;Kisah tindakan Abu Bakar yang mendapat sambutan wahyu itu diketahui oleh Sayyidina Ali, suami Fatimah, yang amat miskin tak pernah berpunya itu, yang tak pernah memegang uang agak banyak sepanjang hidupnya. Tapi besar sekali hasratnya hendak berbuat pula seperti Abu Bakar.&lt;br /&gt;Maka pada suatu ketika, ia beroleh uang sebanyak 4 dirham, mungkin sangat dibutuhkan bagi keperluan rumah tangganya yang selalu kekurangan itu. Tapi karena demikian besar hasratnya hendak berinfaq, apalagi dikenal dalam riwayat hidup Ali r.a. bahwa semangatnya tinggi untuk memberi, bersedekah, dan menolong orang, kendati pun ia miskin sekali. Ia amat suka berinfaq membantu orang miskin dan anak yatim serta menemui orang di rumahnya. Tak ingat ia akan kemiskinannya. Maka uang empat dirham yang didapatnya itu diinfaqkannya: sedirham di waktu malam, sedirham di waktu siang, sedirham di waktu sembunyi dan sedirham lagi secara terang-terangan.&lt;br /&gt;Sesudah hasratnya itu kesampaian, maka legalah hatinya. Bagaimanapun, ia telah memenuhi ayat itu, meskipun infaqnya tidak sebanyak infaq Abu Bakar.&lt;br /&gt;Infaq di dalam Islam dipandang sebagai kewajiban yang terpenting sebab dengan infaqlah dapat membangun amal-amal, alkhair, dan dengan infaq juga dapat ditegakkan apa yang disebut dengan keadilan sosial dalam lingkup ummat Islam. Dan kewajiban infaq ini terutama dihadapkan kepada para muslim yang berpunya. Tapi juga kepada para muslim yang miskin dan tidak berpunya, yang pemurah hati. Terhadap muslim yang tergolong miskin namun mempunyai jiwa murah hati, Allah menaruh perhatian dan melebihkan kasihNya, seperti disebut dalam salah satu Hadist Qudsy berikut ini yang artinya:&lt;br /&gt;"Aku sayang kepada para orang-orang pemurah, tapi kasihKu lebih kepada si faqir yang pemurah."&lt;br /&gt;Infaq suka dan rela memberi, membantu dan menolong adalah suatu fitrah manusia, bila ia tak dikalahkan oleh semangat bakhil. Memberi adalah satu kesenangan yang nikmat bagi setiap jiwa .&lt;br /&gt;Kalau Anda pernah memberi dan menolong orang yang memerlukannya, tentu Anda dapat merasakan kesenangan dan nikmatnya dalam jiwa dan hati. Dan alangkah besar ganjarannya di sisi Allah, bila dilakukan dengan ikhlas dan tidak riya'. Sebab itu Islam mewajibkan infaq, dengan mendidik dan menyirami rasa kedermawanan dan kepemurahan yang ada dalam diri manusia yang merasa senang dan nikmat memberi itu.&lt;br /&gt;Dan kalau rasa kedermawanan dan kepemurahan itu telah tumbuh subur dalam jiwa ummat Islam, Insya Allah mudahlah membangun amal-amal besar dalam Islam sehingga meratalah keadilan sosial di kalangan ummat yang akan menghilangkan kedengkian, segala sumber tindak kejahatan yang asalnya dari kemelaratan atau kefakiran yang teramat sangat. Rasulullah berkata:&lt;br /&gt;"Apabila penguasa-penguasa kamu orang-orang pilihan dan para hartawan kamu orang-orang pemurah dan dalam urusan-urusan kamu selalu bermusyawarah, maka muka bumi lebih baik bagi kamu daripada perutnya." (riwayat Ibnu Majah).&lt;br /&gt;Itulah pula sebabnya dalam syarat Islam diatur peraturan zakat, suatu cara memberi yang ditentukan waktu dan banyaknya, zakat harta, perniagaan, pertanian, dan peternakan, juga zakat fitrah yang kita kenal pembayarannya menjelang hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Qurban (Idul Adha).&lt;br /&gt;Selain dari itu ada pula cara memberi yang tak memperhitungkan waktu dan banyaknya, bahkan terkadang amat sering dilaksanakan dan terkadang lebih banyak jumlahnya, yang dinamakan shadaqoh. Semua cara memberi ini tercakup kesemuanya secara umum dalam apa yang kita kenal dengan sebutan infaq, shadaqoh yang tak berjangka waktu dan jumlah itu, sebuah pelengkap terhadap apa yang kita kenal sebagai zakat.&lt;br /&gt;Salah satu dari empat soal yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah - Tuhan Maha Pemurah, kepada para hambaNya nanti ialah:&lt;br /&gt;"dan dari hartanya dari mana ia diusahakannya dan pada apa yang diinfaqkannya."&lt;br /&gt;Pada suatu hari datang seorang kepada Nabi Muhammad SAW dan bertanya:&lt;br /&gt;"Sedekah macam manakah yang lebih besar pahalanya, Ya Rasulullah?"&lt;br /&gt;Nabi menjawab: "Bahwa bersedekahlah engkau selagi engkau sehat dan merasa kikir, takut miskin dan ingin hendak kaya, serta engkau tidak mengundurkan waktunya hingga nafasmu sudah di kerongkongan dan baru engkau berpesan sekian untuk si fulan, sekian untuk si fulan, sedang si fulan itu tak memerlukannya lagi." (riwayat Bukhari).&lt;br /&gt;Rasulullah berkata:&lt;br /&gt;"Budi baik akan menjaga pertentangan yang buruk, sedekah dengan sembunyi-sembunyi akan memadamkan murka Tuhan dan hubungan silaturahmi akan menambah umur." (riwayat Thabrani).&lt;br /&gt;Kemudian Nabi berkata pula:&lt;br /&gt;"Aku bersumpah dengan tiga perkara: Tiadalah akan menjadi kurang harta seorang hamba karena bersedekah. Tiadalah dizalimi seorang hamba dengan satu kezaliman, tapi ia sabar menerimanya, maka Allah akan menambah kemuliannya dengan sikapnya itu. Dan tiadalah seorang hamba membuka pintu untuk orang yang meminta kepadanya, kecuali Allah akan membuka pintu baginya untuk dapat keluar dari kemiskinan." (riwayat Ibnu Majah).&lt;br /&gt;Pada kesempatan lain, Nabi Muhammad SAW pernah berkata:&lt;br /&gt;"Bentengilah harta kamu dengan zakat, obatilah si sakit kamu dengan sedekah dan hadapilah gelombang cobaan dan derita dengan doa tadharru' segala kerendahan hati." (riwayat Abu Daud).&lt;br /&gt;Akhirnya marilah kita akhirkan tulisan ini dengan hadist Nabi SAW:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya bagi Allah ada beberapa kaum yang Ia istimewakan dengan nikmat yang banyak, demi untuk kemanfaatan para hamba, nikmat yang banyak itu akan Allah kekalkan kepada mereka, selama mereka menunaikan akan tugas itu. Tapi apabila mereka tak memenuhinya maka Allah akan mengalihkan nikmat itu kepada orang lain." (riwayat Ahmad).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-6081455156703904494?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/6081455156703904494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=6081455156703904494' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/6081455156703904494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/6081455156703904494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/05/jadilah-seorang-yang-pemurah.html' title='JADILAH SEORANG YANG PEMURAH'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-1098233933209275943</id><published>2008-05-24T06:17:00.001+07:00</published><updated>2008-05-24T06:17:34.562+07:00</updated><title type='text'>Manusia dan Kebenaran</title><content type='html'>Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap. Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap." (QS. Al-Isra XVII: 81).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang sering kali berbicara tentang Al-Haq atau Kebenaran, dan merangsang manusia supaya hidup di dunia ini dengan penuh Kebenaran. Orang Jawa mengatakan supaya hidup bener.&lt;br /&gt;Apakah sesungguhnya Kebenaran itu? Maka macam-macamlah maknanya sesuai dengan penggunaannya dalam ilmu filsafat, etika (akhlak), hukum (juriprudensi), dan lain sebagainya. Tetapi kitab Suci Al-Quran mempergunakan perkataan Al-Haq itu sebagai lawan kata dari Al-Bathil (kebatilan) dan adh-dhalal (kesesatan).&lt;br /&gt;"Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan, maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan (dari kebenaran itu)?" (QS.Yunus X: 32).&lt;br /&gt;Al-Haq atau Kebenaran sebagai disebutkan Al-Quran itulah yang seharusnya kita ketahui dan pahamkan benar-benar. Kebenaran seperti itulah yang harus menjadi idam-idaman setiap dan seluruh manusia dan berusaha keras menggolongkan diri masing-masing ke dalamnya, walaupun tidak termasuk ke dalam golongan Kebenaran itu dan masih dalam golongan lawannya, yaitu Al-bathil. Malah walau sebenarnya dan pada hakikatnya ia jagoan golongan bathil sekalipun!&lt;br /&gt;Dalam hal ini selalu sajalah terdapat komplikasi karena pada umumnya seluruh para ahlul bathil itu mengira dan punya pretensi, bahwa merekalah sebenarnya yang berjalan di atas garis Kebenaran. Pretensi ini untuk sebagiannya adalah karena kebodohan, kejahilan dan ketidaksadaran mereka, dan sebagian lainnya karena sifat obstinat (keras kepala) mereka dan karenanya menentang dan menantang Kebenaran asal menentang dan menantang belaka.&lt;br /&gt;"Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi," mereka menjawab: "Sesungguhnya kamilah orang-orang yang mengadakan perbaikan (pembangunan)."(QS. Al-Baqarah II: 11)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka apakah Al-Haq (Kebenaran) itu?&lt;br /&gt;Al-Haq (Kebenaran) adalah sesuatu yang tetap (permanen) dan baka (everlasting), sedangkan al-bathil adalah sesuatu yang relatif tidak tahan lama, berlalu dan lenyap. Apa yang keadaan tabiatnya adalah tetap dan bertahan serta baka, itu adalah Haqqun, dan apa saja yang keadaan sifatnya adalah berlalu dan melenyap, itu adalah bathilun.&lt;br /&gt;Jika kita melihat dan memperhatikan segala kejadian dan peristiwa di dunia ini, malah dalam alam sejauh kita telah dapat menjangkaunya, maka sekali-kali kita tidak melihat seluruh wujud itu sebagai sesuatu yang menunjukkan sifat-sifat yang tetap dan baka dzatnya, terkecuali Allah Subhanahu Wa Ta'ala.&lt;br /&gt;Segala siapa saja dan apa saja selain DIA, wujudnya itu bukanlah karena dzatnya, dan keterusannya bukan pula karena dirinya sendiri, melainkan segala wujud itu adalah karena disebabkan oleh yang lain daripadanya. Segala maujudat itu adanya adalah setelah tadinya tidak ada, dan sekarang ada untuk nanti sampai pada ajalnya dan lenyaplah ia. Maka habislah riwayatnya dan tutuplah sejarahnya! Maka hakikat terang benderang yang disaksikan fitrah. Fitrah dan akal-akal para manusia ialah: SESUNGGUHNYA ALLAH SAJALAH YANG HAQ, SELAIN DIA SEMUANYA BATHIL.&lt;br /&gt;Dan tentang ini Al-Quranulkarim, Kitabullah yang haq, antara lain-lain telah mengatakan:&lt;br /&gt;"Maka Dzat yang demikian itu itulah ALLAH Tuhan kamu yang sebenar-benarnya. Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan belaka. Maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan dari Kebenaran itu?" (QS. Yunus X: 32).&lt;br /&gt;"Yang demikian itu, itu adalah karena sesungguhnya ALLAH, Dialah Tuhan yang Hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka serukan selain ALLAH, itulah yang bathil. Dan sesungguhnya  ALLAH Dialah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar."&lt;br /&gt;Maka barang siapa sesat dari hakikat ini dalam hidupnya sekarang (tidak mengetahui hakikat ini), pasti akan diketahuinya besok di kala tabir dari penglihatannya akan dibuka dan ia akan melihat hakikat-hakikat seadanya dengan seterang-terangnya.&lt;br /&gt;"Di hari itu ALLAH akan memberi mereka balasan yang setimpal sebagaimana mestinya dan akan tahulah mereka, bahwa ALLAH, Dia adalah kebenaran yang Nyata (Al-Haqqul Mubin)." (QS. An-Nur XXIV: 25).&lt;br /&gt;Dan memang Allah adalah Kebenaran yang Nyata, Allah adalah The Manifest Truth, The Real Reality.&lt;br /&gt;Maka dalam rangka ketentuan hukum ini kesimpulannya ialah seperti dikatakan dalam Al-Quranulkarim:&lt;br /&gt;"Janganlah kamu sembah disamping menyembah ALLAH, tuhan apapun yang lain. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan DIA. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, terkecuali wajahNya. BagiNyalah segala penetapan dan kepadaNyalah kamu dikembalikan." (QS. Al-Qashash XXVIII: 88).&lt;br /&gt;Maka sudah sewajarnyalah apabila kita sebagai manusia, dan terutama kita sebagai muslimin dan muslimat, kembali sadar, bahwa sesungguhnya ALLAH Tuhan kita itu Dialah Kebenaran Mutlak dan karenanya segala yang datang dari Dia, itulah yang Haq, itulah yang benar. Apabila Allah sendiri telah mengatakan tentang diriNya, bahwa "bagiNyalah segala penetapan", sehingga mengenai hidup kita di dunia ini dari Dia jugalah kita harus mengetahui bagaimana sebenarnya kita memandang hidup ini, buat apa kita hidup di dunia sebenarnya, dan apa tujuan hidup manusia sebenarnya.&lt;br /&gt;Ini haruslah kita pertanyakan karena dalam masyarakat manusia tidak sedikit pula terdapat golongan-golongan manusia yang selalu saja mengemukakan dan mengibaratkan (malah dengan seenaknya sendiri menetapkan), bahwa perkataan-perkataan mereka, pikiran-pikiran mereka, paham-paham mereka dan macam-macam lagi; itulah yang benar (haqqun), dan yang lainnya adalah salah (bathilun).&lt;br /&gt;Maka menurut ajaran Islam ialah, bahwa sesuatu yang terkena sifat benar dan karenanya disebut kebenaran (Al-Haq) adalah:&lt;br /&gt;a. menurut kadar hubungannya dengan Kebenaran Mutlak, yaitu Allah SWT, dan&lt;br /&gt;b. selalu dalam pertalian dengan Allah serta keridhaan dan persetujuanNya.&lt;br /&gt;Sedang sesuatu yang terkena sifat tidak benar dan karenanya disebut al-bathil adalah&lt;br /&gt;a. menurut kadar jauhnya dari Allah, dan&lt;br /&gt;b. tiada hubungan apapun dengan Allah, dan&lt;br /&gt;c. terjauhnya ia dari keridhaan Allah.&lt;br /&gt;Maka apa saja yang asal-usulnya dari pihak Allah, itu adalah haqqun (benar), dan apa saja yang asal-usulnya dari selain Allah, itu adalah bathilun (bukan kebenaran). Kalau kita sudah mengetahui, bahwa Allah adalah Yang Mutlak Benar, maka sadarilah bahwa perkataanNya adalah benar dan perbuatanNya adalah benar. Allah Yang Maha Tinggi itu tidaklah berkata atau mengatakan yang bathil-bathil dan tidak pula berbuat yang bathil-bathil.&lt;br /&gt;Dan karena itulah makanya:&lt;br /&gt;"Orang-orang yang berakal, yang selalu mengingat-ingat ALLAH sambil berdiri dan sambil duduk dan dalam keadaan berbaring dan mereka selalu pula memikirkan tentang penciptaan Alam Semesta ini, telah berkata: "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan segala ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau!" (QS. Ali Imran III: 191).&lt;br /&gt;Dengan ayat ini Islam sekaligus telah menolak secara jelas dan tegas sekali keingkaran segolongan manusia yang dengan bangga menduga dan mengira, bahwa:&lt;br /&gt;a. segala penciptaan itu tidaklah ada hikmahnya sama sekali, dan&lt;br /&gt;b. hidup ini tidaklah ada tujuan apa-apa selain hidup untuk hidup.&lt;br /&gt;Maka dalam hal ini ingatlah akan peringatan Kitab Suci Al-Quran, yang mengatakan: "Maka apakah kamu kira bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu itu secara main-main belaka, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maha Tinggi Allah Raya yang Sebenarnya."&lt;br /&gt;Maka jika manusia sebagai individu, golongan atau masyarakat hendak hidup benar, seharusnyalah menuruti segala Kebenaran yang datang dari ALLAH, Kebenaran Mutlak itu, dan menjadikan Kalamullah itu menjadi petunjuk satu-satunya baginya dalam hasratnya hendak mengetahui bagaimana sebenarnya ia harus memandang hidup ini, buat apa ia hidup di dunia ini sebenarnya, dan apa Tujuan Hidup manusia sebenarnya.&lt;br /&gt;Hanya dengan demikianlah makhluk manusia itu, baik sebagai perorangan, maupun sebagai golongan dan masyarakat, dapat hidup dengan benar!&lt;br /&gt;Jika tidak demikian, maka manusia golongan atau masyarakat itu akan semakin terjerumuslah ke dalam kebathilan dan ini adalah pertanda kehancuran bagi manusia golongan atau masyarakat itu. Dalam hal ini sebaiknya, diingat-ingatlah selalu Wahyu Ilahi yang tercantum pada permulaan tulisan esai ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-1098233933209275943?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/1098233933209275943/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=1098233933209275943' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/1098233933209275943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/1098233933209275943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/05/manusia-dan-kebenaran.html' title='Manusia dan Kebenaran'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-8188471018769863727</id><published>2008-05-24T06:16:00.000+07:00</published><updated>2008-05-24T06:17:08.133+07:00</updated><title type='text'>IKHLAS</title><content type='html'>"Berkata iblis: Ya Tuhanku, oleh karena Engkau telah menetapkanku sesat, sungguh akan kuusahakan agar anak manusia memandang indah segala yang tampak di bumi dan aku akan sesatkan mereka semua....Kecuali hamba-hambaMu dari antara mereka yang ikhlas.........(Al-Hijr: 39-40).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas lalu saja, memperhatikan ayat yang dicantumkan di atas ini, sudah dapat ditarik suatu garis, bahwa syaitan dan iblis yang terkenal dengan 1001 tipudaya, menjerumuskan manusia ke dalam perangkapnya, supaya terjauh dan terpisah dari akhlak, dari hidayah ilahi dan selanjutnya supaya mereka selalu berada dalam kebatilan dan kesesatan. Perhatikanlah betapa congkaknya, berani memamerkan rencananya: Aku akan berusaha agar anak manusia memandang indah segala yang tampak dalam kehidupan ini, walaupun di dalam bungkusan yang kelihatan indah itu, penuh dengan keburukan dan kejahatan; penuh dengan kebatilan dan kemungkaran.&lt;br /&gt;Malah termasuk dalam keahlian syaitan, ialah memutarbalikkan keadaan. Ia mampu menukar keindahan yang sebenarnya indah menjadi jelek yang menjijikkan, persis sebagaimana pandainya menyelimuti sesuatu yang jelek dan keji, sehingga tampak indah, berkilat, dan gemilang...&lt;br /&gt;Anak manusia yang mudah terpukau oleh keindahan, tanpa bisa membedakan emas dengan loyang yang hanya melihat kilat dan bayangan lahiriah saja, merekalah yang akan jadi mangsa yang empuk bagi syaitan dan iblis.&lt;br /&gt;Orang-orang yang beginilah menurut syaitan yang dapat disesatkannya sekalian, tanpa pilih dulu.&lt;br /&gt;Syaitan sungguh yakin akan suksesnya rencana ini, setelah mempelajari kepribadian makhluk yang bernama manusia itu.&lt;br /&gt;Konon kata sahibul hikayat, ketika Allah sudah mencetak dan membentuk Adam dari tanah, berupa rangka manusia, tetapi belum diberi nyawa, maka rangka manusia Adam itu ditaruh pada sebuah tempat. Di kala itu jenis makhluk syaitan ini sengaja datang untuk melihat-lihatnya.&lt;br /&gt;Sesudah memperhatikan bahwa pada tubuh calon manusia yang dipersaksikannya itu banyak sekali lubang-lubang, maka pada saat itu pun syaitan sudah meramalkan bahwa sungguh banyak sekali jalan masuk bagi memperdayakan makhluk yang bernama manusia tersebut.&lt;br /&gt;Memang demikianlah halnya. Manusia mudah sekali diperdayakan melalui segala keindahan lahir,  kehidupan duniawi ini.&lt;br /&gt;Tapi namun demikian, satu golongan anak manusia, diakuinya sendiri ketidaksanggupannya memperdayakannya, tak mempan segala tipu daya dan makarnya kepada golongan tersebut, yaitu para almukhlishin, orang-orang yang ikhlas. Hanya golongan inilah yang tak dapat didekatinya. Dan kalaupun diberani-beranikannya juga bertemu dengan para almukhlisin ini, namun ia tak akan pernah beroleh kemenangan, ia akan pulang kembali dengan kecewa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlas adalah Jiwanya Amal&lt;br /&gt;Gambaran yang dilukiskan di atas jelas menunjukkan betapa tingginya kedudukan ikhlas, betapa terhormatnya para almukhlisin dalam pandangan Allah SWT. Ikhlas adalah satu kriteria untuk menetapkan diterima atau ditolaknya amal ibadah seseorang dari umat yang mengaku telah Islam dan telah beriman. Tidak usah bersusah payah mencari definisi ikhlas itu menurut Islam. Kita cukup mengetahui satu prinsip saja, yaitu bahwa Iman ialah kepercayaan kepada Allah dan Islam ialah satu ketundukan dan kepatuhan kepada Allah. Maka semua tindak dan gerak, semua kata dan perbuatan, semua amal dan ibadat seseorang Muslim dan Mukmin, haruslah karena Allah belaka, lantaran hendak mencari mardhatillah semata.&lt;br /&gt;Allah hanya menginginkan, kiranya niat dan maksud tujuan hambaNya berkata dan berbuat hendaklah karena Ia saja, jangan karena yang lain. Ini saja yang dikehendaki Allah, yang lain tidak dimintaNya. Jangan menyekutukan Allah dengan yang lain, dalam bentuk apapun. Sebab keMAHABESARANNya jangan sampai disaingi oleh apapun dari makhluk yang diciptakannya sendiri. Simak saja ayat Al-Quran berikut ini:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah tak dapat mengampunkan, apabila Ia dipersekutukan dan Ia dapat mengampunkan selain itu bagi siapa yang Ia kehendaki. Dan siapa yang menyekutukan Allah, maka sungguh sudah amat jauh sekali tersesatnya..."(QS. An-Nisa: 115).&lt;br /&gt;Oleh sebab itulah, maka ikhlas ini menjadi alat penentu bagi amal dan ibadah seorang mukmin. Dan siapa saja yang benar-benar ikhlas, cuma Allah sajalah yang mengetahuinya, kendatipun semua ini bisa terselubung oleh kepandaian manusia dalam membungkus rapat-rapat apa yang ada dalam hatinya. Sepandai-pandainya manusia menyembunyikan apa yang ada dalam hatinya dengan segala tipu dayanya, sungguh Allah akan tahu hakikat niat yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, Allah berfirman dalam Al-Quran:&lt;br /&gt;"Mengapakah ia tak mau tahu...&lt;br /&gt;....apabila nanti dibangkitkan isi kubur, dan dibelah dadat menengok hasil didalamnya. Di hari itu Tuhan mereka akan menceritakan hakikat yang sebenarnya." (QS. Al-'Adiyat: 9-11).&lt;br /&gt;Sehubungan dengan ini, banyak sekali hadits yang menerangkan, memang keihklasan dalam beramal dan beribadah itu benar-benar menjadi barometer atas sah dan tidaknya ibadah-ibadah tersebut. Sedang untuk menetapkan ikhlas dan tidaknya seseorang, tidaklah ditentukan oleh orang yang bersangkutan, tidak pula oleh orang lain. Sebab ikhlas adalah urusan dan tugas hati dan cuma Allah saja yang tahu pendirian hati para hambaNya.&lt;br /&gt;Benar lidah dapat dijadikan ukuran untuk mengetahui isi hati, tapi tidak selalu dapat dipercayai. Karena lidah dengan kelunakan dan kelemasannya mampu menghancurkan besi dan membakar dunia, tapi dengan itu juga ia bisa berputar dan berbalik-balik sendiri. Makanya karena itulah Allah bersabda:&lt;br /&gt;"Ada dari sebahagian manusia, yang bicaranya amat menakjubkanmu dalam kehidupan duniawi. Tapi Allah membuktikan atas apa isi hatinya, ternyata ia sebenarnya adalah seorang musuh yang amat jahat. (QS. Al-Baqarah 204).&lt;br /&gt;Dalam satu hadits, Rasulullah SAW mengisahkan peristiwa di hari kiamat di kala menghadapi hari penghisaban.&lt;br /&gt;Ada tiga golongan, yang oleh karena merasa akan jasanya, telah meyakinkan diri akan masuk surga, yang pertama ialah si Qari; ditanyakan kira-kira apa amal kebaikan yang sudah dikerjakannya dalam hidup. Dengan bangga si Qari menjawab: Aku tekun membaca Quran, kubaca di tengah malam, ketika orang sudah tidur nyenyak. Allah menjawab: Engkau belum berhak lagi akan surgaku, sebab amalmu itu bukan karena Aku, tapi supaya orang mengatakan engkau seorang yang teramat Qari.&lt;br /&gt;Kepada Allah bertanya pula kepada si Syahid, lalu dengan lantang menerangkan: Aku telah berjihad perang di jalan Allah, maka terbunuhlah aku! Maka demikian juga jawaban Allah kepada si Syahid  ini: "Sebab engkau berperang supaya orang mengatakan dan memujamu sebagai pahlawan yang berani mati, bukan karena Aku semata."&lt;br /&gt;Terakhir, Allah bertanya pula kepada si Dermawan, lalu mendabik dada, bahwa hartanya telah banyak habis, demi menegakkan agama. Juga sama dengan dua rekannya, Allah menjawab serupa, sebab engkau berbuat demikian, bukan karena mengharap ridhaKu, tapi agar orang memuji engkau sebagai seorang yang amat dermawan dan pemurah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Rasulullah tentang ikhlas&lt;br /&gt;Sebagai penutup, kita muatkan di sini serangkaian wasiat Rasulullah tentang ikhlas itu, sebagai berikut:&lt;br /&gt;"Aku telah diberi wasiat oleh khalilku dengan empat macam kalimat yang bagiku semua lebih kucintai dari dunia dengan segala isinya. Beliau berkata kepadaku:&lt;br /&gt;1. Kokoh-kokohkanlah buatan kapalmu, sebab lautan amat dalam sekali.&lt;br /&gt;2. Perbanyaklah perbekalanmu sebab perjalanan bukan main panjangnya.&lt;br /&gt;3. Ringankanlah punggungmu untuk memikul, sebab halangan dan rintangan amat banyak dan hebat sekali.&lt;br /&gt;4. Ikhlaskanlah amalanmu, sebab mata pengontrolannya amat sangat tajamnya.&lt;br /&gt;Dari urutan pesan Nabi ini, nyata benar bahwa ikhlas mempunyai peranan penting untuk menentukan. Andai kapal yang akan ditumpangi melayari lautan hidup sudah demikian kuat dan kokoh konstruksinya, bekalpun sudah lengkap dan berlebihan, sedang bahu sudah siap sedia memikul segala beban yang berat, namun pelayaran itu tak juga akan diberkahi kalau tidak dijiwai oleh semangat ikhlas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-8188471018769863727?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/8188471018769863727/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=8188471018769863727' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/8188471018769863727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/8188471018769863727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/05/ikhlas.html' title='IKHLAS'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-5053649824908237843</id><published>2008-05-24T06:15:00.001+07:00</published><updated>2008-05-24T06:15:57.201+07:00</updated><title type='text'>WASIAT</title><content type='html'>Diwajibkan atas kamu, apabila seorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan kaum kerabatnya secara ma'ruf.  (Ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa. (Al-Baqarah II: 180).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti dan pengertian wasiat.&lt;br /&gt;Perkataan wasiat itu berasal dari bahasa Arab, terambil dari kata was-sha. Artinya menurut ilmu bahasa ialah pesan, petaruh, nasehat, dsb. Adapun pengartiannya menurut istilah Syariah ialah: pesan terakhir yang diucapkan dengan lisan atau disampaikan dengan tulisan oleh seseorang uang akan wafat berkenaan dengan harta benda yang ditinggalkannya.&lt;br /&gt;Berdasarkan pengertian umum dari ayat Al-Quran - seperti yang dikutib di atas - seorang muslim yang sudah merasa ada firasat akan meninggal dunia, diwajibkan membuat wasiat berupa pemberian (hibah) dari hartanya untuk ibu-bapak dan kaum kerabatnya, apbaila ia meninggalkan harta yang banyak. Timbul pertanyaan: Mengapa pada ayat tersebut dikhususkan wasiat tentang pemberian harta itu kepada ibu-bapak dan kaum kerabat (saudara dekat)? Bukankah ibu-bapak itu termasuk ahli waris dari seorang anak yang meninggal, yang sudah ada hak-hak dan bagiannya menurut hukum faraid, pembagian harta pusaka?&lt;br /&gt;Dalam hubungan ini perlu diuraikan lebih dahulu sejarah dan latar belakang turunnya ayat tersebut.&lt;br /&gt;Di jaman jahiliyah, kebanyakan bangsa Arab ketika sudah dekat ajalnya, mewasiatkan supaya memberikan hartabendanya kepada orang-orang yang jauh, yang tidak mempunyai hubungan darah dan keluarga dengannya.  Ibu-bapaknya sendiri, anaknya dan kaum kerabat dekatnya tidak disebut-sebut dalam wasiat itu. Adapun motifnya karena menurut anggapan umum pada waktu itu perbuatan yang demikian itu adalah satu kebanggaan, yang menunjukkan tentang sifat kemurahan hati.&lt;br /&gt;Untuk menertibkan sikap yang pincang dan berat sebelah itu, maka pada tahap pertama turunlah ayat tersebut (Al-Baqarah, ayat 180), yang menegaskan supaya berwasiat mengenai soal harta benda yang ditinggalkan itu untuk ibu-bapak sendiri dan keluarga yang dekat-dekat. Sesudah itu, sebagai tahap kedua, kemudian turunlah ayat yang terkenal dengan sebutan ayatul-mawarist (permulaan surat An-Nisa'), yang mengatur pembagian harta warisan secara terperinci, yang mengandung nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.&lt;br /&gt;Dengan turunnya ayat yang mengatur warisan itu, maka sebagian ahli-ahli tafsir berpendapat bahwa ayat tentang wasiat tersebut (Al-Baqarah, ayat 180) menjadi mansukh, artinya tidak diberlakukan lagi. Akan tetapi sebagian ulama-ulama dan ahli tafsir yang lain menyatakan, bahwa ayat mengenai soal wasiat itu masih tetap mempunyai kekuatan hukum. Apalagi sewaktu-waktu masih mungkin ditemukan satu kasus yang pemecahannya dapat menggunakan ayat tersebut. Misalnya, kalau yang meninggal dunia itu seorang anak yang sudah masuk Islam, sedang ibu-bapaknya masih memeluk agama lain, maka orang tuanya itu tidak berhak mendapat pembagian harta warisan bila dipandang dari sudut hukum Islam, karena berlainan agama. Dalam kasus yang demikian itu, si anak dapat meninggalkan pesan supaya memberikan sebagian harta benda yang ditinggalkannya untuk orang tuanya itu, asalkan tidak melampaui ketentuan-ketentuan oleh hukum warisan. Dengan demikian, dilihat dari sudut ajaran Islam, anak tersebut, dapat menjalankan petunjuk Ilahi, yang memerintahkan:&lt;br /&gt;"Dan Kami mewajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya (ibu-bapaknya)." (QS. Al-Ankabut XXIX: 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat-syarat wasiat.&lt;br /&gt;Kecuali dalam Al-Quran, pun Hadist Nabi banyak yang menggugah dan mendorong supaya melakukan wasiat itu. Diantaranya:&lt;br /&gt;"Barang siapa mati dengan melakukan wasiat, maka matinya adalah pada jalan Ilahi dan menurut Sunnah, mati dalam keadaan bertakwa dan (mengucapkan)  Syahadah, mati dengan mendapat ampunan." (riwayat Ibn Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun syarat wasiat itu ialah:&lt;br /&gt;1. Meninggalkan harta yang banyak.&lt;br /&gt;2. Tidak boleh melebihi 1/3 dari jumlah seluruh harta.&lt;br /&gt;Syarat yang pertama dan utama tentang kewajiban melakukan wasiat itu ialah apabila seseorang meninggalkan harta yang banyak. Ukuran mengenai harta yang banyak itu adalah relatif, sehingga berbeda-beda pendapat para ulama dalam menetapkan standar harta yang banyak itu.&lt;br /&gt;Syekh Muhammad Abduh menyatakan, bahwa dalam menetapkan ukuran itu sangat bergantung kepada keadaan dan itikad baik seseorang, dengan memperhatikan keadaan zaman, kepribadian dan lingkungan rumah tangga. Di negeri yang gersang dan miskin, kalau yang mati meninggalkan harta 70 dinar misalnya, itu sudah termasuk dalam bilangan meninggalkan "harta yang banyak". Tetapi, bagi seorang Raja atau Wazir tentu lain pula ukuran yang dipakai menjadi tolok ukur. (Tafsir Al-Manar).&lt;br /&gt;Dalam hubungan ini, sebagai pedoman dapat digunakan keterangan dari dua buah hadist. Pertama, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Sitti Aisyah (isteri Nabi), yang menceritakan seorang laki-laki mendatanginya dan menyatakan hasratnya untuk melakukan wasiat. Terjadilah dialog antara Aisyah dengan laki-laki tersebut, sebagai berikut:&lt;br /&gt;"Berapa jumlah hartamu?"&lt;br /&gt;    "Tiga ribu dirham" - sahut laki-laki itu.&lt;br /&gt;"Berapa banyak anakmu?"&lt;br /&gt;    "Empat orang!"&lt;br /&gt;Aisyah kemudian membaca kalam Ilahi: ".....jika kamu meninggalkan harta yang banyak." Dia berkata seterusnya: "Harta itu (3000 dirham) hanya sedikit. Tinggalkanlah untuk anakmu, itu lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadist yang kedua, yang diriwayatkan oleh Baihaqi, menyatakan:&lt;br /&gt;"Ali bin Abi Thalib mendatangi seorang yang pernah mengasuhnya yang sudah dekat mau mati; dia mempunyai uang 600 - 700 dirham. Laki-laki itu bertanya: Haruskan aku berwasiat? Ali menjawab: tidak perlu, karena Allah SWT hanya bersabda "kalau meninggalkan harta yang banyak." Engkau tidak memiliki harta yang banyak; tinggalkanlah harta tersebut untuk ahli warismu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kedua hadist itu dapat disimpulkan, bahwa ukuran tentang "meninggalkan harta yang banyak" itu haruslah memperhitungkan kepentingan ahli waris yang ditinggalkan, jangan membuat mereka itu kehilangan atau kekurangan hak menerima bagian harta pusaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat yang kedua dalam melakukan wasiat itu tidak boleh melebihi 1/3 dari harta yang ditinggalkan.  Hal itu dijelaskan dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Sa'ad bin Abi Waqash.&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, tatkala Sa'ad bin Abi Waqash sendiri merasa bahwa ajalnya sudah dekat, ia menemui Rasulullah dan bertanya:&lt;br /&gt;"Ya, Rasulullah! Apakah boleh aku mewasiatkan seluruh hartaku?"&lt;br /&gt;"Jangan!" - sahut Rasulullah.&lt;br /&gt;"Kalau separo, bagaimana?"&lt;br /&gt;"Jangan!"&lt;br /&gt;"Jika sepertiga?"&lt;br /&gt;"Masih banyak. Jika engkau tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, itu lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka dalam keadaan miskin, mereka hidup meminta-minta kepada manusia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadist ini, maka Jumhur Ulama menarik kesimpulan, bahwa tidak dibolehkan membuat wasiat lebih daripada 1/3 jumlah harta benda.&lt;br /&gt;Di sinilah terletak nilai-nilai keadilan ajaran Islam hyang mempertimbangkan jangan sampai mengurangi hak-hak ahli waris menerima bagian mereka masing-masing, dan dengan sendirinya merugikan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motif dan hikmah wasiat.&lt;br /&gt;Motif dan hikmah melakukan wasiat itu bagi orang yang banyak mempunyai harta kekayaan ialah sebagai tambahan amal yang masih dapat dilakukan seseorang ketika ajalnya sudah hampir dan dekat. Wasiat itu barulah berlaku apabila orang yang bersangkutan sudah meninggal. Pada hakekatnya, wasiat itu adalah semacam hibah (pemberian) juga. Perbedaan antara hibah dengan wasiat ialah, bahwa hibah itu dilakukan (diberikan) sendiri oleh orang yang bersangkutan ketika dia masih hidup, sedang wasiat, realisasinya, ialah setelah yang berwasiat itu meninggal dunia.&lt;br /&gt;Rasulullah sendiri tidak melakukan wasiat tatkala Beliau akan meninggal dunia, sebab memang beliau tidak meninggalkan harta yang banyak. Akan tetapi, para Khalifah dan sahabat-sahabat banyak yang melakukan wasiat itu. Diantaranya Khalifah Abu Bakar Siddik yang mewasiatkan 1/5 dari harta bendanya; Umar bin Khattab mewasiatkan 1/4 dari kekayaannya. (Tafsir Qurthubi).&lt;br /&gt;Setiap wasiat haruslah dijalankan oleh ahli waris yang tinggal, selama wasiat itu masih dalam batas-batas ketentuan ajaran dan hukum Islam. Orang yang tidak menjalankannya akan memikul sendiri dosanya, seperti yang diperingatkan dalam Al-Quran:&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang mengubah wasiat (mengutak-atik wasiat), setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya." (QS. Al-Baqarah II: 181).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun apabila sesuatu wasiat bertentangan dengan hukum dan ajaran Islam, tentu saja tidak boleh dilaksanakan, malah wajib ditinggalkan. Selain daripada wasiat harta di zaman "sekularisme" ini adapula orang yang mewasiatkan kalau dia mati, supaya jenazahnya dibakar, jangan dikuburkan walaupun waktu hidupnya dia mengaku sebagai seorang Islam. Wasiat yang demikian itu tidak boleh dilaksanakan, karena bila dilaksanakan, maka orang yang menjalankannya akan memikul dosa.&lt;br /&gt;Uraian ini adalah untuk menggugah hartawan Islam atau orang-orang yang merasa mempunyai harta yang banyak agar melakukan wasiat pada saat-saat menjelang kematiannya, sebagai tambahan amal ibadahnya pada detik-detik yang terakhir dari kehidupannya. Semoga kita semua beroleh hikmah setelah membaca uraian ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-5053649824908237843?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/5053649824908237843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=5053649824908237843' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/5053649824908237843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/5053649824908237843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/05/wasiat.html' title='WASIAT'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-8135002931317655450</id><published>2008-05-24T06:14:00.000+07:00</published><updated>2008-05-24T06:15:21.319+07:00</updated><title type='text'>ZIARAH KUBUR</title><content type='html'>Dari Buraidah, Rasulullah s.a.w. bersabda:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya dahulu saya melarang kamu ziarah ke kubur. Kemudian Muhammad telah mendapat izin berziarah ke kubur ibunya. Maka berziarahlah kamu, karena sesungguhnya ziarah itu mengingatkan kepada hari akhirat." (riwayat Muslim, Abu Daud, dan Tirmizi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses hukum dan motivasi ziarah ke kubur.&lt;br /&gt;Pada permulaan pengembangan Islam, Rasulullah melarang ummatnya untuk melakukan ziarah ke kubur. Adapun motivasi larangan itu adalah karena di jaman jahiliyah, kuburan itu menjadi salah satu sumber dan sasaran pembaktian kaum penyembah berhala. Bahkan jauh sebelum itu, di jaman Nabi Nuh a.s., sebagian kaumnya memandang kuburan itu sebagai satu tempat yang suci (kudus). Dengan larangan menziarahi kubur itu pada permulaannya, maka dapatlah dibendung kekhawatiran timbulnya kembali paham syirik, sedangkan iman dan tauhid yang ditanamkan oleh Rasulullah kepada pengikut-pengikutnya baru saja pada taraf permulaan, belum berurat berakar dalam jiwa mereka.&lt;br /&gt;Setelah pembinaan ajaran iman dan tauhid itu semakin kuat, Rasulullah menerima wahyu yang mengizinkan untuk menziarahi kubur ibunya, sehingga beliau menunjukkan dengan perbuatannya sendiri kebolehan ziarah ke kubur itu.&lt;br /&gt;Mengenai kasus Rasulullah menziarahi kubur ibunya, disebutkan dalam satu hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, yang artinya sebagai berikut:&lt;br /&gt;"Nabi Muhammad s.a.w. menziarahi kubur ibunya. Beliau menangis, dan menangis pula orang-orang di sekelilingnya. Kemudian, Nabi berkata: Saya meminta izin kepada Tuhanku (Allah) supaya diperkenankan memohonkan doa ampunan untuk ibuku. Permohonanku itu tidak diizinkan. Kemudian aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya, dan diizinkan. Berziarahlah kamu, agar kamu teringat kepada kematian." (riwayat Ahmad dan Muslim).&lt;br /&gt;Dari ayat ini dapat dipahami bahwa ziarah kubur itu dianjurkan, sebab hikmahnya akan mengingatkan dan menyadarkan umat manusia tentang kehidupan hari akhirat yang akan datang dan keharusan melakukan persiapan-persiapan untuk menghadapi saat-saat kepastian yang mesti ditemukan oleh setiap orang yaitu kematian atau ajalnya suatu saat nanti.&lt;br /&gt;Dari proses perkembangan tentang soal ziarah kubur itu, yang pada mulanya dilarang, kemudian diizinkan, dapatlah ditarik satu kesimpulan bahwa hukum Islam senantiasa memperhatikan kondisi ummat dan situasi suatu zaman.&lt;br /&gt;Dalam satu hadist lain yang diriwayatkan oleh Hakim dari Abi Zar, Rasulullah menyatakan:&lt;br /&gt;"Ziarahilah kubur, Anda dengan itu akan teringat ke akhirat. Mandikanlah orang yang mati, karena sesungguhnya hal itu menjadi obat mujarab yang mengandung pengajaran yang mantap. Sembahyangkanlah jenazah, mudah-mudahan hal itu akan menggugah hati Anda, sebab orang yang berdukacita berada di bawah naungan Ilahi dalam menghadapi tiap-tiap kebaikan." (Riwayat Hakim).&lt;br /&gt;Dari berbagai hadist yang menganjurkan dan mendorong melakukan ziarah kubur itu, maka para ulama berpendapat bahwa hukum ziarah kubur itu ialah sunah (sunat). Adapun hikmathnya mengandung dua macam nilai.&lt;br /&gt;Pertama, mengingatkan manusia pada kematian, bahwa pada saat yang tentu menurut ajal yang ditetapkan Tuhan, tiap-tiap orang akan kembali ke hadiratNya.&lt;br /&gt;Kedua, untuk memohonkan doa ampunan (istighfar) kepada Allah SWT supaya dosa orang yang diziarahi kuburnya itu, diampunkan oleh Allah. Jadi ziarah kubur itu tidaklah boleh didasarkan untuk meminta restu, karena ada sesuatu hajat, meminta berkat dan lain-lain sebagainya. Kemudian ditaburkan bunga, dibakar kemenyan dan perbuatan-perbuatan lainnya yang tidak disyariatkan, bahkan merupakan bid'ah yang sesat dan menyesatkan. Tetapi haruslah didasarkan kepada dua motivasi yang diterangkan  di atas.&lt;br /&gt;Adalah satu kenyataan, bahwa manusia pada umumnya selalu lupa dan lalai terhadap datangnya kematian. Dengan ziarah ke kubur itu, maka perbuatan itu dengan sendirinya mengingatkan manusia kepada kematian itu.&lt;br /&gt;Sasaran hikmat yang kedua tentang ziarah kubur itu ialah memberikan pertolongan yang dapat dilakukan oleh orang (keluarga yang masih hidup terhadap orang yang sudah meninggal dunia, yang memohonkan doa ampunan pada Allah SWT terhadap dosa-dosa mereka. Pertalian kekeluargaan dan persaudaraan (ukhuwah Islamiyah) pada umumnya tidaklah hanya terbatas dalam kehidupan di dunia ini, tapi juga sampai-sampai dalam kehidupan sesudah mati dan di akhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah menziarahi kubur para sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah acapkali menziarahi kuburan para sahabat. Diceritakan oleh Ibnu Abbas, bahwa Nabi sering-sering ziarah ke pekuburan di Madinah, dan setiap kali ziarah, beliau mengucapkan yang artinya:&lt;br /&gt;"Keselamatan untuk kamu, hai penghuni-penghuni kubur. Mudah-mudahan Allah SWT mengampuni dosa-dosa kami dan dosa-dosa kamu. Kamu adalah orang-orang yang telah mendahului kami dan kami akan mengikuti jejakmu." (Riwayat Tirmizi).&lt;br /&gt;Dalam suatu hadist yang lain, yang diriwayatkan dari Buraidah, diterangkan ucapan dan doa yang sering dibacakan oleh Rasulullah tatkala ziarah kubur, yang artinya sebagai berikut:&lt;br /&gt;"Keselamatan untuk kamu, hai ahli kubur orang-orang Mukmin dan Muslim. Dengan kehendak Tuhan, kamipun akan menemui kamu. Kamu telah mendahului kami, dan kami akan menyusul. Kami mohonkan kepada Allah keselamatan untuk kami dan kamu." (Riwayat Ahmad dan Muslim).&lt;br /&gt;Menurut keterangan Siti Aisyah, apabila giliran Rasulullah bermalam di rumahnya, maka biasanya di tengah malam beliau pergi menziarahi pemakaman Baqi'. Adapun Baqi' itu adalah satu pemakaman yang letaknya masih dalam kota Madinah, tidak berapa jauh dari Masjid Nabi, dimana dikuburkan sebagian besar para sahabat.&lt;br /&gt;Ziarah kubur itu tidak tentu waktunya, dapat dilakukan pada saat-saat luang atau berbagai kesempatan. Tidak ada keistimewaan pada hari-hari tertentu, seperti menjelang tanggal 1 Ramadhan, 1 Syawal dan lain-lainnya, yang di Indonesia dijadikan orang sebagai satu tradisi, padahal tidak disyariatkan mesti pada hari-hari tersebut.&lt;br /&gt;Biasanya pada hari-hari tersebut, kuburan tak ubahnya seperti "pasar", ramai dikunjungi oleh orang-orang yang berziarah, walaupun...mungkin sebagian besar daripadanya hanya ziarah sekali setahun. Ziarah hanya sekali setahun tidak banyak dapat menghunjamkan ke dalam hati nurani tentang kesadaran mengingat kematian.&lt;br /&gt;Pada tahun-tahun pertama sesudah Siti Khadijah wafat, Rasulullah hampir satu kali seminggu ziarah ke kuburan sang istri yang beliau cintai itu. Diterangkan oleh Nafi', bahwa dia sendiri lebih dari 100 kali melihat Ibnu Umar ziarah ke kubur Nabi, Abu Bakar dan ayahnya sendiri (Umar bin Khattab).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kaum wanita boleh ziarah ke kubur?&lt;br /&gt;Para ulama dan Fuqaha' mempunyai dua pendapat. Pertama, yang berpendapat kaum wanita tidak boleh ziarah ke kubur, dan yang kedua, mengatakan boleh.&lt;br /&gt;Yang pertama mendasarkan pendapat mereka kepada satu hadist yang melarang kaum wanita turut mengiringkan jenazah ke pekuburan, dengan berbagai pertimbangan/alasan seperti bahwa umumnya kaum wanita adalah mudah terhanyut emosi dan perasaan iba, sedih, sehingga dikhawatirkan jiwa mereka tidak kuat melihat kuburan yang terhampar dan perasaan duka cita yang mendalam bisa timbul kembali dan menimbulkan histeria yang berlebihan. Sementara ratapan atau tangisan dan jeritan yang berlebihan justru akan menyengsarakan arwah almarhum yang berada di alam kubur.&lt;br /&gt;Sementara para ulama yang memperbolehkan kaum wanita untuk berziarah didasarkan atas pengertian kepada hadist Nabi yang menganjurkan untuk berziarah, bahwa ziarah itu bersifat umum, boleh dilakukan oleh kaum laki-laki maupun perempuan, sementara memang banyak hadist-hadist lainnya yang menguatkan pendapat bahwa kaum wanita boleh berziarah ke pekuburan. Beberapa di antara hadist tersebut menyatakan:&lt;br /&gt;"Dari Aisyah, dia berkata:&lt;br /&gt;Apakah yang harus aku ucapkan jika aku ziarah, ya Rasulullah? Nabi berkata: Katakanlah: Keselamatan untuk kamu hai ahli kubur orang-orang yang Mukmin." (Riwayat Muslim).&lt;br /&gt;Nabi memberikan jawaban yang demikian adalah satu pertanda bahwa kaum wanita dibolehkan ziarah kubur. Kalau tidak, tentu Nabi akan melarang Siti Aisyah.&lt;br /&gt;Diriwayatkan lagi dari Ibnu Abi Mulaikah, bahwa pada suatu hari dia bertemu dengan Siti Aisyah, tatkala Ummul Mukminin itu kembali dari pekuburan. Mulaikah menanyakan:&lt;br /&gt;"Dari manakah Anda datang?"&lt;br /&gt;"Dari kubur saudara saya, Abdur Rahman."&lt;br /&gt;"Apakah Rasulullah tidak melarang wanita ziarah ke kuburan?" tanya Mulaikah.&lt;br /&gt;Akhirnya, dijawab oleh Aisyah:&lt;br /&gt;"Memang betul. Rasulullah (mula-mula) melarang ziarah ke kubur, tapi kemudian disuruhnya melakukan ziarah itu." (Riwayat Hakim dan Baihaqi).&lt;br /&gt;Berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan di atas, dapatlah disimpulkan, bahwa pendapat yang memperbolehkan kaum wanita melakukan ziarah kubur, tidak berbeda seperti laki-laki adalah lebih kuat dan dapat dijadikan pegangan dalam beramal. Sebagai penutup, kita kutip satu hadist yang mengatakan:&lt;br /&gt;"Aku tinggalkan kepada kamu dua pengajar. Yang pertama yang bisu; yang kedua yang berbicara. Adapun yang bisu ialah Al-Maut, dan yang berbicara ialah Al-Quran."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-8135002931317655450?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/8135002931317655450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=8135002931317655450' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/8135002931317655450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/8135002931317655450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/05/ziarah-kubur.html' title='ZIARAH KUBUR'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-1468453686580252889</id><published>2008-05-24T06:13:00.000+07:00</published><updated>2008-05-24T06:14:11.201+07:00</updated><title type='text'>TA'ZIYAH</title><content type='html'>Seorang mukmin yang melakukan ta'ziyah kepada saudaranya yang ditimpa musibah, maka Allah SWT akan memakaikan pakaian kehormatan untuknya di hari kiamat. (riwayat Ibnu Majah, Baihaqi dari Umar ibn Hazm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunjukkan turut berduka cita.&lt;br /&gt;Apabila seorang muslim/muslimah meninggal dunia, sebaiknyalah orang-orang Islam lainnya datang ke tempat orang yang ditimpa musibah itu untuk turut berdukacita (belasungkawa) kepada keluarganya. Dalam istilah agama Islam, perbuatan itu disebut ta'ziyah, berasal dari kata al-'aza, yang berarti sabar. Ta'ziyah ialah menyabarkan.&lt;br /&gt;Di Jakarta, ta'ziyah itu dinamakan melawat, di Sumatera disebut dengan istilah menjenguk, di Medan disebut tukam, dan di Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut dengan istilah ngelayat.&lt;br /&gt;Dilihat dari sudut pandang agama Islam, ta'ziyah itu hukumnya adalah sunnah.&lt;br /&gt;Adapun pengertian ta'ziyah yang dimaksudkan dalam uraian ini bukanlah sekedar memperlihatkan muka (muncul dan hadir), menyatakan turut berkabung, menyabarkan orang yang ditimpa musibah itu, tapi jauh lebih luas daripada itu, yaitu mencakup kepentingan orang yang meninggal dunia itu, malah juga untuk kepentingan orang yang melakukan ta'ziyah itu sendiri. Pada hakekatnya, sasaran yang kedua dan ketiga ini haruslah lebih diutamakan daripada sasaran yang pertama, lebih-lebih jika ditinjau dari sudut akidah, amaliah, dan muamalah menurut ajaran Islam. Tujuan dan niat melakukan ta'ziyah itu ialah sebagai pemberian penghormatan yang terakhir terhadap yang meninggal itu dan hendaknya memberikan faedah pula untuk jenazah yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat jenazah.&lt;br /&gt;Penghormatan terakhir yang memberikan keuntungan kepada jenazah yang bersangkutan ialah apabila orang yang datang ta'ziyah itu turut mendoakan agar dosa orang yang meninggal itu diampuni Allah SWT. Sebab salah satu jembatan yang masih dapat menghubungkan antara orang-orang hidup dengan orang-orang yang sudah mati ialah doa. Doa itu secara khidmat diucapkan tatkala menyembahyangkan jenazah itu, dimana antara lain dimohonkan doa yang artinya sebagai berikut:&lt;br /&gt;"Ya Allah! Ampunilah dia, kasihanilah dia, maafkanlah dia, muliakanlah kedudukannya, lapangkanlah tempat masuknya dalam kubur, mandikanlah ia dengan air, salju dan air sejuk, bersihkanlah dia dari dosa-dosa sebagaimana kain putih dibersihkan (dari) kotoran. Gantilah rumahnya dengan tempat tinggal yang lebih baik daripada rumahnya di dunia, gantilah keluarganya dengan keluarga yang lebih baik daripada keluarganya di dunia, gantilah jodohnya dengan jodoh yang lebih baik daripada jodohnya di dunia, dan peliharalah dia dari cobaan-cobaan dalam kubur dan siksa neraka (riwayat Muslim).&lt;br /&gt;Alangkah lengkap dan indahnya doa tersebut. Turut melakukan shalat jenazah adalah pertolongan yang langsung dapat diberikan untuk orang yang meninggal dunia itu. Itulah cara pemberian penghormatan terakhir yang berfaedah kepada yang meninggal, bukan dengan menaburkan bunga di atas pusaranya.&lt;br /&gt;Dalam suatu hadist diterangkan bahwa apabila banyak orang-orang yang turut menyembahyangkan jenazah, maka hal itu akan meringankan kepada jenazah tersebut. Hadist itu menyatakan:&lt;br /&gt;"Apabila seorang muslim meninggal dunia, kemudian jenazahnya dishalatkan oleh 40 orang yang tidak menyekutukan Allah, maka syafaat (permohonan ampunan) yang mereka mohonkan itu pastilah diterima Allah SWT." (riwayat Ahmad, Muslim dan Abu Daud).&lt;br /&gt;Acapkali terjadi, jenazah seorang yang meninggal dunia harus dishalatkan oleh beberapa orang saja, meskipun yang datang melakukan ta'ziyah berjumlah ratusan orang. Hal yang demikian seringkali terjadi di kota-kota besar dimana minat terhadap nilai-nilai upacara keagamaan semakin menipis. Alasan karena tidak mengetahui tatacara shalat jenazah sama sekali tidak dapat diterima. Sebab kalau dia sudah mengerti shalat wajib yang biasa, maka shalat jenazah lebih mudah dan lebih sederhana daripada itu. Hanya terdiri dari 4x takbir. Pada takbir pertama membaca surat Al-Fatihah, pada takbir kedua membaca shalawat kepada Nabi, takbir ketiga membaca doa. Kalau tidak hafal doa yang agak lengkap, cukup dengan doa yang pendek saja, umpamanya: Allahummaghfirlahu (untuk laki-laki) atau Allahummaghfirlaha (untuk wanita). Pada takbir yang keempat mendoa lagi, kemudian memberi salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita dan shalat jenazah.&lt;br /&gt;Melakukan shalat jenazah itu tidaklah hanya fardhu kifayah untuk kaum laki-laki, tapi juga buat kaum wanita. Di zaman Rasulullah, sering kali kaum wanita turut melakukan shalat jenazah. Tatkala Sa'ad bin Abi Waqash meninggal dunia, maka para istri Rasulullah telah memintakan agar jenazahnya ditaruh di mesjid, dan kemudian mereka melakukan shalat jenazah. Istri-istri para sahabat, turut menyembahyangkan jenazah Rasulullah saat beliau wafat. Kaum wanita dapat melakukan shalat jenazah itu dalam kelompok mereka, atau juga mengikut di belakang kaum laki-laki seperti shalat jamaah biasa. Apabila tempatnya sempit, dapat dilakukan shalat jenazah secara berkelompok secara bergiliran. Yang penting, ialah meningkatkan minat supaya merasakan pentingnya turut melakukan shalat jenazah itu, sebab seperti diterangkan diatas, itulah penghormatan atau pertolongan terakhir yang dapat dilakukan terhadap seseorang yang meninggal dunia, yang secara langsung menguntungkan dan meringankan kepada jenazah yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Selain dari itu, keuntungan pahala shalat jenazah iu akan dihayati oleh orang yang turut melakukan shalat jenazah tersebut, seperti dijelaskan dalam satu hadist berikut yang artinya:&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang turut mengantar jenazah dan menyembahyangkannya, ia mendapat pahala satu qirath. Orang-orang yang turut menghantarkannya sampai selesai dikuburkan, ia mendapat pahala dua qirath. Satu qirath (nilai pahalanya) paling sedikit sebesar gunung Uhud." (Riwayat Jamaah).&lt;br /&gt;Pada hadist tersebut Rasulullah menggunakan kata-kata yang bersifat metaphora (perbandingan), mengumpamakan pahala menyembahyangkan dan mengantar jenazah itu laksana sebesar gunung Uhud, untuk melukiskan tentang keutamaan (fadhilah) hal-hal yang bersangkutpaut dengan ta'ziyah itu.&lt;br /&gt;Kesempatan yang demikian hanyalah terjadi sewaktu-waktu, kadang-kadang sekali dalam tiga bulan atau setengah tahun, sehingga sebaiknya jangan disia-siakan atau dibiarkan lewat begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memupuk solidaritas dan ukhuwah.&lt;br /&gt;Dilihat dari sudut kemasyarakatan (sosiologi), ta'ziyah itu memupuk semangat solidaritas (kesetiakawanan) dan ukhuwah (persaudaraan) yang menjadi fondasi yang penting dalam membangun masyarakat yang harmonis dan marhamah, yang diliputi oleh kecintaan dan kasih sayang.&lt;br /&gt;Apabila seseorang yang ditimpa musibah, umpamanya mendapat kecelakaan, kematian dan lain-lain, kemudian orang banyak berdatangan menunjukkan keprihatinan, maka hal itu bukan saja merupakan obat dan penawar, tapi efek dan pengaruhnya tak ubahnya laksana semen yang dapat merekatkan batu-batu dan pasir-pasir menjadi satu landasan yang kuat. Sudah pasti hal yang demikian meninggalkan kesan yang tidak mudah dilupakan, merapatkan persaudaraan, mengeratkan hubungan. Pada saat orang yang melakukan ta'ziyah itu menerima giliran ditimpa musibah, maka yang bersangkutan akan memerlukan orang lain untuk menghiburnya, membantu persiapan dan penyucian jenazah, dan terlebih lagi memberikan dukungan moral, sehingga dengan demikian terbinalah hubungan persaudaraan dan kemasyarakatan yang laksana matarantai yang saling bertaut.&lt;br /&gt;Disinilah terletak rahasia ajaran Islam dalam bidang kehidupan yang selalu mengandung nilai-nilai ijtima'iyah, kemasyarakatan, dan sosiologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangis waktu ta'ziyah.&lt;br /&gt;Ketika seorang keluarga yang dekat atau sahabat yang rapat meninggal dunia, biasanya timbullah kesedihan dan dengan tidak terasa airmata bercucuran, menangis terisak-isak. Jika terbatas sekedar menangis saja, hal yang demikian adalah wajar dan merupakan manifestasi dari kesedihan, yang menjadi tabiat manusia. Namun yang dilarang keras oleh Islam adalah tidak boleh meratap, mengeluarkan jeritan-jeritan dan histeria yang berlebihan. Malah menurut suatu hadist, hal yang demikian merupakan satu siksaan bagi jenazah yang sedang terletang itu.&lt;br /&gt;Ketika putra Rasulullah, Ibrahim, meninggal dunia, yang baru berusia kira-kira 17 bulan, maka beliaupun menangis karena begitu sedih. Pada saat itulah keluarga beliau mengatakan:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya mata itu berlinang, hati dukacita, tapi kami tidak ucapkan kecuali (hal) yang diridhai oleh Allah. Kami semua berdukacita karena berpisah dengan engkau hai Ibrahim."&lt;br /&gt;Dapatlah disimpulkan, bahwa fungsi mata itu bukan saja untuk melihat sesuatu, tapi juga untuk menangis pada waktunya. Tapi menangis ditimpa musibah, setelah air mata mulai kering, haruslah segera berpegang pada tumpuan:&lt;br /&gt;"Kita semua adalah milik Allah, dan akan kembali kepadaNya." (QS.Albaqarah 156).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-1468453686580252889?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/1468453686580252889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=1468453686580252889' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/1468453686580252889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/1468453686580252889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2008/05/taziyah.html' title='TA&apos;ZIYAH'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-4813391551442077652</id><published>2007-08-01T05:23:00.001+07:00</published><updated>2007-08-01T05:23:36.814+07:00</updated><title type='text'>Peranan Aqidah dalam Kehidupan Manusia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sejarah ummat manusia telah membuktikan, dimanapun dan pada saat apa pun manusia berada, mereka senantiasa memiliki keyakinan akan adanya kekuatan yang menguasai diri dan kehidupan ini, kekuatan yang menciptakan alam semesta ini beserta seluruh kehidupannya, keyakinan akan keberadaan Sang Pencipta. Seorang pakar sejarah menyatakan bahwa dalam sejarah ummat manusia kita bisa mendapatkan kota-kota yang tidak memiliki istana, benteng-benteng pertahanan atau pabrik-pabrik, tetapi tidak ada satu kota pun yang tidak mempunyai tempat peribadatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat dari Kepribadian Ganda (Split Personality)&lt;br /&gt;Iman kepada Allah menjadikan setiap manusia hanya mempunyai satu tujuan dalam hidupnya, yaitu mendapatkan keridhaan Allah semata, dengan demikian ia terhindar dari pertentangan batin akibat bercabangnya tujuan dalam hidupnya atau terpecahnya perhatian akibat kebingungan dalam menanggapi perintah-perintah dalam hidupnya yang saling bertentangan. Tauhid menanamkan keyakinan dalam diri manusia, bahwa tidak ada yang ditaati selain Allah, dengan kata lain hanya Allah-lah satu-satunya yang wajib ditaati perintahNya dan satu-satunya yang mesti diibadahi, tiada seorang pun yang perintahnya wajib ditaati jika bertentangan dengan perintah Allah, bahkan perintah kedua orang tua sekalipun.&lt;br /&gt;Allah berfirman: "Allah membuat perumpamaan seorang budak yang dimiliki oleh serikat yang saling berselisih dengan seorang budak yang dimiliki oleh seorang majikan, apakah sama diantara keduanya, segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya." (QS.Az-Zumar:29).&lt;br /&gt;Seorang yang menyekutukan Allah tidak akan bisa tenang dalam hidupnya, karena ia harus melaksanakan berbagai perintah dan tugas yang sering kali satu sama lain saling bertentangan dari pihak-pihak yang menjadi atasannya. Hal ini karena meyakini berbagai nilai-nilai yang saling bertentangan dan mengabdi kepada berbagai kepentingan, menyebabkan seseorang berkepribadian ganda dan aneh. Imam al-Banna pernah menyatakan keheranannya pada manusia bertipe ganda semacam ini, orang semacam itu lima menit yang lalu berdialog hangat tentang masalah agama dan nasib ummat Islam bersama seorang ulama, dan lima menit kemudian ia berpidato menyampaikan ide-ide komunisme atau kapitalisme. Sungguh suatu hal yang mengherankan, dan bisa terjadi di jaman modern seperti sekarang. Salah satu bentuk kemunafikan dalam wujud yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bebas dari Belenggu Hawa Nafsu&lt;br /&gt;Ketika iman tertanam dalam diri seorang mukmin, ia akan dapat membebaskan dari penghambaan seorang manusia kepada hawa nafsu yang ada dalam dirinya. Keyakinannya akan adanya adzab Allah mampu mencegahnya untuk melampiaskan hawa nafsunya pada jalan yang haram. Rasa malu yang ditimbulkan dari keimanan akan mendorongnya untuk senantiasa jujur dalam hidupnya, menghindari dusta dan meninggalkan seluruh kemungkaran sekalipun tidak ada orang lain di sekitarnya.&lt;br /&gt;Hawa nafsu hanya dapat melihat kesenangan semata tanpa mampu melihat bahaya yang mengancam sebagai akibatnya. Seorang pezina hanya melihat kenikmatan dari perbuatan zina, tanpa berpikir akibatnya terhadap kesehatan dirinya, keutuhan keluarganya dan etika yang berlaku di tengah masyarakatnya. Seorang koruptor hanya berupaya menumpuk harta sekalipun dari jalan yang haram, tanpa pernah peduli akibatnya terhadap penderitaan rakyat yang diperasnya, tatanan sistem yang bisa amburadul karena korupsi, dan ekonomi biaya tinggi yang mencekik kehidupan masyarakat banyak. Begitu pula dengan para politikus yang hanya mengincar jabatan, hanya akan melahirkan pejabat-pejabat yang memeras rakyat dengan jabatannya, tanpa pernah memikirkan nasib dirinya setelah hilang masa jabatannya dan setelah hilang nyawanya saat dihadapkan kepada Allah. Mereka tidak pernah bisa berpikir panjang, karena hawa nafsu telah menyumbat telinganya hingga tuli, telah menutup matanya hingga buta dan memandulkan akalnya hingga dungu. Iman kepada Allah dapat membebaskan manusia dari belenggu hawa nafsu tersebut. Dan beruntunglah mereka yang membersihakan dirinya dari hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Sesungguhnya kemajuan teknologi dan kian pesatnya peradaban materi manusia, tidaklah mampu melepaskan manusia dari berbagai ketakutan. Ketakutan manusia primitif di masa lalu masih menjadi ketakutan manusia modern saat ini. Bahkan ketakutan itu kian bertambah, pesatnya perkembangan teknologi nuklir maupun rekayasa genetika, misalnya telah menimbulkan kecemasan akan nasib masa depan peradaban ummat manusia di masa depan. Wabah AIDS yang telah menelan jutaan jiwa belum bisa diatasi oleh kemajuan dunia kedokteran, kecanggihan alat komunikasi tidak mampu melenyapkan kekhawatiran manusia terhadap ancaman perang, terorisme, perkembangan industri diikuti oleh pelanggaran hak asasi manusia dan peningkatan kriminalitas. Semua itu menjadi bukti bahwa teknologi bukanlah solusi atas segala permasalahan kehidupan manusia, apalagi menggantikan peranan agama bagi kehidupan manusia.&lt;br /&gt;Manusia secanggih apapun peradabannya, tidaklah dapat menyangkal akan keberadaan Allah, Tuhan yang sesungguhnya. Penyangkalan manusia kepadaNya hanyalah argumentasi lain bagi dirinya dalam mempertuhankan Tuhan selain Allah, tuhan teknologi (seperti yang dianut beberapa artis hollywood dan para ilmuwan Amerika dengan munculnya paham scientologi, agama baru dengan tuhannya adalah ilmu pengetahuan ; naudzubillah min dzalik), tuhan materialisme, dan tuhan-tuhan lainnya. Pada saat manusia kufur kepada Allah dan menolak kehadiran agama (ad-dien) yang dibawa oleh para RasulNya, mereka berkehendak untuk menyusun dan menciptakan agama (sistem kehidupan) yang selaras dengan apa yang mereka pikirkan, dan segala yang mereka inginkan. Sistem kehidupan yang tidak membawa nilai-nilai Ilahi di dalamnya, apalagi mendasarkan seluruh aturan hidupnya.&lt;br /&gt;Aturan di mana kebenaran, keadilan dan kebaikan ditentukan oleh manusia, oleh para pembuat undang-undangnya. Kebenaran yang bisa ditawar-tawar oleh sesama mereka, keadilan yang tidak sama untuk pihak yang berbeda, kebaikan bagi segelintir orang dan penderitaan bagi yang lain. Kehidupan manusia yang tidak mendasarkan dirinya terhadap aturan Ilahi, Muhammad Quthub menyebutkan kehidupan semacam ini sebagai kehidupan jahiliyah, adalah kehidupan di mana nilai dan kehormatan manusia meluncur drastis hingga lebih buruk daripada binatang melata, sekalipun peradaban materinya melesat pesat. Dan manusia-manusia yang hidup dan menghendaki kehidupan semacam itu, aqidah dan agama ini dikesampingkan, adalah orang-orang yang tertipu, sesat dan disesatkan oleh perilakunya sendiri. Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-4813391551442077652?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/4813391551442077652/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=4813391551442077652' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/4813391551442077652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/4813391551442077652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/08/peranan-aqidah-dalam-kehidupan-manusia.html' title='Peranan Aqidah dalam Kehidupan Manusia'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-3471186317017318736</id><published>2007-08-01T05:22:00.000+07:00</published><updated>2007-08-01T05:23:04.399+07:00</updated><title type='text'>Perkembangan dan Pemeliharaan Iman</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setiap bayi yang lahir ke dunia sudah diberi Allah bibit iman yang disimpan pada suatu tempat yang disebut Qalbun. Untuk pemeliharaan dan perkembangan iman itu pertama kalinya diserahkan kepada orang tuanya, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya sebagai berikut: "Bayi lahir dalam keadaan suci bersih (qalbunnya) hanya karena pendidikan bapak-ibunyalah ia menjadi beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi." (Alhadits).&lt;br /&gt;Misalkan bibit iman tersebut kita umpamakan dengan sebuah biji dalam tumbuh-tumbuhan, maka pertumbuhan dan perkembangan bibit iman itu sangat tergantung pada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tanah, yaitu lingkungan/pergaulan. Manusia selama hidupnya tidak terlepas dari tiga lingkungan/pergaulan, yaitu: rumah tangga, sekolah/tempat kerja dan diluar keduanya. Lingkungan ini sangat besar pengaruhnya dalam pembinaan karakter dan pribadi seseorang, juga dalam pertumbuhan iman. Nabi Muhammad SAW, bersabda "Perhatikan lingkungan tetangga sebelum mendiami rumah." (Alhadits).&lt;br /&gt;- Lingkungan pertama yaitu rumah tangga. Di sini pertama kalinya iman seseorang dikembangkan. Untuk mengembangkan dengan baik, rumah tangga harus bernafaskan agama. Pendidik pertama adalah ibu. Sejak si anak masih di dalam kandungan ibu, seratus persen si bayi dalam pengaruh ibu, hingga dua tahun menyusuinya. Tepat sekali sabda Nabi Muhammad SAW: "Surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu." (Alhadits).&lt;br /&gt;- Lingkungan kedua adalah sekolah/tempat kerja. Inipun membantu pertumbuhan iman dalam lingkungan pertama. Lingkungan kedua ini adakalanya akan membantu dan menjadikan pembinaan pada lingkungan pertama tetapi ada kalanya juga akan menghancurkan.&lt;br /&gt;- Lingkungan ketiga adalah lingkungan di luar lingkungan kesatu dan kedua yang menentukan. Meskipun baik pembinaan iman pada lingkungan pertama dan kedua jika tidak waspada dalam lingkungan ketiga ini dapat menghancurkan apa yang selama ini sudah dibina dengan susah payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Air, sebagaimana halnya suatu tumbuh-tumbuhan tidak mungkin akan tumbuh dengan baik tanpa siraman air. Iman pun demikian. Ia harus disiram pada saat-saat tertentu, siramannya berupa pendidikan dan penerangan agama yang diperintiskan/bersumber pada Al-Quran dan sunnah Nabi. Firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Anfal ayat 2: "Sesungguhnya orang mukmin itu bilamana disebut-sebut nama Allah itu akan gemetar hatinya dan bilamana dibacakan ayat-ayatnya bertambah kuat imannya dan kepada Tuhannyalah mereka berserah diri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Sinar matahari, hidayah dari Allah. Meskipun tanahnya subur, airnya terus-menerus mengalir belum tentu bibit iman itu tumbuh dengan baik tanpa adanya sinar matahari, yaitu hidayah dari Allah. Mengingatkan kita peristiwa Abu Thalib (paman Nabi Muhammad SAW) yang sangat berjasa pada Nabi, hidup dalam lingkungan yang serba baik sebab selalu mendampingi Nabi dan sering mendengarkan ayat-ayat Al-Quran yang dibacakan oleh Nabi, bahkan oleh Nabi sering didoakan agar segera menyatakan keimanannya. Akan tetapi karena tidak mendapatkan hidayah dari Allah SWT, matilah ia dalam keadaan kufur. Bahkan Rasulullah mendapatkan peringatan dari Allah: "Sesungguhnya engkau Muhammad tidak dapat memberi petunjuk sekalipun kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang ia kehendaki. Dan ia lebih mengetahui orang-orang yang mendapatkan petunjuk." (Al-Quran surat Al-Qashash ayat 56). Oleh karena itu, setiap muslim diwajibkan memohon hidayah kepada Allah sekurang-kurangnya 17 kali sehari, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Quran Surat Al-Fatihah ayat yang terakhir: "Tunjukilah kami ya Allah kepada jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka. Bukan jalannya orang-orang yang Engkau murkai dan bukan jalannya orang-orang yang sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pupuk, beribadah dan beramal saleh. Demi suburnya bibit iman itu harus dipupuk dengan ibadah, baik ibadah khususiyah terutama shalat, puasa, dzikir, dan membaca Al-Quran, maupun ibadah umumiyah (berbuat jasa kepada masyarakat). Sabda Rasulullah SAW: "Iman itu kadang-kadang bertambah kadang-kadang juga berkurang." (Alhadits).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Dipelihara dari hama dan penyakit. Hama dan penyakit di sini yang dimaksud adalah kemaksiatan dan kemungkaran. Setiap amal perbuatan panca indra yang tidak cocok dengan tuntutan agama merupakan dosa. Dosa itu merupakan titik-titik hitam di dalam qalbun (jantung) tempat iman bersemayam. Bilamana qalbun tempat iman tertutup oleh titik-titik hitam, orang itu akan mempunyai tiga sifat, yaitu: shummun, bukmun, dan 'umyun (tuli, bisu, dan buta mata hatinya). Jika titik-titik hitam itu dibiarkan tidak dihapus dengan istighfar dan tobat, ia akan menutupi sinar iman yang ada pada qalbun itu, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 7: "Allah menutup atas qalbun mereka dan atas pendengaran mereka, serta atas penglihatan mereka yang ditutup dengan tabir. Dan bagi mereka siksaan yang berat."&lt;br /&gt;Iman itu diumpamakan akar tumbuh-tumbuhan. Karena itu jika akarnya kuat menghujam ke tanah, maka tegaklah batang tumbuh itu dan lebah buahnya, sebab akar berfungsi sebagai penegak batang dan penghisap zat makanan dari dalam tanah yang menyebabkan buahnya menjadi lebat.&lt;br /&gt;Firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 24-25 yang artinya: "Tidakkah engkau melihat bagaimana Allah membuat suatu perumpamaan (kalimat thoyyibah) seperti sebuah pohon yang baik, akarnya menghujam ke tanah dan batangnya ke langit. Dan Allah membuat contoh-contoh perumpamaan untuk manusia agar supaya mereka ingat kembali."&lt;br /&gt;Penelaahan dalam uraian ini pun dapatlah kiranya menjadikan penawar serta penyiram rasa taqwa dan keimanan kita untuk kemudian dilimpahkan ilmu serta penghayatan yang sempurna sehingga kita benar-benar menjadi seorang mukmin yang sejati.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-3471186317017318736?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/3471186317017318736/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=3471186317017318736' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/3471186317017318736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/3471186317017318736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/08/perkembangan-dan-pemeliharaan-iman.html' title='Perkembangan dan Pemeliharaan Iman'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-8630728625820621952</id><published>2007-08-01T05:21:00.002+07:00</published><updated>2007-08-01T05:22:20.639+07:00</updated><title type='text'>Taqwa sebagai Bekal Kehidupan Akhirat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Diantara sekian banyak panggilan Allah yang paling utama yang harus kita penuhi dan pasti kita alami adalah maut atau kematian. Al-mautu Haqqun! Kematian itu pasti akan terjadi pada setiap diri manusia, suka atau tidak suka, mau tidak mau, takut atau tidak takut, semuanya pasti akan mengalaminya. Undang-undang Allah ini tidak pandang bulu dan suku, tidak melihat martabat dan pangkat, tidak mau tahu menahu jabatan dan kedudukan, tidak membedakan kaya atau miskin, yang awam maupun ilmuwan, semuanya pasti terkena dan menjalaninya. Dan barangkali tidak ada satupun manusia yang mengingkari dan menantangnya, semuanya pasti menerimanya. Dan memang begitulah kenyataannya.&lt;br /&gt;Mengenai hal ini, Allah sWT menegaskan dengan firmanNya dalam Al-Quran: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasai mati." (QS.Ali Imran 3:185)&lt;br /&gt;Dan firman Allah yang lain: "Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapati kamu, walaupun kamu di mahligai-mahligai yang teguh." (QS.An-Nisa 14:78).&lt;br /&gt;Kita sering melupakan maut. Kita melihat jenazah susul-menyusul di hadapan kita tiap hari. Tetapi, kita tidak pernah membayangkan bahwa kita juga akan mati. Kita berdiri dalam shalat jenazah, tetapi pikiran kita berputar mengelilingi dunia. Seorang dari kita mengira, bahwa maut itu pasti mengenai setiap makhluk kecuali Dia (Allah SWT). Sebenarnya manusia mengetahui bahwa dunia ini akan meninggalkannya atau dia yang meninggalkan dunia ini. Betapa pun dia hidup, pasti ia akan mati. Tidakkah umur 60 tahun, 70 tahun ataupun 100 tahun itu kita akan habis dan akan diganti dengan mati? Belumkah kita berkenalan dengan seseorang yang umurnya 100 tahun? Ia toh akhirnya akan mati. Nabi Nuh as, menurut Al-Quran berumur 950 tahun. Di manakah beliau sekarang? Apakah beliau masih hidup terus di dunia? Terhindarkah beliau dari maut?&lt;br /&gt;Bila sudah demikian kenyataannya, mengapakah kita tidak pernah berpikir tentang maut? Dan mengapakah kita tidak bersiap sedia untuk menghadapinya, jika memang sudah pasti akan kita hadapi suatu hari nanti? Yah, mengapa? Seseorang yang akan menghadapi perjalanan jauh, namun tidak diberitahu kapan waktunya harus berangkat, tidakkah ia patut selalu dalam keadaan siap sedia (menyiapkan semua bekal amal kebaikan demi keberlanjutan hidupnya kelak di akhirat)? Begitu datang panggilan tentunya ia sudah siap.&lt;br /&gt;Ingatlah malaikat maut datangnya sewaktu-waktu. Dia tidak akan memberitahu lebih dahulu dan memberikan tambahan waktu, walaupun cuma sebentar.&lt;br /&gt;Masalahnya sekarang, apakah sebenarnya atau hakekat maut itu? Ada apa di balik itu? Bekal utama apa yang mesti kita bawa untuk menghadapinya? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini adalah amat sangat penting. Karena dari sanalah manusia akan menentukan arah dan bagaimana seharusnya ia berbuat di dalam hidupnya kini, agar nantinya ia bisa selamat dan bahagia.&lt;br /&gt;Maut, pada hakekatnya adalah suatu kelahiran baru, suatu pelepasan dari alam yang sempit ke alam yang lebih luas, yaitu dari alam fana ke alam yang lebih panjang masanya, yakni alam akhirat. Dan inilah dibalik maut itu.&lt;br /&gt;Bahwa kelak pada hari Qiyamat, setelah segenap ummat manusia dibangkitkan dari kubur masing-masing, mereka akan dihimpun di suatu tempat yang bernama Mahsyar (tempat perhimpunan). Kemudian, masing-masing akan dihadapkan kepada Mahkamah Allah SWT, yang Maha Adil dan Maha Bijaksana. Mereka akan dimintai pertanggungjawabannya atas kehidupannya di dunia, diperhitungkan amal perbuatannya dan ditimbang bobotnya. Atas dasar inilah dan rahmat Allahlah, kemudian seseorang akan ditentukan kedudukannya. Apakah ia akan menepati tempat yang penuh penderitaan dan siksaan (neraka), sebagai balasan atas kelalaian, kejahatan dan kedurhakaannya kepada Allah SWT. Sebagaimana kelanjutan Firman Allah: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasai mati, dan tidak akan disempurnakan balasan kamu manusia melainkan pada hari Qiyamat. Lantaran itu, barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga, maka selamatlah ia, karena kehidupan yang rendah (dunia) ini tidak lain kecuali benda yang menipu." (QS.Ali-Imran 3:185). Kemudian, bekal apa yang mesti kita bawa untuk menghadapi hal itu?&lt;br /&gt;Kita hidup di dunia ini ibarat seorang yang sedang berlayar dengan kapal pesiar, ke luar negeri misalnya. Tentunya, sebelum berangkat kita akan mempersiapkan segala sesuatunya, terutama adalah perbekalan untuk memenuhi kebutuhan kita selama dalam perjalanan itu. Minimal, kita akan membawa uang yang cukup untuk di perjalanan dan selama berada di luar negeri. Akan tetapi, apakah kita akan membelanjakan uang kita hingga ludes hanya untuk menghias kita di atas kapal itu, tidak membawa uang sepeser pun? Jelas, hal itu tidak mungkin dan tidak akan mungkin kita lakukan. Kita pasti akan berpikir bukankah aku tinggal di kamar kabin kapal ini hanya beberapa minggu saja, sedangkan uang ini bisa kupergunakan untuk menyewa rumah di London, karena di sanalah nantinya aku akan berdiam lama, sebelum akhirnya aku akan plesir berbelanja ke Dubai, Uni Emirat Arab?&lt;br /&gt;Begitulah perumpamaan kita hidup di dunia. Dunia ini hanyalah tempat persinggahan kita yang sementara. Sedangkan alam akhirat adalah tempat terakhir yang kita tuju, yakni alam yang abadi dan kekal. Nah, kalau sudah demikian perbekalan apakah yang mesti kita persiapkan? Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: "Dan bawalah perbekalan, tetapi sebaik-baik perbekalan adalah taqwa." (QS.Al-Baqarah 2:197).&lt;br /&gt;Taqwa ini amat sangat ditekankan oleh Islam. Sebagaimana Firman Allah dalam Al-Quran: "Hai orang-orang yang beriman: Bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah (tiap-tiap) jiwa memperhatikan apa yang telah disediakan untuk besok, dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan." (QS.Al-Hasyr 59:18).&lt;br /&gt;Kata taqwa berasal dari bahasa Arab: Ittaqa - Yattaqi artinya menjaga, melindungi. Dalam pengertian agama Islam adalah taat-tunduk-patuh-menyerah kepada segenap perintah Allah dan RasulNya serta menjauhi segala laranganNya tanpa syarat, tanpa tawar-menawar. Jadi apapun perintah Allah dan RasulNya, sebagai seorang muslim yang konsekuen, tidak ada alternatif lain, kecuali: "Sami'na wa Ata'naa! (kami dengar dan kami taat) bukan Sami'na wa Ashainaa (kami dengar tapi kami langgar).&lt;br /&gt;Ketaqwaan seseorang tidak bisa dilihat oleh mata dan tidak bisa diukur dari luas tidaknya pengetahuan agama seseorang. Tetapi yang jelas, ketaqwaan bagi seorang mukmin adalah pertanda mantapnya keimanan yang mengejawantah dalam amaliah lahiriyah, baik dalam hubungan dengan Allah maupun hubungannya dengan sesama insan. Mukmin yang taqwa di dalam situasi apapun dan kondisi bagaimanapun, langkahnya akan tetap seimbang dan stabil. Sebagaimana firman Allah: "Maka barang siapa yang bertaqwa dan berbuat baik, tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka berduka cita." (QS.Al-A'raf 7:35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-8630728625820621952?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/8630728625820621952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=8630728625820621952' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/8630728625820621952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/8630728625820621952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/08/taqwa-sebagai-bekal-kehidupan-akhirat.html' title='Taqwa sebagai Bekal Kehidupan Akhirat'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-1922159000000990608</id><published>2007-08-01T05:21:00.001+07:00</published><updated>2007-08-01T05:21:47.973+07:00</updated><title type='text'>Menyiapkan Generasi Taqwa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Anak-anak adalah amanah ataupun titipan Allah SWT kepada setiap ayah dan bunda. Bukan sebagai titipan biasa yang hanya menghendaki pemeliharaan, penjagaan, akan tetapi harus dikembangkan, dan akan dimintakan pertanggungjawabannya baik di hadapan Mahkamah Ilahi maupun dalam mahkamah sejarah di dunia ini.&lt;br /&gt;Dalam Al-Quran ditegaskan: "Hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan itu." (QS.At-Tahrim:6).&lt;br /&gt;Dalam salah satu hadits diterangkan: "Tiap-tiap anak dilahirkan dalam keadaan suci bersih. Ayah bundanyalah yang menjadikan anak itu seorang Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi." (HR.Al Hakim).&lt;br /&gt;Dalam ilmu paedagogie ada satu teori yang disebut Tabularasa teori, yang menyimpulkan bahwa setiap anak yang lahir adalah laksana kertas putih, tergantung sepenuhnya kepada ayah ibundanya untuk mewarnai anak itu: merah, hijau, biru atau lainnya, menurut citra dan kehendak ibu dan bapaknya itu.&lt;br /&gt;Allah SWT bukan saja memerintahkan untuk memelihara (mengembangkan) kehidupan dan kemajuan anak-anak sendiri, akan tetapi sekaligus diberikan petunjuk-petunjuk yang konkrit berdasarkan kisah-kisah, dimana diuraikan garis-garis besar pendidikan apa yang harus diutamakan kepada anak-anak tersebut.&lt;br /&gt;Dalam Al-Quran ada satu surat bernama Surat Luqman, di mana dijelaskan prioritas yang harus diberikan untuk pendidikan anak-anak itu.&lt;br /&gt;Seperti diketahui, Luqmanul Hakim, adalah seorang ahli hikmat zaman purbakala, yang telah berhasil mendidik anak-anaknya sehingga Allah SWT melestarikan hal itu menjadi contoh tauladan.&lt;br /&gt;Dalam Surat Luqman itu antara lain dijabarkan: "Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman supaya bersyukur kepada Allah. Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu memberikan pelajaran kepadanya: "Hai anakku! Janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah satu perbuatan zalim yang besar. Dan Kami perintahkan kepada manusia (supaya berbuat baik) kepada ibu-bapaknya." (QS.Luqman:13-14).&lt;br /&gt;Pada ayat yang lain dalam Surat Luqman itu dikatakan lagi: "Hai anakku! Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan kebaikan dan cegahlah (mereka) mengerjakan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri." (QS.Luqman:17-18).&lt;br /&gt;Dari ayat-ayat tersebut dapat difokuskan 6 point tentang pendidikan anak-anak itu, yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendidikan Iman&lt;br /&gt;Sejak masa kecil, anak-anak haruslah dididik bahwa ia dan umumnya manusia adalah merupakan obyek, yang diciptakan, sedangkan subyeknya, yang menciptakan ialah Allah SWT. Allah menciptakan manusia memberi hidup dan segala keperluan-keperluan mereka, dengan penjelasan tentu saja yang sesuai dengan kemampuan jiwa dan daya tangkap anak-anak bahwa segala sesuatunya harus dibarengi usaha, ikhtiar. Oleh sebab itu, setiap manusia harus berterimakasih kepada Pemberi nikmat itu. Dalam istilah Islam, terima kasih itu disebut syukur. Ucapan syukur yang singkat lengkap ialah: Alhamdulillah, segala puji untuk/milik Allah. Itulah sebabnya sesudah selesai makan, setiap orang harus mengucapkan Alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pendidikan Tauhid&lt;br /&gt;Sesudah pendidikan iman itu diberikan pula pendidikan Tauhid, yaitu pemahaman bahwa Allah itu Esa, Tunggal, Mandiri, tidak berkehendak kepada bantuan orang lain. Iman dan Tauhid itu merupakan fondasi bagi satu bangunan. Apabila fondasinya kokoh, terbuat dari beton, maka bangunan itu tidak akan rontok atau runtuh, walaupun digoncang gempa atau angin yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pendidikan Akhlak&lt;br /&gt;Anak-anak didik supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya, sebagai orang yang paling berjasa kepada mereka. Dituliskan pada sambungan ayat yang bersangkutan, bahwa seorang ibu bersusah payah melahirkan seorang anak, membesarkannya, memeliharanya, sedangkan ayahnya mencarikan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan, dan kemudian menyekolahkannya, setelah anak itu mulai besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pendidikan Ibadah&lt;br /&gt;Selanjutnya, setiap anak harus dididik supaya melakukan shalat. Tidak menjadi soal, walaupun pada mulanya tidak hanya mengikuti (ikut-ikutan menirukan) ayah ibunya yang sedang sholat, sehingga lama-kelamaan diharapkan menjadi terbiasa serta menjadi kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pendidikan Sosial&lt;br /&gt;Anak-anak harus dididik sejak dini supaya mulai memikirkan keadaan di sekitarnya. Dia dididik untuk membiasakan diri mengajak orang berbuat kebaikan, dan mencegah berbuat kejahatan. Lama-kelamaan anak itu akan merasakan menjadi makhluk sosial, antara yang satu dengan yang lain saling memerlukan, saling menjaga dan saling bantu-membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Pendidikan Jihad di Jalan Allah (menanamkan semangat pantang menyerah dalam menegakkan  kebenaran dan membela agama Allah dengan harta, ilmu dan segenap tenaga)&lt;br /&gt;Pada ayat tersebut, disebutkan supaya berlaku sabar; sabar dalam melakukan sesuatu pekerjaan, melalui proses yang wajar, jangan lekas-lekas mencari jalan pintas. Yang penting jangan lekas menyerah kalau menghadapi kesulitan. Umpamanya, jika jatuh ketika berlari, harus segera berdiri kembali. Jangan lekas putus asa. Semua itu termasuk dalam pendidikan jihad, untuk meningkatkan daya juang, daya tahan sebagai bekal kelak di kemudian hari agar meneruskan dakwah Islam, menegakkan agama Allah dengan pantang menyerah mengerahkan semua daya upaya, ilmu, tenaga dan harta demi kemuliaan agama Allah dan kemaslahatan hidup seluruh umat manusia. Akhirnya, pada sambungan ayat tersebut, diulang kembali secara rinci tentang pendidikan akhlak, supaya jangan berlaku sombong, congkak, atau berlaku angkuh (over acting).&lt;br /&gt;Selain dalam Surat Luqman itu, masih banyak lagi surat-surat atau ayat-ayat lainnya dalam Al-Quran yang menggariskan tentang soal pendidikan anak-anak itu. Diantaranya Surat Maryam.&lt;br /&gt;Seperti diketahui, dalam permulaan surat Maryam itu dilukiskan jeritan hati nurani Nabi Zakaria yang terus-menerus memohon, doa kepada Rabbul Jalali (Allah) supaya dianugerahi anak yang diembannya. Dalam usia yang sudah lanjut, Nabi Zakaria masih belum mendapat seorang anak kandung, yang disebutkan dalam Al-Quran dengan istilah qurratu a'yunin (cahaya mata). Permohonan Nabi Zakaria itu akhirnya diperkenankan Allah SWT dengan lahirnya putra beliau yang bernama Yahya, yang dalam kedudukannya juga mendapat posisi dan tugas seperti ayahnya, menjadi pembimbing dan pembina umat (Nabi).&lt;br /&gt;Dalam Surat Maryam itu dirumuskan 7 poin yang merupakan persiapan bagi Yahya untuk menghadapi hari depannya. Persiapan itu diterangkan pada ayat: "Ya Yahya! Berpegang teguhlah kepada Kitab Suci. Dan Kami berikan kepadanya hikmat semenjak masa kanak-kanak. Dan dianugerahkan dari sisi Kami (Allah) rasa belas kasihan yang mendalam, suci dari dosa, dan kemudian (dianugerahi) sifat taqwa. Kemudian berbakti kepada ibu-bapak, dan jangan bersikap sombong dan durhaka." (QS.Maryam:13-14).&lt;br /&gt;Analogi dari ayat tersebut kepada setiap anak mukmin, haruslah dibimbing supaya menjadikan Kitab Suci Al-Quran sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan, sebab Al-Quran merupakan panduan yang menunjukkan jalan kebenaran supaya manusia tidak tersesat dalam kehidupan di dunia ini sampai di akhirat kelak.&lt;br /&gt;Dari berbagai Kitab-Kitab Tafsir dapat disimpulkan, bahwa yang dimaksudkan dengan perkataan hananan min ladunna (anugerah yang mendalam dari sisi Allah) diantaranya ialah watak menghargai orang tua, sayang kepada yang muda dan peka terhadap perjuangan cita-cita rakyat yang diridhai Ilahi. Sedang yang dimaksudkan dengan suci dalam ayat tersebut, tercakup di dalamnya pemurah (charity), suci (purity), adil (justness), jujur (integrity), dan tulus (honesty). Sesudah itu diiringi dengan pendidikan taqwa, yagn merupakan pusat atau sentral dari semua watak dan sikap mental yang utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-1922159000000990608?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/1922159000000990608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=1922159000000990608' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/1922159000000990608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/1922159000000990608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/08/menyiapkan-generasi-taqwa.html' title='Menyiapkan Generasi Taqwa'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-7701920166824425563</id><published>2007-08-01T05:20:00.000+07:00</published><updated>2007-08-01T05:21:04.752+07:00</updated><title type='text'>Ma'rifatul Insan (Mengenal Diri Manusia)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;I. Mukadimah (Pendahuluan)&lt;br /&gt;Allah SWT menciptakan manusia ke dunia mempunyai maksud tertentu, yakni selain agar beribadah kepadaNya diamanatkan sebagai Khalifah Fil Ardhi sehingga tercipta masyarakat yang tentram serta sejahtera. Akan tetapi tugas yang diamanatkan kepada Al-Insan (manusia) sering kali dimanipulasikan sesuai kehendak hawa nafsu syaitan,sehingga fungsi sebagai khalifah tidak dapat dilaksanakan dengan sebenar-benarnya.&lt;br /&gt;Sesungguhnya, jika setiap manusia memahami akan maksud diciptakan Allah SWT ke dunia ini, maka segala gerak langkahnya selalu disesuaikan dengan syariat dinullah. Tujuan diciptakan manusia secara argumen yang ditegaskan Allah SWT seperti firmanNya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (QS.51:56). Dengan penjelasan firman Allah SWT tersebut sudah jelas dan tegas apa yang seharusnya diperbuat oleh manusia dalam kehidupan sehar-hari, yaitu penghambaan secara totalitas kepada Al-Khaliq.&lt;br /&gt;Harus diakui dalam realita kehidupan sehari-hari penyimpangan hampir tidak dapat dihindarkan dari perbuatan manusia, karena dunia sekuler lebih dominan dibandingkan dengan hakekat kebesaran Allah SWT,sebagai penguasa tunggal. Terjajahnya oleh bentuk kezaliman pada dasarnya terdapat peluang yang dimiliki oleh manusia, yakni berupa da'fu iman (lemah iman). Terdapatnya da'fu iman jika dibiarkan hidup pada diri seseorang akan memudahkan operasinya kelompok syaitan dengan leluasa. Karena para syaitan mempunyai komitmen untuk menghancurkan umat manusia dengan wasail (sarana) serta berbagai arah pengerti penegasan Allah SWT: "Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)." (QS.7:17).&lt;br /&gt;Perlu disadari secara cermat, bahwa aktivitas syaitan seperti ditegaskan oleh Allah SWT melalui ayat di atas, sebuah gerakan yang akan dijalankan secara istimariyah sampai pada suatu keberhasilan tertentu yaitu menciptakan manusia mungkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Sifatul Insan&lt;br /&gt;Hilangnya penyadaran manusia terhadap asal serta tujuan diciptakan oleh Allah SWT adalah konsekuensi tidak ma'rifah (mengenal) terhadap dirinya. Sehingga menjadikan hidupnya tanpa memperhatikan norma-norma yang seharusnya dipatuhi. Dalam kaitan ini perlu direnungkan pepatah yang menyebutkan: "man a'rafa nafsah faqad a'rafa rabbah, maknanya "Barang siapa mengenal dirinya niscaya mengenal Rabbnya."&lt;br /&gt;Maka sangat wajar jika di kalangan ummat kurang menyadari hakekat untuk apa diri ini diciptakan dan harus bagaimana melakukan aktivitas di dunia, karena tidak mengenal akan dirinya sendiri. Padahal manusia diciptakan lebih mulia dibandingkan dengan makhluk lainnya, yakni diberikan akal. Hanya masalahnya, akal itu tidak difungsikan sebagaimana seharusnya sesuai dengan petunjuk dari Sang Khaliq.&lt;br /&gt;Gambaran manusia yang tidak memfungsikan akal seperti aturannya telah ditegaskan Al-Quran: "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS.7:179).&lt;br /&gt;Akal dalam arti yang sebenarnya akan mampu mengarahkan maupun mengondisikan dirinya, jika setiap insan telah ma'rifah secara jujur. Ma'rifah seperti yang disinggung di atas, sebuah tugas yang sepenuhnya tanggung jawab setiap insan, lebih-lebih keterkaitannya dengan Al-Khaliq (hablum minallah).&lt;br /&gt;Ketika akal berfungsi, maka reaksi pemahaman tentangakan penciptaan alam pun dapat dikenalnya kemudian mengerti jalan yang harus ditempuh. Dan Allah SWT, memberikan dua jalan yang disodorkan kepada manusia untuk dipilihnya seperti firmanNya: "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan." (QS.90:10). Kemudian dua jalan yang dimaksud secara transparan disinggung pada firman lain yaitu: "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya (QS.91:8). Dua jalan yang tersedia ketentuan final adalah diserahkan kepada setiap orang untuk memilihnya, dan tentunya akan membawa konsekuensinya atas pilihannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Jalan Taqwa&lt;br /&gt;Jika pilihan setiap manusia jatuh ke jalan ketaqwaan sudah dapat dibayangkan nilai akhir akan sampai kepada sebuah kemenangan yang hakiki. Diraihnya suatu kemenangan melalui aktivitas yang berat, tetapi atas dasar nilai-nilai ketaqwaan (ketaatan) itu, keberhasilan menyertainya. Secara tegas Allah SWT menyatakan ketaqwaan seseorang akan sampai kepada kemenangan: "Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan bertaqwa kepada Allah dan RasulNya dan takut kepada Allah dan bertaqwa kepadaNya maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan." (QS.24:52).&lt;br /&gt;Untuk sampai ke arah kemenangan, sewajarnya setiap manusia mencari jalan dengan maksimal yang disertai sesuai ketentuan syari'at Islam. Maka jawaban yang tepat mencapainya, ustadz Dr. Abdullah Nasih Ulwan melalui sebuah kitab berjudul "Ruhaniyatud-Da'iah" memberikan cara mencapai ketaqwaan. Bahwa terdapat beberapa marhalah (langkah) yang perlu dilalui untuk menuju taqwa yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mu'ahadah&lt;br /&gt;Langkah awal yang harus dilakukan setiap orang merenungkan mu'ahadah (mengingat perjanjian) terhadap Allah SWT, maupun terhadap dirinya sendiri. Aktivitas shalat yang dijalankan sehari semalam jika dipahami dengan benar, adalah indikator janji kepada Allah SWT, kemudian disebutnya al-ibadah ritual. Akan tetapi shalat yang dijalankan kurang dipahami sebagai aspek perjanjian (bai'at) sehingga tidak mampu mengubah sikap dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kaitan ini Dr.Abdullah Nasih Ulwan memberi metode cara mu'ahadah yakni hendaklah seseorang mukmin berkhlwat (menyendiri) antara dia dan Allah untuk mengintrospeksi diri seraya mengatakan pada dirinya: "Wahai jiwaku, sesungguhnya kamu tidak berjanji kepada Rabbmu setiap hari di saat kamu berdiri membaca "iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in."&lt;br /&gt;Janji itulah yang selalu keluar dari lisan maupun qalbu seorang muslim setiap melakukan shalat, dengan demikian, seharusnya ditepati sehingga terhindar dari stempel munafik. Padahal Allah SWT menekankan agar setiap orang menepati janji yang telah dibuatnya: "Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji...." (QS.16:91). Kurang memperhatikan dengan perjanjian yang keluar dari lisan seseorang, jika tidak ditepatinya dapat menggugurkan jati diri kemuslimannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Muraqabah&lt;br /&gt;Makna muraqabah adalah terpatrinya perasaan keagungan Allah Azza wa Jalla di setiap waktu dan keadaan serta merasakan kebesaranNya di kala sepi ataupun ramai. Kuatnya kebersamaan dengan Allah SWT dapat menumbuhkan sikap yang selalu berhati-hati dalam berbuat, artinya akan senantiasa disesuaikan dengan aturan syariat. Jika keberadaan seperti ini berjalan secara istimrariyah (berkesinambungan) sudah dapat dipastikan kelak akan lahir pribadi-pribadi yang hanif.&lt;br /&gt;Sikap muraqabah digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW, ketika menjelaskan kata ihsan: "Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya, dan jika memang kamu tidak melihatNya, maka sesungguhnya Allah melihat kamu." Sikap seperti ini di jaman modern sangat dibutuhkan sebagai pengendali udara materialistis yang dapat merusak sendi-sendi keimanan seseorang. Pengendalian melalui muraqabah lebih jauh akan mampu menciptakan tatanan masyarakat yang aman tentram (betul-betul terkendali).&lt;br /&gt;Pelaksanaan muraqabah dimulai ketika akan dimulai saat akan melakukan suatu pekerjaan dan di saat mengerjakannya, hendaknya setiap orang mengoreksinya, apakah telah sesuai dengan aturannya atau sebaliknya. Sehingga ketika sampai pada suatu waktu tertentu akan terlihat, lebih-lebih bertemu dengan kegagalan. Mengapa terjadinya suatu kegagalan, padahal menurut perasaan melakukannya secara maksimal. Inti muraqabah tercermin melalui firman Allah SWT: "Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan melihat pula perubahan gerak badanmu diantara orang-orang yang sujud." (QS.26:218-219).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Muhasabah&lt;br /&gt;Jika merenungkan apa yang disampaikan Umar Al-Farq r.a., tentang makna muhasabah (introspeksi diri) yaitu: "Hisablah (nilailah) diri kalian sebelum kalian dihisab (dinilai), timbanglah diri kalian sebelum ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk pertunjukan yang agung (hari kiamat)." Di hari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal kalian barang satu pun. Kesalahan yang sering terjadi di kalangan manusia melarikan diri dari sikap muhasabah, sehingga melemahkan untuk meningkatkan prestasi ibadah, karena merasa sudah berhasil. Lebih jauh lagi hakikat muhasabah seharusnya seorang mukmin memperhatikan modal, keuntungan, dan kerugian, agar ia dapat mengontrol apakah dagangannya bertambah atau menyusut. Yang dimaksud modal di sini adalah Islam secara keseluruhan, mencakup segala perintah, larangan, tuntutan, dan hukum-hukumnya. Sedangkan pengertian laba adalah melaksanakan ketaatan dan menjauhi larangan. Kemudian yang dimaksud kerugian adalah melakukan perbuatan pelanggaran (dosa). Allah SWT memberikan acuan yang berkaitan dengan muhasabah seperti firmanNya: "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS.59:18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mu'aqabah&lt;br /&gt;Dalam setiap pekerjaan akan berhadapan dengan sebuah perbuatan kesalahan walaupun mungkin ada yang bersifat sengaja atau karena alpa. Ketika berhadapan dengan perbuatan kesalahan yang dilakukan secara sengaja perlu diambil sanksi (mu'aqabah). Namun ajaran Islam yang agung telah memberikan uswah, walaupun perbuatan kesalahan karena alpa sebagai pendidikan adanya tindakan mu'aqabah. Hal ini dapat dilihat dari riwayat, bahwa Uman bin Khatab ra., pergi ke kebunnya. Ketika pulang didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan shalat Ashar. Maka beliau berkata: "Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah shalat Ashar...kini kebunku aku jadikan shadaqah buat orang-orang miskin."&lt;br /&gt;Ibrah yang dapat diambil dari riwayat shahabat, Umar bin Khatab ra bahwa kesadaran untuk mengakui kesalahan atas perbuatan dirinya kemudian diterapkan mu'aqabah secara konsekuen akan membawa dampak positif. Dalam pengertian, dapat dijadikan panutan orang lain, lebih-lebih jika dijadikan panutan oleh para elit kekuasaan. Sekaligus menerapkan aturan hukum diterapkan kepada siapapun tanpa kecuali, bukan perilaku rejim yang menerapkan norma kesewenangan. Pemberian sanksi diberikan atas dasar keadilan yang diberikan Allah SWT setelah sebelumnya diberikan peringatan agar berjalan di wilayah Al-Haq: "....dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan....(QS.2:195). Demikian juga di tempat terpisah Allah SWT mengingatkan manusia supaya waspada yaitu: "....dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS.4:29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mujahadah&lt;br /&gt;Kerja keras secara maksimal merupakan tahapan yang harus diupayakan untuk mencapai keberhasilan. Karena sesuatu yang mustahil kesuksesan didapat tanpa melalui perjuangan dengan sungguh-sungguh dan itulah kemudian disebugt mujahadah (optimalisasi). Secara terminologi makna mujahadah yakni apabila seorang mukmin terseret dalam kemalasan, santai, cinta dunia dan tidak lagi melaksanakan amal-amal sunnah serta ketaatan yang lainnya tepat pada waktunya, maka ia harus memaksa dirinya melakukan amalan-amalan sunnah lebih banyak dari sebelumnya. Kemudian dalam kaitan ini, ia harus tegas, dan penuh semangat sehingga pada akhirnya ketaatan merupakan kebiasaan yang mulia bagi dirinya dan menjadi sikap yang melekat pada dirinya.&lt;br /&gt;Secara tersurat dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman: "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS.29:69). Bentuk mujahadah yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW diperlihatkan ketika menghadapi akhir ramadhan seperti sabdanya: "Apabila Rasulullah memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malam (dengan ibadah), membangunkan keluarganya bersungguh-sungguh dan mengencangkan ikat pinggang." (HR.Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Taskiyatun Nafs&lt;br /&gt;Jika marhalah dalam mencapai ketakwaan dilaksanakan secara maksimal, maka akan melahirkan orang-orang yang senantiasa mengadakan tazkiyatun nafs (pembersihan diri) setiap saat. Tazkiyatun nafs sebagai konsekuensi logis tercapainya situasi ketakwaan kepada Allah SWT yang merupakan cita-cita setiap mukmin.&lt;br /&gt;Karena itulah Allah SWT menegaskan dalam kitab suci Al-Quran: "Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS.62:2). Syamarah (buah) dari tazkiyatun nafs akan tampak dalam perilaku seseorang diantaranya yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Selalu Bersyukur&lt;br /&gt;Mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada seseorang adalah perbuatan mulia, tetapi banyak diantara orang sulit melaksanakannya karena  melupakan nilai nikmat yang sangat besar telah diberikan oleh Allah SWT, kecuali orang-orang yang selalu mengadakan tazkiyatun nafs terhadap dirinya sendiri. Sehingga menurut pandangan yang digariskan oleh Allah sWT dengan bersyukur kepadaNya kenikmatan pun berlipat ganda seperti firmanNya: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya adzabKu sangat pedih." (QS.14:7). Maka pengaruh dari tazkiyatun nafs akan membekas pada seseorang dengan kegiatan selalu melakukan syukur terhadap Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bersabar&lt;br /&gt;Sikap sabar pun hanya akan abadi dalam jiwa seseorang yang selalu dihidupi oleh tazkiyatun nafs,sehingga melahirkan sikap di bawah monitor Al-Haq. Artinya sikap yang keluar ketika menghadapi ujian maupun cobaan hidup akan dihadapi penuh kesabaran serta keimanan kepadaNya. Di samping itu Allah SWT menyertai terhadap orang-orang yang mampu mempergunakan pakaian kesabaran dalam menjalani kehidupan baik pada kondisi suka maupun duka: "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS.2:153).&lt;br /&gt;Terutama dalam menghadapi zaman yang serba materialistis disertai oleh budaya pembaratan, jika hilangnya pakaian kesabaran, maka hidup akan terasa "gerah". Dan telah tampak bukti-bukti yang ada di hadapan mata, betapa kekerasan disertai kriminalitas salah satu penyebabnya pengaruh sosial. Maka orang di sebelah seberang membuat analisis akibat jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, sehingga menimbulkan krisis moral maupun meningkatnya kriminalitas.&lt;br /&gt;Apabila memperhatikan kondisi yang serba panas, terlihat dengan jelas bahwa nilai kesabaran terlemparkan sejauh mungkin. Padahal, sabar sebuah ruh yang harus dijadikan pola hidup oleh orang-orang beriman kepada Allah SWT, RasulNya maupun hari akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pemaaf&lt;br /&gt;Konsekuensi tertanamnya tazkiyatun nafs, juga dapat melahirkan orang-orang yang mampu menahan amarah dan membentuk perilaku pemaaf. Karena dalam udara penuh emosional sulit orang mampu mewujudkan jiwa yang suka memaafkan terhadap kesalahan pihak lain. Sesungguhnya menurut pandangan Islam nilai pemaaf merupakan hasil penataan dari keimanan seseorang. Oleh karenanya Allah SWT mengabadikan dalam Al-Quran: "...dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS.3:134).&lt;br /&gt;Begitu urgensinya seorang mukmin harus mampu menahan amarahnya disertai sikap suka memaafkan kesalahan orang lain, sehingga Rasulullah SAW memberikan petunjuk dalam sabdanya: "Jangan engkau mudah marah." Maka diulangi beberapa kali, sabdanya: "Janganlah engkau mudah marah." (HR.Bukhari,Muslim). Jelas sekali Islam memandang pentingnya untuk memasyarakatkan pemaaf disertai berupaya mampu menahan amarah, bila sudah membudaya maka niscaya akan diikuti orang di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ar-Rahim&lt;br /&gt;Bentuk Ar-Rahim (kasih sayang) Allah SWT diciptakan agar dijadikan landasan hidup setiap orang, sehingga terwujudnya masyarakat yang penuh damai. Hilangnya perasaan kasih sayang yang kemudian diganti oleh pertikaian menjadikan dunia ini penuh malapetaka. Kalau dunia diisi hanya oleh perbuatan biadab dan menafikan nilai Ar-Rahim, jika yang terjadi demikian, kelak Allah SWT menurunkan peringatan: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS.30:41).&lt;br /&gt;Sangat penting untuk menciptakan perasaan kasih sayang agar terhindar dari malapetaka yang diturunkan oleh Allah SWT hanya karena ulah segelintir manusia. Karena pandangan itulah, Allah SWT menegaskan perlu ditekankan kondisi kasih sayang seperti firmanNya: "Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi kasih sayang mereka, kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya." (QS.48:29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Al-Amin&lt;br /&gt;Salah satu akhlak yang menonjol dalam perilaku Rasulullah SAW adalah Al-Amin (terpercaya), yang harus menjadi petunjuk oleh setiap umat Islam. Karena faktor kepercayaan akan mampu menciptakan kondisi yang mendekatkan perilaku kebajikan dalam operasionalitas hidupnya. Dalam menumbuhkan sikap Al-Amin sedikit banyak dipengaruhi oleh diyah (lingkungan) di mana seseorang berada, karena itu perlu adanya orientasi keluar. Dalam pengertian, bergaullah dengan lingkungan yang terhindar dari hilangnya wilayah Al-Amin, seperti Allah SWT memberikan informasi: "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang beriman." (QS.9:119).&lt;br /&gt;Maka peran pergaulanlah dapat mempengaruhi perilaku seseorang, untuk itulah memperhatikan lingkungan dalam dimensi hubungan sosial yang dapat menciptakan situasi aman tenteram sejauh mana adanya upaya ke arah ke sana. Demikian pula, jiwa Al-Amin pada hakikatnya fitrah yang melekat dalam jiwa seseorang, tetapi sering terabaikan untuk dimanfaatkan sesuai aturan syariah. Jalan taqwa yang menjadi pilihan seseorang merupakan kesuksesan untuk meraih kondisi tazkiyatun nafsi, kemudian terbangunnya ketenangan lahir batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Al-Falah&lt;br /&gt;Puncak tazkiyatun nafsi yang sebelumnya telah melakukan aktivitas syukur hingga al-amin sebagai syamarah (buahnya) adalah alfalah (kemenangan). Al-Falah yang diraihnya bukan hadir tanpa  melalui proses tadhiyah untuk meraihnya. Ketaatan/tsiqah kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW menyertainya: "Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan RasulNya dan takut kepada Allah dan bertaqwa kepadaNya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan." (QS.24:52).&lt;br /&gt;Kemenangan yang dijanjikan Allah SWT sekaligus sebagai cambuk untuk berada serta mampu mempertahankan nilai ketaqwaan sampai akhir zaman. Ketika dimilikinya, tentu usaha untuk mempertahankan al-falah dalam sikap yang sesuai dengan syari'atullah, jika melenceng akan menjadi preseden kurang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. Al-Fujura&lt;br /&gt;Sifatul insan yang bertentangan dengan sifat at-taqwa adalah al-Fujur (fasik), sehingga jalan ini harus dihindarkan jangan sampai masuk ke ruang hati maupun pikiran seorang mukmin. Dimiliki sifat fujur karena dominasi kecintaan kepada dunia secara berlebih-lebihan, sehingga kewajiban kepada Allah SWT atau hukum-hukumNya diabaikan. Kelompok fasik ditegaskan Allah SWT: "Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (QS.9:24).&lt;br /&gt;Kefasikan yang melanda jiwa seseorang selain orientasi keduniaan lebih dominan, juga banyak melakukan kemaksiatan lewat kehidupan sehari-hari, dengan melupakan untuk bertaubat (perbaikan) sehingga berbuat penyimpangan terbiasa. Dengan lain perkataan, selalu memproduksi penyakit atau mengotorinya (at-tadbiniyyah) syariat Islam. Jika demikian kenyataannya, maka dominasi kefasikan akan membawa kerugian ummat manusia dunia maupun akhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. At-Tadbiniyyah&lt;br /&gt;Aktivitas orang-orang fasik pada hakekatnya at-tadbiniyyah (mengotori) ketentuan Allah SWT yang seharusnya mampu mengaktualisasikannya semata-mata untuk beribadah kepadaNya secara kaffah. Bentuk nyata dari usaha at-tadbiniyyah terhadap hukum Allah SWT, akan tampak dari aktivitas seseorang yang terkena penyakit fasik yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. 'Ajuulan&lt;br /&gt;Akibat kefasikan yang melanda hati dan pikiran, seseorang akan tampak dalam berperilaku 'ajuulan (terburu-buru), sehingga hasilnya kurang memuaskan, kemungkinan lain dapat merugikan semua pihak. Betapa berbahayanya, orang yang di luar terkena getahnya, padahal tidak mengetahui permasalahannya. Di samping itu, manusia mempunyai sifat tergesa-gesaan seperti ditegaskan oleh Allah SWT: "Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa." (QS.17:11).&lt;br /&gt;Perbuatan yang dilakukan secara tergesa-gesa pada hakekatnya bentuk orang-orang yang membelakangi sunnatullah dan ketidakmampuan menghadapi kesabaran. Sehingga ditempuh jalan garis cepat, yang sebenarnya akan berhadapan dengan kerugian serta berbagai benturan. Pada akhirnya tercipta kondisi yang tidak menentu dan kemudian lahirlah sikap ragu-ragu terhadap langkah berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Al-Maluu'a&lt;br /&gt;Bentuk kefasikan yang lainnya dalam mengotori kebenaran al-Haq yaitu dimilikinya sifat keluh-kesah dalam jiwa seseorang. Terjadinya al-maluu'a (keluh-kesah) dalam diri seseorang merupakan sebuah rangkaian yang tidak terlepaskan dari hasil kefasikan, karenanya hidup selalu merasa terasingkan. Jika hanya dipahami secara kasar orang mengatakan, bentuk keluh-kesah (al-maluu'a) diciptakan oleh Allah jadi tidak perlu dipermasalahkan.&lt;br /&gt;Sebenarnya bukan permasalahan yang jadi konteks di sini, namun menunjukkan bahwa kekuasaan Allah SWT dalam menciptakan sesuatu. Termasuk pengertian al-maluu'a seperti firmanNya: "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah lagi kikir." (QS.70:19). Sekaligus informasi, bahwa Allahlah yang memiliki kekuasaan dan penguasa, karena manusia berhadapan dengan kondisi keluh-kesah sekalipun tidak mampu meninggalkannya. Oleh karena mengapa bangga akan kesombongan diri sendiri, tidakkah kita seharusnya memikirkan ayat-ayatNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Al-Qatuura&lt;br /&gt;Bentuk perilaku kotor dalam bentuk lain yang ada pada jiwa orang-orang fasik yakni Al-Qatuura (kikir), seolah-olah segalanya adalah milik dirinya sendiri baik harta maupun tahta sekalipun. Padahal menurut aturan Allah SWT semuanya merupakan amanah yang harus dipenuhi ketentuannya, seperti diberikannya harta, di dalamnya ada hak orang lain: "Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian." (QS.51:19).&lt;br /&gt;Walaupun manusia memiliki sifat kikir seperti dalam firmanNya: "Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya. Dan adalah manusia itu sangat kikir." (QS.17:100). Akan tetapi tidak demikian, jika seseorang yang komitmen terhadap keimanannya. Karena menyadari, bahwa rizki yang Allah SWT berikan sesungguhnya amanah semata, yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali olehNya. Jika setiap umat menyadari asal-usul rizki secara proposional, tentu akan melahirkan pribadi-pribadi yang abid (ahli ibadah) seperti akhlak para salafus shalihin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Al-Kafuuraa&lt;br /&gt;Konsekuensi mengambil jalur kefasikan maka melahirkan penyakit al-kafuuraa (kafir) dengan kata lain perkataan mengingkari terhadap kebenaran. Kelompok umat ini, pada hakekatnya mengetahui adanya kebenaran, tetapi menutup hati untuk melakukannya (amal) karena kekafiran yang terdapat di dalam dirinya. Sehingga Allah SWT memberikan informasi keberadaan orang-orang kafir seperti diabadikan Al-Quran: "Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat." (QS.2:67).&lt;br /&gt;Makna al-kafuuraa secara lebih jauh dapat dipahami baik secara i'tiqadi (keluar dari Islam) maupun kafir secara amali (pengamalan). Dalam konteks kehidupan sehari-hari yang lebih dominan kafir secara amali (pengamalan), walau pun hatinya masih Islam. Sehingga yang perlu pemikiran lebih dalam, adanya usaha untuk mengembalikan ummat ke jalan ketaqwaan sekaligus meninggalkan sikap kekafiran baik kafir i'tiqadi maupun kafir secara amali. Kekafiran yang terdapat dalam jiwa seseorang baik secara i'tiqadi maupun kafir amali, pada hakekatnya akan menempatkan dirinya pada suatu kerugian, sehingga aktivitas amaliyahnya tidak mendapat nilai menurut pandangan Allah SWT, dalam Al-Quran yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong." (QS.3:21-22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Al-Jahuula&lt;br /&gt;Bentuk pengobatan lain sebagai konsekuensi jalan kefasikan seseorang, adalah terkena al-jahuula (bodoh) terhadap kebenaran, kemudian merasakan pemilikan al-jahuula tidak dianggap lagi sebagai penyakit yang dapat mengganggu hubungan dengan Allah sWT (hablum minallah) maupun keterkaitannya dengan sesama manusia (hablum minannas). Efek itulah yang selanjutnya dapat mengubah sikap kebaikan kepada kebatilan sebagai sarana jalan syaitan laknatullah.&lt;br /&gt;Sebagai diilustrasikan Allah SWT ketika menawarkan tanggung jawab untuk melaksanakan amanat yang ditolak oleh gunung, langit maupun bumi tetapi manusia menerimanya, seperti firmanNya: "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh." (QS.33:72).&lt;br /&gt;Al-jahuula pada dewasa ini lebih tampak tercermin melalui kebijakan yang diambil seseorang untuk memilih antara kebenaran dan kebatilan, tetapi pilihannya justru kepada kebatilan, yang sesungguhnya mereka mengetahuinya akan mendapat murka (azab) dari Allah SWT kenyataan seperti ini, bukanlah sesuatu yang mengherankan, tetapi dalam zaman yang serba materialistis ini kemungkinan bisa terjadi seketika. Bahkan kebenaran pun bisa dibeli dengan segepok uang!  Itulah realita yang sungguh ironis terjadi di jaman sekarang ini. Karena hilangnya kewaspadaan pada tiap-tiap diri seseorang, kemudian hidupnya diliputi oleh ketergantungan yang bersifat materi semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. Khatimah (Penutup)&lt;br /&gt;Setelah menelusuri dua sifat Al-Insan antara at-Taqwa dan al-Fujuur yang masing-masing memiliki konsekuensinya. Tentunya bagi pilihan jalan taqwa akan mendapat berbagai keberuntungan, dan sebaliknya jika jalan al-fujuur yang menjadi alternatifnya pintu kesengsaraan akan diraihnya. Pada akhirnya Allah sWT memberikan pilihan kepada setiap ummat untuk mengambil sikap antara iman atau kafir dan harus dipertanggungjawabkan atas hasilnya kelak.&lt;br /&gt;Konsep demokrasi yang ditawarkan oleh Allah SWT tercermin melalui firmanNya, yang artinya: "Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir, sesungguhnya kami telah sediakan bagi orang-orang zhalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka." (QS.18:29).&lt;br /&gt;Jalan taqwa adalah pilihan yang tepat bagi orang-orang beriman dalam menyelamatkan dirinya untuk menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. (QS.2:201).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-7701920166824425563?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/7701920166824425563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=7701920166824425563' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/7701920166824425563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/7701920166824425563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/08/marifatul-insan-mengenal-diri-manusia.html' title='Ma&apos;rifatul Insan (Mengenal Diri Manusia)'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-5643532845369670383</id><published>2007-08-01T05:19:00.000+07:00</published><updated>2007-08-01T05:20:23.359+07:00</updated><title type='text'>Mari Tebarkan Perdamaian</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lelah dan bosan rasanya setiap saat kita melihat berita di televisi maupun berita di surat kabar, di mana-mana di seluruh penjuru dunia, bahkan di sudut paling terpencil di bumi ini selalu saja ada berita tentang pembunuhan, perampokan, penjarahan, penghancuran budaya, pemusnahan ras, sentimen dan kebencian antar agama, terorisme, anti terorisme, kebencian, kemarahan, dendam, saling bunuh, saling caci, bom bunuh diri, perang, kerusuhan dan unjuk rasa. Berbagai media baik cetak maupun elektronik sepertinya sekarang cenderung beramai-ramai menjual kebencian dan kemarahan.&lt;br /&gt;Berbagai acara sinetron baik yang bertema remaja hingga yang berkedok berbalut agama, bila kita perhatikan dengan seksama, inti ceritanya hanya satu, yaitu menjual kemarahan, kebencian, keserakahan, dan angkara murka.  Walau sepertinya memberikan kesan pelajaran moral, maupun filsafat agama, namun 90% yang lebih ditonjolkan adalah nafsu kebencian, kebendaan, hedonisme, angkara murka, dendam, dan pembalasan dendam.  Apakah tidak ada hal yang lebih baik dari itu yang bisa disuguhkan dan mengisi hari-hari kita sebagai manusia yang berakal budi ?&lt;br /&gt;Sudah sejak ribuan tahun peradaban manusia, selalu hanya diisi dengan kebencian, keserakahan, kemarahan, dendam dan pengkhianatan.  Simak saja buku-buku sejarah, mulai dari sejarah kuno kerajaan-kerajaan di dunia, (mulai dari Kerajaan Romawi kuno, Yunani kuno, Mesir kuno, Sumeria, Mesopotamia, Babylonia, Troya, hingga Kerajaan Singosari di Indonesia), sejarah modern (mulai dari revolusi di Rusia, revolusi Perancis, Imperialisme Jerman, Belanda, Inggris, Portugis, Spanyol, Amerika, hingga berbagai kejadian kerusuhan politik di negeri ini, yaitu negeri Indonesia, mulai sejak Indonesia merdeka hingga jaman reformasi yang tak pernah sepi dari berbagai pertentangan, kebencian, pemberontakan, pembunuhan politik hingga masalah terorisme yang marak akhir-akhir ini).  Semuanya kalau direnungkan hanya mengarah pada satu kata : “ANARKISME”.  Manusia cenderung menyeret dirinya sendiri kepada kerusakan dan kemusnahan, bahkan kepunahan. &lt;br /&gt;Kepunahan ?  Benar, kepunahan !  Sudahkah Anda menghitung berapa banyak ras manusia yang telah punah sejak awal penciptaan hingga sekarang ?  Ratusan bahkan ribuan ras dan suku bangsa di dunia telah tercatat punah sejak ribuan tahun yang lalu.  Mengapa ?  Semuanya punah hanya karena kesalahan mereka sendiri !  Hampir semua ras tersebut punah karena peperangan di masa lalu.  Peperangan yang diikuti oleh tindakan pemusnahan ras suku bangsa yang kalah perang !   Rasa kebencian dan angkara murka yang bersemayam di dada manusia ternyata jauh lebih besar daripada rasa cinta kasih dan rasa sayang !  Jangankan menyayangi dan saling mencintai manusia yang berbeda ras  dan suku bangsa, bahkan yang masih mempunyai ikatan hubungan darah pun, manusia dalam sejarahnya begitu tega dan begitu barbar sedemikian gampangnya mengotori tangannya dengan darah saudaranya, darah ayahnya, darah ibunya dan bahkan darah anaknya sendiri, hanya demi tahta kerajaan !  Ini terjadi pada kerajaan-kerajaan kuno di masa silam, mulai dari Kerajaan Romawi, Yunani, Mesir, Sumeria, Babylonia, Assyria, Troya, bahkan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia pada masa silam.&lt;br /&gt; Di masa modern seperti sekarang, ada saja yang dijadikan alasan untuk menumpahkan darah manusia satu sama lain, mulai dari masalah geopolitik, masalah sumber energi (minyak), kekayaan alam, sumber air,  ideologi, sentimen agama, hingga alasan klise yaitu untuk menyelamatkan kepentingan bangsa dan negara.  Bahkan tak jarang, berbagai pembunuhan dan penyebaran kebencian dan sentimen terhadap suatu golongan, kelompok, bangsa atau ras lain dilegitimasi dan nyata-nyata diproklamirkan dan dipropagandakan oleh otoritas pemerintahan suatu negara. Selalu saja ada alasan pembenaran terhadap semua kebencian yang ada.    Dalam contoh kasus yang seperti ini, sudah banyak yang terjadi, mulai dari negara kecil hingga negara superpower di dunia sepertinya dengan ringan saja melegalkan dan bahkan memprogramkan “Program Nasional dan Internasional Tebar Kebencian” seperti ini.  Bahkan program tebar kebencian ini sudah didukung oleh teknologi canggih dan disebarluaskan dengan teknologi satelit.  Berbagai perusahaan media raksasa dunia berebut mengambil andil dalam propaganda dan usaha mempengaruhi persepsi dan perspektif pandangan masyarakat dunia internasional dalam menyikapi dan melakukan pembenaran terhadap segala tindak kekejian dan pembantaian terhadap berbagai macam suku bangsa, ras, golongan, dan pemeluk agama tertentu di dunia saat ini. Bahkan dengan sokongan iklan komersial dari perusahaan-perusahaan raksasa produsen barang konsumsi dunia, terbukti menjadikan semua tayangan kekejian itu terasa indah dan artistik, berbalutkan berbagai kepentingan bisnis, proyek investasi dan terkait erat dengan pasar bursa modal internasional (bursa saham dan bursa komoditi).  Kita lihat saja, dunia sekarang semakin panas dengan perang bergolak di mana-mana !  Perang dan pergolakan di suatu kawasan di dunia merupakan tambang emas dan prospek bisnis dengan tingkat keuntungan tiada tara.  Bayangkan berapa banyak perusahaan swasta pemasok senjata, perusahaan swasta produsen peralatan perang seperti tank, panser, helicopter, pesawat tempur, sampai penyedia teknologi satelit, perusahaan infrastruktur, perusahaan katering, perusahaan konveksi, perusahaan pertambangan, perusahaan media seperti televisi, koran, radio dan majalah, serta investor-investor asing yang diuntungkan dari adanya perang dan kerusuhan ?  Investor-investor asing biasanya berebut memperoleh tender dari pihak yang menang perang atau rezim baru yang berkuasa, guna memperoleh hak istimewa dalam pembangunan kembali infrastruktur dan proyek-proyek pembangunan kembali daerah yang luluh lantak akibat perang.  Belum lagi perusahaan-perusahaan swasta internasional yang bergerak di bidang jasa penyediaan tentara swasta (mercenaries) atau pasukan bayaran dan penyedia jasa spionase dengan teknologi canggih ! Keuntungan yang bisa dipetik bernominal hingga trilyunan dolar !  Semuanya merupakan suatu paket bagian dari konspirasi global program Tebar Kebencian yang semakin marak dewasa ini.  &lt;br /&gt;    Dengan makin meningkatnya peradaban, kebudayaan, serta meningkatnya tingkat kecerdasan, tetap saja tidak juga menyadarkan manusia akan KEBODOHANnya yang sudah berlangsung selama ribuan tahun, yaitu sifat ANARKISnya yang tak kunjung habis.  Sifat anarkis atau sifat merusak tak kunjung hilang dari dada dan otak manusia !  Semuanya bersumber dari adanya nafsu amarah dan kebencian yang begitu berkobar dan senantiasa dipupuk oleh adanya jargon-jargon, propaganda politik, hingga pidato-pidato yang isinya menghasut orang dan menumbuhkan kebencian di dada setiap orang !  Para provokator inilah yang mempunyai andil dan dosa kumulatif terbesar karena mereka-mereka inilah yang memprovokasi dan meracuni akal pikiran serta hati manusia-manusia lain agar saling benci satu sama lain, saling bunuh satu sama lain !  Pertanyaannya, atas dasar apa dan mengapa mereka sampai hati menebarkan benih-benih kebencian, amarah dan dendam di dada setiap orang ?  Dan mengapa setiap orang demikian bodohnya mau menyerap semuanya begitu saja tanpa memprosesnya terlebih dulu di otak manusianya yang katanya lebih besar daripada otak makhluk yang lain ?&lt;br /&gt;    Sering kali justru para provokator sendiri tidak tahu alasan mereka mengapa mereka begitu pandai dan lihai menyebar benih-benih kebencian !  Mungkin ikut-ikutan pada provokator senior yang sudah terlebih dulu meracuni otak-otak mereka ! Dalam banyak kasus, para provokator ini mengatasnamakan program tebar kebencian mereka dengan atas nama kepentingan bela negara, kepentingan persatuan universal umat manusia, kepentingan bela agama, atau atas nama primordialisme suku bangsa dan ras tertentu !  Sungguh betapa sempitnya penalaran dan cara berpikir yang seperti itu !  Bahkan Tuhan pun tidak pernah mengajarkan manusia untuk saling benci, atau saling bunuh hanya atas nama kepentingan membela nama Tuhan dan agama !  Tuhan Maha Penyayang, mana mungkin Tuhan merestui manusia (yang notabene adalah salah satu makhluk ciptaanNya) untuk seenaknya mencabut nyawa manusia yang lain atau merusak ciptaanNya hanya karena pembenaran oleh diri manusia itu sendiri tanpa tahu bahwa Tuhan sebenarnya tidak pernah merestui segala tindak angkara murka manusia itu. &lt;br /&gt;Apakah Anda tidak pernah berpikir, mengapa begitu banyak agama di dunia ini?  Hal itu karena Tuhan selalu mengutus utusan Tuhan (Nabi dan Rasul) untuk selalu menyadarkan manusia dari jaman ke jaman, bahwa segala bentuk anarkisme, keangkaramurkaan, kebencian haruslah segera diakhiri !  Bahkan jumlah Nabi dan Rasul yang pernah diturunkan oleh Tuhan konon  jumlahnya sudah mencapai ribuan sejak jaman penciptaan hingga sekarang.  Berarti sudah ada ribuan agama yang pernah hadir di dunia ini sejak jaman penciptaan hingga sekarang.  Semuanya mengajarkan satu kebaikan, agar manusia selalu mengingat Tuhan Sang Pencipta, agar manusia saling mengasihi dan mencintai satu sama lain, agar manusia hidup berdampingan secara beradab dan terhormat di muka bumi ini.  Namun manusia tidak pernah sadar, walaupun dari jaman ke jaman selalu diutus seorang Nabi dan Rasul baru oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan ajaran-ajaran agama dan kalimat-kalimat Tuhan, tetap saja manusia demikian bebal dan bodoh tidak mau mendengar namun justru cenderung menuruti kata hati dan nuraninya sendiri yang sebenarnya sudah sehitam arang, karena terlalu banyak dosa yang diperbuat !  Manusia tidak lagi bisa membedakan mana yang baik dan hakiki dan mana yang buruk ! Semuanya bagi manusia kini adalah abu-abu, sangat tipis beda antara yang benar dan baik dengan yang salah !  Bahkan manusia dengan demikian bodohnya mengatasnamakan Tuhan dan agama sebagai pembenaran untuk menyerang dan menebar kebencian antar pemeluk agama lain atau ras manusia yang lain !  Tidak sadarkah manusia bahwa sebenarnya Tuhan tidak pernah mengajarkan manusia untuk saling benci satu sama lain, bahwa  agama yang begitu banyak jumlahnya di dunia ini sebenarnya bersumber dari Tuhan juga ?  Marilah semua ini kita renungkan demi kebaikan kita semua !&lt;br /&gt;Semua kekacauan dunia dan keserakahan manusia sebenarnya bersumber dari keinginan, dan nafsu kebendaan !  Sudahkah manusia benar-benar bersyukur dan mensyukuri apa saja yang sudah dimilikinya saat ini  dan tidak terlalu berambisi untuk mengejar segala sesuatu yang belum dimilikinya?  Sadarkah manusia bahwa sumber penderitaan terbesarnya adalah karena sebenarnya manusia terlalu banyak memelihara keinginan dan nafsu kebendaan ? Semuanya karena sebagian besar manusia tidak pernah bersyukur atas apa saja nikmat yang telah dimilikinya saat ini yang telah dikaruniakan Tuhan padanya !  Penderitaan terbesar manusia adalah karena ia tak pernah bisa bersyukur !  Karena tidak bisa bersyukur, maka manusia tidak pernah bisa mencintai dan menyayangi manusia yang lain, karena ia sibuk memikirkan dirinya sendiri untuk mengejar apa yang diinginkannya tanpa mempedulikan hak orang lain ! Bahkan dengan tega ia bisa dengan mudah merampas hak orang lain, bahkan hak hidup orang lain !  Di situlah manusia mulai kehilangan kemanusiaannya, karena ia mulai kehilangan kemampuan untuk mencintai dan menyayangi orang lain !  Bila manusia sudah bisa mencintai dan menyayangi orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri, dan mencintai Tuhan melebihi dirinya sendiri, mungkin barulah dunia ini akan tenang dan damai seperti yang selalu diimpi-impikan oleh seluruh umat manusia.  Marilah kita mulai menebarkan cinta kasih dan perdamaian dimulai dari lingkungan terdekat kita ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tulisan ini dipersembahkan karena rasa keprihatinan yang mendalam atas begitu banyaknya rasa kebencian dan angkara murka yang semakin banyak dijumpai di sekitar kita dewasa ini.  Tulisan ini bersifat universal dan menyuarakan suara perdamaian ditinjau dari agama apapun.  Tulisan ini ditulis dengan maksud untuk mengurangi ketegangan dan sentimen antar agama, ras, maupun warna kulit yang semakin marak berkembang di dunia saat ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-5643532845369670383?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/5643532845369670383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=5643532845369670383' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/5643532845369670383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/5643532845369670383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/08/mari-tebarkan-perdamaian.html' title='Mari Tebarkan Perdamaian'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-2348632404525395082</id><published>2007-07-31T05:33:00.001+07:00</published><updated>2007-07-31T05:33:38.189+07:00</updated><title type='text'>Disiplin dalam Kebenaran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jika kebenaran dan kejujuran sudah menjadi perilaku seseorang, ke mana, di saat dan di mana pun dia berada, dia tidak akan takut kendati mungkin banyak lawan maupun orang yang iri hati, hasad, dan dengki. Sebagaimana pernah terjadi pada diri baginda Umar bin Khaththab, khalifah kedua yang tegas, bijak dan jujur serta memiliki disiplin yang tinggi. Pada suatu malam beliau keluar rumah sendirian untuk mengadakan penelitian sampai di mana kemantapan dan kedisiplinan warganya dalam melaksanakan tugasnya, baik dalam bidang ekonomi maupun sosial dan lainnya. Tiba-tiba di tengah jalan yang gelap gulita itu beliau bertemu seorang sahabat. Sahabat itu memperingatkan agar baginda jangan keluar sendirian di malam yang gelap-gulita seperti ini, karena dikhawatirkan akan ada orang-orang yang tidak suka, lalu berbuat jahat kepadanya. Namun apa kata baginda Umar ketika itu, dengan singkat jawabnya: "Mengapa aku harus takut, selama di dalam kebenaran."&lt;br /&gt;Di dalam Al-Quran surat At-Taubah : 13 ada firman Allah yang senada dengan ucapan baginda Umar tersebut, yang artinya: "Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah lah yang lebih berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi Gangguan&lt;br /&gt;Di dalam mengarungi lautan hidup ini, tidak lepas dari menghadapi gangguan, tantangan dan rintangan. Sesungguhnya tak ada hidup tanpa tantangan dan rintangan. Lebih-lebih menghadapi mereka yang memang tidak senang melihat ketinggian dan kemajuan Islam.&lt;br /&gt;Ada golongan yang bersusah hati jika kaum muslimin memperoleh kebaikan dan kemajuan. Tetapi mereka sangat gembira dan bersenang hati jika kaum muslimin tertimpa malapetaka, kesusahan dan bahaya. Sebagaimana firman Allah SWT: "Jika kamu beroleh kebaikan, niscaya mereka susah, tetapi jika kesusahan menimpa kamu,  maka bergiranglah mereka. Dan jika kamu sabar dan berbakti tidaklah menyusahkan kamu tipu daya mereka sedikit jua pun. Sesungguhnya Allah mengepung apa yang mereka kerjakan." (Q.S.Ali Imran:a.120).&lt;br /&gt;Tidur mereka tidak tenang lagi, makan mereka tidak enak lagi. Mereka sendiri yang meracuni jiwa mereka dengan rasa benci dan dendam itu. Mereka susah melihat orang beruntung. Kalau kaum muslimin ditimpa oleh kesusahan, mereka gembira, tertawa-tawa dan merasa puas hati. Padahal di dalam perjuangan hidup, senang dan susah tidaklah pernah terpisah satu sama lain.&lt;br /&gt;Kesusahan yang menimpa kaum muslimin sekali-kali bukan berarti gagal dalam perjuangan.&lt;br /&gt;Orang-orang yang dengki melihat kemajuan orang lain, adalah termasuk orang yang Fii Quluubihim Maradhun yang dalam hati mereka ada penyakit. Hati busuk yang demikian tidaklah dapat mereka tutupi. Muka orang seperti itu keruh selalu, bahkan kadang-kadang bibir mereka berubah bentuknya, karena mulut mereka selalu digunakan untuk mencemooh.&lt;br /&gt;Orang mukmin yang berjuang menegakkan kebenaran Ilahi, dipesan oleh Allah supaya memegang teguh kesabaran dan taqwa, tetap berdisiplin. Sabar, tabah jangan tergoncang daya upaya si busuk hati, si dengki iri hati. Supaya kebenaran itu bisa teguh, hendaklah selalu diberi dasar dengan taqwa. Karena taqwa adalah hubungan pribadi dengan Allah. Pribadi yang bertaqwa itulah yang akan sanggup menahan hati, tabah, dan tetap sabar selalu menjaga disiplin sehingga jalan terus menuju kepada yang dimaksud.&lt;br /&gt;Adapun si kufur, si dengki dendam dan busuk hati, semua rencana mereka akan gagal karena di segala penjuru mereka telah dikepung oleh Allah dengan akibat-akibat yang tertentu. Sebagaimana kata pepatah: "Kecurangan tidak pernah menang menghadapi kejujuran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit yang Tidak Boleh Dibiarkan&lt;br /&gt;Di dalam merenungkan firman Allah di atas tadi, teringat kita kepada orang-orang munafik pada jaman kemajuan. Dengan lidah yang fasih mereka menyebut nama Allah, membuka dengan ucapan "Bismillahirrahman nirrahiim," dan menyebut : Muhammad shalallahu 'alaihi wassallama' dsb, padahal hatinya selalu bergemuruh dengan api kedengkian dan kebencian bagaikan direndang dengan kacang miang kalau kaum muslimin mendapat kemajuan.&lt;br /&gt;Kaum muslimin diserukan oleh mereka supaya bangun dan bangkit berjuang demi tegaknya Islam, namun hati mereka berkata lain mengatakan biarlah mati karena benci. Ditipunya kaum muslimin berpuluh bahkan beratus kali. Kaum muslimin yang malang tetapi jujur kalau mendengar nama seseorang yang berjabatan tinggi selalu bertanya: "Sholat tidak bapak anu itu?" Demikian karena harapannya semoga hukum Allah berlaku, senang benar hatinya kalau ada seorang penting diangkat sambil berdoa dalam hatinya mudah-mudahan orang itu golongan awak juga (golongan orang-orang muslim yang taat). Padahal alangkah sedih hatinya, pengharapan mereka jadi hampa. Orang yang mereka sangka hendak menegakkan Islam ternyata berusaha berusaha meruntuhkannya. Kadang-kadang dia tertipu mendengar namanya. Semuanya ini adalah perbuatan apa yang dinamakan sebagai orang-orang munafik. Mulut-mulut manis penuh seribu janji demi mengelabui rakyat jelata, mengatasnamakan agama Allah demi keuntungan pribadi atau golongan, berdakwah seakan-akan demi tegaknya Islam padahal semata-mata niat utamanya hanyalah sekedar propaganda demi memperoleh dukungan agar menang dalam pemilihan suara.  Kalau sudah terpilih menjadi seorang wakil rakyat atau pemimpin, mereka tak ubahnya seperti orang yang bisu tuli, tidak lagi mau mendengar suara hati dan jeritan kaum muslimin yang teraniaya, yang hidup dalam kefakiran, yang menjadi bulan-bulanan fitnah. Mereka hanyalah segerombolan orang munafik yang mementingkan kepentingan pribadi, tidak pernah peduli dengan nasib orang lain, atau bahkan lebih keji lagi mungkin menjual agama dan keyakinannya hanya demi segepok uang atau tender bisnis bernilai trilyunan dollar. Naudzubillah min dzalit. Gejala kemunafikan yang seperti ini tampaknya akhir-akhir ini demikian nyata semakin terlihat. Rakyat dan kaum muslimin hanya bisa mengelus dada menyaksikan semua kekejian ini. Semoga Allah segera memberikan petunjuk dan cahaya terangNya untuk menyinari dan membersihkan batin-batin yang telah terlanjur kotor itu, mengembalikan mereka kembali ke jalan yang benar, jalan yang ditunjuki Allah, kembali kepada penegakan kembali keadilan tanpa pandang bulu, kembali bisa melihat mana yang benar dan haq dan mana yang batil. Semoga mata hati mereka kembali bisa melihat dan tidak lagi buta, telinga mereka semoga bisa kembali mendengar dan tidak lagi tuli. Semoga..&lt;br /&gt;Perbuatan orang-orang munafik yang curang sedemikian itu, adalah penyakit yang berbahaya bagi kaum muslimin dan juga bagi bangsa dan negara.&lt;br /&gt;Tuhan terangkan semuanya itu supaya kaum muslimin mengetahui bahwa di dalam masyarakat itu ada orang-orang yang sifatnya seperti kuaman penyakit. Penyakit yang tidak boleh dibiarkan saja, tetapi harus dienyahkan dan dikeluarkan dari tubuh masyarakat kaum muslimin.&lt;br /&gt;Tanda-tanda penyakit itu sudah diterangkan oleh Allah SWT dalam ayat Al-Quran tadi. Tetapi adakah juga Tuhan terangkan obat penyembuhnya? Jawabnya tentu saja ada obatnya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: "Likulli daa-in dawaa-un faidzaa ushiiba dawaa-ud daa-i baaria bi idznillahi ta'ala." Artinya: "Bagi tiap-tiap penyakit ada obatnya, maka apabila obat itu dikenakan pada penyakit itu niscaya sembuhlah dengan izin Allah Ta'ala." (H.R. Ahmad dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan dan Pembelaan Allah&lt;br /&gt;Obat yang Allah tunjukkan dalam Al-Quran buat membunuh racun yang bekerja dalam tubuh kaum muslimin, adalah obat yang mujarab sekali, dibenarkan oleh pendapat ahli-ahli hikmah dan oleh orang-orang bijaksana.&lt;br /&gt;Adapun penyakit yang ditimbulkan oleh orang-orang munafik dan curang itu ialah penyakit hasad, dengki. Maka obatnya yang telah Tuhan terangkan ialah sabar dan taqwa (berbakti kepada Allah).&lt;br /&gt;Sabar artinya tetap bertahan atau berteguh hati kuat menghadapi gangguan dan permusuhan mereka dan segala penyakit bahaya dan fitnah yang ditimbulkan oleh mereka. Sabar menerima segala macam kesusahan dan ujian yang menimpa, jangan gelisah jangan berubah dari cita-cita yang benar dan jangan terpengaruh dengan gangguan mereka. Dan sabar pula dalam menghadapi kesenangan dan nikmat yang datang berlimpah-limpah, jangan lupa daratan, jangan berbelok dari jalan yang hak, jangan terpengaruh dengan sanjungan dan pujian.&lt;br /&gt;Pendeknya tetaplah dalam pendirian sekalipun ditimpa bahaya kesusahan atau dihujani kesenangan, dan kemewahan. Di waktu mendapat bahaya harus bersabar dan di waktu mendapat kesenangan harus bersyukur kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah SAW: "Man u'thia fasyajara, wa-abtulia fasabara wa zhalama fastaghfara tsumma sakata faqaaluu ya Rasulullah ma lahu? Qaala ulaaika lahumul amnu wahum muhtaduun." Artinya: "Barang siapa diberi lalu ia bersyukur, mendapat cobaan dia sabar, bila melakukan tindakan aniaya dia mohon ampun, dan bila dia dianiaya dia maafkan, kemudian Rasulullah diam, lalu para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, dapat apa ia? Jawabnya: Mereka itulah memperoleh ketentraman dan mereka itu mendapat petunjuk." (HR.Thabrari).&lt;br /&gt;Adapun bakti arti disipilin menjalankan perintah Tuhan. Kerjakan yang diperintah dan jauhkan yang dilarang, kemudian berserah diri bulat-bulat kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;Gangguan musuh dalam selimut itu janganlah sampai mempengaruhi keadaan, jangan melanggar larangan Tuhan, jangan menyia-nyiakan perintahNya. Anggaplah gangguan musuh dalam selimut itu, sebagai nyamuk atau kutu busuk yang menggigit menyadarkan kita jangan sampai terus-menerus tidur. Inilah satu didikan dan pengajaran dari Allah SWt. Buat kita menghadapi orang-orang hasad dengki, yang selalu bekerja buat menimbulkan kerusakan dan kerusuhan dalam masyarakat kaum muslimin dari sebelah dalam yaitu kita hadapi dengan sabar dan bakti kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;Kalau semua resep ini dijalankan oleh kaum muslimin dalam menghadapi gangguan musuh dalam selimut atau lawan yang berbaju kawan, niscaya segala tipu daya musuh, segala macam cara jahat sebagai perangkap, buat mengacaukan masyarakat kaum muslimin, tidaklah membahayakan kaum muslimin. Karena kaum muslimin sudah berada dalam pemeliharaan dan penjagaan Tuhan, dalam bantuan dan pembelaanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Orang-orang bijaksana mengatakan, apabila engkau ingin membikin tidak berdaya usaha orang-orang yang dengki, musuh-musuh yang memakai pakaian kawan, yang mengaku beriman hanya di hadapan, imannya hanya di bibir padahal hatinya lebih banyak condong kepada kufur, yang lebih senang kalau kaum muslimin hancur lebur, jangan sekali-kali mereka itu dijadikan tempat menumpahkan kepercayaan buat kepentingan agama dan umat. Karena mereka tidak akan bekerja meninggikan agama dan tidak pula mereka bekerja memajukan kaum muslimin, bahkan mereka bekerja buat memadamkan Islam dan menghancurkan kaum muslimin. Maka waspadalah kepada tipe-tipe orang seperti itu! Mereka adalah musuh yang nyata!&lt;br /&gt;Kalau segala gangguan dan fitnah yang mereka timbulkan dalam masyarakat Islam itu dihadapi dengan sabar dan bakti kepada Allah, niscaya tipu daya jahat mereka sedikitpun tidak akan membahayakan Islam dan kaum muslimin. Jangan dihiraukan tipu daya mereka, karena Allah mengetahui segala perbuatan mereka dan akan dibalas dengan balasan yang setimpal dengan kejahatannya dan tipu dayanya.  Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk kepada kaum muslimin sekalian. Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-2348632404525395082?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/2348632404525395082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=2348632404525395082' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/2348632404525395082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/2348632404525395082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/07/disiplin-dalam-kebenaran.html' title='Disiplin dalam Kebenaran'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-790104477246940033</id><published>2007-07-31T05:32:00.001+07:00</published><updated>2007-07-31T05:32:44.859+07:00</updated><title type='text'>Pertanggungan Jawab</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apapun yang akan kita kerjakan, haruslah lebih dahulu dipikir, dikaji dan diteliti tentang baik atau buruknya dan apa akibatnya.  Kalau sudah dipikir secara mendalam, dikaji dengan seksama dan diteliti dengan sungguh-sungguh, bahwa apa yang akan dikerjakan itu bakal mendatangkan kebaikan, berfaedah dan bermanfaat bagi diri sendiri dan juga bagi orang lainnya, maka wajarlah kalau dilaksanakan.&lt;br /&gt;Akan tetapi, apabila sebaliknya, yakni akan mendatangkan kerugian, tidak menguntungkan atau mungkin menimbulkan musibah, maka sebaiknya diurungkan, tidak dilaksanakan, agar tidak menjadi penyesalan pada akhirnya.&lt;br /&gt;Pertimbangan atas sesuatu yang mendatangkan kebaikan atau kerugian bila dilaksanakan adalah dengan dasar "pertanggungan jawab". Karena kita ummat Islam harus selalu mengendalikan diri dengan mentaati seruan Allah SWT yang menyuruh kita berbuat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadilan&lt;br /&gt;Perintah berlaku dan berbuat keadilan dinyatakan dengan firmanNya (yang artinya): ".....Berlaku adillah! Karena keadilan itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kamu kepada Allah! Sesungguhnya Allah Mengetahui betul apa yang kamu kerjakan." (Al-Quran, S.5/a.8).&lt;br /&gt;Maka untuk mendekatkan diri dengan bertakwa kepada Allah, haruslah didahului dengan keadilan dalam segala hal, dengan pengertian, bahwa keadilan itu sangat diperlukan untuk mengendalikan diri, tidak berbuat sewenang-wenang. Seumpama berbuat sesuatu untuk kepentingan diri sendiri, tidak acuh kepada orang lain, yang dalam hal ini juga tidak mengindahkan hak orang lain. Maka terjadilah ketidakadilan - kebatilan namanya - dan tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Demikianlah, kita diperintah bertakwa kepada Allah, yaitu sebagai dasar untuk menjalankan keadilan.&lt;br /&gt;Dan menurut hadist, sabda Rasulullah SAW, (yang artinya): "Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil, kelak di sisi Allah, ditempatkan diatas mimbar dari cahaya. Yaitulah mereka yang adil dalam hukum terhadap keluarga dan apa yang saja diserahkan penyelesaiannya kepada mereka." (Muslim).&lt;br /&gt;Sungguh sangat berbahagialah orang-orang yang berlaku adil dalam menjalankan (menegakkan) hukum, sekalipun terhadap keluarganya sendiri, karena mereka merasa bertanggung jawab di hadapan Allah SWT. Maka atas balasan, penghargaan bagi seseorang yang telah berlaku adil itu, ialah nantinya dia akan berada di sisi Tuhannya dan ditempatkan di atas mimbar (tempat tinggi) disinari dengan cahaya yang terang.&lt;br /&gt;Begitulah kepada seseorang yang berlaku adil (menjalankan kebenaran) di atas sesuatu urusan yang diserahkan kepadanya untuk mengurusnya dengan sebaik-baiknya menurut hukum yang diciptakan oleh Allah SWT. Yakni dijalankan dengan keadilan dan penuh tanggung jawab.&lt;br /&gt;Dan menurut firman Allah (yang artinya): " Sesungguhnya Allah memerintahkan menjalankan keadilan, berbuat kebaikan dan membantu kaum kerabat. Dan dia dilarang berbuat kekejian, kemungkaran dan kedurhakaan (melampaui batas). Allah mengajari kamu, supaya kamu mengerti." (Q.S.6/a.90).&lt;br /&gt;Sekali lagi Allah SWT memerintahkan kepada kita ummat Islam, supaya menjalankan keadilan dalam segala perbuatan atau perlakuan ataupun dalam pergaulan yang berarti menjalankannya dengan kebenaran dalam semuanya itu. Dan lagi kita juga disuruh berbuat kebaikan terhadap sesama manusia. Tambahan lagi kita pun disuruh membantu kaum kerabat baik berupa materiil ataupun moril, dan terutama kerabat yang sangat memerlukan bantuan. Sebaiknya kita utamakan untuk memberi bantuan kepada mereka.&lt;br /&gt;Dan disamping suruhan berlaku adil, berbuat kebaikan dan memberikan bantuan, kita juga disuruh mencegah perbuatan/kelakuan yang buruk, seperti: kekejian, kemungkaran, pengkhianatan, dan penganiayaan dalam arti melampaui batas peraturan-peraturan yang sudah ditentukan menurut agama Islam. Semuanya itu adalah merupakan peringatan/pengajaran, supaya kita ingat, tidak melupakan kewajiban-kewajiban yang sudah ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin&lt;br /&gt;Setiap orang adalah sebagai pemimpin dan bertanggungjawab. Baik pemimpin dalam masyarakat, pemimpin dalam keluarga (rumah tangga), pemimpin dalam perusahaan, pemimpin dalam perkebunan, pertanian, pemimpin karyawan, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Dan menurut hadits Rasulullah SAW (yang artinya): "Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu masing-masing akan ditanya tentang kepemimpinannya. Amir (raja) pemimpin terhadap rakyat, suami pemimpin pada keluarganya dan isteri pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan anak-anaknya.  Maka kamu sekalian adalah pemimpin dan akan ditanya (pertanggunganjawab) atas kepemimpinannya." (Bukhary dan Muslim).&lt;br /&gt;Demikianlah masing-masing akan dinyatakan sebagai pemimpin dan akan dipertanyakan dengan pertanggungan jawab atas kepemimpinan kita perorangan.&lt;br /&gt;Dari hadits tersebut, hanya dipersoalkan tiga macam orang, yaitu:&lt;br /&gt;Amir (dalam arti raja), suami dan istri&lt;br /&gt;Pertama, "amir", yaitu berarti raja, pemimpin pemerintahan dan juga pemimpin rakyat seperti umumnya. Dalam hal ini menurut firman Allah (yang artinya): "Maka panggillah mereka (kepada jalan yang benar) dan hendaklah engkau berdiri teguh sebagaimana diperintahkan kepadamu...." (Q.S.42/a.15).&lt;br /&gt;Seorang pemimpin rakyat menurut agama Islam (dengan perintah Allah SWT) hendaklah dia bersikap sopan santun, bermanis budi, bermanis muka dan selalu tersenyum simpul, mengajak mereka (rakyat) kepada jalan yang benar, yaitu jalan Allah SWT, terhadap orang-orang yang mengikutinya (rakyatnya) dari sekalian orang-orang mukmin. Karena pemimpin itu di mata orang mukmin adalah sebagai pemimpin yang adil dan bertanggungjawab dalam menjalankan kepemimpinannya, maka oleh karena itu orang-orang mukmin akan selalu memuliakannya, menghormatinya, menghargainya, mengasihinya, dan tidak kurang pentingnya, ialah mereka orang mukmin itu menjunjung peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemimpinnya yang tidak bertentangan dengan peraturan-peraturan dari Allah SWT.&lt;br /&gt;Dan lagi peringatan dari Allah SWT (yang artinya): "Hendaklah engkau bersikap sopan santun terhadap kaum mukminin." (Q.S.15/a.88).&lt;br /&gt;Seorang pemimpin rakyat, haruslah berbudi luhur, berakhlak karimah (mahmudah, yang terpuji). Sehingga dalam menghadapi/menerima rakyatnya dengan sikap rendah hati, karena mengingat akan suruhan Allah SWT terhadap pengikut-pengikut yang terdiri dari kaum mukminin dengan bersikap tawadhu', tenang dan sabar. Karena sifat "tawadhu" itu, adalah salah satu dari sifat mukmin yang termasuk dalam golongan "shiddikiin" orang yang benar dalam tindak-tanduknya.&lt;br /&gt;Maka bagi orang-orang mukmin terhadap pemimpin yang bersikap dan bersifat tawadhu' itu akan menerima setiap peraturan daripadanya, akan diikuti dan ditaati mereka dengan penuh perhatian dan kesungguhan hati. Sebagaimana menurut firmanNya (yang artinya): "sesungguhnya sambutan orang-orang mukmin apabila diajak kembali kepada Allah dan RasulNya untuk menghukum antara mereka, ialah dengan berkata: "sami'naa wa atha'naa" (kami dengar dan kami taati). Mereka itulah orang-orang yang beruntung lagi berbahagia." (Al-Quran,S.24/a.51).&lt;br /&gt;Begitulah sambutan dari orang-orang mukmin. Sambutan yang sangat menggembirakan dan menguntungkan dengan kebahagiaan bagi kedua pihak - antara pemimpin dan rakyat mukminin - Apabila mereka orang-orang mukmin diajak kembali kepada jalan yang benar kepada Allah dan RasulNya - mereka dengan tulis ikhlas menerima dan dengan jawaban: "Sami'naa wa atha'naa (kami dengar dengan seksama serta perhatian dan kami ta'ati mengikuti ajakan-ajakan yang sangat mulia itu).&lt;br /&gt;Kedua dan ketiga, ialah "suami dan istri" yang masing-masing sebagai pemimpin dan bertanggungjawab atas kepemimpinannya. Yakni yang pada pokoknya bahwa suami sebagai kepala keluarga wajib memimpin dan memelihara dirinya dan keluarganya, jangan sampai menjalankan perbuatan-perbuatan yang merusak akhlak, sehingga menjadi budi pekerti yang buruk yang tercela, karena mengingat akan perintah Allah SWT (yang artinya): "Hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...." (Al-Quran,S.66/a.6).&lt;br /&gt;Dan lagi menurut firmanNya (yang artinya): "Orang laki-laki (suami) adalah pemimpin, sebagai wali yang berkuasa atas perempuan (istri), karena kelebihan yang telah diberikan oleh Allah, dan karena laki-laki telah menafkahkan (membelanjai) keluarganya dari hartanya. Maka oleh sebab itu perempuan (istri) yang baik, ialah perempuan yang patuh, dapat menjaga dirinya ketika suaminya tidak berada di rumah, sebagaimana yang disuruh oleh Allah....." (Al-Quran,S.4/a.34).&lt;br /&gt;Laki-laki (suami) adalah pemimpin sebagai wali yang berkuasa atas keluarganya. Karena kelebihannya untuk membela penghidupan dan perlindungan bagi keluarganya.&lt;br /&gt;Maka istri selain dari mematuhi dan ta'at kepada suaminya, juga menjaga dirinya ketika suaminya tidak berada di hadapannya. Demikian juga istri sebagai ibu wajib mengasuh dan mendidik anak-anaknya dengan asuhan yang sebaik-baiknya menurut pengajaran dari agama Islam. Dan jangan sampai salah asuhan atau salah didikan agar supaya anak-anak mereka menjadi anak yang shaleh, taat kepada Allah dan RasulNya serta berbakti kepada ibu-bapaknya, sehingga menjadi anak-anak yang berharga bagi agama nusa dan bangsa serta dihargai oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-790104477246940033?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/790104477246940033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=790104477246940033' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/790104477246940033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/790104477246940033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/07/pertanggungan-jawab.html' title='Pertanggungan Jawab'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-7603591392908732500</id><published>2007-07-31T05:28:00.000+07:00</published><updated>2007-07-31T05:31:05.926+07:00</updated><title type='text'>Islam dan Kepribadian Muslimah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di bawah kibaran panji-panji kemajuan jaman dan perjuangan persamaan hak antara wanita dan pria dengan semboyan kemerdekaan dan kebebasan, kita melihat gejala tergeser dan terlepasnya kaum muslimat dari ketentuan-ketentuan dan ketetapan-ketetapan ajaran agama Islam, sehingga wanita bisa menjadi manusia liar yang tiada nilai dan mutu sebagai wanita muslimah.&lt;br /&gt;Hukama' telah berkata bahwa "Wanita tiang negara, apabila wanitanya baik, maka negaranya baik dan apabila wanitanya rusak maka negaranya akan kacau."&lt;br /&gt;Apabila wanitanya rusak, maka sudah tentu tuang itu akan rapuh, goyang dan goyah. Wanita yang tidak mempunyai kepribadian akan mudah hanyut mengikuti arus, hanyut terapung-apung dalam banjir kesesatan jaman jahiliyah modern ini. Di tengah sorak-sorai yang riuh gemuruh dan gegap gempita tepuk tangan dan genderang kemajuan yang membawa dampak negatif di samping dampak positifnya bagi kaum muslimat, sedangkan pada saat ini kita sedang menghadapi pembangunan di segala bidang, kaum muslimat harus waspada menjaga dan membenahi diri jangan sampai terpesona dengan bayangan yang nampak di depan mata yang isinya hanyalah fatamorgana yang menipu yang akan menyeret wanita ke jurang kehancuran dan kesesatan yang sangat merugikan. Merugikan wanita itu sendiri, anak-anak, suami dan keluarga seluruhnya.&lt;br /&gt;Akhirnya akan merugikan masyarakat bangsa dan agama. Pembangunan yang sedang kita galakkan sekarang bukanlah hanya pembangunan di bidang fisik material saja, tapi sekaligus juga pembangunan di bidang mental spiritual.&lt;br /&gt;Agama telah menggariskan bahwa wanita tidak sama dengan pria. Wanita adalah wanita dan pria adalah pria.  Ini sudah sama-sama kita ketahui, tapi tidak cukup hanya diketahui. Perlu dihayati dan disadari serta diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tercermin dalam sikap, tingkah dan penampilan wanita.&lt;br /&gt;Kalau kita tinjau sejenak ke belakang, pada penciptaan manusia pertama, maka Nabi Adam (laki-laki) dan Siti Hawa (perempuan) tidak sama waktu diciptakan, waktunya berbeda. Nabi Adam diciptakan lebih dahulu dan diciptakan dari tanah, sedangkan Siti Hawa diciptakan kemudian dan diciptakan Allah dari bagian tulang rusuk Nabi Adam.&lt;br /&gt;Nabi Adam bertugas sebagai suami dan bapak sedangkan Siti Hawa diciptakan sebagai istri dan ibu, sehingga penciptaan Siti Hawa dilengkapi dengan organ tubuh yang diperlukan dalam melaksanakan tugas sebagai istri dan ibu.&lt;br /&gt;Di samping tugas bersama dalam mengembangbiakkan anak manusia (hamba Allah), Allah menentukan pembagian tugas dengan tegas agar masing-masing menepati fitrahnya agar terjalin keharmonisan dan terbina kerja sama serta pembagian tugas.&lt;br /&gt;Apabila wanita ingin seperti pria, dia bukan wanita lagi, dia telah menggeser perannya menjadi banci, begitu pula sebaliknya. Itu sama saja dengan melawan fitrah dan qudrat yang telah ditentukan Allah.&lt;br /&gt;Mari kita renungkan firman Allah surat Nisa' ayat 1 ini, "Wahai sekalian manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri dan daripadanya Allah menciptakan istrinya dan daripada keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan namaNya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu."&lt;br /&gt;Ajaran Islam tentang bagaimana membina wanita agar tetap wanita dan memiliki kepribadian wanita (muslimah), masih sangat perlu dimasyarakatkan. Karena ini merupakan ajaran dan tuntutan agama (Al-Quran dan Al-Hadits). Ajaran tentang ini belum memasyarakat, kalau pun ada sedikit sekali masuk dalam kurikulum pelajaran agama di sekolah baik sekolah umum maupun sekolah agama.&lt;br /&gt;Barangkali tidak berlebihan kalau kita katakan bahwa ajaran Islam tentang pembinaan kepribadian wanita (muslimah) ini masih belum diutak-atik. Yaah...kebetulan saja kalau ada yang mau atau senang membaca Al-Quran atau hadits dan buku-buku agama, mungkin akan terbaca oleh mereka, tapi bukan tidak mungkin pula masih belum menjadi perhatian, sehingga tidak dapat dihayati apalagi dipedomani.&lt;br /&gt;Kebanyakan kaum muslimat menganggap kalau dia dilahirkan perempuan akan otomatis dia akan menjadi muslimah dan otomatis pula dia akan tercatat sebagai wanita yang memiliki kepribadian muslimah. Walaupun kadang-kadang kepribadian dan penampilannya sangat bertentangan dengan kepribadian muslimah.&lt;br /&gt;Para pembaca kaum muslimat tentu dapat mengadakan introspeksi meninjau ke belakang, pernahkah Anda mendapat pengajaran khusus mengenai pembinaan wanita menurut Islam? Kalau ada pada tingkat pendidikan mana dan apa buku pegangannya dan siapa gurunya? Bagaimana pula metode pembinaan/pendidikannya?&lt;br /&gt;Mungkin para pembaca akan sependapat dengan penulis, bahwa masalah-masalah wanita dan pembinaannya memang sudah ada di dalam Al-Quran dan Hadits. Ajaran tentang bagaimana pembinaan wanita, dan bagaimana memperlakukannya, telah lahir bersamaan dengan lahirnya agama Islam, tapi bagi masyarakat kita khususnya di Indonesia ajaran itu masih tertulis dalam banyak kitab berbahasa Arab, dimana masyarakat kita belum banyak yang mampu membaca buku-buku agama yang berbahasa Arab tersebut. Justru berbagai ideologi impor tentang paham feminis, ideologi gender selalu mencekoki dan meracuni otak dan pikiran wanita-wanita muslim negeri ini sehingga banyak diantara mereka yang melupakan kodrat kewanitaan mereka, menelantarkan keluarga (anak dan suami) demi mengejar status eksistensi diri sebagai seorang pribadi yang mandiri, tidak mau kalah, dan bahkan terkadang justru menginjak-injak harkat dan martabat suaminya di depan umum (bukannya menutupi aib suami dan menjunjung tinggi kehormatan keluarga).&lt;br /&gt;Namun syukur Alhamdulillah, bahwa seiring pula dengan masuknya paham-paham beracun tentang feminisme yang memabukkan, beberapa tahun belakangan ini telah banyak diterbitkan buku-buku baik terjemahan maupun tulisan-tulisan para pakar agama yang berkenaan dengan isyu-isyu dunia wanita, dengan judul-judul yang menarik dan penampilan yang cantik. Telah beratus-ratus judul ditulis dalam bahasa yang mudah dipahami dan praktis untuk dibawa dan dibaca dalam perjalanan. Seiring dengan itu pula tren mode berpakaian para wanita modern negeri ini telah diwarnai pula dengan tren mode busana muslim yang eye catching, yang beradab, sopan namun tidak meninggalkan aspek keindahan serta asesoris busana. Untunglah bahwa semakin banyak wanita muslim yang mengingat kodratnya sebagai wanita yang seharusnya menjunjung tinggi akhlak dan kemuliaannya. Semakin banyak pula bermunculan para penulis wanita, juga klub pecinta buku yang mayoritas berjeniskelamin wanita. Hal ini merupakan sinyal positif bahwa tiang pondasi bangsa ini telah mau berubah dan membenahi diri. Ingat wanita adalah tiang pondasi bangsa, di pundak para wanitalah nasib suatu bangsa akan dibawa, karena wanita adalah pendidik generasi muda bangsa masa depan, sehingga kemampuan intelektual dan wawasan pengetahuannya akan turut mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku generasi muda suatu bangsa tersebut.&lt;br /&gt;Melalui tulisan ini, penulis menghimbau agar kaum muslimat segera memanfaatkan berbagai buku yang bisa dijumpai di berbagai perpustakaan umum yang ada di kota Anda, tingkatkan ilmu dan wawasan sesuai dengan bidang ilmu dan profesi Anda, sehingga ke depannya para wanita dapat menjadikan ilmu yang diperolehnya itu sebagai pegangan dan pedoman bagi tugas yang diembannya sebagai penentu kemajuan sebuah bangsa, ilmunya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarganya dan juga demi masyarakat untuk mencapai kehidupan yang bahagia dan sejahtera di dunia maupun di akhirat yang diridhoi Allah SWT. Wanita adalah sahabat baik dan pendamping para suaminya, teman untuk berbagi ilmu, pengetahuan dan ide demi berkembangnya peradaban sebuah bangsa. Peran dan kesetaraan wanita dan pria hendaknya harus sesuai dengan kodratnya masing-masing dan saling mengisi kekurangan satu sama lain demi sebuah kesempurnaan. Tiada manusia yang sempurna, mungkin untuk itulah tercipta pria dan wanita untuk saling menyempurnakan kekurangan satu sama lain dan juga untuk saling bertukar pikiran. Bagaimana bisa bertukar pikiran bila seorang wanita tidak mempunyai inisiatif belajar yang tinggi dan kemauan keras untuk maju? Wanita adalah ibu sebuah bangsa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-7603591392908732500?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/7603591392908732500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=7603591392908732500' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/7603591392908732500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/7603591392908732500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/07/islam-dan-kepribadian-muslimah.html' title='Islam dan Kepribadian Muslimah'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-5943516154275110569</id><published>2007-07-28T10:44:00.000+07:00</published><updated>2007-07-28T10:45:06.770+07:00</updated><title type='text'>Masyarakat yang Harmonis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: "Tidak ada kelebihan diantara bangsa Arab maupun non Arab, melainkan dalam hal ketaqwaannya."Adanya sabda Nabi Muhammad SAW tersebut, ide deskriminasi ras sudah terhapus dalam masyarakat Islam sejak semula, dan membuka semua pintunya untuk seluruh anak-anak bangsa Indonesia maupun di atas dasar persamaan yang sempurna dan perikemanusiaan yang murni.Tidak ada yang paling benci oleh rasa keIslaman, selain "chauvinisme" atau "uber alles" yang dikorbankan oleh rasa keunggulan rasa Senala Arya terhadap Dravida, Nazi dan Yahudi; atau kesombongan warna kulit sebagaimana dipraktekkan Amerika Serikat terhadap orang Indian dan Negro; atau seperti negara-negara lain yang masih menerapkan politik deskriminasi warna kulit atau bahkan lebih kejam lagi berbagai tindakan keji genosida yang terjadi di berbagai belahan dunia akhir-akhir ini.Islam sama sekali tidak membenarkan sikap dan tindakan ashabiyah dalam bentuk dan gaya apapun juga, karena telah dengan jelas Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa, ketampanan dan kegagahan bukan ukuran, sedangkan ashabiyah amat dikecam seperti fanatisme golongan, partai, ras, bangsa dan bentuk primordialisme lainnya.Nabi Muhammad SAW bersabda: "Tidaklah termasuk jama'ah kami orang yang mengajarkan ashabiyah, tidaklah termasuk jama'ah kami, orang yang berperang atas dasar ashabiyah. Dan, tidaklah termasuk jama'ah kami orang yang mati karena menegakkan atau membela ashabiyah."Bentuk-bentuk dan praktek keji tindakan terorisme yang berkedok semangat jihad itu bisa jadi termasuk pula salah satu tindakan ashabiyah, sehingga tindakan keji serupa itu sama sekali tidak dibenarkan dalam Islam. Bahkan Islam melarang untuk membunuh makhluk lain tanpa alasan yang jelas, apalagi membunuh dan menghilangkan demikian banyak nyawa manusia. Arrasy akan bergoncang dengan hebatnya setiap kali terjadi pembunuhan terhadap seorang anak manusia, apalagi bila yang terbunuh itu lebih dari satu, bisa dibayangkan betapa besar kemurkaan Allah kepada umat manusia yang menganggap dirinya paling suci mengatasnamakan Nama Tuhan dan agama hanya untuk melakukan pembenaran atas tindakan kejinya. Bahkan bila seorang Islam membunuh seorang Yahudi pun (musuh terbesar Islam), tanpa alasan apapun (bukan karena alasan mempertahankan diri), orang Islam tersebut menanggung dosa besar karena telah membunuh, dan hukuman yang pantas untuknya adalah hukum qishosh (hukuman mati sebagai penebus dosa yang telah dilakukannya karena membunuh orang lain tanpa alasan, hanya karena rasa kebencian). Pembunuhan atau tindakan saling bunuh atas dasar rasa benci dan bukan karena alasan mempertahankan bangsa dan negara atau bertahan hidup, hukumannya adalah neraka. Yang terbunuh dan yang dibunuh, sama-sama masuk neraka. Mengapa demikian? Yang membunuh jelas akan masuk neraka karena telah menghilangkan nyawa orang lain dengan dasar kebencian. Sedang yang terbunuh, juga masuk neraka, karena dia juga mempunyai niat jahat yang sama atas dasar kebencian, hanya saja ia keduluan terbunuh, sementara bila ia tidak keduluan mati terbunuh, bisa jadi ia juga akan dengan tega membunuh lawan atau musuhnya itu. Jadi keduanya sama-sama masuk neraka karena sama-sama menyimpan kebencian dan kesombongan dalam hatinya, sama-sama merasa dirinya paling benar sehingga demikian mudah melakukan pembenaran atas tindakan keji (membunuh), sebuah tindakan yang sangat dibenci oleh Allah Tuhan Semesta Alam."Sesungguhnya Allah SWT tidak akan memandang ketampanan wajah atau ketegapan tubuh kalian, melainkan IA melihat langsung kepada kalbu dan perbuatan nyata yang kalian lakukan."Manusia mempunyai naluri nafsu atau dorongan-dorongan psikologis. Umpamanya nafsu amarah, mempertahankan hidup, dicintai dan mencintai. Nafsu-nafsu tersebut dapat mengarah kepada yang benar, dapat juga kepada yang jahat. Nafsu marah dapat mendorong manusia untuk membela keadilan dan kebenaran, sebagaimana dapat pula untuk mendorong menindas, menjajah, dan mencaci maki orang lain. Nafsu untuk mempertahankan hidup dapat menimbulkan dinamika dan usaha yang produktif, sebagaimana dapat pula mendorong kepada tamak, kikir, bathil, curang, dan sebagainya. Demikian juga naluri mencintai sesuatu dapat melahirkan sifat-sifat mementingkan diri sendiri, pilih kasih dan pandang sayang.Islam tidak membunuh nafsu atau dorongan naluriah seperti itu, melainkan menyalurkan dan membimbingnya pada jalan yang benar. Dengan kekuatan Aqidah Islamiyyah, kebulatan pandangan hidup muslim dan fungsi hidup manusia, Islam mendidik dan mengajar muslim untuk dapat senantiasa mengendalikan nafsunya menurut ajaran-ajaran dan kaidah-kaidah yang benar.Sabda Rasulullah SAW: "Tidak dapat disebut beriman, sehingga dia melaksanakan keinginan bahwa nafsunya itu sesuai dengan petunjuk yang telah aku ajarkan."Setiap muslim haruslah melandaskan cinta dan bencinya hanya karena Allah SWT semata. Cinta karena Allah ialah, bahwa ia mencintai orang lain karena orang tersebut melaksanakan kewajiban-kewajiban agamanya, bahwa ia membenci orang lain karena orang itu tidak menunaikan kewajiban-kewajiban agamanya, atau melanggar larangan-larangan agamanya. Dengan demikian maka seorang muslim tidak akan bercinta buta dan fanatik kepada pemimpin sehingga segala perkataannya dianggap selalu benar (Yes man), tidak akan terikat oleh fanatisme golongan tau kepartaian, sebagaimana juga tidak akan bersifat angkara murka dengan menuruti segala amarah hawa nafsunya yang destruktif.Rasulullah SAW bersabda: "Bahwasanya diantara hamba-hamba Allah ada manusia yang bukan Nabi, bukan pula syahid, tetapi dikagumi oleh para Nabi dan syuhada karena kedudukan mereka yang sangat baik di sisi Allah. Para sahabat bertanya: "Beritahukanlah kepada kami siapakah mereka itu, ya Rasulullah SAW?" Nabi menjawab: "Mereka itu adalah orang-orang yang berkasih-kasihan karena Allah semata, bukan karena dasar kekeluargaan diantara mereka dan bukan pula karena harta pemberian. Demi Allah, wajah mereka itu bercahaya dan mereka diatas cahaya, mereka tidak merasakan ketakutan di kala manusia sangat ketakutan. "Selanjutnya Nabi membaca ayat (QS. Yunus, 10 : 62): "Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak mempunyai rasa khawatir dan tidak pula bersedih hati." "Wahai Abu Dzar, manakah ikatan iman yang paling kuat?" Abu Dzar menjawab: "Allah dan RasulNya lebih mengetahui." Nabi bersabda: "Berkasih-kasihan karena Allah, cinta karena Allah dan berpisah karena Allah."Seorang muslim haruslah mencintai saudaranya sesama muslim sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Cinta dan sayang merupakan dasar dari budi pekerti muslim. Cinta dan kasih sayang itu bukan hanya terhadap sesama muslim, tetapi adalah cinta kemanusiaan terhadap seluruh manusia, bahkan terhadap makhluk Allah SWT termasuk alam semesta, sesuai dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi sekalian alam."Seorang muslim tidak boleh membenci seseorang manusia maupun karena dasar kemanusiaannya. Tetapi ia membenci seseorang harus karena kejahatannya dan kedzalimannya. Sehingga menurut akhlaq Islam, memberantas kezaliman orang yang dzalim berarti mendorong orang yang bersangkutan itu sendiri. Oleh karena itulah maka seorang muslim yang melaksanakan hukuman terhadap orang yang dijatuhi hukuman atau membunuh musuh dalam peperangan, harus melandaskan tindakannya kepada menegakkan keadilan dan melaksanakan haq, tidak boleh semata-mata karena kemarahan dan kebencian. Marilah kita perhatikan beberapa sabda Rasulullah SAW."Kasihilah apa yang ada di bumi, niscaya engkau dikasihi oleh yang ada di langit." "Tolonglah saudaramu baik yang menganiaya maupun yang teraniaya. Salah seorang sahabat berkata: "Aku senantiasa menolong orang yang teraniaya, tetapi bagaimanakah saya harus menolong orang yang menganiaya?" Rasulullah menjawab: "Anda cegah dia dari perbuatan aniayanya." Begitulah cara menolongnya.Mencegah orang lain untuk berbuat keji, atau menghilangkan kebencian dari dalam dada orang lain adalah sebuah perbuatan yang mulia, karena berarti mengajak kepada kebaikan, jalan yang diridhoi Allah.Ukhuwah Islamiyah menuntut agara kaum muslimin saling tolong-menolong, bantu-membantu dan saling bela dalam ketentraman dan keamanan serta membina kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan bersama. Tidak boleh seorang muslim berlaku acuh tak acuh terhadap nasib buruk atau penderitaan saudaranya sesama muslim. Begitu pula keharusan mencegah terjadinya dosa atau kejahatan baik pelaku maupun perlakuannya, seperti firman Allah SWT: "Tolong-menolonglah diantaramu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa, tapi janganlah bahu-membahu dalam berbuat dosa." (QS.Al-Maidah, 5.2).Begitulah Islam telah meletakkan adab sopan santun, kode etik dan aturan pergaulan, kesejahteraan hidup dan keutuhan serta kesatuan masyarakat baik sikap lahir maupun sikap batin semuanya mengarah pada usaha untuk memperkuat ukhuwah islamiyyah.Apabila ada sopan santun ukhuwah islamiyyah yang merupakan khuluqul Islam atau budi pekerti muslim itu benar-benar disadari dan dilaksanakan oleh kaum muslim, tidaklah akan terjadi persengketaan, pertengkaran dan perpecahan. Adab sopan santun dan kode etik ukhuwah islamiyyah serta timbangan dalam mencari dan menyusun bentuk kejamaahan masyarakat muslim. Segala sistem dan bentuk keorganisasian dan perkumpulan yang menghalangi terlaksananya atau bahkan bertentangan dengan adat sopan santun akhlaqul karimah yang senantiasa diterapkan oleh ukhuwah islamiyyah itu, bukan sistem sistem Islam dan dengan sendirinya tertolak oleh Islam. Untuk melaksanakan, memelihara dan membina ukhuwah islamiyyah memerlukan keimanan yang penuh kepada Allah SWT, keikhlasan yang tanpa reserve (tanpa syarat), serta kesadaran penuh sebagai muslim. Oleh karena itu maka pengajaran dan pembinaan mental spiritual Aqidah Islamiyyah berikut akhlaq dan fitrah-fitrah Islam secara total, integral, dan komprehensif, merupakan upaya pokok dalam mewujudkan dan melaksanakan ukhuwah islamiyyah.Persaudaraan muslim adalah persaudaraan universal unuk mengantarkan diri mencapai Islam kaffah pada kondisi Daarussalam, penuh tasamuh terhadap penganut agama dan kepercayaan lain sebagai toleransi sosial, dalam curahan rahmat, inayah dan maghfirah serta ridha Allah SWT.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-5943516154275110569?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/5943516154275110569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=5943516154275110569' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/5943516154275110569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/5943516154275110569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/07/masyarakat-yang-harmonis.html' title='Masyarakat yang Harmonis'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-1053685458564571291</id><published>2007-07-28T10:43:00.000+07:00</published><updated>2007-07-28T10:44:09.995+07:00</updated><title type='text'>Jalan Menuju Penyucian Jiwa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Allah SWT berfirman: "...dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaanNya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.  Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan merugilah orang yang mengotorinya." (QS.Asy-Syams : 7-10).Aspek tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), merupakan salah satu aspek yang harus mendapatkan perhatian dari seorang insan muslim yang mendambakan hadirnya ketentraman jiwa dalam dirinya, jiwa yang ridha kepada Allah dan Allah pun ridha kepadanya, jiwa yang tentram (annafsul muthma'innah) tersebut akan mengiringinya menghadap Allah SWT. Sehingga masuklah ia ke dalam hamba-hamba Allah yang diridhai dan Allah menganugerahkan kepadanya surgaNya yang luasnya seluas langit dan bumi.Islam sebagai satu din (agama) yang bersifat kamil dan mutakamil (integral dan komprehensif) memberikan perhatian yang bersifat yang besar terhadap permasalah tazkiyatun nafs ini sebagaimana termaktub dalam nash-nash yang terdapat dalam Al-Quran dan As Sunnah. Nash-nash tersebut akan membimbing pribadi-pribadi muslim yang cinta kepada Allah menuju kepada timbulnya ketentraman jiwa, yang akan menumbuhsuburkan iman, yang akan menghindarkan dirinya dari kehampaan jiwa, kegersangan iman dan keputusasaan akan rahmat Allah.Penyucian jiwa juga merupakan salah satu tujuan penting daripada diutusnya para Rasul oleh Allah SWT sebagaimana dinyatakan dalam ayat-ayatNya berikut ini:"...sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kamu kepada Alkitab dan Al Hikmah." (QS.Al-Baqarah : 151).Allah SWT telah menjelaskan dan memberikan petunjuk dalam ayat-ayatNya mengenai jenis-jenis nafs (jiwa) sekaligus menunjukkan peringkat-peringkatnya, sehingga kita bisa berjalan menuju penyucian jiwa itu dengan melalui peringkat-peringkat nafs tersebut.Adapun jenis dan peringkat tersebut adalah sebagai berikut:1. An-Nafsul Ammarah bis-Su'Allah SWT berfirman:"....karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan." (QS.Yusuf : 53).An-Nafsul Ammarah bis-Su' adalah jiwa (nafs) yang selalu menyuruh kepada kejahatan, jiwanya menjauhi pertentangan terhadap kemaksiatan, tunduk dan taat kepada kehendak hawa nafsu dan godaan-godaan setan.2. An-Nafsul-LawwamahAllah SWT berfirman:"Dan aku bersumpah dengan jiwa yang sangat menyesali (dirinya sendiri)." (QS.Al-Qiyamah : 2).An-Nafsul Lawwamah adalah jiwa (nafs) yang menyesali dirinya. Karenanya nafs itu mencerca pemiliknya ketika dia menyadari dirinya masih melakukan kelalaian dalam pengabdiannya kepada Allah.3. An-Nafsul Muthma'innahAllah SWT berfirman:"Hai jiwa yang tentram, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu." (QS.Al-Fajr : 27-30).An-Nafsul-Muthma'innah adalah jiwa (nafs) yang tentram/tenang, jiwa yang suci, penuh ketundukan, kepatuhan, dan ketaatan hanya kepada Allah semata, hawa nafsu sudah tidak bisa mengusik/mengajaknya lagi kepada kemaksiatan.&lt;br /&gt;Jalan Menuju Penyucian JiwaAllah SWT berfirman:"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebenaran Tuhannya dan menahan dirinya dari keinginan hawa nafsu, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya." (QS.An-Nazi'at : 41).Rasulullah SAW bersabda:"seorang pejuang (mujahid) adalah orang yang memerangi hawa nafsunya untuk (mengenal) Allah." (HR. Tir-midzi).Atas dasar itulah maka didapatkan satu gambaran bahwa titik tolak proses menuju penyucian jiwa tersebut adalah berawal dari membenci dan memerangi terhadap berbagai hawa nafsu yang akan membinasakan diri (mujahadatun-nafs).Sehubungan dengan itu salah seorang ulama yakni Ibnu Atha' mengatakan "Sumber dari maksiat dan nafsu birahi dan kelalaian adalah kesenangan terhadap hawa nafsu. Sedangkan sumberdari ketaatan, keterjagaan, dan pengekangan diri dari hal yang hina adalah membenci hawa nafsunya lebih baik dibanding berteman dengan orang pandai yang menyukai hawa nafsunya."Ulama yang lain yakni Syaikh Zarwaq mengatakan, "Sumber perilaku yang tercela ada tiga: condong kepada hawa nafsu, takut kepada manusia, dan cinta dunia." condong kepada hawa nafsu menimbulkan nafsu birahi, kelalaian dan maksiat. Takut kepada manusia menimbulkan sifat pemarah, dendam dan hasud, dan cinta dunia melahirkan penyakit sifat tamak dan kikir. Sementara itu tekun melaksanakan sumber perilaku yang terpuji dapat menghapus dan memusnahkan semua hal itu, yaitu membenci hawa nafsu dalam segala hal dan menghindarinya setiap waktu.&lt;br /&gt;Rukun-Rukun Mujahadatun-NafsAllah SWT berfirman:"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami." (QS.Al-Ankabut : 69).Ayat tersebut merupakan suatu petunjuk bahwa jalan menuju penyucian jiwa dalam rangka mencapai ridha Allah membutuhkan kesungguhan dan pengorbanan serta keikhlasan, dan atas usaha tersebut Allah akan menunjukkan jalannya.Adapun rukun-rukun Mujahadatun Nafs yang terdapat dalam nash Al-Quran dan As Sunnah antara lain adalah:1. Uzlah (mengasingkan diri).Uzlah di sini bukanlah berarti menjauhkan diri dari keramaian manusia, menyendiri di suatu tempat yang sepi atau memutuskan hubungan dengan keduniawian, karena hal-hal tersebut bertentangan dengan tatacara kehidupan yang diatur oleh Islam,sedang Islam menyuruh untuk bergaul dengan baik, berkumpul dengan sehat, beramah-tamah atau bersahabat dengan mereka yang suka kepada kebaikan. Seorang mukmin yang bergaul dengan orang banyak dan sabar atas tindakan-tindakan mereka, lebih baik dari orang yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak sabar atas tindakan-tindakannya yang menyakitkan. (HR.Ahmad). Serigala akan memakan domba yang menyendiri. (HR.Tirmidzi). Uzlah di sini artinya adalah beruzlah dari kekufuran, kemunafikan, kefasikan, beruzlah dari orang kafir, dari orang munafik, dari orang fasik serta beruzlah dari tempat-tempat yang penuh dengan caci maki terhadap ayat-ayat Allah dan Sunnah Rasul.Allah SWT berfirman:"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka. Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari kekafiranmu, dan telah nyata antara kami dan kamu bermusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah." (QS.Mutahanah : 4)."Dan apabila melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan itu), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). (QS.Al-An'am : 68).Jadi semua bentuk uzlah itu dilakukan terhadap kesesatan dan orang-orang yang sesat. Inilah kaidah umum bagi seorang muslim dalam persoalan uzlah dan pergaulan (khalthah). Dengan demikian kita mengetahui kapan uzlah itu mutlak wajib dalam untuk dilaksanakan.2. Ash Shumtu (berdiam diri).Allah SWT berfirman:"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barang siapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi pahala yang besar. (QS.An-Nisa : 114).Rasulullah SAW bersabda:"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah bertutur kata yang baik atau diam." (HR. Bukhari).Lisan adalah pantulan dari diri kita. Memelihara lisan sesuai dengan ajaran Allah merupakan salah satu perkara terpenting bagi manusia. Bagaimana manusia memelihara lisan dari dosa dan omong, menggunakannya untuk perkara-perkara yang baik semuanya itu membutuhkan pengekangan diri atau hawa nafsu yang memadai. Membiasakan diri untuk diam merupakan awal dari pembiasaan menimbang kata-kata sebelum dilontarkan.Rasulullah SAW bersabda:"Kalau tidak karena hati kalian ternoda dan pembicaraan (lisan) kalian yang berlebih-lebihan niscaya kalian akan mendengar apa yang aku dengar." (HR.Ahmad). Kita dapatkan bahwa berlebih-lebihan dalam pembicaraan merupakan salah satu faktor dari tertutupnya hati dari hal-hal yang gaib.Diam yang merupakan awal dari pengekangan lisan, namun jika pembicaraan itu wajib dilontarkan dalam rangka amar ma'ruf nahi munkar, maka diam pada situasi demikian adalah haram hukumnya.3. Al-ju' (lapar)Rasulullah SAW bersabda:"Kalian wajib susah, karena  sesungguhnya susah itu merupakan kunci hati." Mereka bertanya, "Bagaimana susah itu wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Tundukkan hawa nafsu kalian dengan lapar dan jadikan ia dahaga!" (HR.Thabrani dengan sanad yang hasan).Dari hadits ini kita melihat bagaimana lapar memungkinkan untuk menjadi obat bagi jiwa dalam salah satu keadaan dan salah satu penyakitnya.Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:"Wahai pemuda, jika diantara kamu telah ada yang mampu untuk menikah, menikahlah! Sebab itu sangat baik untuk memelihara penglihatan dan kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa sebab puasa itu menjaga nafsu syahwat." (HR. Bukhari).Dari hadits ini diketahui bagaimana lapar menjadi obat bagi jiwa dalam  beberapa kondisi. Dengan kedua hadits tersebut, kita mengetahui bahwa lapar menjadi obat bagi sebagian keadaan jiwa. Makan sampai merasa kenyang adalah boleh dengan catatan seseorang tersebut tidak mengikuti semua kehendak hawa nafsunya, yang tidak boleh adalah makan kenyang terus-menerus, karena hal itu akan mematikan hati.Oleh karena itu Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya mengatakan:"Makanan bagi manusia sekedar menegakkan tulang punggungnya. Kalau tidak, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga lagi untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernapas. (HR.Tirmidzi).4. As-Saharu (tidak tidur malam)Allah SWT berfirman:"Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat untuk khusyuk dan bacaan di waktu itu lebih berkesan."(QS.Al-Muzzammil : 6).Rasulullah SAW bersabda:"Barang siapa shalat Isya' dengan berjamaah kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian melakukan shalat dua rakaat (shalat Dhuha), maka pahalanya seperti pahala haji dan umrah yang sempurna. (HR. Tirmidzi).Melakukan ibadah pada malam hari sangat berat bagi semua orang, karena itulah Allah memberikan keutamaan dibanding dengan waktu-waktu yang lain. Ibadah pada malam hari memberi pengaruh terhadap kejernihan jiwa  yang tidak dapatkan pada saat-saat yang lain.Pernah seseorang bertanya kepada Hassan bin Ali (cucu Rasulullah SAW)."Mengapa seseorang yang gemar shalat malam selalu berwajah ceria dan cerah? Hassan bin Ali menjawab, "Itu disebabkan karena ia selalu berdialog dengan Allah. Oleh karenanya, janganlah heran bila Allah memancarkan sebagian cahayaNya pada sebagian mereka."Kebiasaan bangun malam juga dilakukan oleh Abdullah bin Mas'ud apabila malam telah larut, dan manusia sedang tertidur lelap. Abdullah bangun, membaca Al-Quran dengan suara yang merdu. Tidak jarang, dia juga bangun malam untuk mendengarkan bacaan ayat-ayat suci Al-Quran yang dibaca orang dalam masjid. Memang mengisi malam dengan shalat, dzikir, membaca dan mendengarkan ayat-ayat suci Al-Quran merupakan hal-hal yang lebih disukai para sahabat Rasulullah SAW.Demikian uraian yang berkaitan dengan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), mujahadatun nafs, dengan harapan semoga Allah membimbing kita dalam melaksanakan penyucian jiwa ini.Allah SWT berfirman yang artinya:"Dan adapun orang-orang yang takut kebenaran Tuhannya dan menahan dirinya dari keinginan hawa nafsu, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. (QS.An-Nazi'at : 41).&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-1053685458564571291?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/1053685458564571291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=1053685458564571291' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/1053685458564571291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/1053685458564571291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/07/jalan-menuju-penyucian-jiwa.html' title='Jalan Menuju Penyucian Jiwa'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-8696679576008603160</id><published>2007-07-28T10:42:00.000+07:00</published><updated>2007-07-28T10:43:12.692+07:00</updated><title type='text'>Tawadhu' dan Izzah (Akhlaq)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Rasulullah SAW bersabda: "Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadhu' kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat 'izzah) oleh Allah. (HR. Muslim).Tawadhu' adalah lawan dari takabur. Tawadhu' adalah melebur dan merendahkan diri di hadapan Allah SWT dan dihadapan hamba-hamba Allah. Sedangkan takabur artinya sombong, congkak, atau merasa dirinya lebih dari yang lain. Ketakaburan yang paling tinggi adalah manakala seseorang sudah merasa lebih tinggi daripada Allah SWT, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Fir'aun (Pharaoh). Fir'aun mengaku dirinya adalah tuhan yang harus disembah. Fir'aun membuat undang-undang yang semua orang harus mentaatinya dan mengabaikan Undang-Undang Allah SWT. Fir'aun merasa dirinya raja yang harus ditaati melebihi ketaatan kepada Allah. Pendek kata, dengan kesombongannya Fir'aun mengaku dirinya lebih dari Allah SWT.Iblis, Fir'aun dan penghuni-penghuni neraka lainnya dicampakkan ke dalam neraka semata-mata berawal dari sifat takabur dalam diri mereka.Firman Allah SWT: "Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam!" maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan dia termasuk orang-orang yang kafir." (QS.Al-Baqarah : 34).Dan apabila dikatakan kepadanya: ""Bertaqwalah kepada Allah!" bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka jahanam. Dan sungguh neraka jahanam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya." (QS.Al-Baqarah : 206).Demikian bahayanya sifat takabur ini, oleh karena itu seorang mukmin harus mengubur dalam-dalam sifat takabur, dan menumbuhsuburkan sifat tawadhu'. Apalagi bagi para da'i yang sedang berjuang meninggikan Kalimatullah di muka bumi ini, maka sifat tawadhu' mutlak diperlukan untuk kesuksesan misi dakwahnya.Firman Allah SWT:"....dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman." (QS.Asy-Syu'araa : 215).Al-Fudhali bin 'Iyadh berkata: Tawadhu' ialah senantiasa berorientasi pada kebenaran dan siap menerima kebenaran tanpa melihat siapa yang berbicara. Sedangkan Abdullah bin Hasan Al-Anshary berkata: Aku lebih suka menjadi ekor dalam kebenaran daripada menjadi kepala dalam kebatilan. Sementara Ibnu Atha' mengatakan: Tawadhu' adalah menerima kebenaran dari siapapun datangnya, dan 'izzah (kemuliaan) itu ada di dalam tawadhu'.&lt;br /&gt;Kedudukan Tawadhu'1. Tawadhu' adalah salah satu sifat dari sifat Hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang ('Ibadur-Rahman).Firman Allah SWT: Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati (tawadhu') dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. (QS.Al-Furqan : 63).Demikianlah, diantara sifat-sifat 'Ibadur-rahman Allah SWT meletakkan sifat tawadhu' sebagai sifat yang pertama yang harus dimiliki. Hal ini menunjukkan penting dan mendasarnya sifat tawadhu' ini bagi seorang Mukmin.Rasulullah SAW sebagai teladan hidup (al-qudwah) mukmin adalah pribadi yang sangat tawadhu'. Beliau biasa memperbaiki sendiri baju atau terompahnya yang rusak, membantu keluarganya berbelanja ke pasar, senantiasa memulai mengucapkan salam setiap bertemu dengan sahabat-sahabatnya, menghadiri undangan, tidak pernah menghina makanan, dan masih banyak contoh ketawadhu'an beliau, Nabiyullah Muhammad SAW.Diceritakan bahwa pada suatu malam datanglah seorang tamu kepada khalifah Umar bin Abdul Azis. Waktu itu beliau sedang menulis. Lampunya hampir saja padam. Tamu itu kemudian berkata: "Biarlah saya yang memperbaiki lampu itu, ya Amirul Mu'minin." Beliau menjawab: "Ah jangan, tidak baik seseorang menganggap tamunya sebagai pelayan. Itu bukan akhlaq yang mulia." Tamu itu kemudian berkata lagi: "Kalau begitu, biarlah saya bangunkan pelayan saja." Beliau menjawab: "Ah jangan, ia baru saja tidur, agaknya sejak tadi belum merasakan kelezatan bantalnya." Selanjutnya beliau sendiri membetulkan lampunya, maka tamu itu berkata lagi: "Mengapa anda sendiri yang membetulkan lampu itu, ya Amirul Mu'minin?" Beliau ra. menjawab: "Mengapa tidak, kalau saya pergi saya pun tetap Umar, kalau saya kembali sayapun tetap Umar. Tidak berkurang sesuatupun dari diriku dengan apa yang saya lakukan tadi, bukan? Selamanya saya tetap Umar."Demikian contoh para shalafus shalih sebagai pribadi yang mencerminkan sifat-sifat 'Ibadur-Rahman'.2. Orang yang tawadhu' akan dicintai Allah SWT. Firman Allah SWT: "Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamaNya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun cinta kepada Allah, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin." (QS.Al-Maidah : 54).Di dalam ayat ini, Allah SWT akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai Allah SWT, dan mereka pun cinta kepada Allah, kemudian dilanjutkan dengan salah satu ciri-ciri mereka adalah mereka bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin. Sifat lemah lembut ini akan bersemayam di dalam kepribadian seorang mukmin, manakala ada sifat tawadhu' di dalam dirinya.3. Tawadhu' menjadi sebab berpautnya hati.Firman Allah SWT: ...."dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara (QS. Ali-Imran : 103).Pada masa jahiliyah, perang antara kabilah (suku) merupakan kejadian rutin di seluruh jazirah Arab, baik di Makkah maupun di Madinah. Tujuan peperangan itu tidak lain semata-mata untuk menunjukkan kesombongan rasa kesukuan mereka, bahwa suku merekalah yang paling kuat, paling mulia dan sebagainya. Contoh paling jelas adalah perang antara suku Aus dan Khazraj yang sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun.Akan tetapi, setelah cahaya Islam menyinari hati mereka, maka hati mereka menjadi lembut, dan hancurlah kesombongan mereka berganti dengan sifat tawadhu', yang tumbuh dan berkembang dalam hati mereka. Oleh karena itulah, Allah berkenan mempersatukan hati mereka dan menjadikan mereka orang-orang yang bersaudara.Firman Allah:"...dan (Allah) Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi ini, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS.Al-Anfal : 63).4.Tawadhu' menjadi masuknya seseorang ke dalam surga. Di dalam suatu riwayat: Abdullah bin Mas'ud berkata: Bersabda Rasulullah SAW: "Tidak akan masuk surga, siapa yang di dalam hatinya ada sifat sombong walau hanya seberat dzarrah." Maka seorang sahabat bertanya: "Adakalanya seseorang itu suka berpakaian bagus." Sabda Nabi SAW: "Sesungguhnya Allah Indah dan suka keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang. (HR Muslim).Allah SWT telah mengharamkan surga bagi orang-orang yang di dalam hatinya masih bersemayam sifat sombong walau hanya seberat dzarrah, dan sebaliknya mempersiapkan surga untuk dihuni oleh hamba-hambaNya yang tawadhu'.5. Tawadhu' adalah perintah Allah dan RasulNya.Firman Allah SWT: "Rendahkanlah sayapmu (sikapmu) terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. (QS. Asy-Syu-araa : 215 dan Al-Hijr : 88).'Iyadh bin Himar ra. berkata: Bersabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan kepadaku: "Bertawadhu'lah hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya. (HR Muslim).&lt;br /&gt;Klasifikasi Tawadhu' dan tanda-tandanya.At-Tawadhu' dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis tawadhu' yaitu:1. Tawadhu' kepada Allah SWT. Tawadhu' kepada Allah SWT artinya merendahkan diri di hadapan Allah SWT. Tanda-tanda orang yang tawadhu' kepada Allah SWT diantaranya:a. Merasa kecil/sedikit dalam taat kepada Allah, artinya seseorang yang tawadhu' kepada Allah SWT itu merasa bahwa dalam ketaatannya, ibadahnya kepada Allah masih sangat sedikit kecil dibandingkan dengan dosa yang telah dilakukan.b. Merasa besar/banyak dalam maksiat, artinya seseorang tawadhu' kepada Allah SWT, merasa bahwa dosa/maksiat yang telah dilakukannya sangat besar/banyak dibandingkan dengan amalnya.c. Melambungkan pujian kepada Allah SWT dan tidak kepada diri sendiri.d. Tidak menuntut hak kepada Allah, tetapi berorientasi kepada amal yang harus dilakukan.2. Tawadhu' kepada Dienullah (al-Islam). Tanda-tanda orang yang tawadhu' kepada Dienullah diantaranya:a. Tunduk dan patuh kepada aturan-aturan, perintah-perintah dan larangan-larangan di dalam agama Islam.b. Tidak mengontradiksikan al-Islam baik dalam perkataan, perasaan, pemikiran dan perbuatan.3. Tawadhu' kepada Rasulullah SAW. Tanda-tanda orang yang tawadhu' kepada Rasulullah SAW diantaranya:a. Mengutamakan petunjuk Rasulullah SAW di atas manusia lainnya.b. Mencintai, mentaati, dan mengikuti setiap perkataan dan perbuatan beliau SAW.c. Menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan hidupnya.4. Tawadhu' kepada sesama mukmin. Tanda-tanda orang yang tawadhu' kepada mukmin yang lain diantaranya:a. Menerima nasehat/saran kebenaran dari mukmin yang lain.b. Senantiasa melihat kelebihan-kelebihan saudaranya, dan berusaha menutupi kekurangan-kekurangannya.c. Siap membantu mukmin yang lain.d. Bermusyawarah dengan mukmin yang lain.e. Senantiasa bersangka baik (huznuzhan) kepada mukmin yang lain.&lt;br /&gt;Hubungan Tawadhu' dengan 'Izzah (Kemuliaan)Orang yang tawadhu' kepada Allah SWT kepada Dienullah (Islam), kepada Rasulullah SAW dan kepada sesama mukmin adalah orang-orang yang akan mendapatkan 'Izzah (kemuliaan) di sisi Allah SWT.Firman Allah SWT: "....Padahal 'Izzah itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya, dan bagi orang-orang mukmin. (QS.Al-Munfiqun : 8).Sabda Rasulullah SAW: "Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah kepada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadhu' karena Allah melainkan dimuliakan oleh Allah (HR. Muslim).Dari ayat dan hadits di atas, makin jelaslah bahwa kemuliaan itu tidak ditentukan oleh harta yang dimiliki, jabatan dan pangkat yang tinggi, ataupun darah keturunan bangsawan, dan perhiasan-perhiasan dunia lainnya. Akan tetapi 'izzah seseorang akan sangat tergantung kepada sifat tawadhu' yang ada pada pribadi seorang mukmin.Sahabat-sahabat Rasulullah SAW, adalah pribadi yang sangat tawadhu' dan memiliki 'izzah yang  tinggi. Sekalipun sebagian besar adalah orang-orang yang miskin, bekas-bekas budak dan kaum dhu'afa, namun mereka memiliki 'izzah yang tinggi.Menutup tulisan ini, marilah kita lihat kembali sebuah episode sejarah yang menunjukkan 'izzah kaum muslimin di hadapan orang-orang kafir.Saat itu, dua pasukan besar berhadap-hadapan, 40.000 tentara kaum muslimin dan 20.000 tentara Persia. Panglima Rustum duduk di atas singgasana yang berkilau-kilau bertatahkan emas dan permata, dikelilingi pengawalnya yang tertunduk di hadapan Sang Panglima. Karpet tebal terhampar di hadapan Sang Panglima. Mereka sedang menunggu utusan kaum muslimin untuk mengadakan perundingan.Tidak lama kemudian, datanglah Rubaya bin Amir utusan kaum muslimin dengan kudanya. Baju, kuda dan sepatunya biasa-biasa saja, sangat sederhana. Rubaya bin Amir dengan tenangnya melangkah di hadapan Sang Panglima sambil menggiring kudanya di atas karpet sampai di hadapan Panglima Rustum. Hal ini membuat gaduh pengawal Rustum, karena geramnya. Setelah suasana reda, dengan tenang Rubaya menyampaikan sikap kaum muslimin: "Kami datang membawa misi Ilahi untuk membebaskan manusia kepada menyembah Allah, dari alam kecil ke alam besar, dan kekejaman Majusi kepada keadilan Islam. Dan Allah mengutus kami dengan agamaNya untuk mengajak manusia kepadaNya. Siapa saja yang menerima seruan kami, kami akan menerimanya dengan baik. Kemudian kami akan kembali dan meninggalkan bumi mereka, lalu kami akan serahkan tongkat estafet dakwah itu kepada mereka untuk melanjutkannya. Akan tetapi jika ada yang menolak seruan kami, kami tidak akan berhenti berperang menghadapi mereka sampai batas yang dijanjikan Allah.Inilah 'izzah kaum muslimin pada saat itu, ke mana larinya 'izzah itu sekarang? Wallahu a'lam bish-Shawab.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-8696679576008603160?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/8696679576008603160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=8696679576008603160' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/8696679576008603160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/8696679576008603160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/07/tawadhu-dan-izzah-akhlaq.html' title='Tawadhu&apos; dan Izzah (Akhlaq)'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-2376766634108851447</id><published>2007-07-28T10:40:00.000+07:00</published><updated>2007-07-28T10:42:12.117+07:00</updated><title type='text'>Empat Tiang Pengokoh Tauhid</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Firman Allah: "Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh menegakkan agamaNya dalam barisan (shaf) bagaikan satu bangunan yang kuat tak tergoyahkan." (Surat As-Shaf ayat:4).Landasan pokok dalam membangun masyarakat muslim itu, tidak lain daripada "tauhidullah", yaitu suatu sikap hidup seorang muslim yang dibenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan/dibuktikan dengan perbuatan "amal sholeh". Setiap anggota muslim-mukmin tidak bisa melepaskan diri dari keterikatannya kepada Allah, dengan alasan apapun. Semua gerak hatinya, debar jantungnya dan seluruh pori-pori tubuhnya dihiasi semata-mata kepada kerinduan yang mendalam kepada DIA ALLAH PENGUASA DI LANGIT DAN PENGUASA DI BUMI.Tiada perasaan "syak" walau sebutir zarrah, tiada tabir yang memisahkan dirinya walau sehelai benang untuk secara total menghadapkan dirinya, berserah diri mutlak kepada Dia semata.Firman Allah: "Sesungguhnya aku hadapkan diriku semata-mata kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh rasa rindu, dan aku hanya bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik yang menyekutukan Tuhan." (QS.6:79).Kalau fundasi sudah kita bina, selanjutnya kita tegakkan empat tiang yang akan saling menyangga satu sama lainnya yaitu: Ta'aruf, ta'awun, tafahum, takaaful.&lt;br /&gt;1. Ta'aruf (saling mengenal)Kita mengenal peribahasa yang berbunyi "tak tahu maka tak kenal, tak kenal maka tak sayang", begitu juga dalam hal kita berjama'ah. Maka ta'aruf ini merupakan tiang pertama yang harus didirikan dalam membangun benteng jama'ah yang kuat.Dengan frekuensi dan intensitas yang tinggi, setiap anggota jama'ah sesama muslim wajib berta'aruf, sehingga dengan cara ini timbullah tiga buah rasa yang termasuk di setiap anggota (diri pribadi muslim) yaitu:a. Timbul rasa persaudaraan yang kuat.b. Berseminya rasa kasih sayang yang mendalam.c. Berbuahnya rasa tanggung jawab yang besar.Untuk membuahkan rasa persaudaraan tersebut, setiap anggota hendaknya memiliki "jiwa besar", untuk siap menerima dan juga memberi kepada dan dari saudaranya yang lain. Menerima kritikan dan memberi teguran dengan kata-kata yang penuh kebijakan adalah warga anggota jama'ah muslim yang rindu persaudaraan muslim tersebut.Sungguh sebenarnya yang menghancurkan ummat itu adalah wabah penyakit buruk sangka. Kurangnya ta'aruf dan silaturahmi di antara kaum muslimin itu, menyebabkan gampangnya, pribadi-pribadi membuat kesimpulan-kesimpulan menurut wasangkanya terhadap saudaranya yang lain. Sebab itu kalau kita menyadari hal ini, janganlah cepat mengambil keputusan untuk mencap negatif sesama saudara, sungguh kita akan kehilangan saudara yang barangkali dia itu adalah sahabat yang paling gigih dalam membantu cita-cita kita bersama.&lt;br /&gt;2. Tafahum (saling memahami)Tiang jama'ah mu'min yang kedua adalah tafahum yang dapat kita artikan saling memahami atau ingin mengerti lebih dalam. Memahami dan mengerti seseorang secara lebih mendalam berarti kita ingin mendapatkan suatu gambaran yang sebenarnya, dibalik tindakan orang lain tersebut.Dengan demikian tafahum berarti suatu usaha dari setiap muslim untuk dapat menggali sejauh mungkin segala hal yang berkisar dalam cara berfikir dan lingkungan pengalaman dari sesama muslim yang lainnya.Masing-masing anggota akan saling menyesuaikan diri dengan kedua faktor tersebut, sehingga timbullah apa yang disebut dengan "kepentingan yang berhimpit". Apabila berhubungan komunikasi dalam sesama anggota tersebut sudah ditata di atas kepentingan yang berhimpit itu maka usaha untuk menuju kepada suatu kerjasama sudah terbuka lebar. Harus kita sadari bahwasanya jama'ah muslim itu baru dapat hidup dan berjalan dinamis apabila dilandasi kerjasama. Dan kerjasama itu akan terwujud apabila semua anggota merasakan adanya kepentingan yang sama, dan kepentingan yang sama itu akan terus terpelihara apabila sesama anggota saling memahami secara mendalam kebutuhan jiwa, harapan dan nilai-nilai yang terdapat di antara sesama muslim.Dalam hal ini kita perlu kiranya memperhatikan sebuah pernyataan dari salah satu atasan sahabat Nabi Muhammad SAW:"Setiap manusia memandang manusia yang lainnya berdasarkan tabi'at dirinya. Dan kami diperintahkan supaya berbicara kepada manusia menurut kadar akalnya mereka masing-masing."Pengertian ini memberi keyakinan kepada kita bahwasanya setiap anggota muslim harus dapat menyampaikan "idenya" sesuai dengan kadar akal dan tabiat pengalaman dari muslim yang lainnya sehingga dengan cara ini akan terhindar dari salah paham.Memahami seseorang berarti kita masuk ke dalam diri orang tersebut. Kita tidak dengan cepat membuat kesimpulan hanya dengan melihat tingkah laku luar seseorang, kita tidak mungkin memahami seseorang hanya dengan menerima "berita" begitu saja tentang seseorang. Jelasnya memahami berarti memasuki diri orang lain dan diri sendiri.&lt;br /&gt;3. Ta'awun (saling menolong)Apabila cinta kepada Allah telah menghujam di segenap relung dada seorang muslim, maka sifat ta'awun itu adalah salah satu karakternya yang melekat seumurhidupnya.Menolong memiliki makna "mengangkat atau meringankan orang lain dari suatu beban, baik diminta maupun tidak diminta". Mengangkat seseorang dari penderitaan, atau minimal meringankannya baik dengan harta, jiwa, doa, dan nasehat tidak ada kerugiannya sama sekali kecuali kebaikan semata-mata. Itulah sebabnya dasar falsafah agama ini yang begitu mementingkan "kekuatan" merupakan tonggak utama bagi kekayaan akhlak setiap pribadi muslim.Dengan ta'awun sebenarnya merupakan salah satu investasi bersama menuju kepada kekuatan jamaah mukmin yang dirindukan tersebut. Rasa persaudaraan yang mendalam itu sebenarnya terletak di dalam "rasa senasib", rasa untuk senantiasa ikut merasakan penderitaan dan kebahagiaan orang lain terutama sesama seiman dan seaqidah.Firman Allah: "Bertolong-tolonglah kamu dalam hal berbuat baik dan taqwa, dan janganlah kamu bertolong-tolongan dalam berbuat dosa dan permusuhan." (QS. Al-Maidah ayat 2).&lt;br /&gt;4.Takaaful (rasa tanggung jawab)Hasrat ingin berta'aruf, rindu bersilaturahmi, gandrung untuk berta'awun, sebenarnya disebabkan kita semua merasakan adanya rasa tanggung jawab terhadap perintah agama, terhadap amanah, dan rasa cinta kasih yang besar terhadap sesama saudara seiman dan sebangsa, setanah air.Perasaan bertanggungjawab ini menyebabkan dirinya waspada dan memiliki self control yang tinggi untuk menjaga sesama saudaranya dari kehancuran, dari fitnah dan celaan. Dia merasa bahwa dirinya adalah merupakan bagian dari diri saudaranya, diri dan sudaranya merupakan satu tubuh, yang apabila ada yang merasa sakit di bagian satu tubuh, maka seluruhnya merasakan sakit tersebut. Itulah sebabnya dia begitu besar tanggungjawabnya di dalam "menjaga" tubuh jama'ah mukminnya dari perpecahan, celaan dan kehancuran.Sabda Nabi: "Barang siapa yang menutupi cela saudaranya, maka Allah SWT akan menutupi celanya di dunia dan akhirat". (Ibnu Majah).Inilah rasa tanggungjawab sesama muslim. Perasaan ikut terlibat dalam suka dan duka dari sesama saudaranya. Sebab itu seorang yang memiliki jiwa takaaful akan sangat menjaga lidah dan mulutnya dari pembicaraan yang mengakibatkan rasa sakit dan prasangka buruk terhadap saudaranya.Marilah kita bersihkan iman dan jaga tauhid kepada Allah. Tegakkan tiang yang empat itu diatas tauhidullah. Bersatulah kita dan raihlah kekuatan untuk berbakti kepada agama, bangsa, kedua orang tua dan sesama muslim, sesama manusia, serta alam semesta ini. Amien. Ya, Allah, tolonglah kami!&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-2376766634108851447?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/2376766634108851447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=2376766634108851447' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/2376766634108851447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/2376766634108851447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/07/empat-tiang-pengokoh-tauhid.html' title='Empat Tiang Pengokoh Tauhid'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-2116556810698523136</id><published>2007-07-27T09:49:00.001+07:00</published><updated>2007-07-27T09:52:52.504+07:00</updated><title type='text'>Manusia Utama</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Sudah menjadi kebiasaan seseorang merasa bebas untuk berbuat sesuatu menurut ukuran keadaannya. Entah perbuatannya itu sesuai dengan petunjuk yang benar ataupun tidak sesuai, tidaklah menjadi pokok persoalan baginya. Hanya yang penting baginya, ialah berhasilnya apa yang diusahakannya. Tentang buruk atau baiknya itu menjadi urusan kedua. Juga tentang benar atau salahnya itu adalah soal kemudian, dan tentang dilarang atau tidaknya menurut hukum, itupun baginya hanya sekedar peraturan yang tidak mengikat. Sedangkan dia mengetahui, bahwa "peraturan" itu tetap "peraturan". Dan lain-lainnya lagi menurut pendapat seseorang yang bebas untuk menjalankan kemauannya tanpa mengarah kepada jalan yang benar. Yakni jalan yang lurus yang diridhai oleh Tuhan Yang Maha Mulia dan yang disenangi oleh masyarakat pada umumnya.Kebebasan apa yang diusahakan oleh seseorang itu belum tentu dibenarkan dan belum tentu sesuai dengan peraturan-peraturan yang sudah ditentukan menurut garis-garis haluan beragama. Yaitu agama yang diridhai Tuhan Yang Maha Pengatur dengan mengingat kebutuhan bagi seluruh manusia yang mengharapkan kurnia daripadaNya.Maka oleh karena itu benarlah peringatan dari Allah SWT kepada ummat manusia dalam firmanNya yang artinya:"Katakanlah! Bahwa setiap orang berbuat menurut ukuran keberadaannya. Tetapi Tuhan kamu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya." (Al-Quran, s.17/a.84).Sesungguhnyalah, bahwa setiap orang dalam kehidupannya suka berbuat menurut jalan pikirannya sendiri, tanpa memikirkan akibatnya - baik atau buruk dan benar atau salah.Akan tetapi bagi kita ummat Islam menerima kehidupan di dunia ini, adalah sebagai suatu nikmat paling besar, kurnia dari Allah SWT. Yaitu yang merupakan titik tolak untuk berbuat kebaikan-kebaikan dalam kehidupan kita. Pendapat ini adalah merupakan prinsip dasar dalam kehidupan dunia untuk berlomba berbuat kebaikan-kebaikan, guna mendekatkan diri kepada Allah dengan mengharapkan keridhaanNya dalam mencapai tingkatan "manusia utama".Maka dalam hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW dalam haditsnya (artinya): "Adapun manusia utama, ialah orang-orang mukmin yang berjuang di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya, kemudian orang-orang mukmin yang berbeda dalam golongan orang-orang yang takwa kepada Allah dan menjauhkan dirinya dari kejahatan-kejahatan manusia." (Bukhary dan Muslim).Jelasnya, bahwa manusia utama, ialah orang-orang mukmin yang rela berjuang di jalan Allah dengan mengorbankan jiwa dan hartanya, bergaul dengan orang-orang yang bertakwa kepada Allah dan menjauhkan dirinya dari orang-orang jahat yang suka berbuat dosa.&lt;br /&gt;Banyak ayat-ayat dalam Al-Quran, yang mengajak manusia melakukan perjuangan dengan mentaati "tuntunan ke jalan Allah", yang antara lain menurut firmanNya: "Dan sesungguhnya Kami hendak menguji kamu, sehingga Kami mengetahui (terbukti) siapa di antara kamu yang benar-benar berjuang dan berhati teguh, dan Kami hendak menyatakan (baik buruknya) hal ikhwal kamu." (Al-Quran, S.47/a.31).Allah SWT hendak menguji orang-orang mukmin tentang bukti kebenaran "perkataan dengan perbuatannya" dalam mengamalkan perjuangan membela/menegakkan agama Islam dengan hati teguh, sehingga Allah menyatakan baik atau tidaknya perjuangan orang-orang mukmin itu.Dan lagi firmanNya: "Dan orang-orang yang berjuang untuk memenuhi seruan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan." (Al-Quran, s.29/a.69).Orang-orang mukmin yang betul-betul berjuang untuk memenuhi seruan Allah, dan mereka patuh mentaati seruan itu, pasti Allah akan memberikan petunjukNya kepada mereka, bagaimana cara menjalankan perjuangan yang sebenar-benarnya yang diridhai Allah. Yaitu berjuang dalam berbuat kebaikan dimana Allah SWT akan mengawasi mereka dengan seksama, sehingga mereka beroleh kebahagiaan.Demikian pula firman Allah yang artinya: "Orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan dirinya, mereka lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang memang (berhasil usahanya)." (Al-Quran, S.9/a.20).Orang-orang mukmin yang ikut berhijrah bersama dengan Rasulullah SAW dan mereka berjuang di jalan Allah dengan harta dan dirinya, mereka dinyatakan lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan mereka itulah orang-orang yang memang berhasil dalam perjuangannya.&lt;br /&gt;PergaulanSebagaimana sudah dimaklumi oleh ummat Muslimin, bahwa yang semulia-mulianya dari antara mereka, ialah orang-orang yang lebih bertakwa, menurut firmanNya: "...Sesungguhnya yang paling mulia diantara kami dalam pandangan Allah, ialah yang lebih bertakwa...." (Al-Quran, S.49/a.13).Maka oleh sebab itu perlu sekali bergaul dan mengikuti jejak langkah orang-orang yang lebih bertakwa, agar supaya sifat "ketakwaan" kepada Allah SWT itu terasa nikmat bagi mereka.Dalam hal "ketakwaan" ini pun banyak terdapat firman Allah dalam Al-Quran, antara lain sebagai berikut:"Hai anak Adam! Jika datang kepada kamu Rasulullah daripada kamu yang menceritakan kepada kamu ayat-ayatKu, maka barang siapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati." (Al-Quran, S.7/a.35).Demikianlah peringatan dari Allah SWT kepada ummat manusia, di kala Rasulullah SAW menyampaikan ayat-ayat Allah, maka barangsiapa yang bertakwa dengan mengamalkan ayat-ayat itu, serta mengadakan perbaikan-perbaikan dimana perlu, dapat dipastikan, bahwa keimanan mereka akan tetap teguh, tidak ada kekhawatiran di atas diri mereka dan jiwa mereka akan tenang-tenang tidak ada keragu-raguan dan tidak bersedih hati menghadapi setiap pergolakan dalam kehidupannya.Dan lagi firmanNya (artinya): "Dan kalau mereka beriman dan bertakwa, sesungguhnya pahala di sisi Allah itu lebih baik kalau mereka mengetahuinya." (Al-Quran, S.2/a.103).Demikian juga peringatan kepada ummat manusia, kalau sekiranya mereka beriman (menjadi orang mukmin) disertai dengan bertakwa (memelihara diri dari segala kejahatan), maka pasti akan diberikan pahala (imbalan yang baik-baik) dari Allah. Itu pun kalau mereka mengetahui kurnia dari Allah SWT yang diberikanNya dengan kemurahan hatiNya.&lt;br /&gt;Menjauhkan DiriAdapun orang-orang yang termasuk "utama" dalam pandangan Allah SWT ialah antaranya mereka yang menjauhkan diri dari orang-orang jahat yang suka berbuat dosa, melakukan kemaksiatan, agar mereka tidak terbawa-bawa berbuat kejahatan. Karena kalau seseorang bergaul dengan orang-orang baik budi pekertinya, maka diapun akan mengikuti sifat yang baik itu. Demikian juga, kalau seseorang bergaul dengan orang-orang buruk pekertinya, maka lambat lain diapun akan dihinggapi sifat yang buruk serupa dengan orang-orang yang buruk pekertinya itu.Maka sebaiknyalah bagi seseorang yang akan mengambil predikat "manusia utama" hendaklah dia bergaul dengan orang-orang yang berbudi pekerti yang luhur, beradab sopan santun dan menjauhkan diri dari segala macam perbuatan yang membawa dosa.Demikian ini menurut firman Allah yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang memelihara dirinya dari kejahatan, berada dalam taman sorga dengan serba kenikmatan. Mereka bersukaria dengan menerima apa yang diberikan oleh Allah kepada mereka, dan Tuhan menjauhkan mereka dari azab (siksaan) neraka." (Al-Quran, S.52/a.17-18).Dan menurut firmanNya: "Karena itu Allah memeliharakan mereka orang-orang yang beriman itu dari kesusahan pada hari itu (hari persidangan Pengadilan Maha Agung), dan memberikan kepada mereka kejernihan wajah berseri-seri dan hati yang gembira." (Al-Quran, S.76/a.11).Nanti pada hari pemeriksaan di hadapan Pengadilan Maha Agung, orang-orang yang beriman (mukmin) itu akan terpelihara (terlindung) dari kesusahan dan Allah akan memberikan kejernihan wajah muka yang berseri-seri dan dengan penuh kegembiraan dalam hati, karena rahmat kurnia dari Allah SWT.Dan dijelaskan dengan firmanNya (artinya): "Pada hari itu ada orang yang putih mukanya dan ada yang hitam mukanya. Adapun orang yang hitam mukanya (dikatakan kepadanya): "Mengapa kamu kafir sesudah beriman?" Maka tanggunglah azab karena keingkaran kamu!" Dan adapun orang yang putih mukanya, mereka berada dalam rahmat Allah, dan mereka kekal di dalamnya." (Al-Quran, S.3/a.106-107).Diantara ummat-ummat manusia yang hadir dalam Pengadilan Maha Agung itu, ada yang hitam mukanya, yakni mereka yang bersedih, karena kecewa dan menyesali dirinya telah berbuat keingkaran selama hidup di dunia. Sedang yang putih mukanya, ialah mereka yang bergembira dengan berseri-seri wajahnya, karena mereka selama di dunia hidup dalam ketaatan dan bertakwa (memelihara dirinya dari segala macam kemaksiatan).Demikianlah, sebaiknya kita ummat Islam berusaha dengan memperbanyak "amalan shalihah" untuk mencapai tingkat derajat "manusia utama", yaitu dengan jalan berjuang di jalan Allah, menegakkan agamaNya, bergaul dengan orang-orang "muttakiin" yang paling mulia, dan menjauhkan diri dari apa pun macamnya yang bernama kejahatan yang bisa merusak budi pekerti dengan ancaman hukuman dari Allah SWT Yang Maha Berkuasa lagi Maha Bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-2116556810698523136?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/2116556810698523136/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=2116556810698523136' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/2116556810698523136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/2116556810698523136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/07/manusia-utama.html' title='Manusia Utama'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-4434439903463819841</id><published>2007-07-27T09:48:00.000+07:00</published><updated>2007-07-27T09:49:18.074+07:00</updated><title type='text'>Kebutuhan Fitriyah Manusia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Manusia diciptakan Allah untuk melaksanakan tugas-tugas mulia. Manusia diwajibkan untuk menyembah Allah dan karena itu manusia dipercayakan sebagai wakilNya dalam memakmurkan alam ciptaanNya.Untuk tujuan itu, maka Allah Maha Pencipta, membiarkan potensi-potensi lebih kepada manusia, yang tidak diberikan kepada makhluk yang lain. "Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna" (QS.95:4). "Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam (manusia), Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami berikan mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS.17:70).Secara garis besar, diri manusia itu terdiri dari dua unsur pokok yaitu unsur jasmani/fisik dan unsur rohani/non fisik. Dan unsur ini tidak bisa dipisahkan. Karena itu, maka kebutuhan hidup manusia juga terdiri dari dua unsur, unsur fisik materiil dan unsur mental spiritual. Dua unsur kebutuhan ini juga tidak bisa dipisah-pisahkan. Kedua-duanya harus senantiasa dipenuhi secara bersama-sama.Pemenuhan unsur jasmani, sandang, pangan dan papan, bukanlah ciri khusus yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Hanya cara mencapai kebutuhan tersebut yang menonjol perbedaannya. Sedangkan tujuan  dari kebutuhan unsur jasmani itu sama saja dengan berbagai makhluk hidup lainnya. Dan perkembangan ilmu pengetahuan modern dalam rangka memudahkan tercapainya pemenuhan kebutuhan jasmani, juga bukan ciri istimewa yang membedakan manusia dengan hewan dalam hal bersama-sama mencari kepuasan jasmaninya.Ukuran hakiki keagungan manusia bukan terletak pada sains dan teknologi, melainkan pada kesan benda-benda tersebut pada perasaan, sentimen dan eksistensi jiwanya secara umum.  Jika kesan dan pengaruh tersebut dapat  menyampaikan kepada suatu gagasan tentang kemanusiaan secara lebih luas dan merata serta kepada suatu gagasan tentang kehidupan secara lebih agung dan luhur, maka dengan benda-benda itu manusia tersebut telah benar-benar meningkat dan maju, terjauh dari berbagai kegelisahan dan ketakutan menuju kebahagiaan hidup di dunia ini.Ternyata, dunia sekarang dengan berbagai kemajuan teknologi dan melimpah ruahnya kebutuhan jasmani justru makin mempersempit rasa kasih sayang, berkembangnya egoisme yang keji, dan semua itu ia gunakan demi kenikmatan jasad kasar yang tamak, maka manusia sekarang pun merosot kepada serendah-rendahnya derajat, walaupun tampaknya ia bergelimang dalam cahaya yang kilau kemilau. Manusia kini, menjerit ketakutan di tengah-tengah tumpukan senjata mutakhir, merasa miskin di tengah-tengah tumpukan kekayaan dan kemewahan, menangis di balik ketawa gembira dan berbagai penyakit manusia modern sekarang ini yang tak terobati dan tak ada dokter yang sanggup mengobatinya.Sebenarnya kebahagiaan itu terletak pada perasaan yang ada di dalam, pada iman dan akidah yang dimilikinya, bukan pada kekayaan, kemewahan dan berbagai alat dan teknologi modern.  Karena itulah maka akidah (iman) itu menjadi soal terbesar dalam kehidupan ummat manusia. Dialah yang menggerakkan jiwa dari dalam. Dialah pengarah yang menjuruskan kepada pelbagai macam karya, aneka kelakuan dan aneka ragam perasaan. Ia tetap menjadi perlindungan terakhir dan suluh penerang dalam kegelapan.Akidah (iman) yang mantap akan melahirkan akhlak yang baik pula. Akhlak adalah tatacara manusia berurusan dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain. Ia adalah perwujudan dan manifestasi dari akidah. Ia tidak tumbuh dari cipta karya manusia yang berkembang. Ia tidak tumbuh dari lingkungan pertanian atau industri ataupun nuklir. Ia tumbuh dari unsur eksistensi manusia itu sendiri, dari tanggung jawab yang disebabkan oleh eksistensi manusiawinya. Bilamana manusia telah menyimpang dari akidah yang lurus, maka ia pun akan menyimpang dari akhlak yang baik.Di sinilah letak kemuliaan ummat manusia, pada iman dan moral. Ia tidak tunduk kepada dorongan insting, ia melaksanakan tindakan yang tidak berlebih-lebihan dan keseimbangan dalam urusan-urusan materi.Jadi apabila unsur rohani tak terpenuhi secara wajar dan benar, maka kebahagiaan tak akan tercapai pula, meskipun kebutuhan yang bersifat jasmani cukup memadai. Kebahagiaan dapat diperoleh oleh seseorang, apabila pikirannya, perasaannya, dan keinginannya sehat. Dan sebaliknya, seseorang bisa menjadi sakit karena gangguan pikirannya, keinginannya dan perasaannya. Berbagai penyakit rohaniah melanda manusia modern sekarang, seperti kegelisahan, kezaliman, rakus dan tamak terhadap harta benda, kedengkian, dekadensi moral dan berbagai penyakit rohani lainnya yang membuat manusia sekarang tidak merasakan kebahagiaan.Dengan demikian, maka kebutuhan rohani adalah merupakan kebutuhan pokok bagi manusia yang tidak bisa diabaikan. Iman yang kuat dan akhlak yang mulia (akhlaqul karimah) yang bersumber pada agama yang benar adalah syarat utama untuk mencapai kebahagiaan dan kemuliaan manusia.Maka, mengabaikan unsur-unsur rohani dalam pembangunan berarti mencampakkan nilai-nilai kemanusiaan kepada nilai-nilai yang lebih rendah. Kehidupan manusia, bagaimanapun majunya, tanpa berlandaskan agama, iman dan akhlak adalah sama dengan suatu kehidupan yang hampa, sepi dari rasa tentram dan bahagia. Ia merupakan kebutuhan fitri dan emosional manusia, ia hanya satu-satunya sarana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fitri manusia yang tak sesuatu pun dapat menggantikan kedudukannya. "Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama Allah; tetaplah atas fithrah Allah yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fithrah itu." (QS. 30:30). Telah menjadi jelas bagi semua orang, bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat menggantikan agama dalam memenuhi kebutuhan manusia, sebagai suatu persyaratan mutlak bagi kehidupan yang lurus dan sehat. Manusia membutuhkan agama dalam kehidupan pribadi dan komunalnya. Manusia tetap tidak merasakan tenteram dan bahagia kecuali dengan agama dan iman yang kuat. "Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS.13:28).Mengingat Allah artinya melaksanakan segala perintah agama. Dunia tanpa agama bagaikan sumur yang dalam atau penjara gelap gulita.  Agama dalam lubuk jiwaku merupakan kerajaan yang amat luas, yang tak tersentuh kebinasaan dan keruntuhan untuk selama-lamanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-4434439903463819841?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/4434439903463819841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=4434439903463819841' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/4434439903463819841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/4434439903463819841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/07/kebutuhan-fitriyah-manusia.html' title='Kebutuhan Fitriyah Manusia'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-3754054060176618018</id><published>2007-07-27T09:47:00.000+07:00</published><updated>2007-07-27T09:48:37.311+07:00</updated><title type='text'>Dua Perangai Manusia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Perangai atau tabiat, kelakuan dan tingkah laku manusia itu, dinilai allah SWT dari dua sudut. Yaitu yang disukaiNya dan yang lainnya dibenciNya. Yang disukaiNya ialah yang sesuai dengan "ketentuan dan tuntutanNya". Sedang yang dibenciNya (tidak disukaiNya) ialah yang bertentangan dengan "ketentuan" dan tuntutanNya itu.Ada dua macam perangai manusia yang disukaiNya dan ada dua macam pula perangai manusia yang dibenciNya. Sebagaimana diterangkan dalam hadits Rasulullah SAW dengan sabdanya: "Dua macam perangai yang disukai Allah dan dua macam pula yang tidak disukai (dibenciNya). Yang disukai Allah, ialah "pemurah" dan "berani", dan yang tidak disukaiNya, ialah "jahat" dan "bakhil". Dan apabila menghendaki Allah dengan hambaNya akan kebaikan, bekerjalah hamba itu dalam melaksanakan tugasnya buat kepentingan manusia". (Baihaqy).Dua macam perangai manusia yang disukai Allah dan ada dua macam pula perangai manusia yang tidak disukaiNya. Yang disukai Allah, ialah pertama "pemurah", termasuk penyantun, pengasih, penyayang, penolong, dsb. Dan yang kedua, ialah "berani" dalam hal menegakkan hukum, keadilan dan kebenaran berani karena benar.Adapun yang tidak disukai Allah ialah pertama, "jahat" perangai. Seperti dengki, hasud, busuk hati, rakus, dendam, fitnah, dsb. Yang kedua, ialah "bakhil" atau kikir. Tidak suka bersedekah, tidak mau memberikan pertolongan atau bantuan dsb, untuk keperluan ibadat atau untuk menolong orang papa-melarat, tidak punya apa-apa, atau orang-orang miskin dan yatim piatu.&lt;br /&gt;Yang disukaiPemurahPemurah ialah tabiat orang yang bersifat"kasih sayang", yang terbit dalam hati sucinya. Orang pemurah, suka menolong orang lain, baik dengan hartanya atau dengan ilmunya, atau perkataan-perkataannya ataupun perbuatannya, dan setidaknya-tidaknya memberikan "petunjuk" kepada orang yang memerlukannya. Sebagaimana firmanNya: "Selain dari itu, dia termasuk orang yang beriman dan berperan satu sama lain, supaya berhati sabar dan berkasih sayang." (Al-Quran, S.90/a.17).Orang-orang pemurah adalah karena sudah mendalam "keimanannya". Maka diapun tidak segan-segan berpesan, memberi nasehat, memberi pengarahan yang baik-baik, dan supaya bersabar (berhati teguh) menghadapi sesuatu peristiwa, dan berkasih sayang sesama ummat manusia.Dengan imannya, orang-orang pemurah itu, tidak segan-segan membuat amal shaleh, untuk siapa saja yang dianggap perlu diberi pertolongan, karena dia selalu mengamalkan akan firman Allah SWT: "Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, dan nasehat-menasehati, supaya tetap dalam kesabaran." (Q.S. 103/a.1-3).Demikianlah, orang pemurah itu, setiap ada kesempatan tidak disia-siakannya dengan keimanannya, mengerjakan amal shaleh, kebaikan untuk siapa saja, atau memberikan nasehat kepada seseorang, supaya selalu berbuat sesuatu diatas "kebenaran" menurut Islam. Dan juga memberikan nasehat supaya bersabar, teguh hati menghadapi pergolakan hidup di dunia ini menurut tuntutan dan tuntunan dari Allah SWT.&lt;br /&gt;BeraniOrang yang berani, ialah mereka yang berani berbuat kebenaran, berani di atas yang hak, berani menjalankan keadilan, berani menyingkirkan kejahatan, berani bertindak menghapuskan kemaksiatan, berani menghadapi sesuatu penderitaan yang menimpa dirinya, dan berani menegakkan yang makruf serta mengikis yang mungkar - sebagaimana nasihat Luqman (Maha Guru kepada puteranya: "Hai anakku! Dirikanlah sembahyang dan suruhlah mengerjakan yang makruf (baik) dan cegahlah perbuatan mungkar (jahat), dan bersabarlah menghadapi apa-apa yang menimpa engkau. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)." (Al-Quran S.31/a.17).Jelaslah, bahwa disamping kita mengerjakan sembahyang untuk "persembahan" pengabdian kepada Allah, juga adalah kewajiban "menyuruh" manusia mengerjakan perbuatan-perbuatan makruf, yang baik-baik dan "mencegah" manusia mengerjakan perbuatan-perbuatan mungkar, yang buruk-buruk, yang jahat-jahat dan apapun yang termasuk "maksiat".Dan juga dengan kesabaran, berani menghadapi apa-apa yang akan menimpa diri kita, baik semacam musibah atau apapun macamnya penderitaan. Karena sesungguhnya semua itu adalah termasuk "perintah" dari Allah SWT yang wajib dijalankan.Dan lagi firmanNya: "Dan telah sempurnalah Kalimat Tuhanmu (Al-Quran dengan kebenarannya dan keadilannya). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimatNya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Q.S.6/a.115).Kalimat-kalimat Allah, ialah wahyu-wahyu Allah, yang sempurna kebenaran dan keadilannya, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang keseluruhannya termaktub di dalam Al-Quran Karim, yang antara lain mengandung hukum-hukum Tuhan yang tetap berlaku, baik tentang pahala dan ganjaran bagi orang-orang yang berbuat kebaikan-kebaikan atau pembalasan atau siksaan bagi orang yang menolak "kebenaran" agama Tuhan, yang tak dapat diubah ketetapan Kalimat-KalimatNya.  Bahwa Allah Maha Mendengar desas-desus dalam hati seseorang, dan Maha mengetahui isi hati seseorang hambaNya.Maka dalam hal tersebut, haruslah ummat Islam "berani" menegakkan Kalimat-Kalimat Allah itu, walaupun menghadapi segala resiko Berani bertindak, berani berbuat makruf dan berani mencegah yang mungkar berani karena keadilan dan kebenaran - "terbujur lalu, terbelintang patah" untuk mentaati "perintah wajib" dikerjakan yang tak dapat ditolak.&lt;br /&gt;Yang DibenciJahatPerangai jahat menimbulkan perbuatan buruk karena hawa nafsu yang suka mengajak kepada kejahatan. Kejahatan itu adalah oleh perilaku perbuatan setan, agar supaya manusia mengikuti jejak langkahnya, berbuat kekejian dan kemungkaran.  Maka oleh karena itu, orang-orang Mukmin diperingatkan oleh Allah SWT dengan firmanNya: "Hai orang-orang mukmin! Janganlah kamu turut tingkah laku setan! Dan siapa-siapa yang menuruti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar...."(Al-Quran, S.24/a.21).Dan lagi menurut firmanNya: "Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan sama saja. Mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat makruf..."(Al-Quran, S.9/a.67).Maka oleh karena itu hendaklah orang-orang Mukmin berhati-hati dan waspada dengan penuh kesadaran jangan sampai tergoda oleh tingkah laku nafsu setan yang senantiasa mengajak berbuat kejahatan, kekejian, keonaran dan bermacam kerusakan di muka bumi. Dan juga harus berhati-hati terhadap orang-orang munafik laki-laki atau perempuan mereka sama saja jahatnya memutarbalikkan keadaan yang sebenarnya, yang salah dikatakan benar, yang benar dikatakan salah, - Dan yang khas sifat munafik itu, ialah menyuruh membuat mungkar dan melarang berbuat makruf, yang berarti menyalahi perintah-perintah dari Allah SWT. Maka berhati-hatilah orang-orang Mukmin jangan sampai terjerumus mengikuti langkah-langkah setan dan mengikuti tipuan orang-orang munafik, agar supaya kita tidak dibenci oleh Allah SWT, karena mengerjakan perbuatan-perbuatan jahat itu.Menurut firmanNya: "Hai kamu sekalian! Kamu dipanggil, supaya menafkahkan (hartamu) di jalan Allah, tetapi diantara kamu ada yang bakhil (kikir). Dan siapa-siapa yang bakhil, hanyalah dia bakhil terhadap dirinya sendiri. Allah itu serba cukup (kaya) dan kamu mempunyai keperluan (kepadaNya).  Kalau kamu membelakangi (tiada memperdulikan), Dia akan menukar kamu dengan kaum yang lain, kemudian mereka tiada serupa kamu." (Al-Quran, S.47/a.38).Ummat Islam terpanggil untuk menafkahkan hartanya yang dicintainya untuk kepentingan di jalan Allah, seperti untuk perjuangan, peribadatan, kemaslahatan umum, dan sebagainya.Akan tetapi, panggilan itu tidak mendapat tanggapan dari sebahagian hamba-hambaNya. Mereka tetap bakhil, kikir, tidak suka menginfakkan hartanya, yang akibatnya merugikan bagi diri mereka sendiri, dalam arti tidak mensyukuri nikmat harta yang dikaruniakan Allah kepadanya, maka kerugiannya jatuh diatas mereka sendiri, yaitu dengan adanya "hukuman" dari Allah SWT, yang mana ada kemungkinan keperluan atau hajat mereka ditahan, tidak diberikan kepadanya, karena Allah SWT Maha Kuasa atas setiap sesuatu.Maka akibatnya, bagi yang tidak mengindahkan panggilanNya, Allah akan menyingkirkan mereka, menukar manusia "bakhil" itu dengan manusia yang patuh dan taat menjalankan panggilanNya.Dan lagi firmanNya:"Tahukah engkau, siapa orang-orang yang mendustakan agama? Itulah orang-orang yang menghardik anak-anak yatim, dan tidak menganjurkan untuk memberi makanan kepada orang-orang miskin." (Q.S.107/a.1-3).Demikianlah sifat orang bakhil, mereka dianggap "pendusta agama" karena tidak suka memperhatikan anak-anak yatim piatu sedang mereka anak-anak yatim piatu itu menggantungkan nasib hidupnya kepada ummat Islam seumumnya. Juga orang-orang bakhil itu, karena kikirnya, mereka tidak suka memberikan makanan kepada orang-orang fakir miskin. Itulah manusia "pendusta agama".&lt;br /&gt;Menjalankan TugasMenurut akhir hadits tersebut di atas: "Dan apabila menghendaki Allah dengan hambaNya akan kebaikan, bekerjalah hamba itu dalam melaksanakan tugasnya buat kepentingan manusia."Dalam hal ini, berarti bahwa apabila seseorang yang disukai Allah, untuk "kebaikannya", maka orang itu siap sedia bekerja melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan masyarakat umum dengan murah hatinya dan dengan keberanian yang ada padanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-3754054060176618018?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/3754054060176618018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=3754054060176618018' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/3754054060176618018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/3754054060176618018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/07/dua-perangai-manusia.html' title='Dua Perangai Manusia'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-182114675028546226</id><published>2007-07-27T09:45:00.000+07:00</published><updated>2007-07-27T09:47:30.015+07:00</updated><title type='text'>Limpahan Keberkahan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Seseorang yang dapat menahan atau memelihara dirinya dari sesuatu perbuatan yang dilarang, menandakan bahwa dia adalah seseorang yang beriman, dan karena itu dia dinamakan "mukmin".Orang-orang mukmin selalu berhati-hati dalam setiap tindakannya.  Dia tidak akan membuat semacam "kejahatan" atau meninggalkan sesuatu "kebaikan".Karena dia akan merasa malu, apabila menjalankan pekerjaan serupa itu.Seandainya seseorang tidak bermalu, maka hidup dan kehidupannya akan sama saja dengan kehidupan hewan-binatang. Dia adalah manusia yang tidak beriman. Sedangkan dalam segala gerak-gerik kita sebagai umat Islam harus disertai dengan iman.Dan iman itu banyak macamnya dan cabangnya. Sebagaimana menurut sabda Rasulullah SAW : "Iman itu mempunyai enam puluh cabang dan menyatu satu cabang dari iman." (Riwayat Bukhary dan Muslim).Jadi orang yang mempunyai sifat malu, menandakan bahwa dia orang yang beriman (mukmin).  Maka sudah pasti orang yang beriman itu akan sangat malu dalam jiwanya, apabila dia tidak bisa mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya.&lt;br /&gt;Keimanan dan KetakwaanMaka karena itulah orang-orang yang beriman, selalu memelihara dirinya dalam "kesucian" takut akan berbuat kesalahan ataupun kejahatan sehingga karena itu dia berjiwa besar bertakwa kepada Allah dengan mengharapkan ridhoNya dalam menjalani kehidupan di dunia sampai nanti menemui kehidupan di akhirat.Maka dengan adanya "keimanan" dan ketakwaan dalam jiwa seseorang, insyaa Allah di akan mendapatkan "limpahan keberkahan" dalam kehidupannya.Sebagaimana menurut firmanNya: "Dan kalau kiranya penduduk negeri itu beriman pasti Kami melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan ayat-ayat (keterangan-keterangan) Kami, maka Kami ambil tindakan (dengan hukuman siksa) disebabkan ulah perbuatan mereka sendiri." (Al-Quran, S.7/a.96).Demikianlah janji Allah SWT, bahwa "limpahan keberkahan" hidup akan diturunkan kepada ummat manusia yang benar-benar beriman dan sungguh-sungguh bertaqwa kepadaNya, Keberkahan itu turun dari langit, seumpamanya air hujan yang menghidupkan tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan dan tanam-tanaman dan keluar dari perut bumi, seumpama adanya tambang-tambang: minyak, timah, dan lain sebagainya yang menjadi rezeki bagi ummat manusia.Sesungguhnya "keberkahan" bagi kehidupan manusia itu akan berlimpah ruah tidak akan habis-habisnya.  Akan tetapi dengan tegas Allah SWT mengambil tindakan, menghukum mereka dengan siksaan dan membatasi rezekinya. Yang mana tidak lain adalah karena perlakuan mereka sendiri "mendustakan" ayat-ayat Allah, yakni keterangan-keterangan nyata atas "kemurahan" daripadaNya yang melimpahkan keberkahan dalam kehidupan mereka. Akan tetapi mereka tidak mensyukurinya dengan semestinya.&lt;br /&gt;PeringatanMaka oleh sebab itu kita sebagai hamba Allah turunan Nabi Adam A.S. diperingatkan oleh Allah SWT dengan firmanNya : "Hai anak cucu Adam! Di kala datang kepada kamu Rasul-Rasul diantara kamu yang menceritakan kepada kamu ayat-ayat Kami. Maka barang siapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, pasit mereka tidak akan merasakan kekhawatiran dan tidak menanggung duka cita." (Q.S.7/a.35).Diperingatkan kepada seluruh ummat manusia - anak cucu Nabi Adam A.S. supaya mematuhi seluruh ayat-ayat (keterangan-keterangan/peraturan-peraturan tata-tertib cara kehidupan mereka) dari Allah dengan jiwa 'bertakwa', mentaati titah perintahNya, serta mengadakan perbaikan dari kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat. Kalau mereka mengikuti pelajaran dari Rasul-Rasul itu, pasti hidup mereka dalam kemakmuran, dan mereka tidak akan merasakan kekhawatiran dan juga tidak akan menanggung duka-cita.Dan lagi menurut firmanNya: "Dan kalau mereka beriman dan bertakwa, sesungguhnya pahala dari sisi Allah itu lebih baik, kalau mereka mengetahuinya." (Al-Quran, S.2/a.103).Demikianlah "keimanan" dan "ketakwaan" bagi seseorang itu sangat diutamakan adanya untuk memelihara diri dari setiap kejahatan, maka pasti mereka akan mendapat pahala yang lebih baik, kalau mereka mengetahui akan mendapatkan "limpahan keberkahan" itu dari Allah SWT.&lt;br /&gt;PelanggaranAdapun pelanggaran yang dilakukan oleh ummat manusia itu, adalah terjadinya, karena mereka melewati batas-batas hukum Allah dan mereka memilih kehidupan dunia tanpa menjiwai "keimanan" dan "ketakwaan".Sehingga karena itu mereka lupa akan kewajiban-kewajibannya untuk mentaati perintah-perintah Allah, sebagaimana yang telah digariskan dalam agamaNya.  Sehingga nanti dalam kehidupan di akhirat, mereka mendiami tempat yang layak bagi mereka, yaitu "api neraka", sebagaimana menurut firmanNya: "Adapun orang-orang yang melanggar batas dan memilih kehidupan dunia, maka sesungguhnya api neraka itulah tempat tinggalnya. (AL-Quran S.79, ayat 37-39).Akan tetapi adalah sebaliknya, bagi orang-orang yang takut melanggar batas hukum-hukum Allah serta menahan dirinya dari mengikuti hawa nafsu, maka bagi mereka akan mendapat tempat tinggal yang baik di akhirat nanti, yaitu tempat yang penuh dengan kenikmatan, ketentraman, dan kebahagiaan, ialah tidak lain dari "sorga" yang sudah disediakan untuk mereka yang menguasai dirinya dari mengikuti hawa nafsu.Yang mana tidak lain, karena adanya "keimanan". Sebagaimana menurut firmanNya: "Dan adapun orang-orang yang takut (melanggar batas) di hadapan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsu, maka sesungguhnya sorga itulah tempat tinggalnya." (Q.S.79/a.40-41).&lt;br /&gt;KebebasanSejalan dengan "limpahan keberkahan" dari Allah SWT, maka bagi ummat manusia di dunia ini diberi kebebasan untuk memilih, memiliki, menguasai dan memakai "perhiasan" yang indah-indah, mendiami rumah-rumah yang bagus, makan dan minum yang enak-enak, sedap dan lezat cita rasanya, memakai pakaian yang serba mewah dan mahal harganya, dan juga bebas merasakan berbagai kesenangan hidup, asal saja tidak melewati batas; artinya masih diam di lingkungan "batas yang dihalalkan" menurut syara' agama Islam. Yang mana berarti kebebasan itu masih tetap dalam mensyukuri "limpahan keberkahan" dari Allah SWT dengan keimanan dan ketakwaan kepadaNya.  Sebagaimana menurut firmanNya: "Katakan! Siapakah yang melarang (memakai) perhiasan dari Allah, dan siapa pulakah yang mengharamkan rezeki yang baik yang diadakanNya untuk hamba-hambaNya? Katakan! Semuanya itu disediakan untuk orang-orang yang beriman (dan yang tidak beriman) dalam kehidupan didunia ini; dan khusus untuk mereka (yang beriman) saja di hari kiamat. Begitulah kami jelaskan keterangan-keterangan untuk kaum yang mengetahui." (Q.S.7/a.32).Tak ada larangan, berarti bebas bagi ummat manusia menikmati pemberian Allah SWT. Baik yang berupa perhiasan-perhiasan untuk kesenangan ataupun rezeki untuk makanan dan minuman, dsb.Jelasnya, bahwa kesemuanya "persediaan" yang ada di langit dan sekitarnya, yang ada di bumi - di dalamnya dan di atasnya itu telah disediakan dan siap dipergunakan dan dimanfaatkan oleh umat manusia bersama-sama dalam kehidupan di dunia ini, khusus dalam kehidupan di akhirat nanti teruntuk bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah Pencipta dan Penguasa seluruh makhluk, Tuhan yang melimpahkan keberkatan bagi mereka itu.&lt;br /&gt;WaspadaAkhirnya kita harus setiap waktu waspada dengan "keimanan dan ketakwaan" menghadapi sesuatu musibah yang datangnya tidak memberitahu lebih dahulu.Akan tetapi datangnya mungkin di waktu malam atau di waktu siang, karena menurut firman Allah SWT, sebagai berikut: "Apakah penduduk negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka, pada malam hari di waktu mereka sedang tidur nyenyak? Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami kepada mereka, ketika matahari naik dan mereka sedang bermain-main?" (Al-Quran, S.7/a.97-98).Maka oleh karena itu kita harus mentaati perintah-perintah Allah dan RasulNya, tidak lalai dan tidak lengah dari menjalankan kewajiban-kewajiban yang dipikulnya kepada kita, baik di waktu siang dan di waktu malam.  Karena sewaktu-waktu musibah yang merupakan hukuman bagi mereka yang melalaikan kewajiban-kewajibannya, tidak mustahil akan diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa diatas segala-galanya. Dan dengan "keimanan dan ketakwaan" kita syukuri akan kurnia dari Allah yang berupa "limpahan keberkahan" bagi kita, untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan demikian juga untuk menghadapi kehidupan di hari kemudian, yang pasti akan dialami oleh setiap manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-182114675028546226?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/182114675028546226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=182114675028546226' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/182114675028546226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/182114675028546226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/07/limpahan-keberkahan.html' title='Limpahan Keberkahan'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-3757321143646807519</id><published>2007-07-25T09:32:00.001+07:00</published><updated>2007-07-25T09:32:55.438+07:00</updated><title type='text'>Kesejahteraan Sosial menurut Islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam ajaran Islam prinsip Tauhid merupakan hal yang paling asasi dan esensial. Ia tidak boleh sampai terlepas dalam jiwa keyakinan setiap insan muslim yang mengaku, bahwa Tidak ada Tuhan yang patut disembah, kecuali Allah semata dan Muhammad itu utusanNya. Prinsip Tauhid ini secara definitif telah dijabarkan oleh Allah dalam firmanNya: "Katakanlah, Dialah Allah, Tuhan Yang Maha Tunggal; Allah-lah tempat sekalian makhluk bergantung; Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada siapapun yang sebanding denganNya. (Al-Ikhlas 1-4). Prinsip ini menuntut setiap muslim senantiasa sadar, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini semata-mata hasil dari ciptaanNya. Kita semua adalah makhluknya yang serba lemah dengan segala sifat keterbatasannya. Dan semua ciptaanNya itu tidaklah sia-sia.  Semuanya diperuntukkan demi kebahagiaan, kemakmuran dan kesejahteraan semua makhlukNya.  Hanya manusialah makhluk yang diciptakanNya secara lebih paripurna dibanding yang lainnya. (At-Tin : 4).&lt;br /&gt;Dan dengan berbekal akalnya, manusia diperintahkan untuk memikirkan segala kejadian alam seisinya sebagai tanda kekuasaan Allah (Al-Baqarah : 164).&lt;br /&gt;Ruh Tauhid telah mengajarkan kepada manusia, bahwa seluruh harta benda, kekayaan rizki, manusia dan kehidupannya, potensi serta sumber daya alam seisinya yang melimpah ruah itu adalah semata-mata dari Allah.  Dialah yang mempunyai segalanya itu sebagai hasil ciptaanNya. Dialah "pemilik tunggal" dari semuanya itu, alam, kehidupan beserta isinya. Allah telah menegaskan bahwa: "Dan hanya kepunyaan Allah-lah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, dan kepadaNya akan dikembalikan segala urusan (Al-Imran : 109).  Bunyi senada juga dapat kita baca pada ayat 189 di surah yang sama, kemudian Al-Maidah : 40, dan sebagainya. Dengan demikian manusia tak lebih sebagai hambaNya yang wajib beriman kepadaNya dan sebagai pemakai, pengelola karuniaNya tersebut atau yang diistilahkan Qur'an sebagai khalifah fil ardhi.&lt;br /&gt;Konsep kesejahteraan sosial menitikberatkan pada bidang ekonomi dan bersifat sebagai bantuan sosial dan kemanusiaan.  Karena itu konsep ini meletakkan dasar pemerataan dari segala sesuatu yang telah dikaruniakanNya kepada hambaNya.  Pemerataan di sini tidak memandang bagaimana dan siapa orangnya, tapi memusatkan perhatiannya pada suatu hak mutlak, bahwa segala sesuatu yang telah diberikanNya kepada para hambaNya itu semata-mata hak dan milik Allah. Karena itu bagaimanapun dan siapapun orangnya, dia berhak untuk menikmati semua pemberian Allah tadi. Dan bagi mereka yang tidak sempat menikmatinya, maka hak ini "dilekatkan" pada mereka yang berkecukupan/mampu sebagai suatu kewajiban, agar mereka itu menyalurkannya kepada mereka yang berhak untuk menerima dan menikmati segala pemberianNya. Disinilah pokok pangkalnya mengapa prinsip kesejahteraan ini menjadi salah satu wujud persamaan, manusia sebagai ciptaanNya mempunyai hak yang sama, sedang dalam arti nilai kemuliaan mereka itu tidak sama.  Artinya, hanya orang yang paling bertakwa sajalah yang dipandang paling mulia di sisi Allah yang disebut dalam Al-Quran: Inna akramakum 'ndallahi atqaa.  Di saat semakin merajalelanya sistem perekonomian kapitalisme yang bahkan sudah menyusup demikian dalam kehidupan negara-negara Islam maupun negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, masalah pengangguran dan tidak meratanya kesejahteraan sosial merupakan bagian yang tak akan pernah terpisahkan dari sistem ekonomi kapitalisme ini.  "Harus ada pihak yang dikorbankan" itulah prinsip eksploitasi yang ada dalam sistem ekonomi kapitalisme, sesuatu yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam, dimana semua orang berhak mendapat kesempatan yang sama dalam memperoleh kesejahteraan.&lt;br /&gt;Di dalam mengejawantahkan konsep kesejahteraan sosial ini, Islam sarat dengan ajaran-ajaran luhurnya yang tidak mengenal ras, kulit, bangsa dan agama. Namun lebih menitikberatkan pada prinsip tolong menolong, perikemanusiaan, keadilan dan sebagainya yang harus ditegakkan sebagai pilar kehidupan mereka yang miskin, yatim-piatu, peminta-minta, gelandangan, hamba sahaya, dan sebagainya. Allah SWT berfirman: "Bukanlah kebajikan itu lalu kamu memalingkan muka-mukamu ke pihak Timur dan Barat, tapi kebajikan orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabiNya, yang mendermakan harta yang dicintainya itu kepada keluarga dekatnya, anak-anak yatim, orang miskin, musafir, yang meminta dan dalam hal menebus/memerdekan hamba sahaya/budak, yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat, yang menyempurnakan perjanjiannya, apabila berjanji, dan sabar di saat kesulitan dan diwaktu perang; mereka itulah orang-orang benar dan berbakti. (Al-Baqarah: 177). Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku itu dapat meluaskan dan membatasi rizki pemberiannya kepada siapa saja yang ia kehendaki; dan segala sesuatu yang kamu dermakan itu akan digantiNya, karena Ialah sebaik-baik memberi rizki itu, (Saba':39). Dan mereka memberi makanan yang amat disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang-orang tawanan. (Al-Ihsan: 8).&lt;br /&gt;Dan orang-orang yang membelanjakan sebagian dari apa-apa yang kami telah kurniakan kepada mereka; dan binatang qurban itu, Kami jadikan dia buat kamu....,maka apabila sembelihan itu telah mati, makanlah dirinya dan berilah makan kepada para fakir yang menjaga kehormatannya serta fakir yang meminta, demikianlah kami persembahkan binatang sembelihan itu buat kamu, agar kalian bersyukur. (Al-Hajj: 35-36). Konsep persamaan untuk menikmati pemberianNya ini menumbuhkan dasar-dasar pemerataan dalam sistem perekonomian Islam. Karena bagi mereka yang berkecukupan atau mampu dibebani oleh "tanggung jawab moral" untuk turut menanggulangi beban penderitaan yang menghimpit mereka, anak yatim-piatu, orang miskin, fakir, budah/hamba sahaya, orang yang kehilangan/habis perbekalannya dalam suatu perantauan/perjalanan, mereka yang meminta-minta/gelandangan, dan yang sejenisnya. Karena mereka pun adalah manusia yang sama seperti kita.  Mereka membutuhkan pula sandang pangan dan papan seperti layaknya kita.  Dan mereka pun ingin menikmati secercah harapan dalam hidup dan kehidupan ini.&lt;br /&gt;Tanggung jawab moral ini tentu tidak akan terasa, bahkan diabaikan begitu saja bagi mereka yang menganggap shodaqoh/sedekah dan zakat ini akan mengurangi keuntungan dan hartanya. Mereka inilah yang oleh Allah disebut sebagai orang yang bakhil dan kikir.&lt;br /&gt;Sesungguhnya penghidupan dunia ini hanyalah suatu permainan dan buaian, tapi jika kamu beriman dan berbakti, Ia akan memberikan balasan pahala bagimu dan tidak meminta hartamu. Jika ia meminta hartamu dengan sungguh-sungguh, niscaya kamu akan menjadi bakhil dan kekikiranmu itu akan menampakkan kebencianmu untuk menjalankan/membelanjakannya di jalan Allah. Nah, sekarang kamu adalah orang-orang yang diajak untuk membelanjakan hartamu di jalanNya, tapi diantara kamu ternyata ada yang kikir, padahal barang siapa yang kikir, maka tidaklah ia bakhil melainkan untuk dirinya sendiri, sedang Allah itu tidak memerlukanmu, tapi sebaliknya kamulah yang memerlukanNya; dan jika kamu berpaling, Allah akan mengganti satu kaum/golongan yang lain yang berbeda denganmu, kemudian mereka tidak menjadi seperti layaknya kamu. (lihat QS. Muhammad : 36-38).  Apakah kamu takut menjadi miskin, lantaran mengeluarkan sedekah sebelum datang bisikanmu. Ketahuilah, sekiranya kamu tidak mengerjakan hal itu karena tidak mampu, maka Allah telah memaafkanmu, karena itu dirikanlah shalat dan keluarkanlah zakat, taatlah kepada Allah dan RasulNya, karena Allah itu Maha Mengetahui semua perbuatanmu. (Al-Mujadilah : 13). Dalam surah Al-Taghabun ayat 15 dinyatakan, bahwa sesungguhnya harta-harta kamu dan anak-anak kamu itu tidak lain, karena di sisi Allah ada ganjaran besar yang lebih baik dari semua itu.&lt;br /&gt;Ajaran-ajaran luhur Islam ini seharusnya menjadi motivasi semua tindakan dan peraturan yang berkaitan dengan sistem sosio-ekonomi kita, dan bukannya meninggalkan ajaran berbasis pemerataan dan keadilan sosial ini, sebuah tindakan sistem ekonomi kapitalisme yang kejam yang selama ini justru semakin digalakkan negara ini di berbagai bidang dan mengesampingkan kesejahteraan masyarakat negara ini yang dari tahun ke tahun semakin merosot kondisi perekomiannya menuju kefakiran. Ingat kefakiran yang berlebihan merupakan pangkal dari munculnya kekafiran. Lihat saja berbagai gejala kekafiran yang sudah mulai banyak bermunculan di negara ini, semakin banyak kerusuhan, pelanggaran HAM dan banyak lagi hal buruk yang seakan sah-sah saja padahal jelas-jelas melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-3757321143646807519?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/3757321143646807519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=3757321143646807519' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/3757321143646807519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/3757321143646807519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/07/kesejahteraan-sosial-menurut-islam.html' title='Kesejahteraan Sosial menurut Islam'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-5739801622058768352</id><published>2007-07-25T09:31:00.001+07:00</published><updated>2007-07-25T09:32:02.680+07:00</updated><title type='text'>Bimbingan ke Jalan yang Lurus</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sekali-sekali ummat manusia perlu merenung untuk mengingat kembali asal mula kejadiannya - dari tidak ada - kemudian ada wujudnya. Atau dengan kata lain, dari belum bisa disebut namanya, karena belum ada wujudnya. Kemudian sesudah ada wujudnya, ia dinamakan "insan" atau "manusia" yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;Dalam hubungan pergaulan antara laki-laki (suami) dengan perempuan (istri) terjadilah semacam pembuahan. Kemudian dengan kehendak Allah Yang Maha Berkuasa setelah tiba waktunya, istri (ibu) dapat melahirkan kandungannya- bayi laki-laki atau perempuan.  Dan dengan kurnia penciptanya bayi itu diberi pendengaran dan penglihatan, kemudian dilengkapi dengan "akal" untuk berpikir.&lt;br /&gt;Dengan adanya alat-alat tersebut dalam tubuh manusia itu, kalau hidup terus, akan dihadapkan kepada ujian sebagai "bimbingan ke jalan yang lurus (benar) mengikuti peraturan-peraturan yang sudah ditertibkan dalam agama yang diridhaiNya....&lt;br /&gt;Yang demikian itu menurut firmanNya : "Bukankah telah datang kepada manusia suatu masa, yang pada ketika itu dia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut. Sesungguh Kami menciptakan manusia itu dari setetes air mani yang bercampur.  Kami hendak mengujikan (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia dapat mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalan yang lurus kepadanya, ada yang bersyukur (berterima kasih) dan ada yang ingkar (tidak berterima kasih)" (Al-Quran, S.76/a.1-3).&lt;br /&gt;Pada garis besarnya dalam firmanNya ini ada terbagi atas beberapa bagian, yaitu : sebelum bernama, kejadiannya, menerima ujian dalam bentuk "perintah" dan "larangan" dan hasil ujian itu ada yang lulus di bawah "bimbingan yang lurus" dengan bersyukur dan ada yang tidak lulus, karena tidak mengikuti "bimbingan" itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Bernama&lt;br /&gt;Ada beberapa ayat firman Allah SWT sehubungan dengan keadaan tersebut, antara lain ialah : "Dan Allah telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari air mani, kemudian itu dijadikanNya kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuan (ibu) mengandung dan tidak pula melahirkan, melainkan dengan sepengetahuanNya..."(Q.S. 35/a.11).&lt;br /&gt;Allah menciptakan manusia yang asalnya dari tanah, kemudian dari air mani (campuran dari pasangan laki-laki dan perempuan). Dan tidak seorangpun ibu yang hamil dan melahirkan, melainkan dengan sepengetahuanNya, baik yang lahir itu bayi laki-laki atau perempuan.&lt;br /&gt;Dan lagi firmanNya : "Dia (Allah) Yang Menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian dari segumpal darah beku, kemudian dikeluarkanNya kamu sebagai bayi (kanak-kanak).  Kemudian kamu hidup sampai dewasa dan akhirnya menjadi tua. Diantara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. Dan Kami perbuat demikian, supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan, mudah-mudahan kamu memahaminya." (Al-Quran, S.40/a.67).&lt;br /&gt;Manusia dalam kehidupannya dari mulai bayi sampai kanak-kanak, remaja dan sampai dewasa dan dari dewasa menjadi tua. Dalam pada itu manusia mengalami kelemahan dan kekuatan dalam kehidupannya yang telah diatur oleh Allah SWT : ada yang wafat (meninggal) semasa kecil, ada yang sampai dewasa dan ada yang sampai usia lanjut. Yang demikian itu adalah ketentuan ajal, agar supaya manusia memahaminya dengan pikiran yang waras.&lt;br /&gt;Dan lagi firmanNya : "Dan diantara tanda-tanda (kekuasaanNya), bahwa diciptakanNya kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu menjadi manusia yang berkembang biak di muka bumi. Dan diantara tanda-tanda (kekuasaanNya), bahwa diciptakanNya untuk pasangan kamu (istri) dari sebangsa kamu sendiri, supaya kamu hidup tenteram bersama-sama, dan dijadikanNya cinta dan kasih sayang diantara kamu. Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaanNya) bagi kamu yang berpikir." (Al-Quran, S.30/a.20-21).&lt;br /&gt;DiciptakanNya manusia itu jenis laki-laki dan perempuan, supaya mereka bisa hidup bersama-sama dengan tenteram dan aman, damai dan rukun hidup sebagai suami istri dengan penuh rasa cinta mencintai dan kasih mengasihi, karena hubungan mereka yang diridhai Allah - dalam pernikahan yang syah, mencukupi syarat dan rukunnya. Jadi hidup mereka dalam pergaulan yang menurut peraturan-peraturan Allah - dan bukannya hidup suka sama suka di luar nikah, menurut kemauan sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah&lt;br /&gt;Perintah Allah SWT dengan firmanNya : "Katakanlah! Taatlah kamu kepada Allah dan RasulNya. Tetapi kalau kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang pengingkar (tidak beriman)." (Q.S.3/a.132).&lt;br /&gt;Sebagai manusia yang diciptakan Allah SWT harus mematuhi/mentaati perintah-perintahNya untuk beribadat kepadaNya, dan mengikuti peraturan-peraturan agamaNya yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW.  Itulah agama yang benar dan lurus jalannya.&lt;br /&gt;Maka tidak dibenarkan seorang pun menyimpang dari jalur/jalan yang sudah ditentukanNya. Karena Allah SWT tidak menyukai penyimpangan dari agamaNya itu, dan mereka dinamakan orang "pengingkar" atau tidak beriman. Dan lagi mentaati Allah dan RasulNya itu adalah untuk mendapat "rahmat", kasih sayang dan karuniaNya. Karena kebahagiaan adalah berada pada orang-orang yang beroleh "rahmatNya".&lt;br /&gt;Dan dalam hal laranganNya, menurut firmanNya: "...Dan janganlah engkau mengikuti orang-orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, dan diturutinya keinginan hawa nafsunya dan keadaannya telah melewati batas". (Al-Quran, S.18/a.28).&lt;br /&gt;Dan lagi firmanNya : "Dan janganlah engkau ikut orang-orang pengingkar (tidak beriman) dan orang-orang munafik (beriman palsu), dan janganlah engkau pedulikan gangguan mereka yang menyakitkan hati. Tawakallah (percayakanlah) kepada Allah, dan cukuplah Allah sebagai Pelindung". (Al-Quran, S.33/a.48).&lt;br /&gt;Kita dilarang mengikuti jejak langkah orang-orang yang telah lalai dari mengingat Allah SWT, dan diperingatkan, supaya tidak menuruti keinginan hawa nafsu. Karena yang demikian itu adalah perbuatan yang melewati batas-batas ketentuan yang sudah diatur dalam agamaNya.&lt;br /&gt;Dan juga dilarang mengikuti orang-orang pengingkar (tidak beriman) atau orang-orang munafik (iman palsu), dan jangan pedulikan gangguan-gangguan orang-orang yang menyakitkan hati. Tetapi tawakallah (pasrahkan diri) kepada Allah, sebagai Pelindung orang-orang yang tawakal dengan kesadaran, keyakinan dan keimanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Lurus&lt;br /&gt;Allah SWT telah menunjukkan jalan yang lurus (benar) yang patut diikuti oleh setiap hambaNya yang suka memperhatikan dan berbuat kebaikan-kebaikan dengan mengikuti "bimbingan ke jalan yang lurus". Karena itulah jalan yang benar dalam menjalankan agamaNya. Sebagaimana firmanNya : "Dan inilah jalan Tuhanmu, jalan yang lurus (benar).  Sesungguhnya telah Kami jelaskan ayat-ayat (keterangan-keterangan) Kami kepada kaum yang suka memperhatikan. Mereka memperoleh daarussalam (tempat keamanan) dari Tuhan mereka, dan Dia-lah Pelindung mereka disebabkan amal-amal shaleh yang telah mereka kerjakan". (Al-Quran, S.6/a.126-127).&lt;br /&gt;Jalan Tuhan, ialah jalan yang "membimbing ke jalan yang lurus," suatu peraturan Islam yang memimpin ke arah kebahagiaan dalam segala lapangan kehidupan, yaitu hasil dari "amal-amal shaleh" dan "peribadatannya" dalam melaksanakan pengabdian kepadaNya. Ayat-ayat atau keterangan-keterangan dari Allah SWT itu telah terbentang luas dengan nyata-nyata dan jelas yang dapat penghayatan dari mereka yang suka memperhatikannya dengan akal pikiran yang sempurna. Dan untuk imbalannya bagi mereka itu telah disediakan "daarussalaam" (sorga temapt kedamaian dan keamanan), dan Allah SWT adalah pelindung bagi hamba-hambaNya yang telah berbuat dan beramal kebaikan-kebaikan karena mematuhi dan mentaati segala sesuau dari perintah-perintahNya.&lt;br /&gt;Dan lagi firmanNya: "Sesungguhnya inilah jalanKu yang lurus. Maka itulah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain daripadanya). Karena nanti kamu terpisah dari jalanNya.  Itulah yang diperintahkanNya kepada kamu. Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertakwa (terpelihara dari kejahatan-kejahatan)." (Al-Quran, S.6/a.153).&lt;br /&gt;"Bimbingan ke jalan yang lurus" itulah jalan yang benar dari Allah SWT untuk diikuti oleh setiap orang yang mengaku mengabdi kepadaNya. Dan diperingatkan, supaya kita tidak mengikuti jalan lain daripada jalan Allah SWT itu, karena berakibat terpisah dari jalan yang lurus, mengikuti jalan sesat yang tidak akan sampai kepada tujuan yang terakhir, yaitu "ketakwaan", sehingga terpelihara jiwa dan raga dari mengerjakan kejahatan-kejahatan apapun macamnya dan rupanya.&lt;br /&gt;Akhirnya mengingat akan firman Allah SWT : "Katakanlah! Sesungguhnya aku telah dibimbing/dipimpin oleh Tuhanku ke jalan yang lurus, yaitu agama yang benar, kepercayaan Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan." (Al-Quran, S.6/a.161).&lt;br /&gt;Jelaslah, bahwa setiap orang Islam yang mematuhi dan mentaati segala titah perintahNya akan mendapat "bimbingan" daripadaNya ke jalan yang lurus, yaitu jalan yang agama Islam yang benar, ialah kepercayaan Nabi Ibrahim AS yang lurus dan tidak termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya.&lt;br /&gt;Semoga kita dapat "bimbingan" daripadaNya ke jalan yang lurus, untuk pengukuhan pengabdian kita kepadaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-5739801622058768352?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/5739801622058768352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=5739801622058768352' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/5739801622058768352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/5739801622058768352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/07/bimbingan-ke-jalan-yang-lurus.html' title='Bimbingan ke Jalan yang Lurus'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-5926167650516850603</id><published>2007-07-25T09:29:00.000+07:00</published><updated>2007-07-25T09:30:55.207+07:00</updated><title type='text'>Pengaruh Doa Terhadap Kesehatan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap manusia yang hidup ini akan menerima berbagai macam cobaan dan kesulitan hidup, penderitaan dan penyakit, yang merupakan sunnatullah, yaitu keadaan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, sebagaimana juga kegembiraan, kesenangan dan kenikmatan, silih berganti.  Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran yang tafsirnya wallahu alam, "Dan sesungguhnya benar-benar Kami akan menguji kamu, agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu." (surat Muhammad ayat 31). "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan dan kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang yang sabar." (Surat Al-Baqarah ayat 155).&lt;br /&gt;Jadi gangguan dalam kesehatan, berupa penyakit, apapun juga bentuknya, merupakan bagian dari "ujian" yang telah ditentukan Allah SWT terhadap siapa yang dikehendakiNya. Pengertian ini sangat penting dan fundamental, karena dalam tatalaksana pengobatan penderita, dokter sangat memerlukan kerjasama dengan penderita yang diobatinya.  Salah satu faktor yang ikut menentukan adalah sikap penderita terhadap penyakit yang dideritanya.&lt;br /&gt;Pengalaman menunjukkan, reaksi ini berbagai ragam, ada yang panik dan putus asa (ini yang paling banyak), ada yang tidak percaya (dan mungkin lantas ganti dokter), apalagi jika penyakit-penyakit yang dideritanya termasuk cukup berat.  Hal lain yang perlu diperhatikan ialah keluarga dekat si sakit akan terpengaruh. Sikap penderita yang putus asa, panik akan mempengaruhi keadaan keluarganya. Di samping itu tentu saja juga akan mempengaruhi fungsi-fungsi tubuh pasien yang sedang sakit maupun yang masih sehat, dan yang jelas proses kesembuhan akan dihambat.&lt;br /&gt;Maka penjelasan dokter kepada penderita/keluarga tentang kenyataan adanya penyakit dan sikap yang harus dilakukan oleh penderita keluarga adalah "ikhlas" menerima kenyataan ini, katanya merupakan bagian dari kehidupan dan sudah menjadi kehendak Allah SWT Yang Maha Pencipta, dan selama proses sakit ini ia harus bersabar. Ia boleh mengetahui dalam batas-batas penyakit yang dideritanya, mengapa ia menjadi sakit dan aspek-aspek pengobatannya, dengan bertanya kepada dokternya. Sebaliknya bila keadaan memungkinkan, dokter akan menerangkan aspek-aspek yang perlu diketahui tentang penyakitnya, akan tetapi yang paling penting harus dijelaskan bahwa semua metoda pengobatan adalah usaha manusia dengan kadar ilmu pengetahuan yang diberikan oleh Allah SWT kepada dunia kedokteran/dokter yang mengobati, sedangkan sembuh atau proses penyembuhan adalah hak mutlak Allah SWT. Penjelasan ini mungkin pada keluarga saja atau langsung pada pasiennya, tergantung keadaan. Maksudnya bukan sekali-kali agar dokter dapat mencari alasan jika pengobatannya gagal, akan tetapi ini merupakan pintu pembuka agar dokter/penderita menjadi sesungguhnya  usaha-usaha pengobatan, berhasil/tidaknya semata-mata di tangan Allah SWT. Ini petunjuk yang dapat diambil dari firman Allah dalam Al-Quran yaitu dari surat Al-Baqarah ayat 156 : "Yaitu orang-orang, yang apabila ditimpa musibah, mereka mengatakan : Innalillahi wa inna ilaihi raji'un."&lt;br /&gt;Kata-kata "innalillahi wa inna ilaihi raji'un" adalah kata-kata keikhlasan, kata-kata penggantungan harapan dan penyerahan diri bahwa "semua apapun berasal dari Allah (termasuk penyakitnya), dan semua akan kembali kepadaNya." Artinya, Dia pulalah yang akan menghilangkan penyakit yang diderita.&lt;br /&gt;Sikap negatif, tidak menerima sakit, apalagi bertanya, "kenapa saya sakit begini, orang lain kok tidak," atau "kenapa justru saya yang kena," sering juga didengar komentar-komentar : "Salah apa saya, saya sudah berdoa, berbuat baik kepada orang, kok kena sakit seperti ini," adalah sikap yang tidak menguntungkan, malah merugikan sendiri. Sikap ini akan menimbulkan stres kejiwaan, kecewa yang berlarut yang mempunyai konsekuensi.  Rentetan reaksi-reaksi biologik yang memperburuk penyakitnya dan mempersukar pengobatan, tanpa disadari oleh penderitanya. Misalnya gangguan tidur, sekresi adrenalin akibat stres berlanjut berakibat kenaikan tekanan darah serta memacu denyut jantung yang kesemuanya pada keadaan sakit apapun tidak menguntungkan.&lt;br /&gt;Dengan melaksanakan firman Allah dalam dua ayat dari surat Al-Baqarah, reaksi-reaksi yang bersifat otomatik dan merugikan dapat dihilangkan.  Jadi sesungguhnya bagi kita dalam menghadapi musibah, penyakit, apapun juga, tidak ada pilihan lain kecuali melaksanakan perintah Allah SWT yang disebut dalam dua ayat tersebut di atas (Al-Baqarah 155 dan 156). Bagaimana dengan reaksi-reaksi setiap orang terhadap kenyataan akan musibah/penyakit yang dideritanya? Bukankah "wajar" kalau ia bersedia atau putus asa? Bukankah itu merupakan reaksi individu yang dipunyai oleh setiap orang? Tertekan dan menggelisahkan akan hari depan yang belum menentu?&lt;br /&gt;Justru di sinilah, peranan doa harus dikemukakan. Sikap dan energi kejiwaan yang mendasari reaksi-reaksi stress di atas tidak boleh dilepaskan begitu saja, karena seperti disebut diatas, merugikan. Energi ini harus disalurkan, dihimpunkan dan disatukan dalam meminta kesembuhan kepada pemilikNya, yaitu Allah SWT dengan sikap dasar "ikhlas dan sabar" seperti diperintahkan dalam surat Al-Baqarah ayat 155 itu.&lt;br /&gt;Kenapa tenaga/energi kejiwaan itu harus dipersatukan? Karena kesatuan energi kejiwaan (rasa) yang disertai dengan penyerahan akal fikiran kepada Allah SWT merupakan dasar berdo'a yang khusyu'. Memang sudah menjadi watak manusia, jika ia membutuhkan sesuatu, maka ia akan berusaha sekuat-kuatnya memenuhi keperluan tersebut. Dalam keadaan lapar, ia membutuhkan makan, tentu makanan yang dicarinya. Dalam keadaan sakit ia memerlukan kesembuhan dan ia pun mencari "sehat". Karena "perlu"nya ini, maka obat apapun akan ia telan, apalagi jika dokter menjanjikan sembuh. Padahal, sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penyembuh, sesuai firmanNya dalam surat Asy-Syu'ara' ayat 80 yang tafsirnya "Dan jika aku sakit, Dialah yang menyembuhkan."&lt;br /&gt;Dengan penyatuan antara energi rasa/jiwa dengan akal pikiran, maka do'a/permohonan kesembuhan kepada Allah SWT akan lebih khusyu' dan InsyaAllah akan mampu melaksanakan dalam arti yang sebenar-benarnya "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un". Dengan melaksanakan ini, maka penyembuhan insya Allah akan berhasil sesuai dengan firmanNya dalam ayat 157 surat Al-Baqarah yang tafsirnya wallahu a'alam : "Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."&lt;br /&gt;Jadi "petunjuk" ini pasti datang mengatasi/mengobati penyakit asal syarat-syarat yang telah ditentukan dalam dua ayat sebelumnya kita laksanakan dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Kita telah mengetahui, bahwa pada jaman sekarang penyakit-penyakit dunia modern lebih banyak bersifat non infeksi : darah tinggi/hipertensi dengan segala komplikasinya, kanker serta bentuk-bentuk keganasan, penyakit-penyakit jantung, penyakit penyumbatan darah ke otak, penyakit-penyakit pencernaan dan hati, dan lain-lain. Bentuk-bentuk penyakit ini patofisiologisnya sampai sekarang belum jelas benar, dan telah diketahui bahwa faktor-faktor psikologik si sakit mempunyai peranan yang banyak dalam penyakit ini, meskipun hubungan-hubungannya belum jelas benar.&lt;br /&gt;Pelaksanaan dari ayat 155, s.d. 157 surat Al-Baqarah merupakan kunci yang sistematik dalam usaha penyembuhan penyakit.&lt;br /&gt;Dengan doa/dzikir kepada Allah SWT yang juga merupakan perintah Allah sesuai firmanNya dalam surat Al-Baqarah ayat 186 yang tafsirnya "Bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa kepadaKu. Maka hendaknya mereka memenuhi segala perintah-perintahKu, dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu dalam kebenaran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode Berdoa&lt;br /&gt;Setelah menyiapkan diri kita dengan melaksanakan perintah Allah dalam surat Al-Baqarah 155 dan 156, yaitu :&lt;br /&gt;1. Ikhlas menerima keadaan, kosongkanlah pikiran dari hal-hal yang negatif tentang penyakit/tentang hal-hal yang akan datang sebagai akibat sakit dan lain-lain.&lt;br /&gt;2. Tanamkan rasa kesabaran, bahwa kejadian ini merupakan kehendak Allah.&lt;br /&gt;3. Arahkan semua perasaan dan pikiran ke hadirat Allah SWT. Keinginan sembuh, keinginan lepas dari penderitaan. Jeritkan dan serukan Allah dalam hati dan perasaan serta pikiran kita. Ini sesuai dengan perintah Allah SWT dalam surat Al-Isra ayat 110, yang tafsirnya. "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Mana saja nama Tuhan yang kamu semua sebut, Dia adalah mempunyai nama-nama yang baik."&lt;br /&gt;Berdoa dengan Al-Azma'ul Husna (nama-nama Allah yang baik) sangat praktis bagi orang yang sakit, karena dengan menyeru nama-nama Allah ini yang disertai arus perasaan lebih gampang daripada membaca doa-doa yang panjang. Ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-A'raf ayat 180, yang tafsirnya.&lt;br /&gt;"Allah mempunyai Al-Asma'ul Husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut Al-Asma'ul Husna itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.&lt;br /&gt;Sebaiknya bagi si sakit doa ini diucapkan dalam hati dan dengan penuh perasaan permohonan, harapan dan sesering mungkin, baik setelah shalat wajib maupun pada saat-saat di luar itu, baik pada waktu berbaring, atau saat mana saja agar doa ini dapat terkabulkan. Ini pun sesuai dengan perintah Allah dalam surat Al-A'raf ayat 205 tafsirnya : "Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasan:&lt;br /&gt;Doa merupakan cara permohonan orang Islam yang pasti dikabulkan Allah SWT.  Dalam hal penderita, maka perlu pengarahan dan penjelasan kepada penderita bahwa pengobatan adalah usaha syariat para dokter, sedang penyembuhan adalah hak dan karunia Allah SWT.  Penjelasan ini harus sesuai dengan kemampuan dan pengertian serta kondisi penderita. Setiap penyakit apalagi penyakit yang mempunyai komponen psikologik yang besar dapat menimbulkan reaksi anyietas/kepanikan, yang membahayakan kesehatan penderita yang sudah terganggu, karena aktifnya berbagai hormon yang mendasari reaksi tersebut.  Keadaan ini, jika berlanjut dapat memperburuk/memperlambat proses kesembuhan. Karena itu sikap penderita terhadap penyakitnya sendiri sangat penting dan ini petunjuknya telah tertulis dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 155, 156, dan 157 dan merupakan metode sistematik yang mendasari doa dalam rangka mohon kesembuhan kepada Allah SWT. Telah diuraikan cara-cara berdoa seperti yang diperintahkan Allah SWT dalam surat Al-A'raf ayat 180 dan 205.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-5926167650516850603?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/5926167650516850603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=5926167650516850603' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/5926167650516850603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/5926167650516850603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/07/pengaruh-doa-terhadap-kesehatan.html' title='Pengaruh Doa Terhadap Kesehatan'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-5900285835200230341</id><published>2007-07-25T09:28:00.000+07:00</published><updated>2007-07-25T09:29:38.399+07:00</updated><title type='text'>Pancaran Cahaya Kebenaran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Ummat manusia dalam setiap jamannya mau tak mau harus berhadapan dengan "tantangan" yang timbul dalam jamannya itu. Dan setiap tantangan jaman itu adalah bagaikan menguji untuk ketajaman berpikir dan ketahanan jiwa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Maka dalam menghadapi setiap macam tantangan itu perlu sekali bagi ummat manusia mempunyai pegangan tunggal, yaitu faktor "agama" yang dikukuhkan dengan keimanan dan keyakinan.  Yang demikian itu adalah untuk menentukan "ketaatan" kepada perintah-perintah yang diturunkan oleh Tuhan Rabbulalamin kepada ummat manusia, untuk menyatakan/membuktikan kepatuhan mereka dalam menjunjung tinggi peraturan-peraturan itu, adalah menandakan manusia yang berakal, berpikiran sehat dan waras dapat membedakan antara yang benar dan patut ditaati dan yang salah yang mesti disingkirkan dan ditinggalkan. Maka disinilah letaknya "manusia yang berakal" dan manusia yang jahil yang tidak mengerti dalam menggunakan akal pikirannya, untuk berpegang kepada ajaran yang benar dan meninggalkan ajaran yang salah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kalau tidak dapat menggunakan akal pikiran yang sehat itu, maka samalah artinya dengan "manusia hidup tanpa akal", yaitu sesuai dengan peringatan dari Nabi Muhammad SAW.  Dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Na'im dari Abu Hurairah, yang artinya : "Hai anak Adam! Taatilah (perintah-perintah) Tuhanmu, pasti engkau dinamakan orang yang "berakal" dan janganlah engkau memaksiati (mendurhakai)-Nya, maka engkau dinamakan orang yang "jahil" (bodoh)."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Jelas sekali, bahwa manusia yang menurut perintah Allah, itulah orang yang berakal dan dirinya akan beroleh kebahagiaan. Dengan akalnya dia dapat berpikir, bahwa Allah SWT Yang Menciptakan seluruh makhluk di alam semesta ini - termasuk langit serta di sekelilingnya dan bumi serta segala yang berada di atasnya - termasuk insan manusia - dan segala yang ada dalam kandungannya - isinya - itu kesemuanya adalah ciptaanNya yang patut dipikirkan oleh ummat manusia yang berakal, berpikiran sehat dan waras, karena mengingat akan sabda Rasulullah SAW di atas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Adapun orang yang memaksiati/mendurhakai Allah, maka dalam kehidupannya akan selalu ditimpa oleh kesengsaraan/keterlibatannya dalam perselisihan dan permusuhan. Karena akalnya tidak berfungsi menurut sewajarnya, dan jadilah mereka manusia yang sesat atau dalam istilah Islam dikatakan "insan jahil" - manusia jahil atau bodoh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Cahaya Kebenaran&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Pada lazimnya dalam keagamaan yang diturunkan Allah SWT itu disertai dengan cahaya, yaitu "cahaya kebenaran" yang dituangkan dalam Kitab SuciNya (Al-Quran) dalam rangkai beriman kepada Allah dan Rasulullah SAW, sebagaimana menurut firmanNya, yang artinya : "Maka hendaklah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kepada "cahaya" (Al-Quran) yang telah kami turunkan, dan Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan." (Al-Quran, S.64/a.8).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dalam Al-Qur'an, kitab yang mengandung wahyu-wahyu Allah itu, adalah "cahaya kebenaran" agama Islam, yang bersinar memancarkan beberapa aspek-aspek seperti : ilmu pengetahuan, kecerdasan berpikir, perasaan kemurnian rohani dan jasmani yang berlandaskan kepada "Tauhid" dan "budi pekerti" yang kesemuanya itu dipancarkan oleh "nur" Islam ke segenap penjuru dunia, melalui ummat manusia, yang mana cahaya itu hanya bisa diperoleh manusia yang memang dikehendaki oleh Allah SWT, sebagaimana menurut firmanNya yang artinya, ".....Barang siapa yang tidak diberi "nur" - cahaya - petunjuk oleh Allah, maka tiadalah dia akan mendapat cahaya sedikitnya." (Al-Qur'an, S.24/a.40).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dan lagi firmanNya, yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada RasulNya, pasti Allah akan memberikan kepada kamu dua bagian dari "RahmatNya", dan dijadikanNya untuk kamu "nur" (cahaya) yang terang, yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan (di jalan yang benar) dan diampuniNya (dosa-dosa kamu). Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Quran, S.57/a.280).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kepada orang-orang yang beriman (mukmin) itu diperingatkan, supaya bertakwa kepada Allah, untuk memelihara diri dari perbuatan-perbuatan maksiat dengan mengamalkan perintah-perintahNya, serta diperintahkan pula, supaya beriman kepada Rasulullah SAW.  Maka atas dasar itulah Allah akan memberikan rahmatNya dengan "nur" (cahaya yang terang), dan dengan cahaya terang itu, orang-orang mukmin akan beroleh kurniaNya dalam dua bagian, yaitu berjalan di atas jalan yang benar dan diampuniNya dosa-dosa mereka yang telah lalu. Sedang orang-orang Mukmin itu selalu berdoa untuk mendapat kebahagiaan di dunia di bawah pimpinan yang benar dan di akhirat diampuniNya dosa-dosa mereka sehingga karena itu mereka mendapatkan "kebahagiaan" dunia dan akhirat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dan menurut sabda Rasulullah SAW, yang artinya, "Nawwiruu (cahayailah) yakni terangilah tempat-tempat kediaman kamu dengan shalat dan membaca Al Quran!" (Baihaq).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dalam hal itu dimaksudkan, supaya setiap ummat orang Muslim itu disinari dengan cahaya yang terang. Yakni selain dari setiap kali dikerjakan shalat di dalamnya, juga tidak kurang pentingnya, ialah rumah Muslim itu disinari dengan pembacaan-pembacaan ayat suci Al-Quran! Jangan hanya memperbanyak tumpukan Kitab Al-Quran, akan tetapi yang terpenting diamalkan ayat-ayatnya dengan pembacaan yang baik, teratur dan perlahan-lahan, karena mengingat akan firmanNya, "...Dan bacalah Al-Quran itu dengan terang/baik dan perlahan-lahan." (Al-Quran, S.73/a.4).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Terbuka Mata Hati&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Bagi seseorang hamba Allah yang telah dibukakan mata hatinya untuk menerima "nur" (cahaya) daripadaNya, ialah mereka yang telah ditunjuki Allah untuk menerima "agama Islam". Berlainan sekali dengan manusia yang membatu (tertutup) mata hatinya. Tidak ada keuntungan bagi mereka dalam penghidupan dunia dan akhirat. Bahkan kerugian yang besar yang akan dialami mereka, karena mata hati mereka tertutup rapat untuk menerima "nur", cahaya dari Allah mengingat (berdzikir) kepada Allah, dan karena itu pula mereka berada dalam kesesatan, tidak mendapat jalan lurus untuk keluar dari kegelapan yang meliputi mereka sepanjang masa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Hal tersebut dapat diresapi dari firmanNya, yang artinya, "Adakah orang-orang yang dibukakan Allah mata hatinya untuk menerima Islam, lalu mereka mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang-orang yang membatu mata hatinya? Nasib malang (kecelakaan besar) bagi orang-orang yang membatu mata hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata." (Al-Quran, S.39/a.22).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Demikianlah, bahwa kamu hanyalah orang-orang yang terbuka mata hatinya, yang dapat menerima "kebenaran" Islam dengan mendapatkan "Cahaya" dari Allah SWT. Sedangkan orang yang tertutup mata hatinya/hatinya yang membatu itu akan menerima nasib malang dengan adanya "musibah" besar yang memberati jiwa mereka. Karena mereka lupa untuk mengingat perintah-perintah Allah, sehingga mereka berada dalam kesesatan yang nyata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Laksana Bintang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Menurut firmanNya, yang artinya, "Allah Pemberi "nur" (cahaya) bagi langit dan bumi. Seumpamanya cahaya-Nya (kepada orang-orang yang beriman), seperti sebuah lubang di dinding rumah, yang di dalam lubang itu ada "pelita". Pelita itu di dalam kaca. Kaca itu kelihatan laksana bintang yang berkilauan seperti mutiara. Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari pohon zaitun yang tidak tumbuh di Timur dan tidak pula di Barat. Hampir minyak itu memancarkan cahaya dengan sendirinya meskipun tidak disentuh oleh api. Cahaya berlapis cahaya. Allah menunjuk orang-orang yang dikehendakiNya menerima cahaya itu. Allah menunjukkan beberapa perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui setiap sesuatu apapun." (Al-Qur'an, S.24/a.35).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Allah SWT Yang Maha Kuasa Pencipta apapun juga dari segala macam makhluk di semesta alam ini, juga Allah, Pemberi "nur",cahaya di sekeliling/diseputar langit dan bumi, termasuk makhluk di sekitarnya, dan cahaya itu pun diberikan keapda orang-orang yang beriman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Cahaya itu tidak lain daripada Al-Quran yang memaparkan syari'at Islam. Diumpamakan seperti "pelita" yang berada di dalam kaca yang terang kelihatan memancarkan "cahayanya" laksana "bintang" yang berkilauan, seperti cahaya "mutiara" yang tidak bosan-bosan mata memandangnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Adapun dasar Islam itu sudah cukup membuktikan "cahaya kebenarannya" yang memancarkan tidak hanya di Timur dan di Barat, melainkan untuk menerangi seluruh makhluk di semesta alam ini, dan terutama cahaya itu diberikan kepada orang-orang yang beriman (Mukmin) yang menerima Islam sebagainya agamanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Cahaya itu akan lebih bercahaya lagi, apabila penerima cahaya itu dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya dalam segala bidang peribadatan atas petunjuk dan pimpinan dari Allah SWT, sehingga cahaya itu akan lebih memberikan keberkahan dan kebahagiaan bagi mereka yang berlindung di bawah cahaya yang mulia itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Akhirnya menurut firmanNya,yang artinya, "Cahaya itu di dalam rumah yang di situ telah diizinkan Allah untuk dimuliakan dan disebut-sebut namaNya (dan) tempat bertasbih, memujinya pada pagi-pagi dan petang." (Al-Quran, S.24/a.36).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Rumah-rumah yang dimaksud, ialah mesjid-mesjid yang di dalamnya bersinar terang laksana bintang yang memancarkan cahayanya ke seluruh alam dunia, dengan pancaran "dzikru'llaah" baik di waktu pagi, siang, petang, senja dan malam, tidak henti-hentinya disebut-sebut nama Allah Yang Maha Agung. Itulah "cahayanya Islam" yang merupakan "pancaran cahaya kebenaran" bagi ummat manusia di seluruh dunia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5569422652379995425-5900285835200230341?l=cahayamuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/feeds/5900285835200230341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5569422652379995425&amp;postID=5900285835200230341' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/5900285835200230341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5569422652379995425/posts/default/5900285835200230341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/07/pancaran-cahaya-kebenaran.html' title='Pancaran Cahaya Kebenaran'/><author><name>Haryo Bagus Handoko</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AqCJfRXsP_M/SQJScAP7PgI/AAAAAAAAAGE/JXqfMdo-pxw/S220/haryobagushandoko-penulis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5569422652379995425.post-941332561414738939</id><published>2007-07-25T09:27:00.000+07:00</published><updated>2007-07-25T09:28:40.343+07:00</updated><title type='text'>Pengendalian Nafsu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rasa kekecewaan dan kebahagiaan hidup bersumber dari jenis-jenis nafsu yang bersarang dalam diri pribadi masing-masing.  Untuk memperoleh kebahagiaan hakiki, manusia harus mampu mengendalikan hawa nafsu jeleknya.&lt;br /&gt;Manusia sering diliputi keresahan, karena keinginan tidak terpenuhi. Pelbagai keinginan muncul karena dorongan kuat aneka nafsu yang melingkupinya. Jika keinginan tidak terpenuhi, timbul rasa gelisah alias tidak tenteram.&lt;br /&gt;Ketenangan adalah kebutuhan hidup manusiawi yang didambakan semua insan. Ketenangan hakiki akan diperoleh seseorang jika ia mampu menaklukkan hawa nafsu dalam dirinya.&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab ketenangan adalah sakinah dan thumaninah, dengan makna yang agak berbeda. Dalam kitabnya, Madarijus Salikin, Ibnu Qayim Al Jauziyah mengatakan :&lt;br /&gt;"Asal kata sakinah ialah thumaninah, yaitu tenang, tetap dan tentram yang Allah turunkan keadaan semacam ini dalam hati hambaNya ketika merasa gelisah karena sangat takut...Maka ia menjadi tidak bingung, tidak bimbang dan tidak ragu setelah itu karena sesuatu yang datang kepadanya dan wajib baginya menambah imannya, keyakinannya dan ketetapan hatinya."&lt;br /&gt;Suasana tenang dapat disebabkan oleh faktor keadaan jiwa dan diri individu sendiri.  Oleh karena itu tidak heran jika dalam upaya memenuhi salah satu kebutuhan hidupnya manusia memerlukan benda.  Tidak heran juga kalau dikatakan harta benda merupakan salah satu sarana untuk memperoleh ketenangan.&lt;br /&gt;Tapi harta tidak menjamin sepenuhnya memberi rasa tenang, sehingga sering orang punya banyak harta tapi hidupnya diliputi kegelisahan.  Bahkan karena banyak harta, orang rusak jasmani dan karena berfoya-foya.&lt;br /&gt;Ketenangan sebenarnya bersifat kejiwaan. Dan harta hanya sarana memperoleh ketenangan itu.  Dalam hubungan ini Dr. Hamzah Yakub mengatakan, diantara kenikmatan, ketenangan dan kebahagiaan, ada yang diperoleh karena sikap dan aktivitas batin yang telah menjadi watak dan pribadi seseorang. Misalnya syukur, ikhlas, ridha dan sebagainya. Ada pula yang diperoleh karena perjuangan dan kerja keras misalnya, sabar dan mujahadah melawan hawa nafsu. Serta ada pula yang diperoleh karena melaksanakan prinsip-prinsip akhlak yang diajarkan Rasul SAW dalam hubungan sesama manusia. Dan ada kenikmatan spritual yang diperoleh dalam beribadah seperti, menghayati puasa, khusyu' dalam shalat, dzikir, doa dan istighfar.&lt;br /&gt;Paparan di atas menunjukkan, ketenangan dapat diperoleh dengan bersikap dan aktivitas batin yang baik. Kebahagiaan yang sama dapat diraih pula oleh orang yang berhasil melawan ajakan nafsu yang buruk. Juga dapat dirasakan oleh orang yang baik akhlaknya dan ibadahnya. Orang yang berhasil dalam berjihad melawan nafsu dengan kendali ajaran Allah dan RasulNya, akan hidup tenang dan membawa ketenangan pula kepada lingkungan sosialnya. Karena ia telah memiliki sikap mental yang baik dan suci, berakhlak baik dan mulia serta berhasil baik dalam  melakukan dan menghayati tugas ibadah yang diwajibkan kepadanya. Sebaliknya, orang yang terus mengikuti hawa nafsunya akan banyak merasa gelisah. Terkadang menimbulkan bencana bagi dirinya dan orang lain. Orang yang bertakwa kepada Allah akan tetap tenang dalam kebenarannya baik ketika senang maupun sedih. Sekalipun mengalami kegagalan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, ia tidak mengadakan reaksi agresif dan membabi buta, tetapi tetap memberikan reaksi positif, sabar menanti dan rela menerima cobaan dari Allah dan tawakal kepadaNya.  Suasana tenang pada diri Mukmin dinyatakan Allah dalam surat Al Ra'du ayat 28-29 : "Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram dan tenang. Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik."&lt;br /&gt;Dengan modal iman kepada Allah dan selalu mengingatNya, dimana dan dalam keadaan manapun ia berada, orang akan dapat merasakan ketenangan hakiki.  Di akhirat ia akan mendapatkan kebahagiaan dan tempat yang baik sebagai balasan dari Allah atas iman dan amal shalehnya.&lt;br /&gt;Orang mukmin dan takwa yang tetap beramal shaleh dan tidak menuruti kehendak nafsunya, hingga di pintu matinya pun tetap tenang karena amal shaleh yang dikerjakan saat hidupnya membekali dan membuatnya siap menghadapi saat krisis itu.&lt;br /&gt;Karena nafsu mengajak kepada yang jahat, maka perlu ditundukkan. Menundukkannya dinilai sebagai jihad besar.  Jihadun nafsi berarti mencurahkan segala usaha, kekuatan dan kemampuan yang penuh kesungguhan dalam memerangi musuh yang ada dalam diri, yaitu kecenderungan yang disebabkan oleh dorongan nafsu yang hendak menjerumuskan manusia. Menangkal godaan setan dan ajakan nafsu tercela sama-sama dipandang sebagai jihad besar. Tetapi jihadun nafsu  bisa dipandang lebih baesar dan lebih sulit.&lt;br /&gt;Selain syahwat jasmani seperti keinginan kepada makanan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan sebagainya yang menjadi obyek nafsu amarah, juga keinginan yang bersifat maknawiyah (psikis dan sosial) seperti perasaan ingin dipuji, mencintai kedudukan, pangka dan status sosial lebih tinggi.&lt;br /&gt;Nafsu amarah dapat membawa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tujuan untuk menandingi lawan dan mencapai status sosial yang lebih tinggi. Jika seorang atau suatu bangsa yang maju ilmu dan teknologinya telah dikuasai oleh nafsu amarah, maka hasil kemajuannya itu akan dijadikan alat untuk kemaslahatan umat manusia. Dalam kitab Al Risalat Al Qusyairiyah, Al Qusyairi mengatakan, nafsu amarah adalah yang mendorong kepada kehancuran, membantu musuh manusia (setan) dan memiliki banyak keburukan.&lt;br /&gt;Keinginan nafsu-nafsu dalam diri manusia, seperti diterangkan para ulama, mempunyai faedah. Misalnya dorongan nafsu seks berfaedah untuk melangsungkan keturunan manusia.  Selain itu, menurut Ibnu Qudamah nafsu seks juga berfaedah agar manusia dapat merasakan sebagian kenikmatan akhirat.  Supaya besar kerinduannya untuk menikmatinya kembali kelak di akhirat.&lt;br /&gt;Tetapi nafsu seks berupa rangsangan erotik juga menyebabkan terjadinya malapetaka besar jika tidak terkendali. Ia berfaedah ketika tersalur secara benar. Nafsu lawamah sebenarnya nafsu yang baik. Namun tingkatannya berada di bawah nafsu muthmainah. Nafsu ini sering terkalahkan oleh sifat loba, rakus dan sebagainya sehingga menjadi nafsu yang tercela pula.&lt;br /&gt;Dunia materi adalah obyek nafsu lawamah, karena harta benda dapat memenuhi kebutuhan jasmaniah manusia. Nafsu lawamah dapat mendorong orang mencari harta dan harta adalah sesuatu yang dapat membawa kemajuan. Karena orientasinya kepada harta, maka seseorang yang dikuasai oleh nafsu lawamah pandangan hidupnya bersifat materialistik dan mementingkan lahiriyah. Karena keserakahannya, ia tidak pernah puas. Kalau nafsu lawamah ada pada orang kaya, ia tidak mau bersyukur, tidak mau memberi sedekah dan sebagainya. Dan jika ada pada orang miskin, maka orang itu tidak punya kesabaran bahkan cemburu, iri hati dan sebagainya yang dapat menyebabkan ketegangan jiwa. Nafsu serakah juga dapat menyebabkan timbulnya rasa sangat mencintai harta (al hirshu) dan ketamakan. Dan karena sifat inilah maka orang bersifat materialistik dan egois.&lt;br /&gt;Nafsu lawamah dinyatakan dalam surat al Qiyamah ayat 2, artinya: "Dan Aku Allah bersumpah dengan nafsu lawamah."&lt;br /&gt;Nafsu muthmainah adalah nafsu yang tenang dan setia, membimbing manusia hidup berbakti kepada Allah. Jika nafsu ini berada pada orang kaya ia tidak akan tamak dan tidak rakus dengan kekayaannya. Tangannya selalu terulur memberi pertolongan kepada siapa saja. Orang yang bernafsu muthmainah hatinya lunak menerima ajaran Allah dan ibadahnya bertambah-tambah. Bilamana mendapat ujian yang tidak menyenangkan, ia akan menerimanya dengan sabar dan tenang. Dia juga tidak mau hidup senang sendirian dan melupakan masyarakat sekelilingnya yang perlu ditolong. Amal sosialnya banyak, rendah hati dan sebagainya.&lt;br /&gt;Nafsu yang bukan tercela adalah nafsu yang tunduk kepada kehendak Allah. Bukan yang senantiasa mengikuti kehendak nafsu sendiri. Oleh karena itu, menurut Islam nafsu harus dikendalikan menurut cara yang wajar dan benar. Bukan dimatikan atau dilampiaskan sesuka hati. Firman Allah, surat An Nazi'at ayat 40-41 : "Dan adapu
